
Sepulang dari mesjid, Hamish membangunkan Firda untuk segera mandi dan sholat subuh. Saat Firda berada di dalam kamar mandi, Hamish menarik alas kasur yang terkena noda darah perawan Firda untuk menggantikan dengan yang bersih.
Ckk, darah perawan, kaya' judul film horor.
Umi mengernyitkan dahinya melihat Hamish yang membawa kain kotor lumayan banyak, biasanya kan Firda.
Badung-badung begitu, urusan cuci mencuci Firda sudah bisa dan biasa kecuali masak. Sampai sekarang Firda hanya membantu mencuci piring dan potong-potong sayuran.
Namanya manusia, kan tidak ada yang sempurna.
"Hmm, Mish, Firda sakit?"
"Nggak, Mi."
"Terus? Tumben kamu yang mau nyuci, dia..."
"Menantu Umi baik-baik saja, sekarang lagi sholat." jawab Hamish sebelum Umi menyelesaikan kalimatnya.
Hamish cepat memasukkan kain sprei ke dalam mesin cuci agar Umi tidak tahu, dia malu kalau Umi sampai melihat noda darah itu.
Bagi Umi sendiri, remaja seusia Firda itu kalau sholatnya menjelang matahari nongol bukan hal yang aneh. Karena masih banyak tuh orang-orang yang sudah hampir mendekati waktu Dhuha baru sholat subuh.
Kalau ditanyai kenapa jam segitu baru sholat, jawabannya daripada nggak sholat?
Hamish segera berlalu sebelum Umi banyak bertanya.
Anggap saja sekalian berolahraga dengan membantu pekerjaan rumah, Abah dan Hamish akan menyapu dan membersihkan halaman rumah. Tugas bersih-bersih rumah dibagian dalam itu sudah menjadi tanggung jawab Firda.
Di kamar Hamish tidak ada kipas angin, karena sudah ada pendingin udara atau AC. Hair dryer juga tidak ada, mau mengeringkan rambut pakai sobekan kardus? Kelamaan, pegel tangan.
Dengan rambut yang masih basah dan tergerai panjang, Firda keluar dari dalam kamar. Umi menatap jalan Firda yang sedikit lain, tetapi pura-pura tidak melihat. Apalagi melihat rambut Firda yang basah, Umi bisa menduga apa yang sudah terjadi.
"Buat susu, terus kamu istirahat saja dulu di kamar, Fir! Untuk hari ini biar Umi sendiri yang mengerjakan."
"Hah? Kenapa, Umi?"
Firda tidak tahu maksud ibu mertuanya melarang dirinya membantu seperti biasa.
"Kamu pasti capek? Umi dulu juga pernah dari sana, sudah kembali saja ke kamar. Nanti kamu mau ke kampus lagi, kalau terlalu kecapean kamu bisa sakit lho."
Walaupun Firda masih tidak faham kenapa dilarang membantu di dapur, dia menurut juga. Karena sebenarnya dia juga tidak kuat berdiri lama-lama, pengennya duduk atau berbaring.
Hayoo...Siapa yang MP nya seperti Firda... Untuk berdiri saja kaki terasa gemetaran.
"Masih sakit?" tanya Hamish masuk ke dalam kamar karena tidak melihat Firda ada di dapur atau menyapu rumah seperti biasa.
"Sedikit, tapi kaki aku terasa gemetaran kalau berdiri lama-lama, kenapa ya, Bang? Apa karena ...."
Hamish segera meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Firda.
"Nanti akan baik dengan sendirinya. Ya sudah, kamu istirahat saja dulu di kamar. kalau kamu malu sama Umi dan Abah, kita sarapan di luar ya?"
Firda mengangguk.
******
Hamish mengajak Firda untuk sarapan bubur ayam yang tidak jauh dari kampusnya, saat yang sama ada Hans dan Syakila juga sedang sarapan.
__ADS_1
Firda yang berjalan dengan sedikit aneh dan wajah yang juga sedikit pucat membuat Hans menatap secara instens, tapi Firda tidak peduli. Tangannya justru meraih kelingking jemari tangan Hamish untuk di gandengannya, Hamish tersentak.
Hamish bukan tidak mau menggandeng Firda, dia hanya kuatir Firda malu berjalan dengannya.
"Abang nggak romantis, kalah jauh sama yang masih pacaran." Firda mencebik melirik Hans yang duduk berdempetan dengan Syakila.
Kalah sama truk, kalau truk itu gandengan bukan berdempetan. Ngantri sembako murah baru berdempetan.
"Bukan, Abang takut kamu malu kalau jalan sama, Abang." Hamish menggenggam telapak tangan Firda dan mengajaknya duduk tepat di depan meja Hans dan Syakila.
"Ngapain malu, Abang kan suami aku. Kita juga..." Firda menjatuhkan kepalanya dengan manja di lengan Hamish sambil terkekeh malu, sekalian manas-manasin Hans.
Firda yakin kalau Hans tahu Firda suka padanya, bukankah Firda suka cari-cari perhatian Hans selama ini? Hans saja yang sok kecakepan mentang-mentang ditaksir jadi jual mahal.
Mendengar Firda mengatakan perihal apa yang sudah mereka lakukan tadi malam dengan kalimat yang tidak lengkap, Hamish hanya tersenyum sembari mengusap kepala Firda pelan.
Rasa sayang itu sudah mulai tumbuh seiring dirinya yang sudah menyentuh Firda seutuhnya. Jika ada yang mengatakan itu terlalu cepat memang kenyataannya seperti itu.
