
Sepulang dari Klinik kebidanan, Hamish dan Firda tidak lagi kembali ke rumah ayah Deni. Mereka langsung bertolak ke rumah Abah, ibu dan ayahnya Firda juga sudah memperbolehkan Hamish membawa istri dan anaknya kembali ke rumah orang tuanya.
Umi sangat antusias dengan kepulangan anak, menantu dan cucunya, hampir dua bulan rumah terasa sepi sejak Firda dan Hamish tinggal di rumah besannya. Jadi begitu Firda masuk kedalam rumah, beliau langsung mengambil Ali dari tangan Firda.
"Istirahatlah dulu di kamar, Fir! Kamu pasti lelah, biar Ali sama, Umi."
Hamish sudah mengatakan pada Umi dan Abah kalau Firda belum seutuhnya bisa menjadi seorang ibu, dikarenakan Firda yang masih suka iri jika Hamish lebih banyak menghabiskan waktunya dengan Ali sepulang dari cafe daripada mengobrol bersama Firda.
Firda masih mau menjadi yang utama bagi Hamish, jadi saat ini kemungkinan Hamish akan mencari seseorang yang akan mengerjakan semua pekerjaan rumah. Biar Umi hanya fokus membantu Firda mengurus Ali.
"Dia masih belum terbiasa, Mish, nanti seiring bertambahnya waktu Abah yakin Firda lebih dewasa dan bisa menjadi ibu yang baik. Kamu yang sabar ya!" hibur Abah ketika Hamish mengutarakan rencananya yang akan mencari seorang asisten rumah tangga pada Abah dan Umi, sebelum dirinya membawa Ali dan Firda pulang.
Sekarang orang yang bisa membantu-bantu semua pekerjaan sudah ada di rumah Abah dan Umi. Dia pulang hari, tidak menginap di rumah Abah.
Datang setelah subuh, pulang menjelang petang setelah semua pekerjaan beres.
Dikarenakan Firda sudah terbiasa Ali di urus oleh ibunya. Dan sekarang di rumah mertuanya, ketika Ali di pegang oleh Umi, ya dia senang-senang saja. Dengan gaya santainya Firda langsung masuk ke dalam kamar, dan merebahkan diri di atas ranjang.
"Aku rindu tempat tidur ini, Bang, di atas kasur ini Ali mulai berproses." ujarnya terkikik seraya mengusap alas kasur, Hamish mengusap belakang kepalanya mendengar ucapan ambigu Firda.
Mungkin karena usianya masih muda, jadi yang ada dalam pikirannya hanyalah kesenangan hidup dalam berumah tangga. Bermanja dan bermesraan dengan leluasa, urusan anak belakangan.
"Genit kamu, Fir."
"Ish, Abang, kalau aku nggak genit nggak bakalan jadi Ali, Bang. Lagian yang memperkenalkan segala rasa siapa hayo? Abangkan? Jadi tanggung jawab dong!"
"Memang Abang kurang tanggung jawab apa lagi?" Hamish ikut duduk di atas ranjang. Bukan hanya Firda yang merindukan ranjang dan kamar itu, dia juga.
Hampir dua bulan berada di rumah mertuanya, mereka berdua seakan tidak memiliki privasi karena Firda yang tidak bisa mengurus Ali.
Ibunya Firda selalu hilir mudik ke kamar Firda jika mendengar cucunya menangis, berbeda jika Hamish sudah ada di rumah. Maka Hamish bisa mengurus Ali.
"Kan Abang yang memulai, jadi Abang juga yang harus meneruskannya." ucap Firda manja memeluk lengan suaminya, Hamish terkekeh.
__ADS_1
"Sekarang masih sore, Ali juga masih sama, Umi. Kalau tiba-tiba Ali menangis karena haus bagaimana? Tanggung kan? Memangnya kamu nggak takut?"
"Takut apa?" tanya Firda bingung sembari melepaskan tangannya yang memeluk lengan Hamish.
"Kata orang-orang sih, sebagian wanita yang baru melahirkan takut untuk berintim-intim dengan suaminya. Kamu nggak takut?"
"Memang kenapa? Takut robek? Jahitannya belum menyatu ya? Perasaan tadi bidannya nggak ngomong apa-apa."
Hamish mengusap kepala Firda pelan, menatap wajah istrinya lekat-lekat.
"Abang senang kalau kamu tidak takut, tetapi kalau kamu masih ingin istirahat dulu juga gak apa-apa. Abang masih bisa sabar kok, walaupun Abang juga sudah kangen berat sama kamu. Kalau kamu benar-benar sudah siap, kita tunggu Ali tidur dulu biar tidak ada gangguan, oke?" ujar Hamish menjepit ujung hidung Firda pelan dengan kedua jarinya.
