
"Kau masih kecil, jadi harus diberitahu." tambah Mpok Narti sambil memasukkan beberapa potong ayang kecap kedalam kantung plastik untuk di bawa pulang, Firda hanya melirik tanpa berkomentar.
Dia berjalan ke arah rak piring untuk mengambil gelas ingin membuat teh seperti yang di minta oleh suaminya.
"Fir, kau mengerti kan? Beritahu ibumu jika dia mulai macam-macam!"
Mpok Narti masih belum puas karena Firda diam saja, dan masih meneruskan membuat teh.
"Iya, Mpok, aku dengar kok. Hanya saja aku bingung kekerasan yang bagaimana yang sudah masuk ranah katagori KDRT, karena kalau bang Hamish tidak melakukan kekerasan dan bersikap terlalu lembut ya nggak enak toh, Mpok. Masak Mpok nggak tahu, Mpok kan lebih pengalaman." kekeh Firda, otaknya kembali melayang pada peristiwa di dalam kamar mandi tadi. Wajahnya sontak bersemu merah membayangkan dia dan Hamish tadi, ah....
Mpok Narti yang tahu kemana arah omongan Firda mendelikkan matanya horor, Firda kembali terkekeh sembari berjalan ke arah luar. Dilihatnya suaminya ikut membantu membereskan kabel-kabel yang malang melintang.
"Oooohh...Dasar bocah kenter, dikandani malah omonganne ora gennah," omel Mpok Narti mematikan kompor dan langsung pulang, sampai lupa permisi dengan ibunya Firda yang wira-wiri sibuk tak menentu.
"Bang, ini tehnya!" Firda menyerahkan gelas teh yang airnya masih hangat.
Hamish melihat ke kanan dan ke kiri, ada Raka yang senyum-senyum melihat ke arah mereka, ada juga Bagas yang pura-pura mengumpulkan air mineral yang masih belum di buka.
Hamish sedikit malu jika memperlihatkan keromantisan dengan Firda di depan umum, tetapi dia tidak mau mengecewakan Firda jika dia tidak menyambut gelas teh yang di sodorkan oleh istrinya.
Dengan senyuman kecil, Hamish mengambil gelas teh dari tangan Firda.
"Terimakasih ya?" ucapnya menggeser kursi plastik untuk bisa di duduki sembari minum teh.
"Bismillahirrahmanirrahim," ucapnya lirih mulai menyeruput teh dengan nikmat, sesaat dahinya langsung berkerut.
Di cobanya lagi teh buatan Firda seteguk demi seteguk.
"Kok pahit ya, Fir. Apa kamu lupa memberikan gula di sini?" tunjuk Hamish pada gelas teh yang ada di tangannya.
"Nggaklah, Bang, sudah aku kasih sebanyak tiga sendok malah."
Firda ingat betul kalau dia tidak lupa menaruh gula tadi, walaupun telinganya mendengar celotehan Mpok Narti yang sangat lucu tapi dia tidak lupa untuk menaruh gula dalam gelas.
"Jangan kebanyakan ngasih gulanya, dua sendok saja cukup. Ntar Abang di semuti kalau terlalu manis, tapi kenapa air teh ini justru sedikit pahit? Padahal gulanya sudah tiga sendok." ujar Hamish kembali meneguk air teh yang katanya pahit.
__ADS_1
"Masak sih, Bang, coba sini aku cicipi!" Firda sudah mengulurkan tangannya hendak meraih gelas teh, tapi Hamish justru semakin menjauhkan dari jangkauan tangan Firda.
"Teh ini pahit karena manisnya di ambil kamu semua." kekeh Hamish menghabiskan air teh dalam gelas, Firda melongo lalu tersipu-sipu antara malu dan senang.
Raka yang dari tadi nguping pembicaraan pasangan pengantin baru ikut tersenyum malu-malu.
Bagas melirik adik bungsunya yang masih berdiri mematung melihat Hamish yang menggoda Firda segera menutup kedua telinga Raka.
"Kau pergi sana cuci piring, jangan mendengarkan ocehan yang bukan untukmu! Nanti kau jadi semakin cepat besar, " ujar Bagas menarik tangan Raka yang masih menyisakan senyuman di bibirnya.
"Bang, masak sih bang Bujang yang semanis itu sama kak Firda sanggup melakukan KDRT? Bukan aku yang si rayu saja sudah merasa melayang, apalagi kak Firda."
"Kau ini, sama saja seperti perempuan yang percaya dengan gosip. Pria seperti Bujang itu mana mungkin melakukan seperti apa yang orang katakan, itu hanya fitnah. Abang sudah selidiki Bujang dan keluarganya itu seperti apa. Abang yakin setelah acara ini selesai pasti sudah tidak akan ada berita itu lagi. Sudah tidak perlu kau pikirkan urusan orang dewasa, kerjakan apa yang bisa kau lakukan!"
"Siap, Bos!" ucap Raka dengan sikap hormat, Bagas hanya bisa menghembuskan napasnya kasar.
Karena semua orang lelah disebabkan resepsi siang tadi, dan segala kekacauan juga belum bisa diselesaikan hari itu juga karena energi mereka sudah habis. Besok pagi bisa dilanjutkan kembali untuk membereskannya.
Firda yang semula bersemangat untuk membuka kado juga tidak jadi, dia justru lebih dahulu tidur dibandingkan dengan yang lainnya.
