Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK

Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK
33. Cuma Cinta Semu


__ADS_3

Setelah Faiza, Hana beserta suami mereka masing-masing kembali ke rumah mereka sendiri, Hamish baru pergi ke dapur untuk membuatkan segelas susu coklat hangat untuk Firda.


Sampai di dalam kamar sudah bisa di pastikan kalau Firda sudah tidur.


"Fir, ini susunya, minum dulu!" Hamish menepuk-nepuk bahu Firda pelan, Firda justru semakin memeluk bantal guling.


"Fir, ini susunya, ayolah! Setelah itu kamu bisa tidur lagi."


"Abang saja yang minum, aku ngantuk. Lagian buat susu gitu saja lama sekali, apa Abang memerah susu dulu?" jawabnya malas sembari mengomel.


"Abang nggak suka susu, terus siapa yang minum ini? Nggak mungkin kan Abah atau Umi. Ini susu di peruntukan agar tingginya ke atas bukan kesamping."


Haish, bang Hamish sudah seperti iklan susu saja.


"Buat besok saja,"


"Nggak enak, ntar basi. Bangunlah sebentar!"


"Aku bangun tapi denda ya?" ujar Firda dengan mata yang sambil terpejam, tapi dia duduk juga.


"Denda apa?" tanya Hamish bingung sambil menyodorkan gelas susu di depan bibir Firda.


"Besok aku nggak ada kelas, kasih duit! Aku mau jalan-jalan sama Gita dan Sisil, terus pulangnya mau ke rumah ibuk. Kan aku harus sudah menginap disana."


"Banyak betul syaratnya? Padahal kan cuma minum susu saja."


"Sekali-kali menyenangkan hati akulah, Bang!"


Hamish menautkan kedua alisnya hingga menyatu.


Maksudnya apa sih?


"Mau senang yang seperti apa? Bukankah tadi kita sudah bersenang-senang? Itu adalah kesenangan yang paling hakiki lho."


Firda menghabiskan susunya tanpa menimpali ucapan Hamish, meletakkan gelas yang kosong di atas lantai lalu kembali memeluk bantal guling dengan nyaman.


"Aku hanya ingin nongkrong dengan kedua temanku seperti biasanya," ucapnya sembari menguap dan memejamkan kedua matanya.


Dianggapnya aku ini siapanya? Minta uang terus pulang ke rumah orang tuanya.


Hamish hanya bisa menaikkan kedua bahunya acuh, lalu ikut tidur di sebelahnya.


*****


"Fir, nonton yuk! Sekali-kali lah, anggap saja pesta gadis ala kita." usul Sisil yang sudah menunggu di depan rumah Abah. Firda barusan berlari-lari kecil menyongsong kedua sahabatnya setelah Gita menghubungi dirinya jika mereka sudah sampai di depan rumah.


Gita dan Sisil masih belum berani untuk datang dan masuk ke rumah mertua Firda karena sedikit takut, mereka kuatir kena marah setelah menantang Firda untuk menggagalkan pernikahan Hamish dan Mawar waktu itu.


"Aku sudah tidak gadis lagi, untuk apa pakai acara seperti itu? Memangnya kita artis? Kalau mau nonton ya...Mendingan kita ke cafe, di sana kan ada WiFi gratis. Kita bisa nonton apa yang ingin kita tonton, palingan juga kita bayar minumannya."


"Ish, kau pelit sekali. Masak untuk kami berdua juga harus bayar? Apa tidak ada specialnya gitu?" Gita mencebik.

__ADS_1


"Siapa yang mengajak ke cafe bang Hamish, ketempat lain lah. Dia sudah jadi suamiku, luar dalamnya aku tahu, nggak seru." Firda terkekeh, Sisil dan Gita hanya bisa menelan salivanya.


Kalau sudah Firda menyentil sedikit hubungan suami-istri, Gita dan Sisil tidak berani kasih komentar. Karena tidak tahu apa-apa.


"Kayaknya enak nikah ya, Git, hidup Firda nggak ada yang berubah, lebih malah. Tiap malam bisa ....Aku kepengeeennn." ujar Sisil lebay.


"Bagiamana kalau kita cari Om-om juga, tapi yang masih bujangan lah. Duda juga nggak pa pa, asal jangan terlalu tua dan jangan punya anak." otak Gita sedang konslet.


"Tapi dimana?" Sisil ketularan.


"Kalian nggak minat lagi sama bang Bagas? Dasar cuma cinta semu!" Firda mencibir.


"Kami tidak mungkin berbagi hati dan berbagi raga, biarlah bang Bagas untuk....Nggak relaaaa...." tuh kan, Sisik plin- plan.


Tidak ingin kelakuan Absurd kedua temannya


ketahuan Abah dan Umi, Firda segera permisi pada kedua mertuanya untuk pergi.


"Abah, Umi, Firda langsung pulang ke rumah Ibuk ya, kan Firda calon pengantin jadi..." Firda meringis, tidak tahu mau menggunakan bahasa yang bagaimana agar tidak ketahuan kalau dia mau keluyuran dulu. Hamish tadi pagi sudah memberikan yang yang diminta oleh Firda malam tadi.


Ah, laki-laki pada umumnya memang seperti itu, kalau urusan bawah tubuhnya beres maka uang akan lancar mengalir ke kantong pada wanita. Firda belajar dari mana memakai trik itu ya?


