
Ryu menepati janjinya, menjelang jam kepulangan ketiga perempuan yang selalu pecicilan itu dia sudah standby di parkiran sekitar area kampus.
Ryu juga sudah mengirimkan chat ke ponsel Sisil untuk memberitahukan kedatangannya.
Ckk, Ryu kaya pejabat saja datang pakai pemberitahuan, untung bukan pengumuman.
"Cie cie yang sudah tidak jomblo lagi," goda Firda menyenggol lengan Sisil yang malu-malu kelinci.
"Apaan? Memangnya kami sudah jadian? Tidak semudah itu Paulina, tipe pria yang mulutnya lemes seperti dia pasti playboy." Sisil mencebik.
"He-eh, beda sama suamimu yang kalem-kalem tapi buaya." imbuh Gita yang membuat Firda langsung menautkan kedua alisnya.
"Maksudmu apa kalem-kalem tapi buaya?"
Naik juga tensi Firda suaminya di bilang buaya.
"Selow, Fir! Kamu tahu buaya rawa?"
Firda mengangguk.
"Gerakannya pelan dan nyaris tidak terdeteksi saat ada mangsa yang akan menjadi santapan, tetapi saat calon korbannya lengah sedikit saja...Hap, lalu di tangkap. Seperti dirimu, sejak menikah kulihat lehermu ada beberapa tanda merah yang berusaha kau sembunyikan. Aku kira bang Bujang tidak suka sama anak kecil, tidak tahunya..." Gita menaikkan kedua bahunya sok tahu.
"Jangan bilang aku anak kecil, kau dan juga Sisil, kita seumuran, Jamal." Firda mendengkus jengkel.
"Hus, sudah, ributnya nanti dilanjutkan. Tuh, bang Ryu sudah melambaikan tangannya, seperti kita ini seorang artis saja." tunjuk Sisil ke arah Ryu yang sedang menyandarkan tubuhnya ke badan mobil.
Ketiganya berjalan mendekati mobil Ryu.
"Hamish tidak menjemput kamu?" tanyanya ke arah Firda, Firda menggeleng.
"Kami kan sedang pisah ranjang."
"Cerai? Bukankah..."
"Sembarangan, kami akan bersanding beberapa hari lagi. Biar manglingin dan biar rindu berat, makanya pisah dulu. Om sih nggak ngerasakan enaknya pengantin baru, beuh... " Firda langsung menutup mulutnya dengan telapak, lalu terkekeh.
Ryu jadi tergelak.
Istri Hamish saja lucu, apalagi kalau dia jadi istriku.
Ryu melirik ke arah Sisil yang sedang menaikkan sudut bibirnya menatap Firda, temannya itu belakangan ini otaknya rada-rada kemasukan pasir.
Firda sangat malu, bisa-bisanya dia berkata seperti itu padahal dia saja tidak kenal dengan Ryu selain informasi yang di dapatnya dari suaminya.
"Kalian berdua mau ikut saya juga?" Ryu menatap wajah Firda dan Gita secara bergantian dengan kedua ujung alis yang naik ke atas, kelihatan kalau dia tidak rela jika keduanya ikut bersamanya. Mengganggu dirinya dengan Sisil dong?
__ADS_1
Firda langsung menarik tangan Gita.
"Ayok, Git, nggak usah mengganggu orang pacaran." ucapnya bersungut-sungut, Gita mencibir ke arah Sisil yang justru dadah-dadah kecil. Dia lupa kalau tadi baru beberapa menit lalu mengatakan tipe pria yang mulutnya lemes seperti Ryu pasti playboy.
Baru lihat cowok cakep dengan mobil keren sudah amnesia, padahal bisa jadi itu cuma mobil rental atau mobil pinjaman.
Hamish kan cuma ngomong kalau kedua temannya masih bujangan, info yang lain sih nggak.
"Kau, tidak di jemput dengan Om Noah? Tidak menarik kau dimatanya, sehingga kau tidak bisa menggaet pria tua seperti Om Ryu? Bang Hamish bilang, mereka berdua masih bujangan. Memang sih bolak balik ganti pacar, namanya juga cakep. Kan cuma gonta-ganti pacar, nggak gonta-ganti istri. Masih bisa dimaklumi."
"Berarti mereka berdua sekarang jadi playboy insyaf ya? Sama seperti bang Bujang dong?"
"Auh ah, tuh, angkot jurusan ke tempat kita sudah dekat." tunjuk Firda ke sebuah angkot yang melaju mendekat.
Firda dan Gita berlari kecil setelah tangan mereka melambai agar angkutan kota yang biasa melewati kompleks perumahan berhenti, keduanya segera naik ke dalam angkot.
"Fir, kau tidak ke salon? Empat hari lagi kan?"
"Nggak, ibuk sudah memanggil yang biasa melulur yang mau dipanggil ke rumah. Kata ibuk kalau aku ke salon di kuatirkan ada CCTV tersembunyi yang bisa merekam semua apa yang terjadi di sana, ibuk parno setelah mendengar berita seperti itu."
"Huh, Ibukmu gampang sekali termakan isue. Bagaimana dengan berita yang mengatakan kalau bang Bujang suka main tangan? Sudah ketahuan siapa yang menyebarkan fitnah murahan itu?"
Firda menggeleng.
