Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK

Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK
67. Lebih Manis


__ADS_3

Bagas menatap adiknya dengan gemas. Kalau saja dia punya adik perempuan selain Firda, sudah dipastikan adiknya itu akan dia tukarkan dengan gelas setengah lusin atau piring tiga biji.


Kan lumayan untuk menambah jumlah piring dan gelas koleksi milik ibunya hihihi.


Dari remaja sampai sudah menikah, bahkan tujuh bulan ke depan akan menjadi orang tua. Tapi kenapa sukanya bikin puyeng kepalanya dan kepala ayahnya. Sudah sama seperti ibunya, Firda itu copy paste sang ibu.


Kalau Firda suka membuat ulah, nah ibunya suka ambekan, tapi sama-sama gampang dipengaruhi oleh orang lain.


Namanya juga ibu dan anak, Gas. Sedikit banyak ya tentu mirip lah, kalau tidak sikapnya yang mirip mungkin fisiknya yang diturunkan.


Kalau mirip tetangga justru ayah Deni bisa curiga, benarkah Firda anaknya?


Bagas terlihat berpikir sebentar, mencoba mencari solusi apa yang terbaik untuk kebimbangan yang Firda rasakan saat ini. Untung saja Firda menemui dirinya di kantor di jam istirahat, coba kalau di jam sibuk! Di jamin Bagas tidak bisa menemui adiknya.


Kalau hanya meminta pendapat kenapa tidak di rumah saja? Kan lebih leluasa, ada ayahnya juga. Atau Firda kuatir jika ibunya mendengar lalu ibunya akan mengeluarkan pendapat yang justru membuat Firda semakin bimbang?


Bagas lalu menjentikkan jarinya ke udara, dia sepertinya sudah menemukan solusi untuk Firda.


"Menurut Abang sih begini, Ayah dan ibuk kan mau pergi umroh. Abang juga akan pergi ke kantor cabang selama dua Minggu, ada pelatihan di sana. Waktunya hampir sama tuh dengan ibuk dan Ayah yang akan pergi ke tanah suci.


Otomatis kamu dan suamimu yang akan menjaga rumah dan Raka selama kami tidak ada, anggap saja latihan untukmu bagaimana hidup mandiri."


"Aku yang menjaga, Raka?" Firda menunjuk dirinya sendiri.


Bagas mengangguk lalu tertawa kecil.


"Raka bisa kau jadikan asistenmu! Kau bisa menyuruh Raka ke warung misalnya, menyapu, mengepel atau cuci piring, selebihnya ya tentu saja kau dan suamimu yang menyelesaikan.


Tapi ingat! Jangan coba-coba beli makanan secara online, kalau seperti itu latihannya jadi tidak efektif. Setelahnya kau bisa mengambil keputusan, apakah tetap memilih tinggal bersama kedua mertuamu atau tinggal berdua dengan suamimu.


Satu lagi, rengekan Raka yang sedikit banyak permintaan dari uang jajan atau ketika makan lauknya kurang cocok jadikan latihan untukmu untuk menjadi seorang ibu."


Firda melotot mendengarkan usulan Bagas yang sepertinya banyak rugi di dirinya, melihat wajah Firda yang sangat keberatan Bagas justru tersenyum .

__ADS_1


"Tidak perlu banyak berpikir! Itu latihan yang paling efektif dan cocok lho, masih mendingan Raka yang jadi anakmu untuk dua Minggu. Apa perlu kita menyewa bayi milik orang lain agar latihannya jadi semakin terasa riil?"


Firda mencebik, lalu begitu saja meninggalkan Bagas yang justru terkekeh.


Fir, Fir, sampai kapan kau terus begitu? Dari awal terjadinya pernikahan sampai sekarang, kau bikin dunia Hamish jungkir balik. Untung kau sudah jadi istrinya dan sekarang sedang mengandung anaknya, kalau tidak... Mimpi apa Hamish dapat jodoh seperti dirimu.


...*****...


"Dari buka rekening? Kenapa nggak minta antar Abang? Ini malah justru pergi sendiri, tadi naik apa? Nggak naik ojol kan?"


Beberapa pertanyaan langsung Hamish tanyakan saat dirinya sudah sampai di rumah, Firda tenang saja sambil minum es dawet kiriman tetangga yang berada di pojokan hanya bisa menggeleng.


