Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK

Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK
27. Menjual Mimpi Manis


__ADS_3

"Astagfirullah... Hamish, kamu..." Abah sampai tidak bisa mengatakan apa-apa melihat tampilan Bujang yang sangat berantakan.


Pakai kaus saja terbalik, sarungnya juga berantakan. Umi sampai harus meletakkan lima jari tangannya untuk menutupi wajah karena malu melihat tingkah putra sulungnya.


Sementara si penyebab Bujang keluar dengan penampilan acak-acakan justru tertawa terbahak-bahak di teras rumah.


Abah, Umi, Ryu dan Noah bisa memperkirakan apa yang terjadi tadi di dalam kamar. Untuknya tonggak kebanggaan Bujang yang belum teruji kekuatannya sudah terkulai layu saat Firda mengatakan hasil karyanya masih kurang bagus.


Jika sampai masih berdiri menantang, bisa semakin di ledekin dirinya.


"Maaf, aku lupa!" Bujang sudah hendak berbalik lagi ke kamar, tetapi Ryu segera menahannya.


"Santai saja, Bro! Kami maklum kok, namanya pengantin baru." ujarnya terkekeh, Noah tertawa-tawa memperhatikan penampilan Bujang yang membuka kembali kausnya untuk dipakai kembali setelah posisinya sudah benar.


Bukannya Ryu dan Noah menghentikan tawanya, justru suaranya semakin menggelegar terbahak-bahak. Abah yang sudah hendak melangkah masuk ke dalam rumah jadi urung karena ingin melihat apa yang ditertawakan oleh kedua teman anaknya.


"Masya Allah, Hamish... Kamu betul-betul menjadi kelinci percobaan bagi Firda ya? Kenapa...Ah, sudahlah! Abah jadi pengen kembali ke masa muda lagi." Abah menggeleng-gelengkan kepalanya sambil melangkah masuk, membiarkan ketiga pria dewasa itu saling meledek. Yang pastinya Bujang menjadi bahan bullying bagi Ryu dan Noah.


"Mish, mana istrimu? Jadi ingin tahu bagaimana orangnya? Seorang Hamish yang kalem dan sedikit alim bisa dijadikan kelinci percobaan seperti kata Abah tadi." Noah melongokkan kepalanya ke arah dalam, tapi tidak ada tanda-tanda jika perempuan muda yang katanya mendadak jadi istri seorang Hamish Maulana tidak kelihatan batang hidungnya.


"Ada di dalam kamar, belum waktunya kalian melihat dirinya." ujar Bujang sudah selesai memperbaiki posisi kaus yang dikenakannya.


"Pelit." cibir Noah.


"Padahal kami kesini ingin berkenalan dengan istrimu, nggak tahunya di umpetin.


Eh, Mish, secara kau dan dia kan tidak mengenal sebelumnya kecuali dia sering nongkrong di cafemu. Terus setelah kau nikahi dia, kalian bisa langsung mesra-mesraan gitu? Gimana caranya?" Ryu penasaran.


Karena belum ada tuh sejarah di keluarga besarnya yang menikah karena kasusnya seperti Bujang, kalau di jodohkan ada. Itu juga usianya tidak terlalu jauh selisihnya.


Sementara yang usianya berbeda jauh kan sama-sama suka, jadi bukan perkara yang sulit jika langsung eksekusi.


"Rahasia dalam negeri lah, ntar kalau kalian sudah nikah baru aku kasih tahu."


"Masih lama, jodoh kami saja masih belum kelihatan hilalnya. Kau sih, bukannya mengenalkan kedua teman istrimu pada kami justru kau bilang beginilah, begitulah."


Noah sepertiya berminat sekali dengan kedua teman istri Bujang.


"Kalian berdua kan tidak kekurangan dengan teman-teman wanita yang cantik-cantik dan wanita karir, untuk apa minta di kenalkan pada remaja-remaja yang bikin sakit kepala itu?"


Bujang lupa memperbaiki lipatan sarungnya, sudah seperti atuk-atuk yang bermain dengan burung peliharaan saja pakai sarung miring sebelah.


"Justru itu, Mish, kami berdua ingin mengulang kisah para pendahulu kami yang menikahi gadis remaja dan mereka sahabatan juga. Itu semua gara-gara kau yang membuat kami berniat seperti itu. Iya nggak, Noah?"

__ADS_1


Noah mengangguk menyakinkan Bujang.


Bujang menatap Noah dan Ryu secara bergantian, dia berpikir sebentar dan mulai mengatur siasat bagaimana caranya agar dua pria dewasa yang masih jomblo karena suka pilih-pilih itu bertemu dengan kedua teman Firda.


...*****...


Bujang menatap Firda yang sudah tertidur lelap, mungkin karena dirinya dan kedua temannya mengobrol cukup lama sehingga Firda bosan menunggu dan akhirnya tertidur.


Entah jam berapa Firda membuka matanya malas, tapi dia bisa memastikan jika hari masih sangat malam.


Cuma Firda merasa aneh saja dengan tubuhnya, seperti ada yang menggelitik geli tapi terasa nikmat. Dia kembali memejamkan kedua matanya, merasakan lagi sensasi yang sangat mendebarkan tapi dia tidak ingin berhenti merasakan rasa itu. Sangat nikmat.


Dengan mata yang masih terpejam tangannya meraba bantal yang ada di sebelahnya, tempat biasa Bujang meletakan kepalanya disana. Bantal itu sedikit dingin pertanda Bujang tidak ada tidur disebelahnya. Kedua matanya sontak membulat, cepat-cepat Firda mau bangun tapi eh, tunggu dulu!


