Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK

Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK
79. Ngambek


__ADS_3

"Bang, nanti Abang tadarusan ya?"


Bang Jojo yang sudah hendak membuka handle pintu langsung menoleh ke arah Syakila, lalu menghembuskan napasnya kuat.


"Kenapa? Biasanya kan juga begitu, memang mau ngapain?"


"Pura-pura lupa?"


"Apa?"


"Aku kangen?"


Bang Jojo mencebik.


"Tiap hari ketemu kok kangen? Kamu sendiri kenapa nggak tarawih? Takut fitnah? Kalau kamu pergi ke mesjid terus dandanan dengan cetar membahana di tambah memoles bibir semerah darah, baru itu bisa menimbulkan ghibah. Ayo tarawih! Biar kamu nggak tanya-tanya terus." tawar bang Jojo.


Syakila berpikir sebentar, kalau di rumah sendiri dia juga bosan sih.


"Abang sudah memaafkan aku kan?"


Bang Jojo kembali menghembuskan napasnya kuat.


"Dek, seorang laki-laki itu, untuk melupakan kesalahan seseorang sangat gampang tapi sulit untuk memaafkan. Berbeda dengan perempuan, dia mudah untuk memaafkan tetapi sangat sulit untuk melupakan."


"Aku kan kemarin itu emosi sesaat, Bang."


"Kita baru menikah tujuh bulan, Dek, kamu sudah heboh sendiri. Harusnya kan Abang yang lebih kuatir karena kamu bilang Abang sudah tua, ini kamu yang main tuduh-tuduh aja. Kamu nggak tahu sih bagaimana terlukanya hati, Abang." Beuh


Yeee... Masih ngambek saja dia.


"Ya sudah, ngambek aja teroos! Terserah Abang mau tadarus kek, sahur di mesjid kek, terserah!" Syakila gantian ngambek dan langsung masuk ke dalam kamar seraya membanting pintu dengan keras, bang Jojo sampai terjengkit kaget seraya memegang dadanya.


"Astaghfirullah... Perempuan itu ternyata kalau nggak diberi, lebih ganas daripada kucing yang lagi bunting di usilin. Bawaannya pengen nyakar, pintunya rusak nggak ya?"


Bang Jojo berjalan pelan mendekati pintu kamar, melihat dengan seksama pintu yang ada di hadapannya lalu terkekeh.


"Kalau saja dia tahu aku lebih mengkuatirkan pintu daripada dirinya..."


Sambil terkikik geli bang Jojo keluar rumah untuk menuju ke mesjid, lebih baik dia tarawih dan tadarusan dari pada berhadapan dengan Syakila yang terus merengek minta nafkah batin.


Nah lho.

__ADS_1


Bang Jojo kan punya harga diri juga. Kemarin saja selama seminggu bang Jojo colek-colek Syakila agar di kasih jatah dicuekin, nuduh kalau bibitnya tidak bagus. Padahal belum di periksa, main vonis saja.


Nah sekarang setelah tahu bahwa benihnya oke-oke saja, dia yang merengek-rengek. Memangnya bang Jojo cowok apaan? Eh.


...*****...


Abah, Umi dan Hamish sudah selesai makan, Firdanya justru nambah dengan porsi yang sama seperti dia baru makan tadi. Membuat Abah jadi tersenyum simpul.


"Makan Firda banyak ya, Bah?" tanya Firda malu-malu menyadari jika Abah senyum dengan tindakannya, Hamish dan Umi hanya bisa terkekeh.


Umi segera bangun dari duduknya dan mulai menggendong Ali yang di letakkan dalam stroller tidak jauh dari meja makan.


"Nggak, biasa saja. Kamu kan sedang menyusui, wajar saja kalau makannya sedikit berlebih dari yang lainnya."


"Iya, Bah, usus Firda kan panjang. Jadi makanan yang tadi belum sampai ke ujung, masih kosong." Jawab Firda terkekeh sambil menyuap makanan dengan penuh semangat.


"Sepanjang apa?" kali ini Hamish yang bertanya, Firda walaupun sudah jadi ibu tetap saja kalau menjawab suka nyeleneh.


"Kalau usus Abang paling panjangnya antara 25 sampai 38 sentimeter, nah kalau punya aku ada satu meter panjangnya, Bang. Melilit lagi." kekeh Firda.


Hamish dan Abah tertawa dengan jawaban Firda.


"Cepat makannya! Umi mau pergi tarawih, kasihan Ali kalau di biarkan sendiri." ucap Hamish mengelus kepala Firda yang masih makan dengan lahap, Firda mengangguk.


