
Ryu dan Noah baru juga jam sepuluh pagi sudah nongol di D'Nnongkrongs, Hamish sama sekali tidak kaget. Pasti ada hubungannya dengan Sisil dan Gita yang mendadak kompak ingin membatalkan pertunangan.
"Kau pasti sudah tahu masalahnya kan? Jadi nggak bisa seenaknya saja mereka main batal dong, apa kata papaku?" Noah menyugar rambut di kepalanya dengan kasar, wajahnya mendadak kusut.
"Nggak ada angin dan nggak ada hujan main minta putus saja, memangnya sedang main bongkar pasang? Bosen, ganti permainan?" Ryu ikut ngomel.
Hamish cuma tersenyum tipis.
"Kau senang melihat kami seperti ini, Mish?" tanya Ryu sewot.
Tidak terbayang olehnya apa yang akan dikatakan oleh papa Alan, bisa diejek habis-habisan dia. Maka akan keluar lagi kata-kata kalau mama Julie menukar anak mereka di posyandu, aaah, Ryu akan sangat malu kalau Sisil benar-benar tidak mau lagi dengan dirinya.
Percuma dong dibilang ganteng dan cucunya di raja gombal kalau untuk menaklukkan anak kecil saja tidak berhasil, mau diletakkan dimana mukanya.
Mana semua keluarga sudah menyematkan kalau dia dan Noah benar-benar mewarisi nasib para pendahulu yang dapat anak remaja. Eeee .... Sekarang kejadiannya seperti ini.
"Jangan terlalu dipikirkan ucapan mereka, mungkin keduanya cuma mau datang bulan, jadi nggak jelas moodnya seperti apa." ucap Hamish menenangkan.
"Benarkah? Apakah istrimu juga seperti itu?" wajah Ryu mendadak senang.
"Mungkin, istriku belum pernah datang bulan sejak kunikahi jadi nggak bisa disamakan juga."
Membayangkan jika Firda langsung hamil senyum di bibir Hamish semakin mengembang, tapi di mata Noah dan Ryu sungguh menjengkelkan.
"Sombooong mentang-mentang tockcer. Terus bagaimana dengan kami?" wajah Noah tetap tegang.
"Jangan terlalu di pikirkan, acuhkan saja! Tunggu saja beberapa hari ke depan dan jangan ada yang menghubungi mereka,"
"Kalau ternyata beneran? Rugi dong, Mish. Aku sudah membangun mimpi bagaimana menikah dengan Sisil, masak kau tega menghancurkan mimpi itu sebelum terealisasi." Ryu tidak setuju dengan usulan dari Hamish.
Hamish tertawa tanpa suara.
"Bukan begitu, kalian berdua harus tetap menjadi diri kalian sendiri yang dewasa dan ngemong mereka, bukan malah uring-uringan mengikuti mood mereka.
Punya pasangan yang masih usia labil seperti mereka-mereka itu akan kita nikmati kesenangannya ketika di atas ranjang, tapi diluar itu kalian harus bisa jadi ayahnya, gurunya, kakaknya sekaligus temannya.
Kalau mereka juga meminta gaya pacaran seperti anak remaja, ya ikutin saja.
Tidak ada kesenangan yang bisa kalian dapatkan tanpa pengorbanan. Apa kalian kira setelah kalian memberikan ponsel yang di gandrungi oleh gadis-gadis seusia mereka semua selesai? Tidak semudah itu, Jamal. Mereka antusias dengan hadiah dari kalian paling juga seminggu, itu juga sudah kelamaan. Setelahnya biasa saja." jelas Hamish.
"Memang kau seperti itu pada istrimu?" Ryu mencondongkan tubuhnya ke arah Hamish, menatap wajah temannya itu dengan serius.
__ADS_1
Sepengetahuan mereka berdua, sejak hampir sebulan Hamish menikahi bocah yang sudah mengacaukan akad pernikahannya memang Hamish tidak pernah mengeluh. Dimata mereka Hamish terlihat enjoy dan bahagia, makanya mereka jadi kepengen mengikuti jejak para pendahulunya yang menikahi remaja.
Ibarat kata, mau merasakan manisnya buah harus di kupas dulu kulitnya baru ketemu isinya. Setelah itu baru bijinya, kan cuma satu buah yang biji dan isinya berpisah. Jambu monyet, cuma ya itu...Daging buahnya mak oiyy...Sepat dan kelat.
"Jangan beritahukan pada keluarga kalian jika calon istri kalian sedang oleng, namanya juga belum cinta. Kirimin saja coklat sama uang jajan, dijamin tuh mood para bocah balik lagi." bibir Hamish sudah senyum-senyum saja sendiri, masalahnya dia kan jadi ingat Firda yang kalau diberi lembaran-lembaran kertas berwarna pink senyumnya langsung merekah.
"Yakin manjur?" Noah antara percaya dan tidak, kesannya dia menganggap Gita itu matre. Tapi intinya semua wanita memang suka uang.
Pria sangat menyukai wanita, jadi wajar saja ada timbal baliknya.
"Dicoba saja dulu! Kirim lewat kurir, lalu tunggu deh pesan terimakasih dan emot mata penuh cinta yang akan kalian dapatkan."
