
Bang Jojo pulang lebih malam dari biasanya, Syakila sendiri sudah lebih dahulu meringkuk di bawa selimut.
Baru juga bang Jojo mau bergabung dalam selimut bareng Syakila, terdengar gedoran kuat dari luar.
Bukan hanya Bang Jojo yang tersentak kaget, Syakila yang tertidur nyenyak juga terlonjak sedikit syok.
"Siapa yang menggedor pintu, Bang?"
"Nggak tau, ini masih mau dibuka."
"Sya...Jo...Buka pintunya! Ini Bapak dan Ibuk." suara cempreng yang sudah Syakila hapal memberitahukan.
Mendengar teriakan kencang dari depan pintu, bang Jojo buru-buru memakai sarungnya. Dengan langkah cepat bang Jojo buru-buru untuk membukakan pintu rumah.
"Bapak, ibuk, ada apa?" tanya Bang Jojo heran menatap kedua paman dan bibinya yang sekarang sudah menjadi bapak dan ibu mertua sudah berdiri di depan pintu, ada Sophia adiknya Syakila di belakang mereka.
Tanpa menunggu kedua orang tuanya menjawab pertanyaan sang Abang ipar, Sophia nyelonong begitu saja masuk ke dalam rumah dengan menyeret koper besar.
"Nenek mengajak pulang ke kampung, jadi untuk sementara Sophia kami titipkan ke kalian berdua ya!" ujar bapaknya Syakila menatap bang Jojo dan Syakila bergantian.
"Bapak dan ibu mau berlebaran di kampung? Gitu maksudnya?" tanya Syakila bingung, kalau mau pulang kampung kenapa adiknya tidak dibawa sekalian? Justru di titip dirumahnya.
"Kami pulang kampung untuk selamanya, nenek bosan tinggal di kota. Rumah nenek dan rumah kita akan disewakan atau di jual. Maaf, Sya! Segalanya mendadak dangdut, kau tahu sendiri nenek seperti apa. Apapun keputusannya harus di ikuti atau ..." Bapaknya Syakila nyengir, bang Jojo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Syakila memutar bola matanya malas.
Nenek itu banyak tanahnya di kampung, selama ini ladang dan kebun di kelola oleh anaknya yang bungsu. Entah angin apa yang membuat nenek ingin balik ke kampung.
Semua keluarga tidak berani membantah perkataan nenek karena takut nggak dapat warisan, hehehe.
Dengan segala macam pertimbangan, Sophia adiknya Syakila yang baru duduk di kelas dua SMU di titipkan pada Syakila dan bang Jojo. Lagi pula Sophia tidak mau di ajak pindah ke kampung, dia nggak mau jadi orang kampung. Katanya.
Setelah kedua orang tuanya pulang, Sophia langsung saja masuk ke kamar tamu dan tidur karena hari sudah malam. Begitu juga dengan bang Jojo dan Syakila.
"Bang, Abang nggak keberatan Sophia ikut sama kita kan?"
Bang Jojo sebenarnya keberatan, tidak baik jika ada ipar yang ikut tinggal bersama. Kecuali ada kedua orang tuanya, tapi untuk menolak juga tidak enak dan sudah tidak mungkin.
__ADS_1
"Memang kalau Abang keberatan, ngaruh? Nggak kan? Toh nenek dan orang tuamu sudah otewe ke kampung sekarang.
Ya sudah, sekarang ayo kita tidur! Nanti bisa nggak terbangun saat sahur." ujar Bang Jojo langsung menarik selimut untuk menutupi badannya hingga sampai ke pinggang.
"Bang," colek Syakila ke pinggang bang Jojo yang berbaring miring.
"Hmm."
"Apa Abang nggak kangen? Udah seminggu lho."
Bang Jojo menghembuskan napas kasar, membalikkan badannya menghadap Syakila.
"Maaf, Dek! Abang capek dan ngantuk, besok saja ya!"
