Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK

Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK
55. Pengharapan


__ADS_3

"Cepat kalian berdua nikah! Kalau perlu pakai acara mengancam dengan mau bunuh diri."


Gita dan Sisil saling berpandangan, apakah karena habis bersiteru dengan Syakila tadi otak Firda mendadak bergeser?


"Nikah itu enak, bisa mandi berduaan, asik tahu."


"Memang kalau mandi berduaan ngapain? Pakai basahan kan? Kalau nggak, malu dong?" otak Sisil mendadak lemot. Itu semua gara-gara otaknya sudah dipakai untuk merayu Ryu pagi tadi, jadi syaraf di otaknya sudah lelah untuk diajak berpikir.


"Saling gosok punggung lah, kalau tangan sendiri kan nggak nyampai." Firda terkekeh.


Dia senang melihat wajah kedua temannya yang sudah mupeng.


"Cuma itu?" Gita penasaran.


"Selanjutnya terserah anda." Firda ngakak sembari berlari kecil karena ekor matanya sudah melihat mobil yang biasanya Hamish kendarai ada di parkiran tempat biasa suaminya mengantarkan dirinya.


"Git, kayaknya Firda bahagia sekali ya?"


"He-eh, apakah Mas Noah nanti sama kayak bang Bujang nggak ya?"


"Hmm, bang Bujang itu kalem dan sabar, kata ibukku juga Sholeh. Bagaimana kabar bang Ryu? Manis sih, cuma gombalannya jadul."


"Namanya juga remaja zaman old, ya maklumi saja."


"Memang bang Noah seperti itu padamu?"


"Mereka kan satu server, ya pastinya samalah. Kita tunggu saja tanggal mainnya!"


Sisil mengangguk, benar juga apa yang dikatakan Gita.


Ryu dan Noah hanya beda satu atau dua tahun dari Hamish, sementara Noah dan Ryu hanya beda satu bulan doang.


Membayangkan mereka sudah menikah dan tinggal bersama suami, keduanya senyum-senyum sendiri.


"Sil, Git, tunggu sebentar! Ada yang mau aku tanyakan!"


Hans berlari-lari kecil mendekati Sisil dan Gita yang langsung menghentikan langkah kakinya.


"Ada apa, Hans?" Gita bertanya sesantai mungkin, iya karena mereka memang tidak pernah punya masalah apa-apa sebelumnya.


"Ada yang mau aku tanyakan tentang Firda."

__ADS_1


Gita dan Sisil saling pandang, lalu kembali menatap Hans.


"Tanyakan saja! Apa yang ingin kau tanyakan?"


Hans berdehem pelan.


"Apa Firda bahagia? Hmm, maksudku... Kita sama-sama tahu Firda menikah dengan suaminya karena apa, gosip sudah menyebar seperti sebuah wabah. Tadi aku mendengar ucapan Syakila kalau Firda sering bolos, ya memang aku bisa melihatnya jika dia sedikit pucat. Dia baik-baik saja kan?"


Sisil tertawa mengejek.


"Apa urusanmu, Hans? Firda kan bukan siapa-siapamu,"


Hans menunduk, Gita memberi isyarat pada Sisil jika Hans sepertinya sedang tidak bisa diajak untuk berbicara seperti tajam di lidah dan menusuk di hati.


"Sorry, Hans!"


"Nggak apa-apa, aku memang bukan siapa-siapa Firda. Aku tidak lebih dari sekedar kenalan, maaf, kika pertanyaanku terlalu ingin tahu." Hans langsung membalikkan badannya bermaksud pergi.


"Hans, Firda baik-baik saja, kau jangan kuatir!"


Ucapan Gita membuat Hans menghentikan langkah kakinya, dia membalikkan badannya lagi menatap Gita dan Sisil.


"Kalau dia sering bolos, wajar saja, mereka kan pengantin baru. Kau tahu sendirilah pengantin baru itu ngapain, jangan kuatir! Suaminya itu sangat baik padanya." ucap Sisil menatap wajah Hans yang sulit untuk ditebak apakah dia bahagia ketika mendengar Firda bahagia atau sebaliknya.


Gita itu cuma sebagai penyambung lidah apa yang pernah Noah ceritakan tetang cara Hamish menyingkapi peristiwa fitnah iseng yang pernah Firda lakukan.


Hans tertegun dengan ucapan yang keluar dari mulut Gita, tidak terbayang olehnya jika kedua teman Firda yang terlihat bar-bar dan tidak tahu aturan justru bisa mengeluarkan kata-kata yang bisa membuka mata hatinya.


Seperti yang dia alami belakangan ini. Firda yang terang-terangan menyukai dirinya, dia malah melakukan PHP pada Firda dan memilih Syakila menjadi pacarnya. Saat itu dia merasa menjadi seorang pria yang diperebutkan, dia sangat bangga pada dirinya sendiri.


Tetapi setelah mengetahui bahwa Firda justru menikah dengan seorang pria dewasa yang bisa di bilang mapan karena memiliki usaha sendiri, rasa bangga itu seakan menampar wajahnya sendiri.