"Kalau di buang ke tong sampah bagaimana?" Ryu terlalu banyak nonton drama, jadi parno sendiri.
Hamish menghembuskan napasnya kasar.
"Kalian kira mereka berdua cewek-cewek yang ada di dalam sinetron? Jangan banyak berprasangka buruk, lakukan saja! Selama orang tua Sisil dan Gita tidak menghubungi kalian berdua, maka hubungan dan rencana yang sudah tersusun dengan matang akan berjalan seperti kesepakatan.
Kalian berdua ini sepertinya sedang kena batunya, makanya jangan suka PHP sama cewek-cewek! Baru di prank sama bocah saja sudah kebakaran janggut." nah lho, Hamish yang jadi marah-marah.
Melihat Hamish yang terlihat jengkel, Noah dan Ryu memilih kabur dari D'Nnongkrongs dan mulai menjalankan usulan dari Hamish.
"Fir, jadi benar ya kalau kedua teman kamu itu mendadak di lamar oleh teman-teman Hamish?"
Umi yang sedang membuat combro untuk camilan sore menatap Firda yang ikut membantunya.
Karena kemarin-kemarin umi sedang fokus dengan menjelang resepsi pernikahan Hamish dan Firda, beliau baru sempat bertanya. Itu juga karena mendengar kasak-kusuk ibunya Gita dan Sisil yang sudah tanya-tanya pelaminan.
"Iya, Umi."
"Waaah... Kebetulan yang sangat menakjubkan ya? Kalian bertiga akrab, dan itu teman-teman Hamish juga akrab. Semoga berjodoh dan lancar sampai hari H, Aamiin." bibir umi berdecak penuh kekaguman.
"Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, Umi. Semuanya sudah diatur dengan sempurna oleh sang pemilik kehidupan." sela Abah ikut duduk tidak jauh dari umi dan Firda yang berada di dapur.
"Iya, Bah, inikan ucapan dari mulut Umi saja." bela Umi melirik ke arah Firda yang sudah senyum-senyum simpul.
"Tapi segala sesuatu yang terjadi dimuka bumi ini harus disangkut-pautkan pada Allah, Mi. Tidak ada yang terjadi di muka bumi ini tanpa izin Allah atau kebetulan."
"Iya, Abah. Makin cinta deh sama, Abah." umi terkekeh, Firda tertawa.
"Eh, Fir, sudah ada tanda-tanda belum?" tanya umi lirih melirik Abah yang bangun dari duduknya karena mendengar ponselnya yang ada di atas meja depan TV berdering.
__ADS_1
"Tanda-tanda apa, Mi?"
Umi berdehem pelan.
"Calon cucu Umi dan Abah, Umi nggak sabar pengen lihat anak Hamish itu seperti apa. kedua adiknya Hamish sudah memberikan cucu-cucu yang cakep-cakep pada Umi dan Abah, sekarang giliran Hamish."
Firda diam, selama ini dia tidak pernah memikirkan hamil. Dia dan Hamish juga tidak pernah menyinggung hal tersebut, nah sekarang tiba-tiba Umi menyinggung kehamilan.
"Firda nggak tahu, Umi."
"Kamu belum datang bulan kan?"
Firda menggeleng.
"Kapan terakhir datang?"
Firda mulai mengingat-ingat kapan kali terakhir dia menstruasi, seingatnya setengah bulan sebelum dia dinikahi oleh Hamish. Sudah lewat masa suburnya, jadi kemungkinan hamil sekarang itu kecil.
"Firda kalau datang bulan suka nggak teratur, Mi, kadang satu bulan setengah baru datang. Kadang sampai dua bulan baru datang."
Umi mengangguk-anggukkan. kepalanya.
"Oh, ya sudah, jangan terlalu di pikirkan ucapan Umi tadi ya! Umi cuma bertanya. Langsung jadi, Alhamdulillah. Kalau belum, coba lagi!" kekeh Umi seperti slogan mencabut undian lotre.
Firda diam-diam melirik ke arah Umi yang mulai menggoreng combro satu demi satu di dalam wajan, sebentar lagi Hamish akan pulang. Jadi ketika Hamish sampai rumah, dia bisa menikmati combro yang masih hangat sembari menemani Abah mengobrol.
"Mi."
"Ya,"
"Apa Firda sudah pantas jadi seorang ibu? Usia Firda kan..."
Umi tersenyum bijak, menatap Firda dengan tatapan sayang seperti menatap Hana dan Faiza.
"Kalau Allah sudah menitipkan amanahnya di rahim kamu, berarti kalian berdua sudah pantas dan sudah siap. Kamu tidak perlu kuatir tidak akan bisa mengurus bayi! Ada Hamish, Umi dan Abah yang siap menolong kamu. Jadi jangan terlalu memikirkan hal-hal yang membuat stres dan belum tentu terjadi, jalani saja seperti biasa!"
"Iya, Umi. Hmm, Firda mandi dulu ya, Umi! Sebentar lagi bang Hamish pulang."
Umi mengangguk. Firda gegas masuk kedalam kamar dan mandi buru-buru, jangan sampai dia masih mandi Hamish sudah sampai di rumah. Bisa habis dia seperti semalam sore.
...****************...
__ADS_1