"Fir...Mish...Ali sepertinya haus nih." teriak Umi dari depan pintu kamar mereka yang tertutup rapat.
"Tuh, benar kata Abang kan?"
Hamish segera membuka pintu kamar, mengambil Ali dari tangan Umi lalu memberikan pada Firda.
"Tapi kamu tahu nggak, seorang pria semakin jatuh cinta ketika melihat istrinya mengurusi buah hati mereka dengan penuh kasih sayang. Dimata laki-laki yang bergelar seorang suami, disitulah letak kecantikan dan kesempurnaan seorang perempuan.
Jadi wanita yang dikatakan cantik bukan karena fisiknya saja, tapi bagaimana dia bisa memposisikan dirinya sebagai sebagai seorang ibu dan seorang istri. Dimata Abang secara pribadi, saat melihat kamu menyusui Ali, kamu sangat cantik dan sempurna buat Abang, Fir. Abang semakin cinta sama kamu." ucap Hamish panjang sembari mengecup dahi Firda.
Pemberitaan tentang seorang ibu yang rela melakukan hal-hal yang mengerikan pada buah hatinya sendiri, menjadi cermin bagi Hamish bagaimana memperlakukan Firda pasca melahirkan.
Firda belum matang secara mental untuk menjadi seorang ibu, jadi dirinya sebagai suami dan keluarga yang berada di sekitar Firda harus ekstra memberikan memperhatikan pada istrinya, bukan hanya pada Ali saja.
Jangan sampai Firda merasa terabaikan dan merasa tidak disayang lagi hanya karena kehadiran Ali.
"Tapi perutku masih kelihatan besar dan tidak ramping lagi, perut dan pahaku juga banyak tanda stretch marks. Nggak mulus lagi, Bang, pasti Abang nggak berselera." Firda mencebik.
Hamish segera memeluk bahu istrinya.
"Abang tadi kan sudah bilang, kecantikan wanita bukan dinilai secara fisik saja. Nanti kalau Ali sudah bisa di tinggal-tinggal, kamu bisa perawatan ke salon untuk menyamarkan tanda stretch marks itu. Kan ada banyak produk perawatan untuk menghilangkannya, jangan kuatir. Stretch marks itu tanda cinta dari, Abang."
__ADS_1
Sepertinya Hamish harus berguru pada si raja gombal kakeknya Ryu untuk gombalin Firda, biar dia kembali percaya diri.
"Kalau begitu, besok aku ikut senam aerobik, senam kegel, zumba, apalagi ya!"
Hamish mengacak-acak rambut Firda gemas.
"Kamu baru juga selesai masa nifas, Firda sayang. Jangan mikirin ke situ dulu! Nanti juga kembali seperti semula, kamu kan sedang menyusui."
Kayaknya Firda kurang browsing nih.
Ba'da isya, Ali sudah tertidur lelap dalam box bayinya. Hamish dan Firda juga sudah mengunci pintu kamar, saatnya waktu pribadi untuk mereka berdua tanpa gangguan dari siapapun. Karena Abah dan Umi adalah orang tua yang sangat pengertian, Abah dan Umi percaya Hamish bisa mengurus bayinya tanpa bantuan Umi kalau malam.
"Fir, katanya kangen, kok tidur." colek Hamish pada lengan Firda yang memeluk bantal guling dengan nyaman.
"Nggak jadi, Bang, aku takut nanti robek jahitannya."
"Hah? Bukankah kemarin itu kamu yang ngebet kangen sama, Abang?"
"Kan kemarin itu, bukan sekarang. Dan sekarang aku masih takut."
"Terus, untuk apa kita tadi ke bidan terus kamu pasang alat kontrasepsi kalau kamunya belum mau."
"Jaga-jaga aja, siapa tahu aku kangen. Salah Abang sendiri kenapa tadi nakut-nakutin aku."
Iya juga ya, padahal tadi kan cuma ngetes kok jadi takut beneran.
"Yaaaa... Gagal deh Abang buka puasa."
"Abang bilang kan Abang akan bersabar, ya udah, sabar aja dulu!"
"Iya, deh." sahut Hamish lemas seraya berbaring di samping Firda, padahal dia sudah membayangkan akan menjalani malam pertama lagi. Gagal deh, dasar Firda yang masih plin-plan. Sudah jadi seorang ibu pun masih suka angin-anginan.
...****************...
__ADS_1