Firda sudah menyerahkan apa yang paling berharga dari dirinya, terus apa lagi yang kurang.
Pesanan mereka tidak lama sudah ada di meja, Firda makan dengan lahap. Entah memang lapar atau doyan, beda tipis lah. Tadi pagi kan sudah mengeluarkan tenaga ekstra walaupun mode pasrah, tapi kan sama saja.
Saat mencapai puncak, itu butuh energi yang tidak sedikit kan?
Hans yang memperhatikan cara makan Firda dan perlakuan pria dewasa yang ada disebelahnya menjadi tidak lagi berselera dengan bubur ayam yang ada dihadapannya.
Firda yang biasa suka cari perhatian, tiba-tiba bersikap acuh dan pura-pura tidak mengenal dirinya membuat Hans merasa ada yang hilang. Syakila yang ada di sebelahnya hanya bisa diam menatap Firda dan Hamish.
"Yang, habiskan makanannya! Nanti kita telat lho." tegur Syakila pada Hans sok mesra.
"Aku sudah kenyang, ayo kita pergi!" Hans buru-buru berdiri sembari menyandang tas punggungnya lalu melangkah cepat dan naik ke atas jok motornya yang diletakkan di depan warung bubur ayam, saking buru-burunya sampai dia lupa untuk membayar.
*****
"Nanti singgah ke cafe, nggak?"
Firda hendak keluar dari dalam mobil sontak menoleh ke arah Hamish.
Tumben di tawarin.
"Ada apa di sana? Ada kak Mawar lagi?"
Hamish langsung menjentik dahi Firda.
"Siapa tahu kamu mau main-main, nanti bisa pulang bareng, Abang."
"Nggak ah, kemarin temen aku nggak di kasih minum. Abang pelit, aku mau ke rumah ibuk, kangen. Aku pulang minta antar Raka saja, okeh? Dadah..." Firda langsung keluar dari dalam mobil tanpa menunggu jawaban dari Hamish boleh atau tidak.
Apa tadi katanya? Dadah? Kenapa nggak Assalamualaikum? Sepertinya nanti malam perlu di ajari lagi nih.
Firda berlari mengejar Sisil dan Gita yang sudah terlihat mendekati pintu kelas.
Sebenarnya dia merasakan sangat tidak nyaman ketika berlari, tapi ditahankan saja.
"Kenapa kau berlari-lari? Kau di kejar tukang kredit?" Gita mengernyitkan dahinya melihat Firda yang ngos-ngosan.
"Bukan, aku di kejar-kejar oleh fans fanatikku. Biasa... Selebriti kan begitu." Firda mengibaskan rambutnya seperti iklan shampoo.
__ADS_1
Gita cuma mencebik.
"Berjalan mu kenapa berbeda? Kau bisulan?" tanya Sisil memperhatikan Firda dari belakang.
"Bisulan? Bukan, itu karena...Eh memang kenapa jalanku?" Firda jadi melihat dirinya sendiri.
"Kayak mana ya? Aneh saja, kayak pakai pembalut ketebalan gitu. Kau sedang haid?"
"Kau seperti dukun, tahu kalau aku sedang haid." ucap Firda nyengir menutupi apa yang sudah terjadi, kalau kedua temannya tahu kuatir akan heboh.
"Kau kapan pulang ke rumah Ibukmu? Sebentar lagi kau bersanding, biar kami bisa menginap di sana."
"Iya, ayolah! Kapan lagi kami bisa ke rumahmu kalau tidak sekarang, besok-besok tidak ada alasan lagi." tambah Gita dengan wajah di buat memelas.
"Iya, nanti pulang dari sini kita ke rumah ibukku."
"Haseek, gitu dong!" seru Gita dan Sisil kompak
"Fir, kau tadi sama siapa? Pacarmu? Ketuaan, atau kau sekarang jadi simpanan Om-om ya?" tuding Syakila di depan pintu kelas di hadapan teman-teman lainnya.
"Siapa Fir," senggol Sisil pelan di lengan Firda.
"Bang Hamish,"
"Siapa Hamish?" bisik Gita.
"Bang Bujang, namanya kan Hamish."
Gita dan Sisil hanya bisa ber 'Oh' saja.
"Bukan urusanmu dia siapa, kau urus saja dirimu sendiri!" ucap Firda duduk di kursi biasa dia, Gita dan Sisil duduk.
Bisik-bisik teman yang lain mendengar ucapan Syakila barusan tidak Firda indahkan
"Nggak nyangka ya, anaknya wak Deni ...."
"Apa?" potong Firda cepat.
"Aku akan mengadukanmu pada nenek dan semua keluarga jika kau sekarang jadi ayam kampus." ujarnya mengancam dengan bibir mencibir.
"Adukan! Kalau perlu kau undang wartawan untuk membuat statement, biar aku ngetop, suh suh suh!" usir Firda mengibaskan tangannya ke arah Syakila.
"Awas kau!"
Masih sempat Syakila mengancam sembari menghentakkan kakinya kesal meninggalkan kelas Firda.
Gita dan Sisil menaikkan kedua sudut bibirnya, lalu terkekeh.
"Dia salah minum apa?"
"Tauk tuh, mungkin kesel karena sarapan tadi dengan Hans dia yang bayar."
"Hah?"
"Memang enak?" cibir Gita ke arah pintu keluar.
Lewat jendela kaca Firda, Gita dan Sisil masih bisa melihat Syakila yang mengomel-ngomel sendirian.
__ADS_1
...****************...