
Seminggu sudah Hamish dan Firda tinggal di rumah kedua orang tua Firda untuk menunggu hari kelahiran yang semakin dekat, tetapi sudah melewati dari perkiraan dokter belum ada tanda-tanda jika Firda hendak melahirkan.
Padahal setiap pagi sepulang Hamish dari mesjid, Firda selalu dibawa untuk jalan pagi mengelilingi kompleks perumahan. Berharap kelahirannya akan lancar dan segera.
"Memang dari perkiraan dokter, sudah lewat berapa hari?" tanya Mpok Narti sambil membawa barang dagangannya, berharap Firda mau mengambil satu atau dua helai daster yang dijualnya.
"Baru dua hari."
Ibunya Firda yang menjawab, Firda cuma melihat-lihat barang dagangan Mpok Narti.
"Kalau lewat setahun, orang-orang dulu bilangnya hamil kebo. Nah kalau nggak lahir juga di ikat tuh seperti kebo biar cepat lahiran."
Mbok Narti mulai mendongeng.
"Sadis benar di ikat kaya' kebo, itukan dulu. Kalau sekarang tinggal Cesar saja, beres." timpal Firda.
"Lagian Mpok, kalau sudah setahun lebih masih ada di dalam perut, keluar-keluar udah kumisan dong." kekeh Firda, Mpok Narti dan ibunya ikut tertawa.
"Itu kan pada zaman dahulu..." Raka ikut nimbrung dengan mengucapkannya seperti intonasi di film animasi anak-anak yang ada di televisi.
"Hush, anak kecil nimbrung saja, urusan perempuan jangan mau tau. Suh suh suh, pergi main yang jauh!" ucap ibunya Firda seperti mengusir ayam.
Firda yang tengah memilah-milah daster tiba-tiba mencengkeram tangan Raka yang memang berdiri di sebelahnya.
"Auw, sakit, kak! Memang aku..."
Raka tidak sempat melanjutkan omelannya karena melihat Firda meringis sambil sebelah tangan memegangi perutnya.
"Sakit, Buk,"
Firda beralih menatap ibunya yang juga terkejut karena Raka yang berteriak, Mpok Narti segera menyelamatkan dagangannya jadi ikut panik. Kuatir daster-daster yang berserakan di lantai teras bisa jadi korban, maksudnya korban kejatuhan air ketuban.
"Fir, sakit sekali ya? Apakah ini sudah waktunya?"
"Nggak tahu, Buk, perut Firda mules." ujarnya merintih dengan kedua matanya yang sudah berair.
"Ka, hubungi bang Hamish! Panggil ayahmu cepaattt..." perintah ibunya menggapai tangan Firda.
"Iya, iya,"
__ADS_1
Raka segera menghubungi Hamish yang berada di cafe, lalu berlari ke belakang tempat ayahnya sedang memperbaiki kandang ayam.
Keriuhan terjadi di rumah ayah Deni, Mpok Narti hanya bisa menenangkan Firda yang sudah menangis menahan sakit. Sementara ibunya mengambil tas yang isinya peralatan bayi.
"Kita berangkat ke rumah sakit saja, biar Hamish juga langsung ke rumah sakit." ajak ayah Deni sembari menghidupkan mesin mobil.
"Jangan nangis, Fir! Nanti tenagamu terkuras hanya menangis, melahirkan itu selain sakitnya tidak terkira juga membutuhkan tenaga yang besar." ujar Mpok Narti membantu Firda berjalan menuju mobil yang sudah standby di depan teras.
Raka yang mendengar ucapan Mpok Narti meringis ngeri.
Apa nggak ada kata-kata yang lebih baik yang bisa membuat kak Firda nggak takut ya?
"Ka, jaga rumah! Beritahukan juga abangmu kalau kakakmu sudah mau melahirkan, kau nanti datangnya sama bang Bagas saja. Jangan kemana-mana, jaga rumah!" pesan ibunya sebelum menutup pintu mobil.
Raka hanya bisa mengangguk walaupun ibunya tidak lagi melihat karena ayahnya sudah keburu menjalankan mobil menuju rumah bersalin terdekat.
...*****...
Hamish yang mendapat telepon dari Raka langsung bergegas menuju rumah sakit yang sudah di sepakati semula dengan Firda jika kelak anak mereka akan lahir, pria dewasa itu sudah sampai lebih dahulu bahkan sudah mendaftarkan data diri Firda. Dia berjalan mondar-mandir tidak sabar menunggu kedatangan mobil yang dikendarai oleh ayah mertuanya.
Ayah Deni mengendarai mobil dengan sangat hati-hati dan sedikit lambat, Hamish semakin gelisah. Ketika mobil yang di kenalnya memasuki halaman rumah sakit, Hamish segera berlari menyongsongnya.
"Baru bukaan lima," ucap dokter yang mengecek jalan lahir Firda, Hamish sampai harus menelan salivanya melihat bagaimana cara dokter tadi mengecek sudah berapa bukaan.
