
Kalau Sisil sibuk menoleh ke belakang untuk bisa melihat mobil yang membawa Gita kenapa belum kelihatan, Gita justru menjulurkan kepalanya ke depan sampai dahinya kejedot kaca untuk bisa melihat mobil yang membawa lari Sisil.
Pada saat seperti ini ternyata mereka semua saling memikirkan satu sama lain, bang Hamish salah menilai.
Gita mengusap jidatnya yang kepentok kaca depan.
"Kenapa kamu nggak mengeluarkan kepalamu saja lewat kaca jendela, biar kayak di sinetron-sinetron gitu."
Gita mencebik, perbuatan seperti itu sungguh norak dan bisa di berhentikan oleh polisi lalulintas.
Itu kan bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain.
"Om, eh, Mas, apakah temannya tadi orang baik? Bagaimana kalau Sisil di jual? Bisa sedikit kencang nggak bawa mobilnya? Mobil bagus kok jalannya seperti siput?"
Noah mau tertawa, dia sibuk memikirkan temannya tapi dia lupa memikirkan nasibnya sendiri.
Apa tidak takut kalau dia di culik juga?
"Dia orang baik, kamu tenang saja! Palingan kalau dia lagi iseng langsung membawa temanmu ke KUA, kayaknya asik tuh. Kamu mau juga nggak?"
Gita yang semula fokus memikirkan Sisil dengan pandangannya yang terus melihat kedepan, membuat Gita langsung melihat ke arah Noah.
"Mau juga apa?"
"Ke kantor urusan agama, halalin kamu. Kan tadi kamu sudah pesan saya, masa sudah pesan nggak jadi. Mana boleh! Apa kamu lupa jika kita berbelanja akan ada catatan di sudut kemasan yang mengatakan, Barang yang sudah dipesan tidak boleh dikembalikan lagi.
Nah, saya ini kan pesanan kamu, sudah di bungkus, silahkan bawa pulang!"
"Memangnya si Masnya barang?"
Cie cie yang sudah manggil si Mas.
"Anggap saja barang bergerak yang bisa dipakai dan bisa memakai," Noah tersenyum di kulum dengan ucapannya yang absurd.
Gita senyum malu-malu, sepertinya otaknya sudah nyambung dengan ucapan Noah.
"Mau nggak jadi calon istri saya?"
Iseng-iseng berhadiah. Kalau mau lanjut...Kalau nggak mau, yang berusahalah...
Mau cari yang bagaimana lagi? Bosen pacaran putus, cari yang baru, pacaran, putus lagi. Sampai Noah bosan mau pacaran, belum ketemu yang klik di hati karena banyak pertimbangan dan menemukan ketidak cocokan.
Melihat Hamish yang istrinya masih mau bedak bayi kayaknya asik-asik menggemaskan gitu, apalagi setiap malam bisa diajak berpetualang menelusuri semua destinasi yang masih alami dan belum terjamah oleh siapapun. Beuh...Indah ma men.
Otak nakal khas para pria milik Noah sudah traveling kemana-mana, ekor matanya melirik ke arah Gita yang masih remaja.
Tubuhnya yang belum berkembang sempurna, hmmm....Gila, Noah jadi ingin mencubit otak nakalnya sendiri agar jangan berpikir mesum duluan.
__ADS_1
Apakah pikiran pria kebanyakan memang seperti itu? Atau cuma Noah?
"Ish, kenalan juga baru beberapa detik yang lalu. Si Masnya nggak kenal aku dan akunya juga nggak kenal, bisa aja kan Mas sudah punya istri tiga dan anak sudah enam. Terus, aku mau dijadikan yang ke empat. Maaf-maaf saja!" Gita mencebik, Noah terkekeh.
Gadis muda yang di sebelahnya ternyata lebih berani dari yang dia kira.
"Nuduh, siapa yang bilang istri saya sudah tiga? Kamulah satu-satunya yang akan jadi istri saya."
"Gombal!"
"Kalau nggak di gombalin nggak bakalan banyak para wanita yang bertekuk lutut karena gombalan, eh, saya serius lho."
"Kalau memang bener, datang saja kerumah bawa rombongan keluarga dan jangan lupa KK dan KTP sekalian. Nggak perlu mengeluarkan segala jurus rayuan, nggak ngaruh!" beuh, Gita sudah berani menantang.
"Memang kamu berani jamin nggak bakalan nolak saya jika saya datang bersama keluarga saya?"
"Jamin, kalau perlu bawa sekalian pak penghulu, biar samaan tuh kayak bang Bujang dan Firda. Jadi bukan bang Bujang saja yang bisa membuat kejutan tidak terduga."
Noah menautkan kedua alisnya, ekor matanya melirik kearah Gita yang tersenyum mencibir. Keegoannya tersentil.
Sepertinya dia menantang, hemm. Kau akan lihat besok anak kecil!
"Terimakasih Om, Mas nya nanti saja kalau sudah halal." Gita terkekeh. Dia sengaja minta di turunkan di depan komplek perumahan agar Noah tidak tahu alamat rumahnya, sama seperti Sisil tadi.
"Aku tunggu kedatangannya besok malam, dandan yang ganteng! Dan jangan lupa, brewoknya itu di cukur biar kelihatan lebih muda." Gita kembali tertawa senang, lalu berlari cepat meninggalkan Noah yang hanya menatapnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Assalamualaikum...Sil, kau sudah sampai di rumah?" teriaknya langsung masuk karena pintu rumah terbuka dengan lebar, Sisil sedang minum air putih jadi tersedak mendengar suara cempreng Gita.
