Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK

Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK
54. Gombalan Jadul


__ADS_3

"Bang, kita nikahnya nggak bisa di percepat ya?" Ryu yang sedang fokus dengan kemudinya sontak terkejut melirik ke arah Sisil.


"Kenapa mau cepat-cepat? Dua Minggu lagi itu nggak lama, memang kalau kamu mau menikah sekarang, kamu mau ngapain?"


Bang Ryu pura-pura nggak tahu, padahal dia yang sudah setiap malam berkhayal. Apalagi setiap ke cafe D'Nnongkrongs, karyawan Hamish selalu mengatakan kalau bosnya semenjak menikah pulangnya jauh lebih awal.


Tidak perlu diperjelas dengan kata-kata, baik Ryu maupun Noah pasti tahu apa yang dilakukan Hamish pulang sore-sore.


"Nikah itu kayaknya enak, Bang. Kalau mau tidur ada teman cerita, nggak bantal guling aja yang di peluk."


Ryu tergelak, Sisil memang lucu. Terlalu terbuka sehingga pikiran Ryu sudah entah kemana-mana.


"Boleh bolos, karena nggak akan dimarahi ibuk atau ayah, sama seperti Firda. Abang nggak marahkan kalau aku bolos besok setelah menikah?"


Ryu terkekeh, ya enggaklah. Apalagi kalau bolosnya demi nemani dirinya bobok, beuh...Ryu setuju tuh kalau Sisil bolos.


Akal licik Ryu sama dengan pendahulunya, para istri yang akhirnya tidak melanjutkan kuliah sampai tuntas atas nama keluarga dan anak.


"Enggak dong, asal kamu senang Abang setuju saja. Tapi nggak boleh main-main dengan pria lain, Abang kurung kamu dalam hati Abang biar nggak bisa keluar lagi kalau kamu berani." prikitew.


Sisil senyum-senyum dengan hati berbunga-bunga, baru kali ini di gombalin. Biasanya dia yang gombalin Bagas.


"Terus, apa lagi yang membuat kamu ingin cepat-cepat menikah? Pengen selalu dekat dengan Abang ya?" tanya Ryu kelewat pede.


"Salah satunya, tapi yang lebih menggoda...Abang bisa kan antar jemput aku ke kampus? Kayak Firda, dia berasa menjadi seorang putri diantar jemput sama bang Bujang."


Ryu meringis, nggak banget alasan terakhir. Apa dikiranya dia sopir pribadi? Ya sudahlah, kalau memang harus begitu. Toh bukan dia sendiri pria yang melakukan antar jemput istri sendiri kemanapun dia mau pergi, apa dikiranya Ryu tidak perlu membantu papa Alan di hotel dan mengelola usahanya sendiri ya?


Tapi itu kan nanti, sekarang iyakan saja dulu.


"Iya, dong. Jangankan cuma antar jemput kamu ke kampus, antar jemput kamu dan membawa ke langit biru pun akan Abang lakukan demi kamu."


Tangan Ryu sudah gatel pengen menjawil pipi Sisil, tapi dia harus tahan diri. Ntar dibilang kurang ajar lagi.


"Gombalan Abang receh, yang elite lah, Bang!" Sisil cemberut.


Masak Ryu gombalinya dengan rayuan ala anak sekolah dasar, pasaran lagi. Apa dikiranya dia anak abege?


"Ya sudah, kalau gitu kamu saja yang gombalin, Abang! Kan nggak ada salahnya? Abang kan calon suami kamu, mau gombalan itu pasaran atau mal lan, akan Abang terima dan Abang simpan di memory hati Abang."


Sisil makin cemberut, ternyata punya pasangan yang usianya matang gombalannya juga seperti pada zamannya. Jadul.


Daripada bikin ilfil gara-gara gombalan jadul Ryu, akhirnya Sisil yang gombalin Ryu.


Padahal nggak pakai di gombalin lagi Ryu juga udah mepet, mentok lagi maunya cuma sama Sisil.

__ADS_1


Mish, Mish, tahu seseru gini punya pasangan yang masih remaja, kenapa nggak dari kemarin-kemarin kau menikah dengan Mawar biar digagalkan sama istrimu.


...*****...


"Fir, kulihat kau semakin pucat, kurus, sering bolos, kau cacingan?"


Firda, Sisil dan Gita yang sudah hendak memasukkan pentolan bakso ke dalam mulutnya jadi menggantung di udara untuk sesaat, melihat lidah siapa yang barusan sudah mengucapkan kata-kata yang kurang bermanfaat.


Setelah tahu mulut siapa yang ternyata berbisa, Firda cs kembali melanjutkan makannya. Malas ngeladeni orang yang sedang mabok.


"Huh, aku kira setelah kau menikah dengan cara merebut calon suami wanita lain kau bahagia, tidak tahunya kau pasti menderita kan? Suamimu pasti tidak sayang padamu, makanya kau semakin kurus dan jelek."


Firda membanting sendok pada mangkuk baksonya, semakin dibiarkan semakin ngelunjak.


Beberapa pasang mata mulai berkerumun dan ingin melihat perseteruan antara dua sepupu yang tidak pernah akur. Gita dan Sisil ikut berdiri, jaga-jaga jika tawuran akan terjadi.


