Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK

Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK
51. Rayuan


__ADS_3

"Mish, apa ada masalah?"


Seperti biasa, Abah paling peka dengan perubahan Hamish yang lebih pendiam dari biasanya.


Ketika subuh-subuh saat dirinya dan Abah berjalan ke mesjid, Hamish akan banyak bertanya tentang apa yang Abah rasakan terutama dengan kondisi tubuhnya. Karena hampir seharian Hamish kan berada di cafe, jadi apa yang Abah dan Umi alami sepanjang hari Hamish tidak tahu.


Pagi ini Hamish lebih kalem, setiap Abah bicara dia hanya ber 'Oh' atau 'Hmm' saja. Kepalanya juga sering menunduk dengan tatapan mata seperti sedang merenung.


'Nggak ada, Bah."


"Abah bukan mau ikut campur dengan rumah tanggamu, kamu sudah dewasa dan Abah yakin kamu bisa menangani semua dengan baik.


Apa Firda belum mau memiliki anak?"


"Hah?" sontak Hamish menoleh ke arah Abah-nya yang malah menatap ke depan.


"Abah lihat Firda tidak bahagia, makanya dia minta pulang. Apa tebakan Abah salah?"


"Dia cuma kangen rumah, Bah."


"Ya, semoga memang benar seperti itu.


Kalau Firda belum siap, wajar, Mish. Pernikahan kalian terjadi dengan mendadak, kalian juga belum saling cinta, baru juga suka-sukaan. Dan sekarang Firda sudah hamil saja. Jadi jangan salahkan dirinya jika dia belum siap, apalagi anak sekarang, Mish.


Mereka matang dalam dunia maya tapi mengkal dalam dunia nyata, kamu harus sabar menghadapinya, Mish!"


"Iya, Bah, mungkin Firda masih belum percaya jika dirinya akan menjadi seorang ibu."


Abah tersenyum.


"Kamu benar, tugasmu meyakinkan istrimu bahwa menjadi seorang ibu itu tidak semenakutkan apa yang dia bayangkan. Apalagi ketika hamil seperti sekarang ini, dia bisa mengerjaimu habis-habisan dengan segala permintaannya yang aneh-aneh dengan alasan mengidam." kekeh Abah, Hamish ikut tertawa kecil.


Membayangkan Firda rewel meminta macam-macam, tanpa sadar bibir Hamish tersenyum. Dan dia berjanji dalam hati akan berusaha memenuhi keinginan Firda dalam mengidam.


"Kamu harus sabar menghadapi psikologis istrimu saat ini! Firda masih muda, ditambah moodnya sedang naik turun. Jadi kuncinya hanya perlu sabar dan buat dia merasa nyaman!" tepuk Abah pelan di bahu Hamish saat keduanya sudah sampai di depan pintu mesjid, Hamish mengangguk seraya membuang napasnya pelan.


...*****...


Firda berdiri di depan cermin, setelah dia selesai sholat mukena di biarkan saja teronggok di atas sajadah tanpa di lipat.


Piyama yang dikenakannya di buka pengait kancingnya beberapa buah dari bawah sehingga memperlihatkan perutnya yang rata dan mulus, pinggangnya juga terlihat ramping seperti biasa.

__ADS_1


Dia memiring-miringkan tubuhnya sembari melihat ke arah foto USG yang ada di tangannya, setelah itu dia mendesah. Meletakkan foto USG di atas meja, kembali melihat ke arah perutnya.


Hamish yang mengintip dari balik pintu yang dibukanya pelan-pelan tadi hanya tersenyum melihat kelakuan Firda.


"Assalamualaikum, sudah sholat?" sapa Hamish pura-pura baru pulang, padahal sudah dari tadi dia berada di depan pintu kamar. Firda buru-buru mengaitkan kancing piyamanya lagi.


Hamish segera menahan tangan Firda yang sedang mengaitkan kancing baju, lalu berjongkok di depan perut Firda.


"Abang mau menyapa anak kita, sayang. Biar dia juga merasakan


betapa kita menyayangi dirinya sejak dia mulai tumbuh dalam rahimmu." ucap Hamish mengusap pelan perut Firda, melafalkan beberapa bait do'a dengan suara lirih tapi cukup di dengar di telinga Firda. Dan itu sukses menohok ke dalam hatinya.


"Terus tumbuh dan sehat ya, Nak, jadilah permata bagi kami semua! Kami menunggu kehadiranmu dengan banyak cinta dan kasih sayang."


"Abang menginginkan dirinya, Fir, tapi Abang jauh lebih menginginkan dan menyayangi dirimu. Karena kamu yang lebih dahulu Abang kenal. Abang menyayangi dia karena dia buah dari cinta kita, Fir."


Hamish mencium lembut perut Firda, sehingga menciptakan sensasi aneh yang menjalari seluruh permukaan kulit Firda.


Firda speechless, Hamish semakin lembut dan semakin mesra pada dirinya sejak malam tadi.


"Bang, hari aku mau bolos, antar aku ke rumah ibuk ya!"


"Iya, sekarang atau nanti?"


