Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK

Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK
43. Nggak jelas


__ADS_3

Pulang dari mesjid Hamish langsung menuju ke kamar untuk membangunkan Firda yang sudah bisa dipastikan kalau dia masih dengan tidur nyenyak.


"Fir, sudah siang, bangun, yuk sholat dulu!" Hamish menepuk-nepuk pundak Firda pelan, merapikan surai hitam yang menutupi dahi istrinya lalu mengecupnya pelan.


Bibir Firda membentuk senyuman kecil di perlakukan manis begitu.


"Bentar lagi, Bang! Lima meniiiit aja," jawabnya sambil memeluk bantal guling.


"Ponselnya ini lowbat lho, apa kamu nggak kepengen membawanya ke kampus? Biar samaan dengan Gita dan Sisil."


Mendengar kata ponsel, Firda langsung membuka kedua matanya.


"Mana, Bang, aku sudah rindu padanya."


Hamish tertawa tanpa suara, mendengar kata ponsel langsung bangun.


Ternyata memang alamiahnya Allah menciptakan manusia itu segala sesuatunya harus diiming-imingi dengan hadiah.


Sama seperti andai surga itu tidak ada, apakah manusia akan beribadah?


"Di rumah Abah, nanti sebelum berangkat ke kampus kita singgah dulu. Makanya buruan mandi dan sholat!" titah Hamish menepuk paha Firda pelan.


"Abang makin pandai saja bermain kata, bukan hanya bermain lidah, eh." Firda tertawa, Hamish hanya bisa menggeleng kepala pelan.


Andai saja ini bukan di rumah mertuanya, Hamish tidak tahu selanjutnya apa yang akan terjadi.


Firda bangun dari tidurnya langsung menuju ke kamar mandi.


Dia ingin membawa Firda pergi berlibur, tapi tabungannya hampir mengucapkan selamat tinggal. Mengadakan walimah hingga dua kali membuat kantong Hamish benar-benar menjerit, mengambil keuangan untuk operasional cafe Hamish tidak berani.


Jadi dia harus pasrah tidak pakai acara liburan atau bulan madu, berdua dikamar dengan Firda saja itu sudah jauh lebih ini.


Ucapan orang tidak punya uang memang gitu.


Bagas dan Ayah Deni yang sedang menyapu halaman membersihkan sisa-sisa pesta semalam di kejutkan oleh kedatangan Sisil dan Gita yang terlalu pagi.


"Kami tepat janji kan, Bang. Pagi-pagi kami datang, sekalian numpang sarapan. Rendangnya masih ada kan?" tanya Sisil sedikit berbisik pada Bagas agar Ayah Deni tidak mendengar.


"Ada, lengkuasnya, mau?"

__ADS_1


"Ish, Abang, jutek terus, ntar kalau jomblo seumur hidup bagaimana? Sayang kan cakep-cakep tapi jomblo, atau mau ngikutin jejak bang Bujang? Sudah berumur baru ketemu jodoh."


Mendengar doa yang jelek dari mulut Gita, Bagas mendelik.


"Apa bedanya dengan calon suami kalian? Sudah berumur juga kan? Cocok untuk kalian berdua yang terus berkicau, sudah sana jangan ganggu aku!" Bagas melanjutkan menyapunya, Sisil dan Gita masih anteng berdiri memperhatikan Bagas membersihkan halaman. Dimata mereka berdua Bagas terlihat makin cakep ketika serius mengayuh tangkai sapu, mana bibirnya mengerucut lucu lagi. Jadi pengen di Iket.


"Git, kalau bang Bagas mau denganku, aku rela melepaskan bang Ryu."


"Hah, kenapa? Kau menyesal menerima lamaran orang tua itu?"


Sisil berdecak, padahal Noah juga sama tuanya tapi kenapa Gita harus memakai kata tua.


"Gombalnya itu, lho. Aku yakin dia itu banyak pacarnya, dan entah sudah berapa banyak perempuan yang menerima gombalannya. Dan aku entah yang di keberapa."


"Itu kan dulu, kita saja belum lahir. Memang dia tahu bakalan melamar dirimu? Kau membuang-buang energi memikirkan hal seperti itu. Jangan mimpi bang Bagas melirik kita! Jangankan sekarang kita sudah menjadi calon istri orang lain, kemarin-kemarin kita masih jomblo saja bang Bagas acuh pada kita."


"Iya ya, Git, padahal kita kan nggak jelek-jelek amat, kenapa bang Bagas nggak suka."


Gita memutar bola matanya jengah, kenapa Sisil jadi oleng gitu.


"Karena dari kita bau amis bang Bagas sudah mengenal kita, Sil, jadi dia nggak nafsu.


Gita dan Sisil langsung saja nyelonong masuk ke dalam kamar Firda, mereka berdua lupa nasihat Bagas kemarin sore yang tidak boleh masuk kedalam kamar pasangan suami-istri. Dikuatirkan akan melihat hal-hal yang tidak layak di lihat.