"Bang, Abang ngapain?" tanyanya sedikit gugup dengan jantung yang berdetak kencang antara malu dan entahlah...Tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Bujang, hal yang seperti itu tidak pernah terlintas di pikirannya.


"Apa Abang mengganggumu?" tanya Bujang tanpa mengangkat kepalanya.


Suara itu, sudah terdengar berbeda. Bujang terus memberikan sentuhan-sentuhan yang basah, lembut dan mendebarkan di daerah yang...Firda kembali memejamkan kedua matanya menikmati rasa yang sungguh....


Membayangkan apa yang sudah dilakukan oleh Bujang dia sangat malu, tapi rasa itu...Firda ingin terus menikmatinya terus dan terus.


Dia tidak lagi bisa memikirkan resepsi yang tinggal seminggu lagi, dia tidak bisa mengingat kalau besok harus ke kampus. Yang dia rasakan saat ini rasa yang belum pernah dia kecap, lebih nikmat daripada ketika Bujang memberikan stempel kepemilikan di bawah rahangnya. Bahkan jauh lebih nikmat dari saat bersatunya bibirnya dengan bibir Bujang.


Firda menggigit bibirnya karena ada sesuatu gelombang yang hendak menggulung dan meledak, tapi justru Bujang mengangkat kepalanya. Firda jadi kecewa.


Firda menarik selimut, dia baru sadar kalau tubuhnya sudah tidak memakai apa-apa. Sejak kapan dan bagaimana bisa pakaiannya terbuka dan kenapa dirinya tidak sadar.


"Abang tadi ngapain, dan aku ..."


"Kamu pasti tahu yang Abang lakukan, tubuhmu tidak bisa berbohong, Firda."


"Tapi ..."


"Abang tidak bisa menunggu hingga pekan depan, kamu terus memancing Abang, Fir."


"Sakit nggak?"


"Nggak, palingan juga dikit. Lagipula tadi kan..."


Firda menutup mukanya dengan selimut, dia tidak bisa membayangkan bagaimana malunya. Tapi rasa itu lebih ingin dia nikmati lagi daripada memikirkan rasa malu. Tanpa menunggu jawaban dari Firda, Bujang mulai lagi berpetualang menjelajah semua wilayah yang sudah halal baginya.


Sampai Firda memekik karena sesuatu yang di paksa menerobos masuk, Bujang cepat-cepat membungkam mulut Firda dengan telapak tangan.

__ADS_1


"Jangan kencang-kencang, Fir! Ntar Abah dan Umi bangun lho."


Firda segera menyingkirkan telapak tangan Bujang dari mulutnya.


"Sakit, Bang? Abang bilang tadi nggak sakit, tapi Abang bohong."


"Sakitnya sebentar, ntar habis sakit sedikit pasti setelahnya nggak. Tahan sebentar ya! " Bujang menganggukkan kepalanya untuk menyakinkan.


Firda menggigit ujung bantal, kenapa tadi nggak sakit ketika Bujang masih bermain-main disana ketika dia tersentak bangun.


Sekarang sakit sekali, kemana rasa nikmat yang seperti tadi?


"Bang, sakit, udah dong! Aku teriak ya?"


"Jangan! Diiikiiit lagi..."


Firda bukan saja merasakan perih dan terkoyak dibawah sana, dia bahkan merasakan sakitnya hingga ke ulu hati.


Firda berharap gelombang kenikmatan yang hampir meledak tadi hadir kembali, tapi sama sekali tidak ada. Yang dia rasakan hanya sakit, tahu seperti ini rasanya dia tidak membiarkan Bujang melakukannya.


Ternyata Bujang menjual mimpi manis, Firda cemberut melihat Bujang yang sudah menarik diri dari atas tubuhnya.


"Nanti Abang buat seperti tadi ya supaya kamu nggak sakit, Abang istirahat sebentar." ucap Bujang sembari mengatur napasnya yang masih terdengar memburu.


Firda melirik Bujang yang sedang menatap langit-langit kamar dengan posisi telentang. Walaupun suasana kamar mereka bernuansa temaram, tapi mereka masih bisa melihat satu sama lain. Tidak gelap gulita, disebabkan light dari pendingin udara di biarkan menyala.


"Bukan kamu saja yang sakit, Fir, punya Abang sakit juga kok. Tapi mungkin nggak sesakit kamu, maaf ya karena Abang sudah tidak kuat untuk bertahan."


Perlahan Bujang bangkit dari tidurnya, meraih sarung yang teronggok di ujung ranjang sebelum menyibak selimut dan menutupi tubuhnya yang juga polos seperti Firda.


Firda tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Walaupun Bujang melakukan gerakan dengan sangat cepat untuk menutupi area pribadinya, tapi Firda masih bisa melihatnya sekilas.


Firda terkikik.


"Jadi kaya' gitu bentuknya, tapi kok tadi sakit sekali ya? Kayaknya...."


Bujang langsung menjentik dahi Firda.


"Yang tadi tidak seperti ini, besok malam kamu bisa melihatnya sekaligus merasakannya. Abang mau membersihkan diri dulu!" Bujang gegas masuk ke dalam kamar mandi.


Apakah aku harus mengintip? Pintu di kunci nggak ya? Aku kan penasaran.


Firda sudah bersiap-siap untuk bangun dan hendak bergerak mencari piyama tidurnya, tapi bagian bawah tubuhnya terasa kembali sakit ketika dia bergerak.

__ADS_1


Dasar bujang lapuk, gara-gara dia aku nggak gadis lagi. Gimana nih?


...****************...


__ADS_2