
Syakila terus menunjukkan wajah cemberutnya, membuat bang Jojo jadi resah. Pasalnya sudah seminggu si hitam manis tidak dapat jatah, apa nggak puyeng kepala.
"Dek Sya, udah dong jangan ngambek terus! Sebentar lagi lebaran, apa nggak pengen beli baju lebaran, beli gorden baru, wadah kue, apapun yang berhubungan dengan idul Fitri." rayu bang Jojo mulai membuka dompetnya.
Puasa nggak pernah dibahas, tau-tau sudah mau lebaran saja.
"Aku tuh pengen hamil, Bang. Kaya' Firda noh, udah lahiran, anaknya cakep. Kedua temannya juga sedang menunggu detik-detik melahirkan, nah aku? Tujuh bulan kita sudah menikah, tapi rahimku belum isi juga."
Syakila menelungkupkan wajahnya di pinggiran sofa, bang Jojo hanya bisa menghembuskan napas tidak berdaya.
Firda cs memang menjadi tolak ukur Syakila dalam menginginkan sesuatu dalam hidupnya.
Firda yang mendadak menikah dengan pria dewasa, semula di ejeknya. Tapi setelah kedua temannya juga menikah dengan pria dewasa juga, Syakila jadi kepengen. Jadi saat neneknya menjodohkan dirinya dengan sepupunya sendiri, Syakila menolak tapi mau.
Nah sekarang, Firda sudah punya anak, Sisil dan Gita segera otewe jadi ibu juga. Syakila juga mau, apalagi ketiganya juga sudah pada mengambil cuti satu semester di kampus. Syakila rasakan kampus menjadi sepi tanpa mereka, lebay.
"Masalah anak kan hak mutlak Allah, Dek. Mana bisa terjadi begitu saja sesuai dengan keinginan kita, sabar, Dek!"
"Sabar, sabar, percuma ukuran jumbo tapi belum ada hasilnya, periksa sana, Bang! Jangan-jangan..."
"Astaghfirullah...Nggak boleh suudzon! Mungkin Allah menyuruh kita pacaran dulu, Dek."
Syakila mencebik.
"Pacaran? Untuk apa? Kita saudara, Bang, sudah saling mengenal dari zaman aku masih bayi. Jangan cari pembenaran lah, Bang! Abang coba periksa, siapa tahu ada sesuatu yang salah."
Bang Jojo mengusap wajahnya kasar. Maksud Syakila itu apa menyuruh dirinya memeriksakan diri, menuduh dirinya tidak subur?
"Jadi Dek Sya menuduh Abang yang kurang subur, gitu?"
"Terus, siapa? Masa' aku, aku kan masih muda. Beda dengan, Abang, Abang udah tua. Bibitnya kelamaan tidur, jadinya pemalas, bergerak udah nggak lincah lagi. Bisa jadi bibit Abang cepat game over."
Ya salam...Untung Syakila sudah jadi istrinya, kalau statusnya masih jadi saudara sepupu mungkin sudah di telan bulat-bulat oleh bang Jojo.
Dari pada bang Jojo emosi, dia lebih memilih pergi nongkrong di pos sekuriti dan meninggalkan Syakila sendirian di rumah.
Entah dapat pencerahan dari siapa Syakila mengatakan hal yang seperti itu.
...*****...
"Kedua teman kamu hari ini melakukan operasi Cesar, aneh ya. Nikah sama, hamil sama, sampai lahiran juga sama. Untungnya kamu nggak ikut-ikut mereka, Fir, bisa ubanan cepat Abang kalau kamu mau samaan juga seperti mereka."
Hamish menghempaskan badannya di atas kasur. Dia capek juga menggendong Ali yang kian gembul, minum ASI-nya lumayan sering sehingga Firda bolak balik makan. Untungnya pengurus rumah selalu memasak lauk lebih banyak.
__ADS_1
Ali suka rewel kalau di gendong Firda, kata orang-orang dudukan kepalanya pada lengan Firda masih kurang nyaman. Jadi Ali hanya berada dalam gendongan Firda jika sedang menyusu saja, selebihnya kalau tidak sama Umi, diletakkan dalam box bayi atau digendong Hamish. Terkadang Umi gantian dengan Abah menggendong Ali.
"Ish, kok Abang bisa tahu duluan daripada aku, biasanya..."
"Suami mereka yang kasih info, mungkin Gita dan Sisil tahu jika kamu sedang repot mengurus Ali. Makanya nggak ngabarin kamu."
Firda berpikir sebentar, lalu senyum-senyum.
"Bisa kok Bang aku barengan sama mereka."
