
Bujang tersenyum melihat kedua temannya, tepatnya yunior dirinya di bawah satu tahun saat mereka di kampus dulu.
"Apa Khabar, Bro?" sapa Ryu menyalami Bujang.
Bujang cuma mencibir, baru juga seminggu yang lalu mereka bertemu. Lagaknya sudah seperti satu bulan tidak bersua.
Gayanya seperti bang Alan dan dokter Yonan nih?
Hmm, kaya'nya anak bang Alan dan si Julie.
Waaaah...Turunan ke empatnya si Tiger.
"Bakalan kurang nih Gank kita kalau kau jadi nikah." Timpal Noah nyengir sembari melangkah ke ruangan VIP yang ada di cafe D'Nongkrongs.
Bang Noah ganteng kan? Masih turunan Tiger juga, cucu Elang yang kakunya mirip Tyo.
Anak abang Neo ada juga disini.
"Sudah lama jadi bujangan, bosen lah. Nikah itu enak, bisa tidur berdua. Anget-anget empuk, apalagi dia masih remaja. Beuh..." Bujang terkekeh memprovokasi kedua temannya.
Ryu dan Noah melengos.
"Harusnya kami yang dapat remaja, bukan dirimu. Secara sejarah pendahulu kami dulu dapatnya juga anak yang baru menetas kemarin sore, biar seperti sugar Daddy. Iya nggak, Noah?" Ryu menyugar rambutnya yang sedikit gondrong dengan gayanya yang sok kecakepan, Noah hanya menggerakkan kedua alisnya mengiyakan.
Bujang mengelus dagunya yang di tumbuhi rambut sembari berpikir, lalu menggeleng pelan.
"Kedua teman istriku cantik-cantik, dan pastinya masih muda. Tapi..."
"Nah, boleh juga tuh di kenalin!" Ryu bersemangat, darah dan bakat mempermainkan banyak hati dari kakek buyutnya tetap saja ada melekat di dirinya.
"Tapi nakal, seperti yang aku omongkan di telepon tentang bagaimana dalam satu malam pengantin wanitaku berganti. Kedua temannya itu memiliki andil yang besar dalam menggagalkan pernikahanku, jadi cari saja yang lain."
Bujang tidak yakin jika kedua teman Firda yang rese itu jika di kenalkan pada kedua temannya yang sama-sama pengusaha cafe akan mau.
Noah dan Ryu mengikuti jejak dari generasi pertama yang sudah merintis cafe dari awal, jadi cicitnya tinggal meneruskan dan mengembangkan sesuai dengan perkembangan zaman.
Tidak ada generasi pria yang sekarang mengikuti jejak dari para pendahulunya yang jadi dokter kecuali para generasi wanita, adiknya Ryu.
__ADS_1
"Bagus dong kalau nakal, apalagi kalau nakalnya di atas ranjang." Ryu tergelak, Noah ikut terkekeh. Bujang wajahnya langsung memerah.
Tebakan Ryu tepat pada sasarannya.
"Sangat nakal malah, kau lihat leher Hamish! Penuh dengan kenakalan istrinya, dan aku bisa pastikan kalau bukan di leher saja ada yang jejak-jejak kenakalannya. Pasti di daerah yang tersembunyi lebih banyak lagi."
Noah kembali terkekeh sambil menggerakkan bibirnya ke arah leher Bujang.
Ryu langsung tergelak kencang.
...*****...
Bujang mulai memilih dan mencatat siapa-siapa saja yang bakalan di undang di acara resepsi pernikahannya Minggu depan.
Rasanya dia malas dan malu setelah pembatalan acara resepsi pernikahan Minggu lalu dengan Mawar jika harus mengundang lagi teman-temannya, tapi ejekan di grup Wa membuat Bujang menjadi dilema apakah harus diundang atau tidak.
Untuk kali ini sepertinya tidak mungkin batal lagi karena Firda sudah resmi jadi istrinya, jadi insya Allah tidak akan gagal lagi.
Tapi entah kenapa ada keengganan untuk mengundang kembali teman-temannya.
"Kenapa, Bang? Banyak yang ngutang di cafe ya?" tanya Firda ikut naik ke atas tempat tidur setelah selesai membantu Umi untuk membereskan dapur.
Firda tidak salah kalau bertanya seperti itu, lah Bujang-nya menatap komputer lipatnya dengan tatapan menerawang jauh entah kemana.
"Terus, Abang mikirin apa? Mendingan kita sekarang melanjutkan pelajaran yang kemarin, masa' pengantin baru bawa laptop di atas ranjang. Yang dibawa itu istri, Bang? Makanya Abang jadi Bujang lapuk, nggak tahu sih mau ngapain, eh." Firda langsung menutup mulutnya ketika melihat Bujang yang sudah menyipitkan kedua matanya menatap dirinya.