Contohnya sekarang, Firda yang baru selesai melaksanakan sholat subuh tengah berdiri di depan pintu lemari yang terbuka lebar hanya dengan mengenakan underware, dia sedang bingung mau memakai apa ke kampus nanti karena sebagian bajunya ada di rumah mertuanya.


Firda hanya perempuan biasa dan dari kalangan biasa juga, jadi jangan membayangkan dia memiliki banyak pakaian.


Melihat kedua sahabatnya yang nyelonong masuk, Firda panik. Dia segera mencari handuknya, tapi dia lupa jika handuknya ada di dalam kamar mandi. Dia tadi kan sholatnya cuma pakai jubah mandi doang.


"Wo wo wo wo....Gila, kenapa seluruh badanmu seperti kena stempel permanen begini? Suamimu hot juga ya? Aku jadi pengen cepat nikah." ujar Sisil sambil berjalan mengelilingi badan Firda yang sudah tidak mungkin di tutupinya lagi karena Gita sudah membuang jubah mandi yang di letakkan di atas kasur.


Sisil lupa tadi dia ngomong apa tentang Ryu, dasar abege. Nggak jelas ucapannya yang mana yang bisa di pegang.


Gita menghitung tanda kissmark yang ada di dada dan perut Firda, bibirnya berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Pantas saja kau tidak terlihat keberatan sama sekali ketika di nikahi sama bang Bujang, tapi tidak tahunya...Kau pasti di bawa terbang melayang setiap hari ya?" Sisil masih belum mengalihkan tatapannya, padahal Firda sudah buru-buru menyambar kemeja agar tubuhnya tidak terus di lihatin oleh Gita dan Sisil.


"Kalian berdua memang tidak ada sopan santunnya, main masuk-masuk saja. Apa tidak bisa ketuk pintu dulu? Bagaimana kalau aku dan Bang Hamish sedang mesra-mesraan?" sembur Firda judes pada keduanya.

__ADS_1


"Biasanya juga begitu, lagian kami tadi melihat bang Bujang keluar makanya kami masuk.


Eh, Fir, gimana rasanya?" Sisil bertanya kepo.


"Iya, cerita dong cerita!" Gita standby duduk di atas ranjang bersiap untuk mendengar kisah malam pertama Firda.


"Apa yang harus di ceritakan?"


"Rasanya, Fir, biar kami berdua semangat menjelang pernikahan yang sebentar lagi. Kau dan kami berdua kan sama-sama tidak mengenal mereka, gara-gara mulut lemes kami akhirnya kau tahu sendiri. Kami lupa jika bang Ryu dan bang Noah bukan bang Bagas kalau di gombalin cuma menautkan kedua alisnya lalu menggeleng." ucap Sisil ikut duduk di sebelah Gita yang menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan Sisil.


"Kalian menyesal sudah menerima lamaran mereka?"


Gita dan Sisil saling berpandangan, lalu keduanya sama-sama menaikkan kedua bahunya.


"Yang menerima itu kan orang tua kita, bukan kita. Ya sudah jalani saja kalau memang jodoh akan menikah, kalau tidak... Setidaknya kita juga nggak ada ruginya, ponsel sudah ada ditangan. Masak mau diminta lagi, kan nggak mungkin. Anggap saja pengganti uang tabungan yang terkuras gara-gara taruhan sama dirimu."


Gita masih saja mengungkit tabungannya, dasar pelit.


"Terkadang ada keraguan, Fir, iya kalau bang Ryu seperti bang Bujang yang kelihatan lembut di luar hot di dalam. Kalau seandainya dia lembut di luar dan lembut di dalam juga gimana?"


Gita dan Firda saling berpandangan, apa maksudnya lembut diluar dan lembut didalam.


"Jangan aneh-aneh lah, Sil, apa maksudnya? Kayak yang sudah tahu apa yang lembut saja." Firda mencibir, teringat di pikirannya saat milik suaminya terkulai layu setelah dipergunakan, tanpa sadar Firda terkekeh sendiri.


"Cih, yang sudah tahu semuanya, sombooong.


Eh, Sil apa tadi yang lembut diluar dan lembut di dalam? Perasaan kalian kan belum pernah berkencan, apa yang kau tahu? Jangan bilang kalau bang Ryu sudah memperlihatkan padamu."


Sisil langsung melotot.


"Lidahnya, pikiran dirimu pasti sudah kemana-mana? Dasar mesum, suruh cepat bang Noah itu menikahi dirimu biar kau merasakan apa yang Firda rasakan."


"Memangnya kalau aku nikah, kau tidak menikah juga?"


"Nikah lah, biar enak kalau kita ngobrol karena kan sama-sama sudah tahu." ucap Sisil dengan menyenggol bahu Gita.


Gita langsung menggigit bibir bawahnya genit membayangkan...Hayoo....


...****************...

__ADS_1


Kemarin nggak update, maaf ya! Biasa...Pancaroba ini bikin kondisi badan suka...Jaga kesehatan semua ya😘😘😘


__ADS_2