"Abang boleh ikut menginap kan? Nanti Abang kangen dan nggak bisa tidur kalau nggak peluk kamu, anak Abang pasti juga pengen di peluk juga."


Firda tersipu malu tapi hatinya berbunga-bunga di rayu pagi-pagi oleh suaminya.


Hamish berusaha tidak membahas masalah penyebab Firda merajuk, dia berharap Firda melupakan keinginannya.


Memasukkan beberapa helai pakaian Hamish untuk ganti di rumah ibunya, mereka berdua langsung berangkat ke rumah ayah Deni.


Abah tidak mengatakan apa-apa selain menepuk-nepuk pundak Hamish mendukung apapun yang anaknya lakukan, berbeda dengan Umi yang menatap sedikit bingung kenapa harus pagi-pagi pulang ke rumah orang tua Firda. Tapi Hamish yakin dan percaya jika Abah akan menjelaskan pada Umi agar tidak salah faham.


"Abang nggak marah sama aku kan?" tanya Firda pelan takut-takut menatap Hamish.


"Marah kenapa?"


"Ucapan aku di ruangan dokter,"


Pelan Hamish menghembuskan napasnya, dia berusaha menghindari topik yang itu justru Firda mengingatkannya lagi.

__ADS_1


"Kalau kamu serius, Abang jujur, Abang marah, Fir. Tapi Abang yakin kalau kamu cuma asal bicara."


"Tapi, Bang..."


"Kita jalan-jalan ke taman saja dulu, yuk! Sarapan bubur ayam." potong Hamish cepat.


Walaupun ke rumah mertua sendiri, tapi Hamish tetap sungkan kalau pagi-pagi sudah datang. Bisa di pastikan nanti kedua orang tua Firda, abang dan adiknya berpikiran kalau mereka sedang berselisih paham. Membawa Firda menikmati pagi di suasana berbeda mungkin itu akan merubah perasaannya.


Sampai di taman, Hamish mengajak Firda menuju warung tenda bubur ayam yang ada di sekitar taman kota. Ada banyak orang yang juga sarapan di sana, tetapi kebanyakan para pekerja atau remaja seusia Firda karena ini bukan weekend. Mungkin mereka mahasiswa, ada juga yang datang sekeluarga bersama anak dan pasangannya.


Tidak sengaja sepasang mata Firda menangkap pasangan muda dengan satu anak yang masih berusia balita. Si anak dipangku dan disuapi oleh ayahnya, sementara sang ibu makan dengan tenang.


Firda menatap Hamish yang sedang memesan makanan, lalu beralih ke ayah muda yang dengan telaten menyuapi anaknya.


"Indah ya? Kita akan ciptakan keluarga yang seperti itu juga, Abang yang akan membantu kamu mengasuh anak kita." bisik Hamish pelan sudah duduk disebelah Firda.


"Tapi aku..."


"Rasakan dulu kehadirannya, resapi kebesaran Allah bahwa ada makhluk mungil yang terus tumbuh disini. Buah cinta kita, kamu percaya kan kalau Abang mencintai kamu? Mencintai kalian berdua." suara Hamis lebih lirih sembari meletakkan telapak tangannya di atas perut Firda, ada haru yang menelusup masuk kedalam hatinya mengingat dia akan menjadi seorang ayah.


Merayu dan ingin memberikan banyak cinta dengan kata-kata manis ditempat yang berbeda justru membuat Hamish merasa tertantang. Tidak seperti pasangan lain yang dengan susah payah menyiapkan tempat dan waktu yang spesial untuk mengungkapkan perasaan, Hamish justru melakukan di dalam warung tenda bubur ayam. Ditengah-tengah orang yang sedang sarapan pagi, matanya lembut menatap ke arah Firda.


Mungkin Hamish akan di anggap lebay, tapi dia sedang membujuk agar Firda merasa nyaman, merasa dicintai, merasa Hamish sangat menginginkan dirinya.


Pesanan mereka diletakkan di atas meja, Hamish dengan sigap menyuapi Firda. Perempuan muda itu langsung menangis dan menyembunyikan wajahnya di punggung belakang Hamish.


"Jangan menangis! Nanti orang-orang mengira Abang menyakiti kamu."


"Habisnya Abang bikin aku mewek, tau nggak?"


"Abang romantis nggak?" Hamish mencoba mencairkan suasana, Firda tertawa.


"Romantis tapi gombal,"


"Nggak apa-apa, yang penting kamu senang."


Kembali Firda melihat pasangan muda yang sudah menyelesaikan makannya. Kedua mata Firda menatap tidak percaya ketika wanita itu berdiri, ternyata si istri tengah mengandung. Terlihat perutnya yang sudah membuncit, padahal anaknya masih kecil.


"Abang jadi tidak sabar menunggu perutmu besar seperti itu, Fir, pasti kamu semakin cantik." ucap Hamish mengelus rambut Firda pelan.


Firda tidak mengatakan apa-apa karena malu, dia mengambil sendok dan mulai makan buburnya sendiri. Ekor matanya terus melirik ke arah pasangan muda yang sudah berlalu dengan sepeda motornya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2