
Sisil dan Gita sepakat masuk kuliah walaupun malam tadi baru saja memasuki babak baru dalam kehidupannya.
Bukannya apa-apa, kalau di rumah pasti padannya capek karena kondisi rumah masih berantakan.
Walaupun ibu dan ayahnya tahu pengantin baru nggak boleh capek-capek, yang ada keduanya akan dibuat capek oleh suami mereka.
Tidak Noah maupun Ryu, sebelum subuh keduanya sama-sama mengulang kembali apa yang sudah dilalui tadi malam.
Keduanya tidak bisa menolak, diawali dengan sangat manis dan memabukkan hingga rasa sakit itu masih terasa mendera. Gelenyar aneh yang diawal sudah dinikmati, lenyap saat sakit itu datang lagi.
Ternyata masih terasa perih, kapan enaknya?
Noah dan Ryu sama-sama mengantar istri mereka masing-masing ke kampus, setelahnya tentu saja kembali ke rutinitas seperti biasa.
Mereka juga berencana segera membawa istri-istri mereka pindah ke rumah yang sudah mereka persiapkan, tidak perlu besar karena mereka baru tinggal berdua. Cukup seperti rumah yang di tinggali oleh orang tua Sisil dan Gita saja.
Berbeda dengan Hamish yang belum boleh pergi dari rumah Abah, Noah dan Ryu bebas.
Tinggal sendiri itu lebih baik, kalau mau gabung dengan orang tua juga malulah.
Dari bayi sampai sudah kolot masak masih sama orang tua terus.
Firda menatap kedatangan Gita dan Sisil dengan tawa cekikikan. Bagiamana dia tidak geli, keduanya berjalan seperti dirinya waktu itu. Mana jalannya pelan kayak keong lagi.
"Jangan ketawa!" sembur Gita galak.
"Berapa ronde tadi malam?"
"Kau kira pertandingan tinju," Gita mencebik, mengingat itu Gita jengkel pada Noah.
Cinta belum tentu ada, enak juga tidak, yang ada perih. Pakai dipaksa lagi. Sudah dibilang masih perih, Noah pura-pura tidak mendengar.
"Benar katamu, Fir, malam pertama itu memerihkan sekaligus meremukkan." imbuh Sisil.
"Terus, kenapa kalian masuk? Istirahat di rumah, tidur! Kipas-kipas mana yang perih, biar cepat sembuh."
"Apa yang mau istirahat, di rumah masih banyak orang. Kalau kami di rumah, pasti di ledekin. Tadi aja jalannya pura-pura gagah seperti latihan baris berbaris, padahal...Lutut terasa gemetaran, rasa pengen aku cakar muka mas Noah. Gara-gara dia badanku remuk semua." omel Gita.
"Sekarang kalian berdua boleh mengatakan perih dan badan remuk semua, seminggu kemudian...Hmm...."
"Jadi kau seminggu setelahnya baru merasakan enaknya ehem-ehem? Begitu ya?" Sisil sok tahu.
"Ya nggak lah, besoknya juga sudah asooooyy..." Firda terkekeh.
"Kau bilang seminggu, nggak jelas." sembur Gita sewot.
"Siapa suruh kalian berdua marah-marah. Habis malam pertama itu bahagia, bukan wajah kucel kayak kalian berdua. Suruh tuh suami kalian belajar dari suamiku! Bang Hamish tuh, lembut, manis, sabar...."
__ADS_1
"Kucing dong yang manis, lembut dan sabar.
Fir, Git, bolos yuk!" ajak Sisil.
"Bolos? Mau ngapain? Memang mau kemana kalau bolos?"
Kali ini Firda bertanya serius, kalau dia bolos kuatir akan di ceramahi oleh Hamish panjang lebar.
"Nggak ada, cuma mau tiduran sama ngobrol-ngobrol aja. Ke rumah Ibumu yuk, Fir! Di sana tempat yang cocok untuk bersembunyi." usul Gita menatap wajah Firda yang terlihat keberatan.
"Nggak ah, kalau memang kondisi badan kalian berdua tidak fit kenapa tidak bolos saja tadi dari rumah? Kalian berdua kan pengantin baru, beda dengan diriku."
Sisil masih mau membuka mulut hendak membantah ucapan Firda tapi dosen sudah keburu masuk kedalam kelas, niat mau bolos jadi batal.
...*****...
"Bang, suka makan markisa? Tapi yang kulitnya merah kecoklatan itu ya, bukan yang kuning atau oranye?"
Hamish yang baru menutup pintu mobil menatap wajah Firda sembari tersenyum, sepertinya Firda mulai mengidam.
Mungkin untuk sebagian orang momen itu akan sangat merepotkan dengan permintaan macam-macam dari mengidam sang istri, tapi tidak bagi Hamish. Saat seperti ini sudah lama dia impikan.
Ketika Hana mengidam untuk pertama kalinya, adik iparnya sedang dapat piket malam. Hana yang tengah menginap di rumah Abah jadi uring-uringan.
Hamish sebagai Abang hendak memenuhi keinginan mengidam adik perempuannya karena suaminya tidak boleh meninggalkan pos jaga, tetapi Hana menolak. Hana menginginkan suaminya yang membelikan semangkuk bakso di tengah malam, dan Hana juga mau suaminya yang menyuapinya.
Jadi ketika mendengar Firda menyebut markisa yang Hamish tahu rasanya asam, air liur Hamish sudah langsung hendak keluar.
