
Setelah selesai percintaan mereka, Hamish mengusap pelan perut datar Firda. Bibirnya bergerak-gerak sebentar lalu mengecup pelan permukaan perut istrinya.
Firda masih memejamkan kedua matanya, antara lelah dan mengantuk.
"Bang, kenapa setiap selesai begitu kok aku ngantuk ya? menggerakkan jari saja rasanya malas, padahal aku mau ke kamar mandi."
Hamish tertawa tanpa suara, itu pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban.
"Mandi bareng yuk, kalau males bergerak Abang gendong."
Mendengar kata gendong, kedua mata Firda membuka.
"Memang Abang kuat gendong aku?"
"Insya Allah, kamu kan nggak gendut. Mau coba?"
Firda menggeleng, mandi malam-malam itu dingin. Besok pagi saja menjelang subuh.
"Kamu takut dingin? Nggak, makanya kita coba."
Hamish sok tahu, kaya' sudah pernah saja mandi berduaan.
"Malu."
"Ngapain malu? Abang sudah tahu semuanya."
Firda cepat-cepat menutupi tubuhnya dengan selimut, Hamish terkekeh.
Karena Firda nggak mau diajak mandi bareng, Hamish melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri sekalian mandi junub.
Hmm, kenapa aku tadi menolak, kan bisa bebas melihat miliknya. Masak baru rasa aja tapi belum di lihat.
Firda terkikik geli sendiri, pelan dia beranjak dari atas ranjang sembari menyambar handuk lalu ikut masuk ke dalam kamar mandi.
Mengetahui Firda ikut masuk Hamish cuma tersenyum kecil.
"Lucu sekali bentuknya ya, Bang." tunjuk Firda dengan tatapannya yang nakal sambil terkekeh, Hamish berdecak.
"Kenapa kamu iseng sekali, Firda. Punya Abang pun kamu tertawakan." geram Hamish.
Firda masih saja terkekeh-kekeh, matanya tidak lepas dengan terus menatap sesuatu yang menjadi kebanggaan Hamish sedang terkulai layu.
Karena terus ditertawakan oleh Firda, Hamish segera menarik tangan Firda dan mulai lagi tangannya bergerak nakal dan liar.
Jika biasanya Hamish kalem dan lembut, kali ini sedikit liar dan panas. Dan sekali lagi mereka melakukannya di kamar mandi, membuat Firda tidak mempu untuk berdiri.
__ADS_1
Dibantu Hamish untuk mandi junub, bibir Hamish terus menyematkan senyum kepuasannya.
"Masih mau mentertawakan milik Abang lagi, Firda sayang?" tanya Hamish memakaikan piyama tidur pada Firda, setelahnya mengeringkan rambut Firda dengan handuk kecil.
Firda menggeleng, dia langsung menjatuhkan bobotnya diatas ranjang.
"Bang, kalau aku salah, apakah Abang akan memukul aku?" tanya Firda ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh suaminya jika dia berbuat salah, apa seperti yang dikatakan oleh orang-orang jika Hamish ringan tangan.
Hamish meletakkan kepala Firda diatas pangkuannya, menarik sebuah buku di dalam laci lalu mengipas-ngipas rambut Firda biar cepat kering.
"Kenapa kamu berpikiran seperti itu?"
Firda tidak mungkin mengatakan perihal berita itu, dia tidak mungkin juga membongkar pada suaminya jika ibunya sudah terpengaruh dengan berita yang di hembuskan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
"Aku cuma bertanya, kita kan belum kenal baik, Bang. Yang aku tahu Abang cuma sering berada di depan mesin penggiling kopi, kata orang barista atau batista aku juga tidak peduli. Abang sebenarnya seperti apa aku kan nggak tahu."
Hamish memindahkan kepala Firda diatas bantal agar dia bisa menatap wajah Firda dengan jelas.
"Fir, dengar kata Abang! Kita memang belum mengenal selain kamu sering nongkrong di cafe Abang, saat kamu memfitnah Abang, memang Abang ada berbuat kasar padamu?"
Firda menatap wajah Hamish yang juga tengah menatapnya, lalu menggeleng.
"Abang bisa saja menyeret kamu ke penjara karena kamu sudah menyebarkan berita bohong tentang Abang, dengan tuduhan pencemaran nama baik serta menyebabkan kerugian pada Abang. Mungkin kamu tidak tahu jika kedua ipar Abang itu yang satu Polri dan yang satu TNI."
Mendengar kata TNI dan Polri, Firda mendadak takut. Firda memang tidak tahu dan tidak banyak bertanya perihal kedua adik Hamish itu siapa suaminya dan profesinya apa karena bagi Firda itu tidak penting.
"Tapi Abang tidak melakukannya kan? Kami hanya mencari tahu siapa dirimu dan keluargamu, lalu...Kamu tahu sendiri, kami datang bersama Ustadz Syukur agar menikahkan kita malam itu. Abang membalas fitnah yang kamu buat dengan sangat manis, padahal kita belum kenal lho. Apalagi sekarang, kamu sudah jadi istri Abang. Menantu perempuan Abah dan Umi yang sudah dianggap sama seperti Hana dan Faiza, masa' Abang tega memukul kamu.
