
Tiba masanya Ayah dan ibunya Firda berangkat ke tanah suci, Bagas sendiri sudah lebih dahulu berangkat kemarin siang ke kantor pusat.
Bagas dan beberapa karyawan yang berasal dari kantor cabang yang berbeda, menginap di mess yang sudah disediakan oleh perusahaan selama dua Minggu. Jadi tidak ada kata atau alasan untuk menolak, itu semua juga demi kenaikan status Bagas di tempat dirinya bekerja.
"Jaga diri dan rumah baik-baik ya, Fir, ibuk titip Raka. Ibuk yakin kamu sudah bisa diandalkan, sebentar lagi kan jadi orang tua juga. Apalagi ada suamimu, ibuk percaya kau pasti bisa." peluk ibunya di bandara sebelum melakukan boarding pass dan bergabung dengan rombongan yang akan sama-sama berangkat ke tanah suci.
"Insyaallah, Buk."
"Apakah ada titipan do'a khusus untuk ibu pintakan di sana?"
Firda menggeleng.
"Firda hanya minta ibuk meridhoi Firda, bang Hamish dan pernikahan kami, nggak ada yang lain. Bagi Firda itu sudah cukup."
Firda semakin mengeratkan pelukannya, ibunya sampai terharu mendengar kata-kata dari Firda.
"Kamu semakin dewasa setelah menikah, Fir, Hamish memang jodoh yang terbaik untukmu.
Kamu sudah mencintainya?"
Firda mengangguk.
"Sangat, Buk, bang Hamish itu baik dan sayang sama, Firda, begitu juga Umi dan Abah. Firda seperti memiliki dua pasang orang tua, jadi ibuk nggak perlu kuatir. Raka akan baik-baik saja bersama Firda dan bang Hamish."
"Alhamdulillah, semoga kamu selalu bahagia ya, Fir."
Setelah melepaskan pelukannya pada Firda, ibunya bergantian memberi banyak pesan pada Raka.
"Ingat pesan ayah dan Ibuk malam tadi, jangan terlalu banyak permintaan pada kakakmu dan suaminya. Kakakmu sedang hamil muda, jangan sampai karena kecapean terjadi sesuatu dengan kandungannya."
"Iya, Buk, sudah berapa kali ibuk mengulangi pesan yang sama? Aku sampai hapal." Raka cemberut setelahnya memeluk ibunya erat.
Walaupun ibunya sedikit cerewet, tapi Raka sayang sama ibunya. Buktinya dia dibelikan sepeda motor baru, eh.
"Mish, Ayah titip Raka ya! Kalau Firda, tidak perlu Ayah katakan lagi, dia tanggung jawabmu. Tegur dan nasehati jika Raka berbuat salah." pesan Ayah Deni memeluk bahu menantunya.
"Ayah tidak perlu kuatir, jangan pikirkan rumah atau Raka! Nikmati kemesraan dan teruslah bermanja-manja pada Allah disana, Insya Allah, saya akan menjaga Raka, rumah dan Firda dengan baik." ucap Hamish menenangkan hati ayah mertuanya.
Ayah dan ibunya Firda percaya jika Hamish bisa diandalkan, mereka benar-benar mensyukuri seorang Hamish yang menjadi menantunya bukan orang lain.
Tidak masalah usianya lebih dewasa dari Firda, justru itu yang cocok untuk Firda yang semula sedikit nakal dan sedikit badung.
__ADS_1
...*****...
"Wuidih, bumil satu ini semakin seger dan montok saja. Gimana? Jadi pindah rumah?"
Firda menggeleng, "Mengurusi Raka yang sudah besar saja bikin aku naik darah, apalagi kalau cuma berdua sama, Bang Hamish. Aku pasti kesepian."
Apa hubungannya?
"Kau sendiri?"
"Sama, Fir. Kalau mas Noah sudah sampai di rumah sih, okelah, namanya juga pengantin baru. Kau seperti tidak pernah mengalami saja."
Gita menyenggol lengan Firda dengan wajah yang sudah memerah, tapi bukan karena malu. Tepatnya kangen saja sama Noah, setelah tidak sakit lagi sekarang justru dirinya yang menempel terus pada Noah. Pengennya sih mesra-mesraan terus, sama seperti Firda sebelumnya.
Firda mencebik, Sisil terkekeh.
"Setelahnya bosan cuma ditemani si mbak kalau bang Ryu belum pulang ke rumah, Fir, mana si mbak sudah seusia ibuk kita lagi tapi maunya di panggil mbak. Nggak asik untuk di ajak ngomong, aku lebih sering berada di dalam kamar saja sampai bang Ryu pulang." imbuh Sisil.
"Terus apa kalian berdua sudah pada..." Firda mengusap perutnya yang masih rata sembari menatap kedua temannya.
"Kami sedang nyicil buat telinga atau bibirnya, jadi setiap ada kesempatan kami bekerja lebih kuat dan lebih lama," Sisil tergelak begitu juga dengan Gita, keduanya jadi sama-sama mesum sekarang.
Baik Noah maupun Ryu juga sama seperti Hamish yang sudah ingin segera memiliki anak, tentu saja mereka sangat giat mengejar ketinggalan dari Hamish.