"Tahu, di cafe kan juga ada. Kamu mau?"
Firda mengangguk.
"Tapi jangan ke cafe, aku mau makannya di taman kota sambil melihat orang banyak. Jadi kita beli dulu!"
"Ada lagi yang kamu inginkan? Atau kita pergi ke pasar buah saja, kamu bisa memilih buah apa yang ingin kamu makan."
Kedua mata Firda berbinar lalu mengangguk senang.
Sampai di pasar buah, Hamish dan Firda menatap sosok yang sangat mereka kenal sedang mendorong troli yang berisi banyak macam buah, sayur dan berbagai macam bahan makanan kering yang sudah di kemas dan di beri harga. Sosok itu meletakkan semua barang sesuai dengan kelompoknya.
"Kak Mawar kerja di sini?" tegur Firda pelan berdiri disebelah Mawar yang baru saja meletakkan dragon fruit yang baru dari gudang penyimpanan.
Mawar tersentak kaget, dia menatap Firda dengan tatapan tidak suka lalu beralih ke arah Hamish yang sedang memilih buah markisa. Suatu kebetulan letaknya tidak jauh dari tempat Mawar meletakkan buah naga.
"Ngapain kau kesini? Jangan bilang mau mau mengejek aku! Kalau tidak gara-gara prank murahan itu, aku tidak harus bersusah payah untuk bekerja seperti ini." lirih Mawar agar Hamish tidak mendengar, pria itu terlalu fokus memilih mana buah markisa yang menurutnya baik untuk Firda. Jadi dia tidak mendengar obrolan keduanya.
"Semua sudah berlalu, kakak juga kan sedang bahagia dengan suami yang kakak cintai, makanya kakak rujuk. Kalau sekarang kakak juga ikut bekerja mencari nafkah, itu kan bukan salah aku. Jika hidupku terlihat senang saat ini, takdir kak, takdir.
__ADS_1
Bang Hamish itu kan orangnya baik, Sholeh, lembut, romantis, wajar saja dapat istri yang seperti aku." Firda nyengir melihat Mawar yang melototkan kedua matanya, lalu buru-buru Mawar melanjutkan tugasnya meletakkan kembali kemasan barang-barang yang di jual ke dalam rak. Dia tidak mau melayani omongan Firda karena pengawas toko selalu berkeliling mengawasi para pekerja.
Mawar kuatir dirinya akan terkena sanksi atau di berhentikan jika ketahuan ngobrol dengan pengunjung di jam kerja.
"Apa yang kamu katakan pada Mawar, Fir? Kenapa wajahnya terlihat marah tadi?" tanya Hamish tanpa melihat ke arah Firda, sekarang keduanya sudah berdiri di depan rak buah mangga.
"Nggak ada, aku cuma bertanya apa kak Mawar kerja di sini, gitu aja kok."
"Dia kan memakai seragam karyawan sini, ya tentu saja bekerja di sini. Kamu ada-ada saja."
"Cuma memastikan, Bang, warga +62 kan suka begitu. Selalu bertanya hal-hal yang sudah jelas untuk memastikan."
Hamish cuma tersenyum, sambil mendorong troli belanjaan ekor matanya melirik ke arah Mawar yang masih melanjutkan meletakkan barang-barang dalam rak.
Sejujurnya Hamish kasihan, bagaimanapun wanita itu pernah jadi bagian dari mimpi Hamish. Namanya juga tidak jodoh, jadi ada saja peristiwa yang membuat pernikahan mereka tidak terlaksana.
Setelah membeli beberapa macam buah yang diinginkan Firda, Hamish melajukan kendaraannya ke arah taman kota seperti keinginan Firda. Sampai di taman kota justru Firda tidak mau turun, mereka tetap berada di dalam mobil. Menatap lalu lalang orang lewat kaca depan.
Firda mulai memakan markisa seperti yang diinginkannya tanpa menggunakan sendok, dia memakannya dengan cara menyedotnya.
"Apakah rasanya manis? Menurut Abang, markisa ini sedikit asam, berbeda dengan markisa kulitnya yang berwana oranye."
Hamish terus menatap Firda yang memakan markisa dengan santai bahkan sudah habis tiga buah.
"Mungkin Abang belum gosok gigi waktu itu, wong markisa ini manis kok dibilang kecut. Kalau tidak percaya, coba saja!"
"Kamu sembarangan nuduh Abang belum sikat gigi." ujar Hamish mengambil juga buah markisa yang disodorkan Firda. Hamish terlihat ragu-ragu hendak mencobanya, Firda menganggukkan kepala meyakinkan.
"Selama aku mengidam, Abang juga harus makan apa yang aku makan. Kalau nggak aku merajuk dan pulang ke rumah ibuk." ancam Firda.
Hamish tersenyum, mengusap kepala Firda pelan.
"Nggak perlu pakai diancam, Abang akan makan apa yang kamu makan." janji Hamish seraya mencicipi markisa. Seketika wajahnya mengernyit karena rasa asam yang terasa hingga kemata dan telinganya.
Firda terkekeh.
"Manis kan, Bang? Manis mana sama aku?"
"Kamu lebih manis daripada madu, Firda sayang." rayu Hamish mengedipkan matanya genit.
Firda tersenyum malu-malu.
"Pulang yuk, Bang! Jadi pengen mandi berdua dengan, Abang."
Hamish tergelak, umpannya langsung dimakan.
...****************...
__ADS_1