Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK

Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK
69. Syakila pingsan


__ADS_3

Masih hanya mengenakan underware saja, Firda berdiri di depan cermin.


Pakaian seragam keluarga pengantin di pernikahan Syakila yang akan dilaksanakan tiga jam ke depan masih dibiarkan tergeletak begitu saja di atas ranjang.


Syakila tidak bisa membantah kemauan neneknya yang hendak menikahkan dirinya dengan bang Jojo, kalau tidak mau dia akan di minta keluar dari rumah dan berhenti kuliah.


Idih, kejam benar neneknya.


Iya, kalau tidak diancam begitu, Syakila tidak mau.


Berkiblat pada pernikahan Firda dengan Hamish, makanya semua keluarga besar setuju saja dengan usul sang nenek.


Bang Jojo seperti dapat durian runtuh, dirinya yang lebih kurang seusia Hamish mendapatkan jodoh gadis muda. Tidak peduli dia sepupunya sendiri, hitung-hitung merubah keturunan. Asal nggak belang-belang saja ntar anaknya.


Bang Jojo, saking bahagianya hendak menikahi gadis remaja, seluruh keluarga besar diberinya seragam pesta pernikahan secara gratis.


Tapi jasa menjahit bayar masing-masing, hihihi.


Bang Jojo itu pemasok hasil pertanian ke para pedagang eceran, jadi duitnya banyak. Makanya Syakila yang matre maju mundur mau menolak.


Apalagi melihat kehidupan Firda yang terlihat bahagia dan di manja, Syakila kan juga kepengen.


Walaupun antara Syakila dengan Firda dan dua temannya tidak pernah akur, diam-diam keputusan yang Syakila ambil berkiblat pada mereka sih.


Apalagi sekarang Gita dan Sisil barengan juga hamilnya, Syakila jadi kepengen hamil juga, eh.


Kehamilan Firda sudah memasuki tri semester kedua, Alhamdulillah nggak banyak drama. Makanan atau minuman yang Firda inginkan biasa-biasa saja, yang luar biasa cuma satu...Firda paling doyan tidur di bawah keteknya Hamish.


Firda lupa tuh saat malam setelah mendadak nikah, dia geli melihat ketek Hamish. Sekarang...Beuh.


Hamish kan risih, tapi apalah daya karena Firdanya tidak bisa tidur kalau belum mengendus-endus terlebih dahulu aroma khas ketek milik Hamish.


Namun Hamish suami yang pengertian dan sayang sama istrinya, sebelum tidur dia mandi terlebih dahulu, bersih-bersih, pakai parfum, baru menyerahkan diri sepenuhnya pada Firda.


Kalau nggak seperti itu, bisa pingsan Firda.


"Kenapa belum di pakai bajunya? Ntar ayah dan ibuk kelamaan nunggunya lho." ujar Hamish yang baru menyembulkan kepalanya di sela pintu kamar.


"Perut aku sudah besar ya, Bang?"


Firda mengelus perutnya tanpa melihat ke arah pintu, Hamish berjalan mendekat lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya menarik kedua telapak tangan Firda agar lebih mendekat dan menghadap ke arahnya.


"Kamu cantik dengan perut besarmu, Fir. Andai di perbolehkan, mungkin Abang akan mengabadikan momen saat kamu tengah mengandung anak kita. Tapi itu tidak boleh, kuatir akan ada yang melihat bentuk tubuhmu. Biarlah semua keindahan yang ada padamu Abang simpan di hati dan pikiran, Abang."


Hamish ikut mengelus perut Firda, lalu mengecupnya pelan.


"Cepat pakai bajunya! Abang kuatir kita nanti tidak jadi pergi." ucap Hamish sembari mengedipkan matanya genit, dia bangun dari duduknya lalu meninggalkan kamar.

__ADS_1


Terlalu lama beranda bersama Firda yang belum berpakaian akan membangkitkan sesuatu yang tidak boleh bangun untuk saat ini, karena mereka harus segera pergi ke pesta pernikahan Syakila bersama dengan kedua orang tua Firda, Raka dan juga Bagas.


...*****...


Mengenakan stelan pakaian khas dari negara tetangga yang sedang ngetren saat ini, membuat perut Firda yang mulai membuncit jadi semakin terlihat. Tetapi justru Firda semakin kelihatan bertambah cantik.


Bang Jojo yang duduk di kursi pelaminan saja matanya sering curi-curi pandang ke arah Firda yang bolak-balik ke meja hidangan.


Namanya juga bumil, yang makan kan dua orang, wajarlah.


"Sya, kalau dikau nanti hamil juga, Abang yakin dikau akan secantik Firda. Bahkan lebih cantik." Bang Jojo hendak menjangkau tangan Syakila, tapi cepat-cepat Syakila menariknya.