Syakila langsung mendengkus kesal dan berbalik memunggungi bang Jojo, dia benar-benar kesel karena sudah di tolak. Hatinya benar-benar kecewa dan terluka.
Bang Jojo tahu jika dirinya salah sudah menolak keinginan Syakila, tapi harga dirinya masih terluka atas tuduhan Syakila kemarin. Cara Syakila itu mencerminkan jika istrinya tidak menghormati dirinya sebagai suami. Kalau sudah begitu, bagaimana bang Jojo bisa berselera untuk ehem-ehem.
Bukan hanya bang Jojo yang ngambek, si hitam manis juga ikutan ngambek masalahnya. Jadi bagaimana bisa di ajak mendayung perahu hingga sampai ke pulau kalau dayungnya sedang bobo cantik.
...*****...
"Astaghfirullah,"
Bang Jojo tersentak bangun dari tidurnya, sayup-sayup sudah terdengar suara adzan subuh berkumandang lewat pengeras suara mesjid yang ada di kompleks perumahan.
"Dek, sudah subuh, bangun!" Bang Jojo menggoyang pelan bahu Syakila.
Syakila memutar badannya dengan senyum yang merekah penuh kemenangan, bang Jojo sampai mengernyitkan dahinya bingung.
"Dek, kamu..."
"Apa? Memang enak nggak sahur? Makanya, malam tadi saat aku minta Abang nggak ngasih, ini balasan dari penolakan Abang tadi malam."
Syakila langsung bangun dari pura-pura tidurnya, dia dan Sophia sudah sahur tadi. Cuma karena marah sama bang Jojo, Syakila tidak mau membangunkan suaminya. Lagian Syakila memang tidak tidur semalaman karena sebelum bang Jojo pulang dari mesjid dan kedatangan orang tuanya, dia sudah tertidur. Jadi nggak bisa tidur lagi.
__ADS_1
Tidak bisa tidur karena marah, dan juga sudah tidak mengantuk lagi. Makanya nggak tidur sampai menjelang sahur, Syakila lebih memilih menonton TV.
"Astaghfirullah...Cuma gara-gara itu kamu membalas dendam dan tidak membangunkan, Abang? Terlalu kamu, Dek."
Bang Jojo menggelengkan kepalanya, lalu buru-buru keluar dari kamar untuk mengambil minum.
Cukuplah bang Jojo sahur dengan meminum segelas air putih saja. Seperti cintaku padamu bang Jojo, eh.
"Lho, Abang...Kata kak Sya, Abang tidak mau sahur." ujar Sophia melihat bang Jojo yang terburu-buru, bang Jojo cuma tersenyum kecut mendengar ucapan Sophia.
"Tadi kalian sahur pakai apa?" tanya bang Jojo pada Sophia yang terus menatap dirinya.
"Mie instan sama telur ceplok, Bang, kak Sya lagi malas masak katanya."
Bang Jojo hanya ber 'Oh' saja.
"Kamu sudah libur sekolah kan?"
"Sudah, Bang, kenapa? Mau ngajak beli baju lebaran ya?"
"Hah?"
"Kata ibu sama bapak, minta sama Abang aja. Mereka nggak sempat kasih karena repot mengurus kepindahan, beliin ya, Bang!" rayu Sophia memegang lengan bang Jojo sembari mengayun-ayunkan seperti anak kecil, bang Jojo hanya bisa meringis.
Bukan bang Jojo pelit, tapi lengan yang di pegang oleh Sophia itu masalahnya.
Mana sudah seminggu si hitam manis puasa karena ngambek lagi, di pegang sama anak perawan. Astaghfirullah...
Bang Jojo buru-buru mengangguk agar Sophia bisa segera melepaskan lengannya.
"Makasih ya, Bang, Abang baik deh." ucapnya sembari memeluk lengan bang Jojo.
Ya Allah... Cobaan apa ini.
...****************...
__ADS_1