"Fir, aku datang bukan mengajak dirimu bertengkar, jadi biasa saja wajah kalian! Jangan sinis gitu."
Gita dan Sisil memutar bola matanya jengah, Firda tertawa sinis.
Kenapa dia yang lebih galak?
"Ada apa? Tumben kau menemui aku."
Syakila menghembuskan napas kuat, terlihat sedikit ragu-ragu tapi dia tidak punya pilihan lain selain bertanya pada Firda atau kedua teman Firda.
"Apakah kau bahagia dengan pernikahanmu? Eh, bukan itu maksud pertanyaannya. Kalian bertiga sama-sama menikah dengan pria yang sudah tua, jadi..."
"Apa kau bilang? Tua?" pekik Gita bertanya tidak senang, enak saja di bilangnya suami-suami mereka sudah tua. Maksudnya apa?
Syakila sampai terjengkit kaget mendengar pekikan Gita yang memekakkan gendang telinga.
"Maaf, aku salah bicara, maksudku sudah dewasa. Jangan marah dong! Yang hamil Firda kenapa kau yang sewot, kau kan pasti belum hamil. Baru juga menikah kemarin sore masa' sudah hamil, kecuali kalian berdua sudah kasih DP duluan."
__ADS_1
"Ck ck ck ck...Tidak bisakah lidahmu itu mengatakan yang baik-baik, Sya? Kau pikir kami dan suami kami orang-orang yang menghalalkan segalanya?" Sisil menggelengkan kepalanya berusaha tetap tenang, Syakila cuma mendengkus.
"Kalian saja yang terlalu sensi, kalau memang kalian tidak melakukan ya sudah, biasa aja kalee..."
Firda memberikan isyarat kecil pada Gita dan Sisil agar tidak terpancing atau membalas lagi apa yang Syakila ucapkan, yang ada tidak ada bedanya mereka dengan Syakila kalau begitu.
"Kau sedang tidak melakukan survey tentang pernikahan dengan pasangan beda usia kan?" Firda menatap wajah Syakila yang masih berwajah masam.
"Nggaklah, aku cuma pengen tahu. Habisnya nenek terus meminta aku untuk menikah dengan anaknya Wak Karim, si Bujang lapuk di keluarga kita.
Aku tidak mau, dia masih saudara kita. Lagipula dia item, huwaaaa..." Syakila pakai drama pura-pura menangis, Gita dan Sisil mencemooh.
Firda melongo, anak Wak Karim kan bang Jojo. Dibilang bujangan tapi pernah menikah, hanya saja istrinya meninggal di malam ketika mereka hendak melakukan malam pertama. Ada yang bilang istrinya meninggal karena terkejut dan langsung terkena serangan jantung ketika melihat onderdil milik bang Jojo, entah benar atau tidak hanya bang Jojo yang tahu.
Entah terkejut karena kekecilan atau kebesaran, itu cuma cerita penghantar dosa.
Sejak tujuh tahun yang lalu setelah istrinya meninggal, bang Jojo tidak berniat untuk menikah. Mungkin karena itu neneknya berniat untuk menikahkan bang Jojo dengan Syakila.
" Yang item kan cuma kulitnya Sya, hatinya kan tidak.
Lagi pula, kenapa nenek tiba-tiba menjodohkan dirimu dengan bang Jojo? Apa diam-diam bang Jojo suka dengan dirimu?"
Syakila melotot dengan tuduhan Firda, Firdanya malah cengengesan tanpa merasa bersalah.
"Gara-gara kau yang menikah dengan suamimu yang sudah tu...Sudah dewasa, nenek jadi memiliki ide mencocokkan kami." semprot Syakila dengan wajah judesnya.
"Kok aku? Kalau tidak mau ya ngomong sama nenek, jangan salahkan aku dong!"
"Percuma, semua keluarga sudah setuju, apalagi si Bujang lapuk itu? Dia makin nggak sabar ingin segera menikahiku, apa dia lupa kalau aku ini sepupunya?" wajah Syakila terlihat menderita.
Tidak terbayangkan bagaimana jika Syakila dan bang Jojo bersanding. Bang Jojo yang berkulit gelap tapi manis, dan Syakila yang lumayan putih, cantik dan seksi. Pasangan yang pas bagai siang dan malam.
"Sepupu jauh, Sya, daripada kau terus menerus mengejar Hans yang sudah tidak mau padamu, mendingan nikah. Enak tahu menikah itu, apalagi kalau..." Sisil terkekeh, Gita ikut-ikutan tertawa.
Syakila cuma mencibir.
"Benar kata mereka, jadi perempuan itu harus punya harga diri. Untuk apa kau terus mengejar Hans, mendingan menikah dengan bang Jojo. Yang dewasa itu lebih menggoda tau, apalagi bang Jojo juga sudah mapan. Ngapain mengejar Hans yang masih begini." ucap Firda sambil menadahkan tangannya seperti orang meminta.
Syakila menatap ke arah Gita dan Sisil, keduanya menganggukkan kepalanya meyakinkan Syakila.
Sepupu Firda hanya bisa membuang napasnya ke udara.
__ADS_1
...****************...