Umi tadi menghadiri acara tujuh bulanan, dan Umi sengaja meminta izin pada yang punya hajat agar di perkenankan membawa pulang segelas es dawet untuk menantunya yang hamil muda.


Beli sih pasti bisa, cuma rasanya pasti beda karena beda pula cara mendapatkannya


Kebetulan saat Firda hendak ke kantor tempat Bagas bekerja, Hamish tadi sedang melihat-lihat rumah yang ingin di belinya.


Lagi pula memang sengaja Firda pengen pergi sendiri, dia kan cuma mau ketemu Bagas bukan mau buka rekening.


Omnya Noah kan pengembang perumahan warisan dari kakek dari pihak almarhum opanya, jadi Hamish mendapatkan rekomendasi tempat dan harga yang cocok dan sesuai dengan keinginan Hamish.


Makanya Hamish tidak bisa mengantar Firda ke Bank siang tadi.


"Nggak, Bang, aku tadi naik taksi online. Biar nggak muter-muter ganti angkot."


Hamish mengangguk, melihat Firda yang sepertinya sangat enak menikmati minumannya, dia jadi kepengen.


"Enak?"


"Hmm,"


"Kelihatannya manis,"

__ADS_1


Firda hanya mengangguk tanpa keinginan untuk membagi sedikit pada Hamish, suaminya itu sampai terlihat menelan salivanya.


"Boleh, Abang minta?"


"Hah? Sudah habis." tunjuk Firda pada gelasnya yang sudah kosong.


"Tadi Abang nggak bilang! Kalau bilang pasti aku tinggalin."


Basi, Fir, dari tadi tidak nawari.


"Ya sudah, yang di mulut atau di bibir kamu saja Abang minta, pasti lebih manis."


"Hah?" Firda masih ngeblank, pikirannya dari tadi terus mengingat apa yang abangnya ucapkan. Sehingga perkataan Hamish tidak dicernanya dengan baik, berlalu begitu saja seperti angin.


Melihat Firda yang sedang tidak nyambung, Hamish langsung mendekati wajah Firda dan mengecup bibir istrinya. Sebelah tangannya menahan belakang kepala Firda, lidahnya dengan nakal menjelajah isi mulut Firda untuk bisa mengecap rasa manis yang masih tertinggal di sana.


"Benar kan kata Abang tadi, lidah dan bibirmu jauh lebih manis dari es dawet yang kamu makan barusan." kedip Hamish genit.


Firda sampai harus menggigit bibir bawahnya menahan rasa malu dan sensasi yang sudah dipancing oleh suaminya, untung saja Umi dan Abah sedang ngobrol dengan tetangga sekaligus pengurus mesjid yang terletak di kompleks perumahan tempat tinggal mereka.


Pengurus mesjid sedang meminta petunjuk dari Abah tentang rencana memperbesar ruangan kelas untuk anak-anak yang mengaji sore hari.


"Makanya kalau makan apa-apa, Abang di bagi! Kalau nggak, Abang rasa deh dari mulut kamu."


Firda yang masih terlihat malu, wajahnya saja masih merona. Tetapi Hamish sangat tahu kalau istrinya sedang menginginkan agar dirinya mengulangi apa yang dilakukannya tadi. Hamish menarik tangan Firda dan membawanya ke kamar, bahaya kalau sampai Abah atau Umi memergoki tingkah nakalnya.


Firda itu betul-betul masih awam untuk urusan trik atau segala macam gaya bermesraan dengan cara yang baru, jadi kalau Hamish memberinya sedikit contoh pasti istrinya itu akan sangat penasaran dan ketagihan. Makanya tidak bisa cuma tester atau setengah-setengah, harus sampai finish.


Hamish tahu memanfaatkan kelemahan Firda, mereka kan masih tergolong baru. Tentu saja Hamish juga sangat menyukai bermesraan dengan istrinya.


Sampai di dalam kamar, Hamish kembali menyatukan bibir mereka. Tanpa melepaskan bibirnya dengan bibir Firda, dia terus menggiring Firda masuk ke dalam kamar mandi.


Sekalian mandi, sekalian ahai...Tahu sendirilah.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2