Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK

Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK
63. Noah galau


__ADS_3

"Mish, apakah saat kau menikahi istrimu kemarin, dia pakai acara ngambek hmm...Maksud aku, dia tidak mau.. "


Hamish menatap wajah Noah yang tidak meneruskan ucapannya, padahal baru juga dua hari jadi seorang suami.


"Istrimu ngambek tidak mau kau ajak berlayar? Kau terlalu grusa-grusu, perempuan seusia istri-istri kita itu masih antara penasaran dan takut tetapi juga kepo. Tahan sendikitkah! Kelihatan sekali kalau nafsumu besar "


Noah mendengkus, Hamish terkekeh.


Tebakannya berarti benar.


Gita belum mau diajak pindah, alasannya dia belum tahu apa-apa. Sama seperti Sisil dan Firda yang bisanya cuma beberes rumah, urusan di dapur mana tahu.


Jangan salahkan Firda cs kalau mereka tidak bisa memasak.


Ibu mereka semua hanyalah ibu rumah tangga yang tidak memiliki kegiatan lain selain mengurus anak, suami dan rumah tinggal mereka.


Anak-anak sekolah, lantas apa yang mau mereka kerjakan kalau tidak memasak untuk semua keluarga? Masak iya harus menunggu anak perempuan mereka pulang sekolah baru memasak dengan alasan untuk mengajari memasak? Keburu lemas karena lapar.


Jadi bukan hal yang aneh jika gadis seusia Firda, Sisil dan Gita belum tahu urusan dapur. Mereka hanya bisa ikut membantu memasak jika akhir pekan atau tanggal merah bertepatan dengan mereka tidak sekolah atau kuliah.


Noah sudah berjanji akan mencarikan asisten rumah tangga untuk mengerjakan semua, tapi Gita bilang tunggu dulu! Dia belum siap jika harus berpisah tinggal dari orang tuanya.


Tiba malam hari, namanya pengantin baru, Noah kan sedang senang-senangnya bermesraan dan bercumbu rayu. Tapi Gita buru-buru beralasan kalau dirinya sedang datang bulan, tetapi tetap sholat walaupun di penghujung waktu. Aneh kan?


"Jangan mengejekku! Namanya juga pengantin baru, kau sendiri sampai pakai kaus terbalik waktu itu." cibir Noah.


"Tapi istriku tidak menolak, Noah? Pakai trik, Noah, pakai trik! Kau pria dewasa masak tidak tahu cara menghadapi perempuan muda seperti istri-istri kita, jangan katakan kalau kau belum berpengalaman! Laki-laki pada dasarnya akan mengetahui seluk-beluk tubuh perempuan secara alamiahnya, tidak mungkin kan aku mengajari dirimu?"


Noah melengos melihat senyuman Hamish yang seakan mengejeknya.


"Bagaimana dengan Ryu? Dia sepertinya tidak ada masalah."


Hamish kembali menatap Noah dengan senyuman yang terus tersemat di bibirnya, dimata Noah itu sungguh menyebalkan.


Ponsel yang ada di dalam saku kemeja Hamish berdering, Hamish tahu jika itu panggilan dari Firda karena nada deringnya di buat berbeda dari yang lainnya.


[Assalamualaikum, iya, sayang.]


Noah memutar bola matanya jengah, Hamish tertawa tanpa suara.


[Waalaikumussalam, Bang, aku kepengen rujak, pulang nanti belikan ya!]

__ADS_1


[Insyaallah, bisa menunggu sore atau sekarang?]


[Sore saja, aku maunya makan sama, Abang.]


[Oke, sekarang banyak-banyak istirahat, jangan kecapean!] pesan Hamish sebelum menutup telepon.


"Kau sengaja berucap mesra disaat aku sedang resah? Teman macam apa dirimu?"


Hamish terkekeh.


"Aku bukan tipe pria yang suka bersandiwara, kecuali saat aku datang membawa ustadz Syukur ke rumah orang tua istriku satu bulan lebih yang lalu. Itu baru aku mengikuti sandiwara yang di buat olehnya. Aku memang memperlakukan dia seperti anak kecil mungkin, memang dia masih anak-anak kan, Noah?"


Noah diam, sepertinya dia yang sedikit salah bersikap pada Gita.


Dirinya langsung memperlakukan Gita sebagai istri, bukan adik atau seperti kata Hamish.


"Mereka memang istri kita, Noah, tapi mereka masih terlalu muda dan belum siap sepenuhnya untuk menjadi seorang istri. Maaf kata, Noah! Istriku, istrimu dan juga istri Ryu hanya bisa di katakan siap menjadi seorang istri mungkin cuma di atas ranjang. Istrimu bahkan saat ini kembali belum siap. Puja dia seakan dirimu sangat mencintainya dan hanya dia wanita paling istimewa dalam hidupmu, lupakan wanita-wanita yang pernah hadir dalam hidupmu dulu!"