Kalaupun kamu melakukan kesalahan, berati Abang yang salah. Abang sebagai imam bagi kamu, yang patut disalahkan karena Abang tidak bisa membimbing kamu. Jika, Abang sudah membimbing dan mengarahkan kamu tetapi kamunya masih bandel, ada tahapan untuk menyadarkan kamu."
"Dipukul?" sela Firda.
"Ya nggaklah, kamu istri Abang, sayang. Tempat Abang berbagi segala hal, juga tempat Abang menyalurkan hasrat. Masak di pukul? Setelah itu di sayang, gitu? Memang kamu mau di gitukan?"
Firda menggeleng, dia seperti anak kecil yang banyak tanya dan di berikan pengertian. Tapi kan memang Firda anak kecil.
"Abang nasehati dulu, kalau masih bandel Abang pisahkan kamar kita. Kalau masih bandel juga, Abang boleh memukul kamu tapi tidak menyakiti."
"Memukul tetapi tidak menyakiti? Misalnya?"
Hamish kembali membuka laci, lalu mengambil bolpoin dan memukulkan pelan ke punggung tangan Firda.
"Kalau itu tidak sakit, Bang." Firda terkekeh.
"Memang, sekarang kan Abang cuma memberi contoh. Tapi jika seperti itu kejadiannya dan semoga Kelak tidak akan terjadi, hati kamu yang sakit. Karena apa?"
__ADS_1
Dahi Firda berkerut pertanda dia sedang berpikir.
"Abang pasti sedang marah karena kamu tidak mau di bimbing dan dinasehati, jadi energi negatif yang ada ketika Abang memukulkan itu ke kamu menyakiti hati kamu dan juga hati, Abang. Makanya sebenarnya bukan fisik yang disakiti, tetapi batin. Kamu faham?"
"Abang nggak akan melakukan KDRT ke aku kan kalau aku melakukan kesalahan? Manusia itu kan tempatnya khilaf dan salah, nggak mungkin aku akan lurus saja seperti malaikat."
Beuh, belum apa-apa Firda sudah mencari pembenaran.
"Insya Allah, nggak, kamu jadi istri Abang untuk disayang dan dicintai, bukan untuk di pukul. Orang tua kamu membesarkan kamu penuh kasih sayang, Fir, masak ketika Abang mengambil kamu dengan sebuah kalimat ijab kabul hanya untuk disakiti.
Kenapa kamu terus bertanya Abang memukul atau tidak, kamu takut di pukul?"
"Iya, aku takut jika Abang akan melakukan KDRT."
"Insya Allah, nggak. Rambutnya sudah kering, Abang buatkan susu untuk kamu dulu ya? Biar kamu nggak loyo." Hamish mengedipkan matanya sebelum meninggalkan kamar.
Langkah kakinya terhenti ketika melihat kedua adik dan iparnya beserta Abah dan Umi bercengkrama di ruang tamu, kedua keponakannya terlihat tertidur di sofa di depan ruang TV.
"Duh, yang pengantin baru, belum bersanding saja sudah nggak keluar-keluar kamar. Apalagi kalau ..." Faiza tergelak.
"Bang Hamish semakin klimis dan segar ya, Za?" timpal Hana pada Faiza ikut menggodai.
Keduanya hanya selisih dua tahun, jadi hanya memanggil nama saja.
"Hmm, si Abang semakin cakep, mana kakak ipar?" Faiza melongokkan kepalanya ke arah pintu kamar Hamish yang tertutup rapat.
"Belajar," kilah Hamish.
"Belajar apa belajar?" Hana masih meledeki dengan semangat.
"Kalian kapan datang? Kok nggak bilang-bilang?" Hamish menatap wajah Abah yang selalu mengulum senyum, Hamish hanya bisa mengusap belakang kepalanya menahan rasa malu.
Saking semangatnya berada dan mengarungi pusaran cinta, sampai tidak mendengar keriuhan yang ada di dalam rumah.
"Sudah dari tadi, Abang dan kakak ipar baru pulang dari rumah orang tua kakak ipar kata Abah. Biasanya kalau sudah masuk, nggak keluar lagi. Eh, maksudnya masuk kamar." iparnya yang seorang TNI AD tergelak, membuat semuanya ikut tertawa.
Apalagi saat Faiza dan Hana yang berbisik-bisik menunjuk rambut di kepala Hamish yang masih terlihat lembab, membuat kedua adiknya itu semakin terkikik-kikik.
Hamish yang menyadari kemana arah pandang kedua adik perempuannya semakin membuat dirinya malu, mau membuat susu untuk Firda saja jadi kuatir di ledekin.
Semoga Firda sudah ketiduran.
Hamish dengan berat hati ikut duduk dan membahas bagaimana dan apa-apa saja yang harus mereka lakukan saat mengantarkan Hamish sebagai pengantin ke rumah orang tua Firda beberapa hari kedepan.
Firda sendiri di dalam kamar sudah tertidur karena lelah, energinya terkuras habis mengikuti permainan Hamish yang sangat baru dan membuat penasaran bagi dirinya yang belum tahu apa-apa. Firda juga lelah menunggu segelas susu yang tidak kunjung datang.
__ADS_1
...****************...