"Sya, masalahmu apa denganku? Kulihat kau semakin tidak senang dengan ku, apa karena Hans? Bukankah dia sudah menjadi kekasihmu?"


Bisik-bisik mulai terdengar riuh bagai lebah madu yang sarangnya mulai di usik, Firda sudah tidak mempedulikan rasa malu karena menjadi tontonan gratis di kantin kampus. Yang memulai itu Syakila, bukan dirinya.


Prinsip Firda, musuh jangan di cari tapi kalau bertemu pantang tidak diladeni. Syakila jual maka dia beli, kalau perlu di borong habis.


Syakila mencibir, entah kenapa sejak datang ke acara resepsi pernikahan Firda dan Hamish dua Minggu lalu, sikap Hans padanya jadi berubah dingin. Hans juga tidak pernah lagi menghampiri atau ngapelin dirinya, Hans seolah menghindar. Ini semua pasti gara-gara Firda, lah, apa hubungannya?


"Cih, ngapain aku iri? Punya suami tua gitu apa enaknya? Sebentar lagi juga akan...."


Byurrr


Belum sempat Syakila menyelesaikan ucapannya, Firda sudah menyiramkan air ke wajah Syakila.


"Kalau kau kesurupan pergi sana ruqyah, jangan bicara sembarangan tidak tentu arah. Malu aku memiliki saudara seperti dirimu."


Firda segera meninggalkan kantin, Gita gegas ke kasir membayar makanan mereka yang baru sedikit ketiganya cicipi. Cibiran dan berbagai komentar semakin menambah riuh suasana kantin, pemilik kantin hanya bisa menggelengkan kepalanya. Untung saja yang disiramkan Firda ke wajah Syakila cuma air putih, gampang tinggal ngepel. Coba kalau kuah bakso yang pedas, bisa semakin ramai dan dirinya yang akan rugi.


Pasti beberapa mahasiswa atau mahasiswi akan mengambil kesempatan untuk pergi dan lupa membayar makanan, biasa pura-pura khilaf.


Syakila yang menahan malu karena wajah dan pakaiannya sebagian basah tiba-tiba di datangi oleh Hans, ternyata diam-diam pria itu mendengar dan mengamati perseteruan antara Syakila dengan Firda.


"Aku sangat menyesal pernah mengenal dirimu, Sya, apalagi kita pernah dekat. Mulai detik ini, anggap kita tidak pernah mengenal satu sama lain, kita..." Hans tidak melanjutkan ucapannya, dia hanya menatap sinis pada Syakila. Hans mempercepat langkah kakinya meninggalkan kantin bersama dengan dua temannya, Syakila sendiri juga ditinggalkan oleh teman-temannya. Sepertinya mereka malu berteman dengan Syakila.


Hans mengejar Firda yang sudah menjauhi kantin dan hendak menuju ke kelasnya.


"Fir, tunggu!"


Firda, Gita dan Sisil menghentikan langkah kakinya, berbalik badan dan menatap Hans yang berjalan cepat dengan dua temannya ke arah mereka.

__ADS_1


"Maaf!" ucap Hans dengan napas sedikit memburu.


"Untuk?"


Firda merasa lucu, Hans meminta maaf atas nama Syakila? Beruntung sekali sepupunya itu.


"Entahlah, aku hanya ingin meminta maaf. Mungkin karena aku dan Syakila pernah dekat, dan sekarang...."


"Kalian putus?"


Hans mengangguk.


"Terus, apa hubungannya dengan aku?"


"Aku juga tidak tahu, tapi sejak aku dan dia dekat, Syakila menjadi aneh dan menatap sinis padamu. Atau karena... Lupakan! Aku hanya minta maaf! Kamu baik-baik saja kan?"


"Baik, sangat baik. Tidak perlu minta maaf atas kesalahan yang tidak pernah kamu lakukan, oke Hans, kami ke kelas dulu!"


Firda cs kembali melanjutkan langkah kakinya menuju kelas, Hans masih terus memandangi Firda hingga bayangan tubuhnya menghilang di balik pintu.


"Saat seseorang sudah terlepas dan menjadi milik orang lain baru kita sadari jika dia ternyata sudah memiliki tempat di sudut hati." gumam teman Hans menepuk pundaknya pelan, Hans hanya bisa mendesah.


Entah kenapa, dimatanya sekarang Firda semakin mempesona.


Andaaaiii...Waktu dapat di putar kembali.


Hallah, basi.


...****************...


Sekedar info.


Banyak pertanyaan tentang Mr. Will yang tidak bisa dijawab satu demi satu, apalagi membalas komentar di sana ( tidak di perbolehkan )


Kok ceritanya ngegantung?


Iya, karena kontraknya sudah habis.


Di sana kalau menulis harus sesuai dengan kontrak dan nggak bisa di perpanjang seperti di sini.


Terus bagaimana selanjutnya kisah Ray, Dean dan Kanaya?


Sabar, nanti di story yang lain akan di buat saling berkaitan ( kisah teman Ray, Arslan dan Karmila ) Nah... Ada deh sambungan cerita Ray di sana, di tunggu saja ya.


( Informasi kapan mulai rilis ada di IG )

__ADS_1


__ADS_2