"Berarti kau berbohong dong pada istrimu selama ini?"


"Tidak masalah berbohong untuk menyenangkan hatinya dan membuat dirinya nyaman serta merasa di cintai, toh sekarang aku benar-benar mencintai istriku. Karena apa? Dia istriku, dirahimnya sedang tumbuh anakku. Tidak ada salahnya merayu dan memujanya, buat dia bahagia menjadi istrimu.


Kau jangan main langsung-langsung ke situ, santai, Noah, santai!"


"Sudah, tidak perlu pusing! Pura-pura tidak tahu kalau dia sedang ngambek dan nggak mau di dekati, nanti juga nempel sendiri."


"Kau yakin?"


"Insyaallah."


...*****...


Hamish tertegun melihat penampilan Firda, Umi malah senyum-senyum.


"Cantik kan, Bang? Umi yang membelikan tadi sama Mpok Narti."


Firda berputar-putar seperti anak kecil memperlihatkan dress baru berbahan batik dengan kerutan atau tali yang bisa di tarik dan di ikat di bagian pinggang.


Dress yang sangat sederhana, namanya juga di jual di kompleks perumahan. Tapi sangat manis di pakai untuk Firda, auranya sebagai perempuan yang sedang hamil muda semakin terpancar. Jika tidak ada Umi, Hamish sangat ingin mencium pipi istrinya.


Firda terlihat begitu manis.

__ADS_1


"Cantik, cantik sekali, bahkan sangat cocok untuk kamu, Fir." bibir Hamish terus tersenyum melihat ke arah Firda.


"Iya, kalau pakai yang longgar begitu biar nyaman, apalagi sebentar lagi perutnya pasti membesar." ucap Umi sembari melangkah ke arah teras depan.


Seperti biasa, Umi akan menemani Abah membaca bukunya sambil merawat bunga-bunganya. Umi tidak mau mengganggu anak dan menantunya untuk bercengkrama, apalagi melihat binar dimata putranya ketika melihat Firda.


"Siapa Mpok Narti?" tanya Hamish merasa asing dengan nama yang disebutkan oleh Firda tadi.


Firda mulai membuka bungkusan rujak pesanannya.


"Mpok Narti itu sebenarnya tinggal di kompleks perumahan Ayah, dia itu suka mengkreditkan segala macam barang. Dari daster, seprai, bad cover, macam-macam lah. Mungkin kalau ada istri atau suami yang bisa di uangkan, bisa jadi dia kreditkan juga." kekeh Firda.


"Hush, nggak boleh begitu! Tapi kok bisa sampai kompleks sini dan ke rumah ini?"


"Namanya juga dagang, Bang, semua perumahan dia masukin lah. Tapi kata Umi ini nggak kredit lho, Umi beli cash."


Tentu saja Hamish tidak berpikiran kalau Uminya berhutang, Umi paling pantang berhutang.


Kalau tidak punya uang ya jangan di beli, kalau sangat menginginkan di tabung dulu uangnya sampai cukup baru dibeli.


Hidup Abah dan Umi tidak kekurangan sehingga harus berutang, walaupun tidak bisa dikatakan berlebihan.


Uang pensiun Abah masih cukup untuk kehidupan sehari-hari, apalagi Hamish juga tetap memberikan uang bulanan buat Umi.


"Kalau kamu suka pakaian rumah seperti ini, lain kali Mpok Narti ke kompleks perumahan ini belilah beberapa helai! Hitung-hitung menolong melariskan dagangannya."


"Oke!"


Firda memasukkan potongan buah kedondong ke dalam mulut Hamish, pria itu tidak menolak. Dia membuka mulutnya, menamani Firda menghabiskan rujak pesanannya.


Hamish menoleh ke arah teras, berjaga-jaga apakah kedua orang tuanya akan masuk atau masih duduk di depan. Cepat Hamish memeluk Firda dan mengecup sekilas bibirnya, Firda yang mendapatkan serangan spontan dari Hamish hanya bisa melongo.


"Ada bumbu rujak di bawah bibirmu." kedip Hamish genit.


Aaaah, Firda tidak kuat kalau sudah mendapatkan kerlingan nakal dari suaminya. Firda juga melongokkan kepalanya ke arah teras lalu mencium bibir Hamish sedikit lama.


Hamish hanya bisa tertawa tanpa suara.


"Mau mandi bareng?"


Firda langsung mengangguk.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2