Di angkot itu memang enak sambil ngobrol, biar tidak terasa bosan karena jam mereka pulang matahari sedang panas-panasnya. Mana jalanan macet lagi.
Enak Sisil, sudah adem di antar cowok keren lagi.
"Fir, apakah menikah muda seperti dirimu ini enak? Secara kau dan bang Bujang jangankan ada cinta, mengenal lebih dekat saja belum."
Efek di gombalin Noah, jadi harus banyak tanya. Siapa tahu dilamar betulan.
"Pertama tentu saja aneh dan takut tiba-tiba punya suami yang tidak kita kenal dengan baik. Tapi karena bang Bujang baik, lembut, aku kan jadi klepek-klepek. Aku belum menyukai dirinya apalagi cinta? Tuh waktu sama Hans, aku sangat suka padanya. Hampir setiap saat memikirkan dirinya dan mencari tahu apa yang dilakukannya, tapi apa? Dia justru pacaran dengan Syakila, nyesek tau nggak? Ya sudah, bang Hamish sudah jadi suamiku, maka aku harus mulai belajar mencintai dirinya. Nanti lama-lama kan juga cinta, apalagi setiap malam bobok sama-sama." Firda cengengesan sambil mengedipkan sebelah matanya.
Gita kembali memutar bola matanya jengah, dia menyesal tanya seperti itu pada Firda. Kan dia jadi mendadak pengen nikah juga, biar kalau bobok ada yang nemani, jiaaaa....
"Semenjak menikah, omonganmu ujung-ujungnya terus menjurus kesitu. Aku jadi kepengen tau. "
Firda terkekeh.
"Makanya cari yang sudah tua, pasti langsung di ajak nikah."
"Iya, kau tenang saja! Aku akan cari di aplikasi pertemanan atau biro jodoh, puas?"
Firda terkekeh melihat Gita sewot, efek dari lahir jomblo ya gitu.
__ADS_1
...******...
"Kita sekarang mau kemana? Mau Abang antar pulang langsung atau....Hmmm, eh, nanti malam kamu ada acara nggak?"
Sisil berpikir sebentar, lalu menggeleng. Gayanya seperti yang sok sibuk di tanya pakai mikir segala, untung tidak melihat jadwal pelajaran.
"Nanti malam Abang datang ke rumah ya!"
"Ngapain? Mau ngapel? Nggak boleh, bisa sport jantung ibuku jika ada pria yang datang ke rumah."
Sisil tidak bisa membayangkan ibunya yang super duper doyan ngomong alias ceriwis akan menginterogasi pria dewasa seperti Ryu yang berani datang ke rumahnya.
Selanjutnya bisa satu malam Sisil mendengar nyanyian ibunya yang tidak akan pernah berhenti sampai suara ibunya lowbat atau suaranya serak.
"Memang kenapa? Ibu kamu ramah ya? Tenang saja! Abang bisa membalas keramahan ibu kamu, yang penting kamu jangan kemana-mana! Di dalam kamar saja, terus keluar kalau Abang sudah datang."
"Abang mau ngapain? Mau melamar aku? Haseek, eh." Sisil nyengir kuda.
"Bercanda, Bang. Kita pulang aja langsung ya, nanti aku kena omel kalau Gita sudah sampai rumah akunya belum. Dikira minta di culik orang lagi."
"Beneran juga nggak apa-apa, Sil. Pokoknya ntar malam Abang lamar deh, tapi jangan di tolak ya! Nanti Abang bisa patah hati, pria seperti Abang ini limited edition lho, jadi kamu nggak bakalan rugi, untung banyak malah.
Nih, kalau Abang akan melamar kamu, kamu maunya Abang kasih apa?"
Sisil menatap wajah Ryu yang kali ini terlihat serius, bibir Sisil tersenyum penuh arti.
Hmm, di kira aku takut dengan tantangannya? Kita lihat saja apa yang dia mampu berikan.
Otak Sisil mendadak mengingat uang tabungannya yang sudah kandas karena patungan membeli ponsel berlogo apel di gigit untuk Firda waktu itu.
Sia-sia dia mengambil tabungannya karena ponsel itu juga sudah di jual oleh suami Firda, jadi kalau dia punya ponsel seperti itu sekarang bisa untuk di pamerkan pada Firda dan Gita. Itu juga kalau Ryu beneran mau melamarnya, kalau nggak ya tinggal mimpi.
"Tidak perlu merayu atau menggombal, aku nggak makan janji kosong. Jadi lamar saja aku dengan ponsel berlogo apel tidak utuh, dijamin aku langsung menerima Abang tidak pakai mikir."
Mendengar permintaan matre Sisil, Ryu tergelak.
"Cuma itu? Yakin? Nanti kamu bohong, malu dong Abang dengan keluarga Abang kalau di tolak."
"Ish, ngapain bohong. Jadi istri Abang kan gampang. Cuma menemani Abang ngobrol menjelang tidur, terus dikasih duit. Janji nggak macam-macam, kita belum terlalu kenal." ucap Sisil enteng, ponsel impiannya sudah terlihat melambai-lambai di pelupuk matanya.
"Awas kalau kamu bohong, Abang culik kamu lalu Abang jual." ancam Ryu.
"Nggak, datang aja!"
...****************...
__ADS_1