Syakila yang memang sedikit lebih cantik dan lebih semok dari Firda justru membuat dirinya jadi ilfil karena sifat minusnya yang julid kepada sepupunya sendiri. Hans merasa sangat menyesal karena pernah mengabaikan Firda.


Andai Firda tidak bahagia dan mungkin berpisah dengan suaminya karena Hans yakin jika mereka tidak saling mencintai, Hans mungkin mau menerima Firda walaupun sudah jadi janda. Tetapi setelah mendengar ucapan Gita, semua sepertinya sudah tidak mungkin lagi.


Hans mencoba tersenyum walaupun bibirnya sulit untuk digerakkan.


"Beruntung sekali Firda mendapatkan suami seperti dia."


"Ya, sangat beruntung. Jadi ucapan Syakila tadi itu cuma sampah. Apa kau tahu Hans? Dia bahkan diantar dan dijemput oleh suaminya setiap hari ke kampus, sehingga tidak ada waktu lagi untuk kami sama-sama naik angkot seperti sebelumnya." tambah Sisil membuat hati Hans bertambah pilu.

__ADS_1


Hans bukanlah pecinta sejati yang akan bahagia jika wanita yang disukainya juga bahagia, prinsipnya dia akan bahagia jika wanita itu bersamanya.


"Oke, Hans, para pangeran berkuda besi kami sudah menjemput untuk membawa kami kencan, kalau begitu kami pergi dulu, daaah!"


Gita menunjuk ke arah Noah yang sudah membunyikan klakson mobilnya. Hati Sisil sedang berbunga-bunga karena dirinya juga melihat Ryu yang sudah datang menjemputnya, hanya kali ini Ryu menggunakan sepeda motor sesuai permintaan Sisil pagi tadi.


Sisil ingin merasakan berpacaran menggunakan sepeda motor seperti Hamish dan Firda, bisa pegangan pinggang dan saling meremas jari, haseek.


...******...


"Kenapa ngelihatin Abang kayak gitu? Anak kita yang kepengen apa ibunya nih?" tanya Hamish pelan mengusap kepala Firda.


Hamish merasa sedikit aneh karena melihat Firda yang terus melihat ke arahnya sejak dari parkiran kampus tadi ketika di jemput.


"Bang, apa aku terlalu muda untuk, Abang?"


Hamish tersenyum kecil.


"Pertanyaannya terbalik, Abang yang terlalu tua untuk kamu. Apa kamu malu punya suami kayak, Abang?"


Ejekan Syakila tadi sedikit mengusik pikirannya.


Firda menggeleng.


"Ada yang mengatakan kalau Abang tidak cocok untukmu?"


Firda diam, kembali menatap wajah Hamish lekat-lekat. Entah kenapa setiap menatap wajah Hamish, hormon estrogennya menjadi meningkat. Aura Hamish terlalu kuat sehingga kadar hormon estrogen Firda meninggi, atau karena dia sedang Hamil? Entahlah.


"Yang menjalani hubungan ini kita, Fir. Kalau menurut Abang pribadi, Abang justru sayang sekali sama kamu karena usia kamu yang jauh di bawah Abang. Abang jadi lebih ingin melindungi dirimu, memberikan banyak apa yang kamu butuhkan. Apalagi sekarang, Abang memang tidak bisa menuangkannya dengan kata-kata, yang Abang tahu betapa Abang sangat sayang padamu, Fir. Jika ada yang mengejek karena kamu menikahi pria dewasa seperti Abang, itu tandanya dia iri dan ingin berada di posisimu. Dia ingin menjadi dirimu, hanya saja dia tidak mampu makanya dia mengatakan hal-hal yang bisa melukai hatimu agar dia memiliki teman yang sama-sama merasa tidak puas dengan keadaan yang diterimanya saat ini."


"Aku hanya merasa selama ini merepotkan Abang. Bukan membuat Abang bahagia justru sebenarnya, membuat Abang susah, iya kan?"


"Siapa bilang? Abang bahagia kok sama kamu, kalau tidak percaya coba tutup mata kamu dan bayangkan apa yang sudah kita lalui setelah kita menikah. apa menurut kamu Abang bahagia atau repot seperti yang kamu sangkakan."


Mobil yang Hamish kendarai berhenti di traffic light karena lampu menyala berwarna merah. Firda menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, mengikuti apa yang Hamish suruh.


Saat Firda sudah memejamkan matanya, cepat Hamish mengecup bibir Firda. Sontak Firda membuka matanya menatap Hamish, suaminya justru terkekeh.


"Abang bahagia kan? Kamu itu menggemaskan lho, Fir."


"Sering-sering aja Bang mencium aku di tempat umum, karena dicium di tempat beginian itu ternyata asik juga." kekeh Firda.

__ADS_1


Hamish tergelak, Firda kalau sudah di mesrai sangat jarang menolak. Dasar, ganjen.


...****************...


__ADS_2