Umi hanya terkekeh melihat menantunya yang tidak bisa meneruskan ucapannya. Beliau bukannya tidak tahu kalau Firda akan bermain-main dulu sebelum pulang ke rumah orang tuanya, apalagi kedua temannya sudah menunggu di depan rumah.


"Iya, beritahukan suamimu kamu ada di mana! Ingat, kamu sudah bukan wanita bebas lagi."


"Iya, Umi, Assalamualaikum..."


Firda masih berjalan biasa di depan Umi, tapi begitu melewati pintu rumah...Dia sudah berlari pecicilan.


...*****...


"Cafenya sama bagusnya dengan milik suamimu ya, Fir. Kira-kira yang punya sudah tua apa masih muda ya? Jadi pengen kenalan." Sisil sudah duduk di pojokan mencari tempat yang strategis untuk mereka nongkrong lebih lama.


"Kau tanya saja ke kasirnya sana! Kali aja seorang duda yang sedang mencari istri," usul Firda membolak-balik daftar menu yang baru di sodorkan oleh seorang karyawan cafe.


"Jangan, Sil, usul Firda menyesatkan. Kau kira pemilik cafe seperti bang Bujang? Itu kebetulan saja, kemarin kan laptopnya! Biar aku menanyakan password WiFi-nya ke kasir."


Gita menenteng komputer lipat milik Sisil dan memberikannya pada kasir agar mendapatkan sandi WiFi.


"Mas, disini membutuhkan karyawan lagi, nggak?" tanya Gita iseng.


Si kasir menatap Gita sesaat lalu tersenyum.


"Kenapa? Kamu mau melamar kerja di sini?"


"Nggak sih, cuma tanya." ucap Gita tertawa.


"Sudah pesan?" tanyanya sembari mengambil laptop yang Gita sodorkan.


"Tuh, kedua teman aku lagi mikir, biasanya sih kalau mikir agak lamaan. Kalau aku pesan Masnya aja boleh nggak? Eh, canda, Mas. Ntar di labrak pula sama istrinya, bentar ya Mas, aku tanya teman aku dulu!" Gita berjalan kembali ke arah meja tempat Firda dan Sisil yang masih sibuk membaca satu demi satu daftar minuman dan makanan pendamping, tepatnya sih melihat harganya.

__ADS_1


"Cepetan pesan! Nggak enak tuh sama kasirnya, dia tadi tanya kita udah pesan atau belum? Nggak bakalan di kasih sandi WiFi kalau nggak pesan." omel Gita melirik ke arah meja kasir yang sudah berganti dengan orang lain.


Cepat bener berganti shift, kayak acara bukan sulap bukan sihir.


"Iya, nih!" Sisil menyodorkan daftar pesanan yang sudah lingkarinya.


"Mas yang tadi mana, Mbak?" tanya Gita pada petugas yang duduk di belakang kasir.


"Oh, dia itu pemilik tempat ini. Tadi cuma memperbaiki mesinnya yang rada ngadat sedikit, kenapa? Kamu kenal?"


Gita menggeleng.


"Udah nikah belum?" kebiasaan Gita, kepo.


Mbak kasir tertawa.


"Belum, tapi jangan naksir deh! Penggemarnya banyak, ntar kamu sakit hati."


"Kenal saja nggak, masak naksir." Gita mengambil laptop sembari menyerahkan pesanan ke mbak kasir.


Sebenarnya tadi ada salah satu karyawan yang berdiri menunggu Sisil dan Firda untuk bertanya mereka mau pesan apa, tetapi karena terlalu lama menunggu si karyawan melayani pengunjung yang lainnya lagi.


Ketiganya mulai menonton film lewat laptop milik Sisil, sampai mereka tidak sadar jika ada tiga orang pria yang berdiri di depan mereka.


Ekhem.


Suara deheman yang sedikit keras membuat ketiganya sama-sama mengangkat kepala.


Mulut Firda membuka dengan sempurna ketika tahu siapa yang barusan berdehem.


"A-abang, bagaimana bisa..." Firda mengedarkan pandangannya menatap seantero cafe, begitu juga dengan Sisil dan Gita.


" Perasaan kita nggak ke cafe suamimu kan, Fir? Kok dia ada disini?" bisik Sisil dengan matanya yang melirik kesana-kemari.


"Coba kau keluar dan lihat situasi, jangan-jangan kita salah jalan." sahut Firda dengan tidak kalah lirihnya, Gita menepuk dahinya. Bagaimana bisa kedua temannya mendadak pikun.


"Kita di cafe yang berbeda, kenapa kalian bisa lupa? Yang jadi pertanyaan kenapa suamimu ada di sini, itu lebih penting." geram Gita.


Hamish, Ryu dan Noah saling berpandangan lalu tertawa.


"Kalian ini benar-benar lucu." Hamish menggeleng- gelengkan kepalanya.


"Firda sayang...Apakah ini yang kamu katakan bersenang-senang? Coba lihat apa yang kalian tonton."


Hamish memutar laptop sehingga layar monitor bisa menghadap ke arahnya, seketika kedua matanya membulat melihat adegan yang ada di layar laptop. Tangannya cepat menutup layar monitor.


"Bisa ikut Abang pulang, Firda sayang? Biarkan kedua temanmu di urus oleh kedua teman Abang." Hamish memegang pergelangan tangan Firda dan langsung membawanya meninggalkan cafe milik Noah.


Gita dan Sisil cepat membereskan laptop dan hendak kabur, tapi keduanya di suruh duduk kembali oleh Noah dan Ryu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2