Bagaimana tidak lelah, seharian duduk dan berdiri menyalami tamu undangan yang hadir. Dengan senyum manis yang selalu mengembang menyambut tamu yang hendak bersalaman, begitu sampai di dalam kamar langsung di ajak berbagi keringat oleh Hamish. Jadi capeknya terasa pool.
...*****...
Di rumah yang lain, Mawar tidak dapat tidur dengan nyenyak. Doni suaminya terus menerus mengetuk pintu kamarnya.
"Dek, buka pintunya dong! Kamu dosa lho kalau terus menolak untuk melayani aku."
"Minta sana sama melati! Kenapa minta jatah sama aku."
"Dia kan nggak ada disini, yang ada kamu, dek. Apa kamu mau aku jajan di luaran?"
"Bodo."
"Beneran? Aku baru dapat bonus karena ada yang beli mobil dari aku lho, dek. Kalau kamu nggak mau melayani aku, aku berikan sama melati semua nih bonusnya!" ancam Doni dari balik pintu yang masih terkunci.
__ADS_1
"Lagi pula jangan mengharapkan si Bujang itu lagi! Dia sudah menikah, istrinya juga masih gadis dan masih remaja. Mana mau balikan sama kamu, dek. Jika aku yang berada dalam posisi Bujang juga akan melakukan hal yang sama, walaupun kamu bahenol dan cantik, tetap saja bekas pria lain. Kalau ada yang masih orisinil kenapa harus memilih yang second. Eh, maaf, dek! Keceplosan." Doni menampar mulutnya sendiri, niatnya mau merayu justru kelepasan jadinya malah menjatuhkan Mawar, hadeuh.
Mawar yang mendengar ucapan Doni bukannya luluh semakin marah dan sakit hati. Padahal tadi dia sudah berniat untuk membuka pintu kamar begitu mendengar kata bonus, tetapi ujung-ujungnya Doni menyinggung Bujang yang pasti lebih memilih Firda dia jadi urung untuk membuka pintu.
...******...
Seperti biasa, jam biologis Hamish yang akan selalu terbangun sebelum subuh. Walaupun badannya masih terasa letih, dia tetap memaksakan dirinya untuk bangun, mandi dan bersiap berangkat ke mesjid.
Hamish sudah bersiap-siap hendak berangkat, bertepatan dengan ayah Deni yang juga keluar dari dalam kamarnya.
Terdengar ibunya Firda yang sedang berusaha membangunkan Raka, namun sepertinya anak remaja itu sedikit sulit dibangunkan karena kelelahan.
Bagas juga terlihat tergopoh-gopoh keluar dari dalam kamarnya untuk berangkat ke mesjid bersama dengan ayah dan adik iparnya.
"Firda belum bangun?" tanya Ayah menatap Hamish yang memakai setelan baju koko dan bawahan sarung seperti biasa.
"Tadi sudah dibangunkan, Yah, tapi mungkin karena kelelahan jadi ya...Nanti pulang dari mesjid dibangunkan lagi."
Ayah menganggukkan kepalanya sembari ekor matanya melirik kearah Bagas.
Ketiganya berjalan beriringan menuju ke mesjid.
"Mish, jika Firda masih sulit untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri, Ayah harap kamu bersabar dan terus membimbingnya ya!"
"Iya, Yah, Insya Allah, dia masih sangat muda jadi saya yang harus lebih banyak mengalah dan bersabar."
"Dan jika dia masih bandel dan kamu sendiri berada di ambang batas kesabaranmu, Ayah harap kamu tidak pernah memukulnya, Mish! Itu bukan hanya akan menyakiti fisiknya, tetapi terlebih lagi hatinya. Wanita itu ibarat gelas-gelas kaca, Mish. Dia akan terlihat indah jika belum retak atau pecah. Jika kamu merasa tidak mampu lagi untuk membimbingnya, kembalikan dia pada, Ayah! Ayah tidak akan marah atau menyalahkan kamu. Ayah minta, kamu jangan pernah menyakiti fisiknya, Mish." pesan ayah pelan dengan bibir yang sudah bergetar.
Hamish langsung menghentikan langkah kakinya, dia menatap ayah mertuanya dengan sorot mata yang juga sudah berembun.
Hamish bisa merasakan bagaimana beratnya hati seorang ayah ketika hendak menyerahkan anak perempuannya pada seorang lelaki hanya dengan sebuah kalimat ijab qobul. Hamish dua kali melihat Abah mengusap ujung matanya yang basah ketika melepaskan Hana dan Faiza untuk di bawa ke rumah tinggal suami mereka setelah menikah, jadi Hamish bisa tahu bagaimana perasaan ayah mertuanya saat ini.
"Insya Allah, Yah. Firda istri saya, jika dia sedikit sukar untuk di bimbing, maka saya yang harus bersabar berarti saya yang belum bisa dan harus berusaha lagi. Tetapi dua Minggu ini, Firda itu penurut kok, Yah. Kalau sedikit masih bandel, ya wajar, Yah. Firda dan saya kan sama-sama dua orang yang tidak sempurna. Bukan Firda saja ujian bagi saya, tetapi saya juga ujian untuk Firda. Beritahu dan tegur saya jika saya salah dalam mendidik Firda, Yah!"
Ayah menepuk pundak Hamish pelan, kepalanya mengangguk dengan puas.
__ADS_1
Bagas yang dari tadi hanya mendengar ayahnya dan Hamish berbicara, pelan-pelan menghembuskan napas lega.
...****************...