
Ryu dan Hamish tergelak kencang, Noah cuma mesem.
"Kenapa kau yang gantian merajuk, Noah? Kau sudah tua, harusnya dia yang merajuk lalu kau bujuk. Ini malah sebaliknya." cibir Ryu.
Ryu sengaja meninggalkan Sisil di rumah hanya dengan di temani oleh asisten rumah tangganya.
Setelah di ajak pindahan pagi tadi, Ryu tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia langsung saja mengajak Sisil gelud sampai Sisil kewalahan dan terkapar kecapean, dirinya lalu mengajak Hamish untuk ke cafe milik Noah.
Seperti yang sering dilakukan oleh para pendahulunya, ngobrol ala pria-pria.
"Aku bukan merajuk, aku kan cuma mengikuti alurnya saja. Melihat bibirnya yang terus manyun sebenarnya sudah ingin kubujuk, tapi aku sudah terlanjur bersikap acuh dan sok sibuk."
"Dasar, kau ini!"
Hamish melemparkan gumpalan tisu yang sudah dibentuknya seperti bola ke lengan Noah, temannya itu sama sekali tidak mengelak. Dia hanya terkekeh, merasa lucu memainkan emosi istrinya sendiri.
"Ayo sekarang kita bubar, aku yakin dia sekarang sedang sangat galau, Noah. Sisil sudah di bawa pergi oleh Ryu, dan istriku tahu sendiri...Sejak dia mengandung, bawaannya terus nempel padaku. Aku kan jadi gimanaaaa gitu." Hamish tergelak sembari bangun dari duduknya, diikuti oleh Ryu dan Noah yang tergelak melihat Hamish yang sekarang mendadak ganjen.
...*****...
Menjelang jam delapan malam Noah baru sampai di rumah mertuanya.
Padahal jam lima sore tadi pertemuan dengan kliennya sudah selesai, tapi ya itu. Hamish dan Ryu mendadak muncul di cafe miliknya.
Gita yang sudah menunggu kepulangan Noah dari sore langsung berdiri dan memegang tangan Noah.
"Mas Noah capek ya? Mau aku siapkan air hangat?"
Noah menautkan kedua alisnya hingga menyatu.
Salah makan apa dia mau menyiapkan aku air hangat untuk mandi.
Noah tersenyum kecil, menatap wajah Gita lekat-lekat lalu mengusap pelan pipinya pelan.
"Nggak perlu, mandi dengan air dingin lebih segar. Mas mandi dulu ya! Kamu sudah makan?"
Gita menggeleng, dia memang sengaja menunggu Noah pulang agar bisa makan bersama.
"Mas mandi dulu baru kita makan, oke?"
Gita mengangguk.
__ADS_1
Kenapa Mas Noah tidak pernah ngajak aku mandi bareng ya? Nggak seperti suami Firda. Firda bilang mereka sering mandi bersama, malu sih tapi mengasikkan.
Gita memukul dahinya sendiri, dia kan mengatakan kalau sedang datang bulan. Bagaimana mungkin Noah mengajaknya mandi bersama.
Setelah Noah selesai mandi dan sholat, Gita membawa makanan masuk ke dalam kamar. Dia ingin makan di kamar saja, malas kalau makan di meja makan. Suara Revan yang sedang bermain game sangat ribut dan mengganggu. Apalagi suaranya kencang dan serak seperti adiknya Firda, maklum abege.
"Mas pasti nggak nyaman tinggal di sini ya?"
Noah yang sedang mengunyah makanan menghentikan gerakan gerahamnya.
"Nyaman-nyaman saja lah, Git, hanya saja kalau orang tidak tahu akan berpikiran kalau Mas tidak mampu memenuhi kebutuhan sandang padamu. Orang akan mengatakan Mas numpang hidup pada mertua, kasihan ibuk dan bapak yang akan dipergunjingkan oleh orang lain.
Memang kita tidak harus memikirkan omongan orang lain, tetapi kita yang jadi penyebab orang lain mendapat dosa karena berghibah. Muslim yang baik dan yang menyayangi saudara seiman itu tidak begitu sikapnya."
Gita langsung menunduk, dia rasanya ingin menangis. Noah mungkin tidak seromantis pria yang sempurna yang pernah di khayalannya, tapi Noah juga tidak pemarah. Justru sebenarnya sangat pengertian.
Walaupun baru beberapa malam mereka jadi suami istri, namun Noah mengalihkan drama yang dibuat Gita dengan sibuk bekerja.
Pria dewasa itu sama sekali tidak terlihat uring-uringan atau resah, karena baru satu malam jadi pengantin baru sudah harus stop dulu untuk menjelajahi dunia yang baru.
"Maaf ya, Mas! Aku sudah membohongi, Mas Noah."
Noah kembali tersenyum.
"Aku yang salah," sela Gita.
"Harusnya aku bisa menahan sedikit. Tuh buktinya Firda, Sisil dan mungkin banyak lagi wanita lain di luaran sana yang tidak terlalu membesar-besarkan yang memang hal yang seharusnya."
"Ya sudah tidak perlu dibahas! Sekarang kita lanjutkan makannya, berarti kamu sudah mau kalau Mas ajak pindah rumah?"