"Sakit, Bang." rengek Firda dengan mata yang berkaca-kaca, Hamish hanya bisa mengangguk sembari mengusap-usap pinggang Firda.
"Buk, Firda minta maaf sudah pernah bohong ke Ibuk, membuat malu Ibuk dan ayah dengan kebohongan Firda." ucapnya menangis menjangkau tangan ibunya.
Firda baru merasakan bagaimana sakitnya hendak melahirkan, terbayang olehnya bagaimana dia membiarkan ibu dan ayahnya menahan malu selama beberapa hari. Sementara dirinya masih takut untuk berterus terang, sampai ibunya lebih banyak berada di dalam rumah saja karena gunjingan para tetangga.
Ibunya Firda jadi ikut menangis, beliau kasihan melihat Firda yang meringis sakit bila kontraksi datang.
Wanita paruh baya itu memang sudah tiga kali merasakan apa yang Firda rasakan, tetapi melihat anak perempuannya yang sekarang merasakan apa yang pernah dirasakannya sebagai seorang ibu dia tidak tega.
"Ibu sudah memaafkan kamu sebelum kamu meminta maaf, sudah jangan nangis! Ibuk jadi ikut nangis kan? Istighfar saja, Nak!" ujarnya sembari mengusap sudut matanya yang basah, Firda membenamkan wajahnya di pelukan ibunya.
"Sakit sekali, Buk." rintihnya sambil mendesis.
"Bang, aku minta maaf! Aku sudah banyak menyusahkan, Abang."
__ADS_1
Firda beralih ke Hamish yang hanya bisa diam melihat istrinya meminta maaf pada ibu mertuanya.
"Iya, semua sudah Abang maafkan dan Abang ikhlaskan, kamu tidak memiliki kesalahan apapun pada, Abang. Abang juga tidak merasa direpotkan kok, apapun permintaan kamu itu membuktikan kalau Abang punya istri. Jangan nangis terus, wajahnya semakin merah tuh." hibur Hamish mengusap wajah Firda yang sudah basah dengan air mata.
Tidak lama Abah dan Umi juga sampai di rumah sakit, Firda kembali meminta maaf jika selama tinggal di rumah Umi dirinya banyak membuat Umi kesal.
"Nggak, Fir, kamu anak Umi, nggak ada orang tua yang kesal pada anaknya. Umi yakin kamu kuat dan bisa, ini jihadnya seorang perempuan, Fir. Yang sabar dengan rasa sakit ya, Nak!" hibur Umi mengusap pelan tangan Firda.
Setelah merasakan sakit kontraksi yang hilang timbul selama tiga jam lebih, akhirnya Firda sukses melahirkan seorang putra dengan selamat.
Tidak ada drama Firda berteriak-teriak kesakitan karena Hamish terus mendampingi Firda yang tengah berjuang.
Dengan mata yang basah, Hamish mengumandangkan adzan di telinga putranya. Suaranya sayup-sayup hilang timbul karena rasa haru sehingga tenggorokannya terasa kering.
"Terimakasih, terimakasih, terimakasih, Fir, kamu sudah memberikan kebahagiaan terbesar buat Abang." ucap Hamish mengecup dahi Firda yang masih basah oleh keringat, tidak ada raut jijik bagi Hamish dengan wajah Firda yang masih lengket. Justru Hamish ingin memberikan banyak ciuman ke wajah istrinya tetapi sungkan karena masih ada dokter dan tenaga medis lainnya yang akan membersihkan Firda.
"Selamat, Mish, kau sudah menjadi seorang Abi." ucap Abah menepuk bahu Hamish.
"Terimakasih, Bah, aku benar-benar bahagia, Bah." Hamish menangis haru di pundak Abah-nya.
Dihadapan Firda dia tidak bisa menangis karena bahagia, dihadapan Abah tempat dirinya sering berbagi cerita dan meminta solusi Hamish tidak bisa tahan.
"Iya, semoga kamu dan Firda bahagia seterusnya ya, Mish." do'a Abah seraya mengerjab-erjabkan kedua matanya ikut terharu.
"Kalian sudah memiliki nama untuk putra pertama kalian?" tanya ayah Deni mengoyak keharuan antara Hamish dan abahnya.
"Sudah, Yah." sahut Hamish sembari mengusap sudut matanya.
"Siapa namanya?" tanya ayah Deni dan Abah bersamaan.
"Ali, tapi masih belum ketemu nama lengkapnya siapa. Kami sepakat akan memanggilnya Ali saja dulu."
"Aku nyumbang nama belakangnya ya, Bang!" sela Raka yang baru datang bersama Bagas.
"Siapa?" tanya Bagas penasaran.
"Nanti aku pikirkan, pokoknya keponakanku namanya harus keren."
"Oke, bisa di pertimbangkan." ujar Hamish memberi kesempatan pada adik iparnya.
__ADS_1
...****************...