Syakila belum mau di pegang oleh bang Jojo, tadi saja setelah akad nikah Syakila ogah-ogahan untuk menyalami bang Jojo. Kalau tidak dipelototi oleh nenek dan kedua orang tuanya, Syakila malas menyalami Abang sepupu yang sekarang sudah menjadi suaminya itu.


"Iya, kalau punya anak juga aku nggak mau dia mirip sama, Abang, gelap." Syakila mencibir, bang Jojo hanya pasrah. Kenyataannya memang dirinya berkulit gelap aduhai.


"Tentu, Sya, Abang berharap anak kita akan mirip dikau, jangan mirip, Abang!"


"Jangan dikau-dikau lah, Bang! Geli, aku, tau nggak?"


"Iya, Maaf, Abang panggil adek aja ya? Biar mesra."


"Terserah," ucap Syakila cemberut.


"Cie cie, yang marahan...Tenang aja Bang Jojo! Syakila begitu karena belum tau, coba aja setelah dia kena suntik, hmm..." Firda cekikikan, Hamish segera membungkam mulut istrinya dengan telapak tangan.


"Nggak boleh iseng begitu, Firda sayang!"


Hamish mengajak Firda duduk, dia kuatir Firda kelelahan karena dari tadi memutari meja hidangan tiada henti.


"Kesempatan, Bang, siapa suruh Syakila kemarin-kemarin juga sering membuat aku kesal."


"Tidak harus membalas dengan perbuatan yang sama, apalagi kamu sedang hamil."


"Biar dia takut menghadapi nanti malam, Bang." Firda terkekeh, dia jadi tidak sabar menunggu berita apakah Syakila juga akan pingsan ketika malam pertama seperti istrinya bang Jojo dulu?


...*****...


Bang Jojo langsung membawa Syakila menginap di hotel setelah acara resepsi selesai , dia sudah antisipasi terlebih dahulu sebelum kejadian tragis malam pertama pada istrinya dulu akan terulang kembali.


Syakila sebenarnya tidak mau di bawa menginap di hotel, tapi karena Bang Jojo pamitnya pada nenek dan kedua orang tuanya jadi Syakila tidak bisa berbuat apa-apa selain menurut.


Setelah mengganti pakaian pengantinnya dan mandi, Syakila keluar dari dalam kamar mandi dengan memakai setelan pakaian tidur lengan panjang dan celana panjang.


setelah itu bergantian dengan bang Jojo yang memakai kamar mandi untuk membersihkan diri.


Malam baru menunjukkan pukul sembilan ketika Syakila dan bang Jojo sudah bersiap hendak tidur.

__ADS_1


Bang Jojo terlihat sedikit resah, dia terus menatap Syakila dengan wajah yang terlihat cemas. Tetapi dia harus tetap berterus terang agar Syakila tidak terkejut.


"Dek, Abang mau ngomong sebelum kita..."


"Ngomong apa? Sebelum apa?" potong Syakila cepat, padahal sebenarnya hatinya berdebar-debar. Dia takut rumor tentang kematian istri bang Jojo itu benar, bisa game over juga dia malam ini.


"Itu, punya Abang...Punya Abang."


Bang Jojo tidak bisa melanjutkan ucapannya.


"Punya Abang apa? Besar dan panjang? Memang sebesar dan sepanjang apa? Ups," Syakila menutup mulutnya karena keceplosan, walaupun dia sebel sama Bang Jojo tapikan Abang sepupunya itu sudah jadi suaminya. Cepat atau lambat dia dan bang Jojo akan melakukan hal itu juga, jadi tidak masalah kalau harus membicarakan itu.


Bang Jojo melongo.


"Adek percaya gosip itu? Nggaklah, sedikit besar dan panjang mungkin tapi tidak terlalu."


Astaghfirullah... Mereka itu ngomongin apa sih?


"Terus?"


Kok Syakila yang tidak sabar.


"Warnanya yang..." Bang Jojo tidak sanggup mengucapkannya.


Wajahnya menjadi kelabu karena malu.


"Bagaimana kalau matikan lampu saja biar Adek tidak melihat, cukup Adek merasakan saja!"


Otak bang Jojo mulai korslet.


"Nggak, aku mau lihat dulu, kalau nggak ya nggak usah! Nasi tak retak pinggan tak dingin, engkau tak endak aku pun tak ingin."


Hayya... Syakila berpantun pula.


"Baiklah," ucap bang Jojo pasrah.


Dengan lesu dan ragu-ragu bang Jojo mengeluarkan aset berharganya diterangi oleh lampu kamar hotel yang terang benderang.


"Aaaaaaaa ..."


Syakila langsung pingsan.


"Tuh kan, Abang bilang juga apa? Jangan dilihat, dirasakan aja." gumam bang Jojo menyesali kekeras kepalaan Syakila sembari berusaha membangunkan Syakila dari pingsannya.


Gimana Syakila nggak pingsan, yang di lihatnya hitam, panjang, hidup lagi.


Uler.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2