Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK

Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK
40. Cukup sekali


__ADS_3

Hamish sedang kedatangan tamu dari teman-temannya ketika waktu di kampus dulu, biasa...Panggung pengantin milik mempelai pengantin pria, mereka foto-foto dengan gaya suka-suka. Ryu dan Noah juga ikut serta, saatnya Firda bisa menyingkir tanpa bisa di cegah oleh Hamish.


Ya iyalah, masak diantara lebih dari sepuluh orang laki-laki Firda nyelip diantara mereka? Biarkan mereka bersenang-senang menikmati jadi model sesaat, saat ini Firda mendatangi dua temannya yang ada di meja tamu.


"Kalian kok punya ponsel seperti itu sama-sama? Merampok dimana? Terus dua malam tidur disini kenapa aku bisa nggak tahu dan tidak melihat, kalian sembunyikan ya?" cecar Firda.


Sisil terkekeh.


"Aku dilamar menggunakan ponsel ini, seperti di TV-TV gitu, nah Gita barusan di kasih sama Bang Noah."


Gita mengangguk.


"Mereka berdua ternyata Om dan keponakan, tapi tidak perlu kau bertanya bagaimana silsilahnya! Aku takut kau semakin kurus karena pusing memikirkan bagaimana pertalian kekerabatan mereka, aku saja malas mengingatnya."


"Iya, berarti Sisil yang lebih dahulu punya ponsel itu, kenapa aku baru tahu sekarang?" Firda masih belum puas dengan penjelasan dari Gita.


"Aku sembunyikan, Fir. Aku takut kau bersedih karena milikmu sudah di jual oleh bang Bujang." wajah Sisil terlihat merasa bersalah.


"Belum di jual ternyata, tenang saja! Setelah resepsi dikembalikan padaku."


"Wish, okelah kalau begitu." Gita kembali mengeluarkan ponselnya mumpung Syakila berjalan kembali ke meja tamu bersama dengan Hans, biar sekalian bisa pamer.


Syakila menatap sengit ke arah ponsel yang di pegang oleh Gita dan Sisil, tapi dia tidak berani komentar karena ada Hans bersama mereka.


Pria yang pernah di sukai oleh Firda itu mengulurkan tangannya ke arah pengantin wanita.


"Selamat ya, Fir, aku nggak nyangka jika kamu memilih menikah muda, apa kamu tidak ingin meraih cita-citamu dulu baru menikah, Fir? Ah, tapi semua sudah terjadi, kamu sudah jadi seorang istri. Semoga kamu bahagia ya!" Hans terus menatap wajah Firda yang sangat cantik, do'a yang sudah membumi.


Tentu saja, dia kan ratunya hari ini. Pasti cantik lah.


Hari ini Hans baru menyadari kalau Firda ternyata jauh lebih cantik dari pada Syakila, andai waktu bisa di putar kembali. Ah, klise...Sudah milik orang baru sadar, telat.


"Terimakasih, menikah tidak menghalangi aku untuk meraih cita-citaku kok, Hans. Justru dengan menikah bisa menghindari aku dari perbuatan-perbuatan dosa." sindir Firda menatap ke arah genggaman tangan yang saling bertautan. Menyadari kemana arah tatapan Firda, Hans melepaskan secara paksa telapak tangannya yang terus di genggaman oleh Syakila.


Gita dan Sisil yang juga melihat ke arah yang dilihat oleh Firda memutar bola matanya jengah.


Syakila norak, memang dirinya hidup di dunia dongeng atau di negara barat sana yang dengan bebas bergenggaman tangan sementara mereka baru pacaran, dia lupa saat ini di mana bumi di pijak.


Terlihat wajah Hans yang memerah malu, sementara Syakila menatap tidak suka ke arah Firda karena berani menyindir dirinya.


"Kamu tidak ingin bertanya cita-citaku apa, Hans?" tanya Firda membuat hati Syakila panas.


Hari ini milik Firda, saatnya dia dengan bebas berbicara dengan Hans di depan Syakila. Pengantin kan bebas.


"Apa?" Hans mencoba tersenyum, gurat malu masih terlihat disana.

__ADS_1


"Pengen dimasukkan ke dalam surga, itu puncak dari cita-citaku" Firda tertawa, Hans masih belum loading.


"Terimakasih sudah datang ya, Hans, aku mau balik ke sana!" tunjuk Firda ke arah panggung pengantin dimana suaminya sudah melihat ke arah dirinya agar mendekat.


Hans hanya bisa mengangguk dengan tatapan yang terus mengikuti langkah kaki Firda menuju pelaminan, Syakila yang berdiri disebelahnya menatap Hans dengan pandangan cemburu.


"Siapa dia?" lirih Hamish bertanya dengan berbisik di telinga Firda setelah istrinya sudah kembali duduk.


"Pacarnya sepupu aku, satu kampus juga." jawab Firda dengan mata menatap kembali ke arah meja penerima tamu, Mawar datang bersama dengan suaminya.


Katanya mau cerai, kok kondangan datang berdua.


Melihat kedatangan Mawar, beberapa orang yang mengetahui jika Mawar dan Hamish hampir menikah dua Minggu yang lalu mulai terlihat berbisik-bisik. Mawar berusaha acuh.