"Ini puasa kedua aku jadi istri, Abang. Pengen rasanya berangkat tarawih bareng, lalu dilanjutkan dengan tadarusan. Tapi..."


Firda menatap Ali yang masih belum tidur, bayi berusia tiga bulan setengah itu tengah bermain sendiri. Kedua matanya yang bundar menatap mainan boneka binatang yang tergantung di atas box bayinya.


"Nggak apa-apa, pahalanya sama kan dengan kamu yang menjaga, Ali. Disitu jihadnya seorang wanita.


Abang justru merasa ramadhan tahun ini sangat spesial."


"Kenapa?"


"Sudah ada kamu dan Ali di kehidupan, Abang.


Nanti kalau sholat Ied, kamu dan Ali bisa ikut merayakan hari kemenangan itu. Saat itu bagi Abang, jauh lebih membahagiakan dari tahun sebelumnya. Terimakasih sudah hadir dalam hidup Abang dengan cara yang luar biasa. Terimakasih sudah mau mengandung dan melahirkan Ali dengan perjuanganmu yang tidak akan pernah bisa Abang lupakan, Abang cinta sama kamu, Fir."


Hamish menarik tangan Firda, memeluknya dengan erat sembari mengecup dahinya lama.


Memang Firda belum bisa cepat dewasa seperti seorang istri dan ibu satu orang anak seperti yang diharapkan. Tingkahnya masih sedikit suka-suka, tetapi dia tidak mengeluh dengan rewelnya Ali jika minta susu di malam hari.

__ADS_1


Firda juga tidak pernah merengek hanya untuk sekedar meminta berkumpul dengan kedua temannya yang sama-sama sudah memiliki bayi.


Hamish, Umi dan Abah selalu siap mendampingi Firda dalam mengurus Ali.


Firda yang belum matang secara mental untuk menjadi seorang ibu, selalu dibantu oleh orang-orang yang menyayanginya.


"Aku juga cinta sama, Abang. Menikah muda tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Namun, menjadi istri Abang ternyata begitu menakjubkan. Bisa memiliki Ali, adalah bagian yang terindah dari apa yang tidak pernah ada dalam impianku.


Hmm, jadi kapan kita beli baju lebaran?" tanya Firda melepaskan pelukan suaminya.


Hamish langsung mengacak-acak rambut di kepala Firda, ujung-ujungnya minta shopping.


"Insyaallah besok boleh juga, kita bawa Ali ya! Biar Umi nggak repot kalau Ali haus."


Firda mengangguk dengan semangat.


"Sekarang Abang ke mesjid dulu, tuh, sudah adzan."


"Wudhu Abang sudah batal." Firda mengingatkan karena Hamish tadi memeluk dan mencium dahinya.


"Iya, nanti Abang wudhu lagi di mesjid. Abang berangkat dulu, Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."


Melihat Ali yang masih anteng dalam boxnya. Firda segera meraih ponselnya dan mulai mengetik pesan untuk dikirimkan pada Gita dan Sisil.


[Besok aku dan bang Hamish mau ke Mal beli baju lebaran. Kalian berdua ikut nggak?]


[Kau bawa calon mantuku kan?] Sisil cepat menjawab.


[Bawa dong, biar Abi-nya yang menjaga anaknya. Kan itu hasil karyanya, jadi boleh dong di repotkan.] Firda memberikan emot tertawa ngakak.


[Ikut...] Gita tidak mau ketinggalan.


[Git, kau membawa Afifah nggak? Ntar aku juga membawa Celina, biar kompakan kita. Kan sudah lepas hari.] Sisil butuh teman biar Ryu mengizinkan rupanya.


[Aku nggak yakin Mas Noah akan membolehkan membawa Fifah, dia takut anaknya di taksir Ali.] Gita memberikan emot menjulurkan lidah.


Obrolan di grup tidak berlanjut karena Ali yang terlihat merengek, mungkin bayi berusia tiga bulan lebih itu sudah haus dan mengantuk. Firda segera mengambil Ali untuk di susui.


Sejak Firda, Sisil dan Gita bertemu di acara akikah Afifah dan Celina, ketiganya tidak pernah bertemu lagi secara langsung selain lewat chat atau video call.

__ADS_1


Kesibukan ketiganya sebagai ibu baru membuat pertemuan mereka menjadi momen yang paling berharga bagi Gita, Sisil dan Firda.


...***** ******...


__ADS_2