Bujang segera menutup laptopnya, meletakkannya di bawah tempat tidur. Lalu menatap Firda sembari menghembuskan napas kuat.
"Kamu, maunya apa? Praktek membuat banyak tanda lagi di leher, Abang? Apa kamu nggak tahu kalau seharian ini selain Abah dan Umi yang tidak berhenti tersenyum, orang-orang di cafe juga, Fir. Jangan buat di leher! Di dada atau di perut Abang saja ya? Mumpung Abang masih pakai sarung nih?"
Bujang sudah hendak tergelak kencang melihat mata Firda yang langsung melotot dengan wajah yang sudah sangat merah, mungkin dia sedang membayangkan apa yang ada di balik sarung. Karena yang ada di dekat perut itu kan...Haish, membayangkannya saja sudah membuat Firda merinding.
"Ish, jangan di perut lah, Bang! Itu area 21+, usiaku kan masih dua tahun lagi baru sampai ke situ. Di dada aja. Abang waktu aku tidur kan sudah membuat di dada, gantian dong sekarang giliran aku!"
Kaya' ngapain pakai giliran segala.
"Ya sudah, terserah sama kamu kalau gitu." Bujang langsung tidur menelentang dengan pasrah.
Dia hanya merasa lucu, memang ada pengantin baru seperti dirinya dan Firda seperti saat ini ? Menghabiskan malam hanya belajar membuat Kissmark.
Firda masih juga mau start menjadi ikan sapu-sapu, ponsel Bujang yang ada di lantai dekat dengan tempat dirinya meletakkan laptop menjerit-jerit menandakan ada panggilan masuk.
__ADS_1
Nama Ryu terpampang di layar ponsel, Bujang mengacuhkannya. Dia tahu pasti Ryu cuma sekedar iseng.
Panggilan pertama sudah lewat begitu saja, tapi beberapa detik berikutnya gantian Noah yang memanggil.
Firda langsung duduk, mengambil ponsel yang ada di atas lantai.
"Nih, angkat teleponnya! Biar aku melanjutkan praktek lapangannya dan Abang menjawab panggilan." ujar Firda menyerahkan ponsel ke tangan Bujang.
Begitu jari tangan Bujang menggeser tombol terima, terdengar tawa menggelegar dari ujung sana.
[ Masih sore, Mish, anak kecil itu di suruh tidur cepat biar cepat gede. Bukan kau ajak begadang sambil membuat anak kecil juga, hati-hati lho! Ntar dia bisa pingsan karena terkejut melihat sesuatu yang....] Ryu tertawa ngakak, Noah yang sepertinya ada di sebelahnya ikut tertawa.
Bujang berdecak jengkel
[ Kalian memang tidak punya sopan santun dan tenggang rasa. Sudah lama aku sendiri, saatnya aku punya kegiatan kalian justru usil. Apa kalian tidak punya kegiatan lain?] Harusnya suara Bujang terdengar jengkel ketika memarahi Ryu dan Noah, ini justru seperti mendesah. Membuat Ryu dan Noah semakin tertawa keras.
[ Kami sudah ada di depan rumahmu, keluarlah! Bukankah kau bilang seminggu lagi acara pestanya? Jangan kau makan habis dulu, sisakan sedikit! Biar ada gregetnya setelah acara pesta.]
Ryu masih terkekeh-kekeh.
[ Iya, Mish, kami akan beri kau voucher menginap di hotel sepuasmu.] tambah Noah.
Ryu menaikkan kedua alisnya, seenaknya saja Noah mengatakan seperti itu pada Bujang. Ryu belum minta izin pada papa Alan, kalau nggak di izinkan memberikan voucher menginap di hotel mau di taruh dimana mukanya.
[Tapi kami nggak berani jamin sih kalau kami nggak bakalan mengganggu dirimu, makanya cepat keluar!]
Bujang meletakkan ponselnya secara sembarangan di atas ranjang, kedua matanya memejam sesaat menikmati sensasi yang membakar tubuhnya saat Firda masih meneruskan kegiatan yang menjadi seperti lintah yang terus menyedot dadanya.
"Bang, bentuknya masih berantakan. Bagiamana biar bisa kecil dan imut gitu ya?" tanya Firda mengangkat kepalanya, wajahnya juga sudah terlihat memerah. Membuat Bujang semakin tidak mau keluar untuk menemui kedua temannya.
Tapi kalau tidak di temui pasti terus menghubungi, ,jadi nggak enak juga.
"Nanti Abang ajari, hmm, teman Abang ada di depan. Abang keluar sebentar ya!"
"Yang menelepon tadi?"
"Iya, sebentar ya!"
Bujang segera beranjak dari atas ranjang, gegas dia berjalan keluar sampai dia lupa jika dirinya masih memakai sarung
...****************...
__ADS_1