"Maksudnya apa?"
"Aku menunggu mereka selesai masa nifas, nah, janjian deh malam pertama jilid dua."
Hamish langsung melotot, Firda terkekeh.
"Kalau harus menunggu selama itu ...Kayaknya Abang sudah nggak bisa sabar, Fir, ini saja sudah hampir melewati limit Abang mampu bersabar.
Kamu sudah nggak takut kan? Ayolah, Fir! Memang kamu nggak kasihan sama, Abang."
Firda tergelak.
"Nanti kalau robek lagi bagaimana?"
Kalau sudah begitu, mana kuasa Firda menolak. Lagian, Hamish kan sudah menguasai titik kelemahan Firda dimana saja, mana kuasa Firda menolak.
...*****...
Syakila bolak-balik menatap keluar jendela. Sejak sore tadi sebelum berbuka puasa, bang Jojo meninggalkan rumah.
Hingga sekarang sampai terdengar suara tadarusan dari mesjid yang berjarak sekitar tiga ratus meter dari rumah, tepatnya mesjid yang berada tidak jauh dari rumah Hamish. Bang Jojo belum juga pulang ke rumah.
Syakila sudah berkali-kali mencoba menghubungi ponsel bang Jojo, namun masih belum aktif juga.
Menurut keyakinan Syakila bang Jojo tidak jauh dari rumah, karena bang Jojo cuma menggunakan sepeda motor dan cuma memakai sandal. Tidak juga memakai helm, jadi Syakila yakin kalau bang Jojo paling-paling berada di pos sekuriti seperti biasa.
Hampir jam sebelas malam baru terdengar deru suara motor berhenti di depan pagar rumah, Syakila yang sudah hampir tertidur di ruang tamu gegas membukakan pintu.
"Bang, darimana? Kok sudah jam segini baru pulang? Buka puasa dimana tadi?" berondong Syakila dengan banyak pertanyaan, bang Jojo cuma diam sembari mengunci pintu pagar dan memasukkan sepeda motor di dalam garasi.
Setelah mengunci pintu rumah, bang Jojo langsung ngeloyor begitu saja masuk kedalam kamar tanpa mengindahkan Syakila yang terus mengikuti dirinya dari belakang.
"Bang, dari mana sih? Ngambek kaya' anak kecil, kabur."
__ADS_1
Syakila menarik kaos yang bang Jojo kenakan sehingga bang Jojo jadi tidak bisa masuk ke kamar mandi.
"Dari rumah sakit, bukankah kamu meminta Abang melakukan tes kesuburan karena Abang sudah tua? Apa kamu tidak pernah tahu berita jika seorang kakek-kakek masih bisa menghamili seorang perempuan? Usia abang baru tiga lima tahun, Dek, tapi kamu mengatakan Abang sudah tua." Bang Jojo cemberut.
"Jadi Abang tersinggung?"
"Menurutmu?"
"Aku tadi cuma emosi, maaf!"
"Telat, harga diri Abang sudah kamu lukai, tiada maaf bagimu."
Dih, bang Jojo gantian merajuk.
Bang Jojo menepis tangan Syakila, dia segera menghilang masuk ke dalam kamar mandi.
Bang Jojo hendak mandi besar karena tadi harus mengeluarkan hormonnya dengan cara di paksa, tapi setidaknya dia tidak perlu mencolek-colek Syakila malam ini. Hihihi.
"Bang, terus kapan hasilnya keluar?" teriak Syakila dari depan pintu, bang Jojo pura-pura tidak mendengar.
"Ayolah, Bang, jangan merajuk! Nanti Abang boleh kok...Hemm... Itu..."
Syakila mencebik, malu dia mengatakan seperti itu pada bang Jojo.
Bang Jojo mencibir, dia sedang nggak mood.
"Baaang..."
"Sudah malam, Dek, jangan teriak-teriak! Apa kata tetangga?" ucap bang Jojo keluar dengan rambutnya yang basah.
"Siapa suruh Abang nggak mau jawab, hasilnya kapan?"
"Lusa."
"Terus, cara ngeluarinnya tadi bagaimana?"
"Kepo."
"Iyalah, aku harus tahu! Abang kan suamiku, jangan macam-macam lho! Abang mau aku adukan sama nenek?" ancam Syakila gemas dengan sikap bang Jojo yang mendadak seperti anak kecil.
Bang Jojo hanya bisa menggeram jengkel dengan ancaman Syakila, untungnya Syakila itu istrinya. Kalau cuma tetangga, sudah di usir dari tadi.
...****************...
__ADS_1