Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK

Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK
45. Tidak Mau Dimadu


__ADS_3

"Bang, Abang suka olahraga nggak?"


Ryu menaikkan sebelah alisnya, apa sih maksud pertanyaan Sisil saat ini? Apalagi melihat Sisil yang tengah mengamati tubuhnya dari ujung rambut sampai kepala.


Ryu jadi merasa seperti sebuah barang yang tengah di taksir berapa harganya. Kalau saja yang melakukan itu orang lain, pasti Ryu sudah mengajaknya gelud atau adu panco. Tapi karena yang menatap calon istrinya...Cie cie...Calon istri ni ye? Calon istri tapi tingkahnya absurd, bikin Ryu gemes. Mau diapa-apain nanti menjerit


"Kenapa? Kamu mau ikut olahraga juga?"


"Nggak."


"Terus mau ngapain?"


"Mau ngeliat kalau Abang sedang berkeringat itu seperti apa ya? Apakah seksi dan macho kayak ..." Sisil menutup mulutnya lalu terkekeh, Ryu melototkan kedua matanya.


Maksudnya apa melihat aku berkeringat, seksi, macho?


Ryu menelan salivanya, rupanya seperti ini ya punya pasangan yang masih belia? Kalau bicara nggak ada malunya.


Ryu mendadak kehilangan kata-kata, bakat menggombal yang di wariskan dari para pendahulunya mendadak sedang mati suri. Andai kakeknya yang bergelar si raja gombal tahu, bisa malu bang Zai. Alamat dapat khusus kilat Ryu.


Kalau saja tanggal pernikahan dirinya dan Sisil bisa dipercepat, Ryu pasti akan meminta besok pagi saja menikahnya. Habisnya Sisil ingin melihat dia berkeringat. Pada saat bergelut nanti kan pasti berkeringat, apalagi jika tidak ada kipas angin atau AC. Sudah pasti berkeringat, eh.


"Bang, aku ikut ya kalau Abang mau pergi nge-gym?"


Ryu tersenyum canggung.


"Besok saja kalau kita sudah menikah, kamu bakalan sering melihat Abang keringatan. Bukan hanya Abang, tapi kita berdua." ujar Ryu mengedipkan matanya genit.


Mana mau Ryu membawa Sisil pergi ke gym, nanti sampai di sana bukan dia yang dilihat Sisil. Tetapi cowok-cowok lain yang usianya lebih muda dan lebih bagus badannya dari pada badan Ryu sendiri, kan bisa hilang kepercayaan diri Ryu.


"Ish, masih bulan depan, masih lama."


"Kalau sekarang nggak boleh, dosa."


Ternyata dia nggak sabar juga.


...*****...


Jika Ryu setelah menjemput Sisil langsung mengantarkan pulang, tidak dengan Noah. Noah malah membawa Gita ke cafe miliknya, tempat pertama sekali dia berjumpa dengan Gita , Sisil dan Firda.


"Noah, dari tadi aku menunggumu." seorang gadis berlari-lari menyongsong kedatangan Noah, pria dewasa yang jangan ditanyakan lagi ketampanannya langsung menggenggam jemari tangan Gita saat mengetahui siapa yang berjalan ke arah dirinya.

__ADS_1


Gita yang tidak siap dengan serangan dadakan jemari tangan Noah tersentak kaget, karena fokusnya pada wanita yang memakai celana jeans ketat dan kemeja putih kedodoran. Cantik dan berkelas, pastinya sudah dewasa dengan bibir yang merah sensual.


Gita menjatuhkan tatapannya pada telapak tangannya yang berada dalam genggaman tangan Noah, lalu beralih pada wajah Noah yang juga tengah menatapnya.


"Bisakah kamu sedikit centil pada Mas mu, Git? Dia ini mantan kekasih di masa lalu." lirih suara Noah di belakang telinga Gita.


Gita melotot, tapi sebentar setelahnya tersenyum manis. Soal main drama jangan diragukan, dia pengen jadi artis cuma nggak ada sutradara yang meliriknya.


Gita langsung saja menggamit lengan Noah, sampai sesuatu yang membuat darah Noah menjadi berdesir menempel hangat di lengannya.


"Ada perlu?" tanya Noah datar.


"Hmm, siapa dia, Noah?" tunjuknya pada Gita, terutama pada lengan kekar Noah yang dipeluk oleh Gita.


"Gita, calon teman bobok Mas Noah, eh, calon istri maksudnya." Gita mengedipkan matanya genit, Noah hampir saja tergelak kencang. Improvisasi Gita luar biasa.


"Noah, dia sugar babymu? Kau..."wanita cantik itu menggelengkan kepalanya, dia tidak percaya jika Noah yang berasal dari keluarga baik-baik menjadi sugar Daddy. Memiliki simpanan wanita remaja hanya untuk bersenang-senang, dia betul-betul tidak percaya.