"Bang, Abang ngundang mantan, Abang ya?" Firda memiringkan badannya ke arah Hamish.


"Iya, nggak apa-apa kan?"


"Untuk apa? Jangan bilang Abang manas-manasin dia! Berarti belum move on dong?"


"Nggak, Abang cuma ingin menunjukkan bahwa Abang benar sudah menikah dan bahagia bersama kamu, karena dia terus ngajak Abang balikan." ujar Hamish jujur sambil mengelus punggung tangan Firda agar istrinya tidak cemburu.


Memang empat hari belakangan ini bertepatan dengan Firda yang tidur di rumah orang tuanya, Mawar terus mengirimkan pesan untuk mengajak balikan lagi dengan Hamish.


Mawar juga sangat yakin jika Hamish tidak mencintai Firda, dia dengan percaya diri mengatakan jika tindakan Hamish yang menikahi Firda malam itu karena ingin membalas dendam pada Mawar yang memilih rujuk dengan suaminya.


"Awas lho kalau bohong dan aku tahu Abang CLBK dengan si bahenol!"


Cieeee sudah berani ngancam Firda.


"Nggak, Insya Allah, nggak. Masak istri Abang yang nakal menggemaskan ini mau ditukar dengan sisa orang lain, rugi Abang dong!" Hamish mengedipkan matanya genit, Firda tersenyum malu-malu.


Dasar abege, baru di rayu gitu saja sudah luluh.


Terlihat Doni suami Mawar makan dengan lahap, entah lapar atau doyan. Sementara Mawar terus menatap ke arah panggung pelaminan.


Firda dan Hamish terus berbisik-bisik sambil tertawa-tawa, bikin Mawar panas hati.


"Pengantin nggak ada kalemnya, bicara terus seperti burung cucak rowo." Mawar mencebik sembari mengunyah ayam semur dengan gemas, sampai lelehan kecapnya membuat belepotan di sekitar bibirnya.


Doni dengan cekatan mengelap bibir istrinya dengan tisu pembungkus sendok dan garpu yang dari tadi di pegangnya.


"Pelan-pelan makannya, Abang nggak minta kok. Dek, Abang rindu sama kamu, apa kamu..."


"Cepetan makannya, Bang! Aku pengen es dawet, ambilkan dong!" potong Mawar sebelum Doni meneruskan rayuan basinya.

__ADS_1


Dia tahu Doni sedang masa-masa ingin bercocok tanam karena Melati kemarin mengalami pendarahan, jadi sekarang sedang bed rest dirumah orang tuanya.


Kalau tidak di bawa kerumah orang tuanya, siapa yang mau mengurus dan melayani segala permintaannya. Mawar? Ogah.


Doni memberikan piring makannya yang belum habis isinya kepada Mawar, dia hendak mengambil es dawet seperti permintaan Mawar.


Dia rela melakukan semua permintaan Mawar asal Mawar tidak meminta cerai darinya.


"War, bener tuh kalau Bujang itu ringan tangan makanya kau memilih rujuk dengan suamimu?" bisik Mpok Narti si ratu gosip duduk di bangku tempat Doni tadi duduk.


Dari tadi Mpok Narti ingin bicara dengan Mawar, tapi sungkan ada Doni.


"Diam lah, Mpok! Kalau ada yang dengar jika itu keluar dari mulutku, bisa runyam jadinya." sahut Mawar di dekat telinga Mpok Narti, suara nyanyian sebagai penghibur para tamu undangan membuat hampir semua orang harus berbicara mendekat ke telinga biar dengar.


"Intinya berati benar ya? Waaahh kasihan sekali si Firda, bisa babak belur dia nanti di buat si Bujang.


Untung lah kau tidak jadi menikah dengannya, buat apa dapat bujangan tapi suka memukul. Lebih baik kembali pada suamimu walaupun di madu, iya nggak?"


Mawar melotot, Mpok Nanti itu sebenarnya membela siapa sih.


Doni datang kembali dengan es dawet ditangannya, Mpok Narti segera menyingkir.


Setelah menghabiskan air es yang dimintanya tadi, Mawar mengajak Doni untuk bersalaman dengan pasangan pengantin.


Saat Mawar ingin berjabatan tangan dengan Hamish, Firda segera menyambar tangan Mawar.


"Terimakasih sudah datang ya, Kak Mawar, nggak boleh salaman bukan muhrim." ucap Firda tersenyum manis.


Mawar cuma bisa melengos.


"Selamat, Jang, aku senang kau menikah, biar tidak ada sainganku." kekeh Doni biasa dengan tidak tahu malu, Hamish hanya bisa mengangguk.


"Nggak boleh bersalaman dengan mantan, ntar minta peluk lagi." pesan Firda sebelum Mawar meninggalkan panggung pelaminan.


"Iya, mantan Abang cuma dia kok yang di undang.


Fir, tamunya masih banyak, nggak?"


"Nggak tahu, kan ibuk sama Ayah yang mengundang. Memang kenapa?"


"Nggak ada, cuma tanya."


Hamish malu lah mau mengatakan kalau dia sudah ingin masuk kamar dan istirahat. Pipinya terasa keram senyum terus, dia tobat. Cukup sekali ini saja dia jadi pengantin.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2