Gita mengangguk.
"Kalau untuk..." Noah terkekeh, pas makan kok yang di bahas urusan kasur. Mungkin karena makannya di kamar kali ya?
*****
"Bang, kata Gita, Sisil sudah di bawa pergi oleh bang Ryu ke rumah bang Ryu sendiri, kita sendiri kapan?" lapor Firda saat suaminya baru keluar dari dalam kamar mandi.
Pasti Gita sudah buat laporan.
Hamish duduk di tepi tempat tidur, menatap Firda yang masih bermain dengan ponselnya.
__ADS_1
"Letakkan dulu Ponselnya, kita bicara dengan serius!"
Firda nurut, ponselnya diletakkan begitu saja. Memeluk bantal guling sembari menatap Hamish yang baru selesai mandi, rambut depannya masih terlihat basah.
Segar aroma sabun mandi masih menguar harum dari tubuh Hamish membuat Firda senang menarik napas dalam-dalam, pria dewasa yang ada di hadapannya itu terlihat semakin tampan di mata Firda.
"Kamu benar-benar ingin kita pindah dari rumah Abah dan hidup mandiri hanya berdua?"
Firda cuma meringis kecil, tidak berani mengangguk atau menggeleng.
"Hmm oke. Jika kita pindah dari sini, kita bisa mencari asisten untuk membantu kamu mengerjakan semua tugas rumah tangga. Apa kamu benar-benar menginginkan kita hidup mandiri atau sekedar ikut-ikutan, Sisil?"
Firda diam, karena sejujurnya dia juga belum siap jika harus mandiri hanya dengan suaminya. Tapi melihat Sisil pindah, ada keinginan untuk pindah juga
Hamish tersenyum melihat Firda yang tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukannya.
"Tapi ingat! Walaupun ada asisten rumah tangga, tetapi dia tetap bekerja atas perintah yang sudah kita berikan. Mau makan apa, mau dibuat apa dan harus bagaimana, semua tergantung dengan keinginan kamu. Karena seorang asisten rumah tangga sangat jarang tahu apa yang harus dilakukannya untuk membuat majikannya senang tanpa ada perintah dari sang majikan, disebabkan dia tidak tahu apa keinginan majikan jika tidak diberitahu.
Nggak mungkin kan kalau dia bertanya padamu terus kamu jawabnya terserah? Atau kebutuhan rumah tangga apa saja yang diperlukan dia juga tidak tahu kalau tidak kamu yang menyiapkan atau membuat listnya.
Belajar dulu sama Umi atau Ibuk, ya! Nanti kalau kamu merasa sudah siap dan mampu menjadi ibu rumah tangga, kita akan pindah dari rumah ini. Abang akan mengatakan pada Umi dan Abah, hmm. Jadi... Abang harap kamu bersabar sebentar dulu." ucap Hamish mengusap kepala Firda pelan, lalu mengecup puncak kepala Firda sebelum bangun dari duduknya.
Keluar dari dalam kamar Hamish berjalan ke ruang tengah, menemani Abah dan Umi yang sedang menonton televisi.
"Abah, Umi, jika aku dan Firda memutuskan untuk hidup terpisah dari Abah dan Umi, bagaimana? Apa Abah dan Umi keberatan?" tanya Hamish berhati-hati.
Hamish tidak bisa terus mengabaikan atau memberikan berbagai macam alasan supaya Firda mau bertahan di rumah Abah dan Umi.
Ini sudah kali kedua Firda berbicara masalah tinggal terpisah, apalagi jika sampai besok atau lusa Noah membawa Gita pergi dari rumah orang tua Gita. Maka Firda akan bertanya lagi, kemungkinan timbul rasa iri dan menginginkan pindah juga akan semakin bertambah besar.
Umi dan Abah saling berpandangan lalu Abah tersenyum kecil seperti biasanya.
"Mish, seperti yang kamu tahu sebelumnya. Abah dan Umi sangat berharap kamu dan Firda beserta anak-anak yang akan lahir dari rahim Firda tetap tinggal disini, kalau bisa sampai Abah dan Umi pergi meninggalkan dunia ini.
Abah dan Umi sayang sama, Firda. Dia sudah seperti anak sendiri, tapi kalau memang kalian sudah memutuskan untuk pindah dari sini Abah dan Umi bisa bilang apa?"
Ini yang Hamish kuatir kan, Abah memang tidak akan keberatan. Tapi pasti sangat sedih dan kesepian. Hamish mengusap wajahnya kasar.
"Abah yakin Firda belum siap untuk mandiri, tapi kamu sudah, Abah yakin itu. Maka persiapkan semuanya dengan matang! Menantu Abah dan Umi sedang hamil muda, jangan sampai terjadi apa-apa dengan keduanya." tepuk Abah pelan pada bahu Hamish.
Firda mendengarkan pembicaraan itu dari sebalik dinding, lalu bergerak pelan untuk kembali ke dalam kamar. Jangan sampai ada yang tahu jika dia barusan mencuri dengar pembicaraan antara suami dan kedua mertuanya.
__ADS_1
...****************...