"Kenapa dengan aku? Dia memang calon istriku, terserah kamu mau percaya atau tidak! Tidak ada pengaruhnya padaku." ucap Noah menggandeng Gita masuk kedalam ruangan pribadi miliknya.


"Noah, dia pasti sepupu kamu kan? Ayo dong, Noah, jangan bersandiwara! Harus berapa kali aku minta maaf? Aku khilaf."


"Shopia, dengar! Aku sudah memaafkan dirimu, hubungan kita juga sudah berakhir bahkan sudah dari tahun lalu. Kenapa kau justru sekarang mengejar-ngejar aku? Kamu kan tahu kalau aku tidak suka kembali ke mantan, bagiku yang namanya mantan itu...." Noah menaikkan kedua bahunya acuh.


"Tapi aku yang mau kembali padamu, Noah, aku siap menikah denganmu kapanpun kamu mau." ujarnya dengan sedikit malu karena Gita langsung melotot mendengar kata menikah.


"Eh, Mbak, tunggu dulu! Saya sedang tidak membuka lowongan menerima seorang madu, saya sendiri saja masih mau dinikahi. Ingat! Masih mau tapi belum, masak belum apa-apa sudah mau di madu.


Mas, aku nggak mau di madu lho." Gita menatap serius ke arah Noah.


Noah berdehem pelan menyembunyikan senyumnya.


"Nggak ada yang memadu dirimu, Gita sayang. Klan almarhum Prasetyo pantang mempermainkan hati perempuan," kecuali keturunan almarhum Yonan lain lagi ceritanya.


Kalimat terakhir tentu saja Noah ucapkan didalam hati, kalau kedengaran Gita terus di sampaikan ke Sisil bisa perang bharatayuda dia dengan Ryu.


"Tuh, Mbak, dengar? Mas Noah ogah balikan dengan mantan karena sudah tahu rasanya, beda dengan aku. Mas Noah pasti masih penasaran dan aku yakin bakal ketagihan."


Ini ngomongin mie instan ya?


"Noah..." Shopia tidak mengindahkan ucapan Gita yang dimatanya itu Gita hanyalah gadis remaja keponakan atau sepupu Noah yang entah anak dari omnya yang mana, karena Shopia tahu Noah memiliki keluarga yang banyak. Kalau dia kasar atau macam-macam dengan keluarga Noah bisa tamat namanya, tidak ada celah lagi untuk masuk kedalam kehidupan Noah.

__ADS_1


"Shopia, hargai diri kamu sendiri! Aku sebentar lagi menikah. Gadis ini calon istriku, dia bukan keponakan atau sepupuku."


"Tidak, kamu pasti bohong." Shopia masih tidak percaya.


Noah menarik napasnya panjang, sedikit sulit meyakinkan Shopia karena dia seorang putri tunggal dari seorang pengusaha sukses yang pastinya sangat keras kepala.


"Mas, kalau dia tidak percaya tidak perlu juga diyakinkan! Tidak akan berhasil, mendingan kita pulang. Kita pacaran saja di rumahku." Gita berdiri, Noah juga ikut berdiri. Ide Gita nggak buruk, enakan pacaran di rumah calon mertua


keduanya tetap saling menggenggam tangan keluar dari ruangan, Shopia mengikuti dari belakang dengan wajah yang marah.


...*******...


"Bang, si Gita sama Sisil di jemputin sama Bang Ryu dan bang Noah tadi, nah aku nggak ada yang jemput. Kasihan, kayak anak hilang." protes Firda saat Hamish baru pulang dari cafe D'Nnongkrongs sore hari menjelang senja.


"Kamu kan tadi nggak minta di jemput, ya Abang nggak tahu kalau kejadiannya sekitar itu."


"Inisiatif lah, Bang, yang romantis, manjain istri, bukan di atas kasur saja romantisnya." bibir Firda sudah cemberut.


Gita dan Sisil balas dendam karena tadi di tinggal dirumahnya, mereka berdua kementelan minta di jemput oleh Noah dan Ryu. Jadilah Firda naik angkot sendirian, nggak mungkin numpang dengan salah satu diantara keduanya.


Lagi pula mereka juga nggak ada basa-basi nawarin Firda mau ikut atau tidak.


"Lain kali apa mau kamu kasih tahu saja sama Abang ya, Fir! Abang kan tidak tahu isi hati kamu, maunya kamu.


Oh, ya kamu sudah mandi belum?"


"Kenapa? Mau ngajak mandi bareng? Nggak ah, aku lagi ngambek, nggak mau begitu di kamar mandi."


Hamish terkekeh.


"Abang cuma mau bilang kalau kamu semakin cantik jika sudah mandi," goda Hamish mengedipkan matanya genit ke arah Firda yang langsung tersipu dikatakan cantik, langsung hilang tuh cemberutnya


"Abaaaanggg..."


"Apa?"


"Aku mau mandi lagi, biar makin cantik."


Hamish tergelak, merayu Firda itu tidak perlu mengeluarkan semua kemampuan. Cukup katakan cantik saja Firda sudah meleleh.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2