"Waalaikumussalam, belum, yang ada dihadapanmu ini bayangannya." sahut Sisil sembari meletakkan gelas kosong di atas meja makan.
"Kedua Om genit itu aneh ya? Sudah tahu rumah kita berdekatan, kenapa kita harus di antarkan pulang sendiri-sendiri?" Gita mengikuti langkah kaki Sisil yang menuju ke kamarnya.
"Mungkin masa remajanya kurang jalan-jalan.
Eh, Git, kita tadi lupa lho kalau belum bayar minumannya."
"Mati kita, Sil! Semakin banyak saja dosa kita, ayo kita kesana lagi untuk membayar!" ajak Gita menarik tangan Sisil untuk mengajaknya pergi kembali ke cafe tempat mereka tadi nongkrong, tapi Sisil menolak.
"Nggak perlu, besok katanya bang Ryu akan menjemput aku di kampus. Nah, besok kita minta antarkan ke sana untuk bayar minumannya."
"Bang Ryu? Cie cie, kau pasti di rayunya ya? Sudah panggil Abang aja." Gita menyenggolkan pinggulnya ke pinggul Sisil menggoda.
"Cakep sih, hahahaha." Sisil tergelak.
"Kau sendiri? Diapain kau sama pemilik.... Astagfirullah...Kau diantar sama dia, hubungi dia supaya dia mengikhlaskan minuman yang kita pesan tadi."
Gita mencebik.
__ADS_1
"Kau kira aku ibuknya yang tahu nomor ponselnya?" semprot Gita.
Sisil baru ingat jika ponselnya tadi di pinjam oleh Ryu, dia cepat membuat panggilan. Baru tiga kali berdering sudah diangkat dari seberang sana.
[ Halo cantik, sudah kangen ya? ]
Sisil menjauhkan ponselnya, sepertinya dia yang salah pencet atau yang disana salah mengira siapa yang menghubungi.
"Kenapa? Nomornya salah?" tanya Gita sedikit berbisik.
"Nggak tahu, masak dia bilang, 'Halo cantik, sudah kangen ya?' ', jangan-jangan pacarnya atau selingkuhannya." Sisil juga ikut berbisik.
"Matikan-matikan!" perintah Gita cepat, Sisil cepat-cepat mengakhiri panggilan
" Kalau istri, pacar, atau selingkuhannya tahu, bisa di labrak dirimu! Terus ada yang merekam dan mengunggahnya di YouTube, habislah sudah." Gita menakut-nakuti.
Keduanya akhirnya sama-sama diam. dan berpikir bagaimana cara membayar minuman yang sudah berpindah isinya kedalam lambung tetapi mereka belum membayarnya sama sekali.
"Sudahlah, tidak perlu dipikirkan! Salah mereka sendiri kenapa main ngajak pulang ki....He he he...Kita yang mau pulang ya, Git. Ah...Kita minta tolong suami Firda untuk membayarkan, kedua pria genit itu kan temannya bang Bujang. Sekali-kali mentraktir kita apa salahnya, jangan pelit-pelit! Uang tidak di bawa mati."
Setelah mengatakan itu Sisil melihat ke arah Gita agar memberitahukan pada Firda. Gita memutar bola matanya jengah, tapi dia menghubungi Firda juga untuk mengingatkan kalau mereka harus membayar minuman yang sudah mereka minum tadi.
Saat Gita menghubungi Firda, ponsel Sisil berdering. Ada panggilan masuk dari nomor yang belum sempat Sisil save, tapi Sisil tidak berani mengangkatnya takut salah orang.
Setelahnya tidak lama ada pesan masuk dari nomor yang sama.
[ Ada apa Sisil cantik? Nggak sabar nunggu besok ya? Udah kangen? Besok ketemunya ya! Abang mau kerja dulu, by by cantik.]
Kedua mata Sisil membulat membaca pesan yang diterima dari Ryu sampai dia lupa untuk bernapas.
Gita merebut ponsel Sisil dan ikut membacanya.
"Ya ampun, Sil, di gombalin aja sudah semaput dirimu. Bagaimana kalau kau di..." Gita menutup mulutnya lalu terkekeh.
"Bilang aja kau iri! Coba kalau kau yang di gombalin kayak gini, aku jamin kau langsung pingsan." Sisil kembali merebut ponselnya.
"Bukan begitu maksudku. Kita ini kaum perempuan, bukan dirimu saja. Sudah tahu itu bohong, tapi kok senang-senang saja?" ralay Gita sambil senyum-senyum sendiri mengingat dirinya yang tadi menantang Noah.
Tapi Gita yakin kalau Noah cuma ngegombal doang. Dari mana mau melamar, kenal saja nggak.
"Ucapanmu benar, Git, di gombalin itu ternyata menyenangkan. Andai saja dia masih bujangan."
Gita mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia tidak yakin jika teman bang Bujang seperti dirinya yang belum menikah di usia matang, secara mereka cakep dan keren.
Gita lalu ngeloyor pulang ke rumahnya, dianggapnya kejadian hari ini hanya sebuah kebetulan yang menggelikan di godain pria-pria beristri yang mengaku Bujangan.
...****************...
__ADS_1