Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK

Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK
49. Kejutan


__ADS_3

Hingga sudah melewati makan malam, tidak ada abang kurir yang datang menyampaikan paket seperti yang Sisil terima. Gita jadi semakin ingin menangis. Ingin menghubungi Noah, tapi mau tanya apa? Masak mau tanya dia ada mengirim paket juga nggak? Gengsi lah, kan sudah ngajak putus.


Berkali-kali ibunya menyuruh untuk makan tapi Gita tidak mau keluar dari dalam kamar. Dia sedang sakit hati, nggak selera untuk makan.


Padahal Ryu itu keponakan Noah, tapi kenapa Ryu yang lebih pintar dalam menghadapi perempuan. Sepertinya mereka salah lahir, harusnya Noah yang jadi keponakan Ryu


"Kak, disuruh ibuk makan, nanti kalau kurus dikira nggak dikasih makan oleh ibuk dan bapak lho. Bisa malu mereka, apalagi sebentar lagi lebaran haji"


Apa hubungannya? Memangnya Gita mau di korbankan?


Terdengar kekehan Revan karena dia salah bicara.


"Tiga Minggu lagi kakak jadi pengantin, kalau terlalu kurus jadi kurang cantik. Kesannya pipi kakak nggak chubby." suara Revan yang membujuk semakin membuat Gita kepengen nimpuk kepala adiknya dengan sendal.


Kenapa dia semakin pintar saja.


"Berisik, kakak mau tidur." Gita menutup kedua telinganya dengan bantal.


Pintu kamar yang memang tidak di kunci dengan Gita seketika terbuka, Gita tidak peduli. Palingan kalau tidak Revan adiknya, pasti ibunya yang menyuruh makan.


"Permisi, Neng! Ini ada kiriman bunga dari seseorang, mau diterima atau di terima?"


Sontak Gita bangun dari posisinya yang semula telungkup, dia menatap mas kurir yang sudah berdiri di depan pintu kamar. Mukanya yang di tutupi oleh topi menunduk menatap lantai, seperti mencari uang hilang.


"Eh, Mas, kok bisa sampai depan pintu kamar saya? Nggak sopan banget, siapa yang nyuruh masuk ke dalam? Saya akan laporkan ketidak sopanan ini ke perusahaan anda ya, biar anda di pecat!" ancam Gita judes.


"Ibuk sama Revan kemana sih? Kok bisa-bisanya membiarkan orang asing masuk kedalam rumah, nggak takut apa kalau mereka akan berbuat jahat."


Gita ngomel-ngomel sambil tangannya meraih bantal guling untuk jaga-jaga.


Mas kurir membuka topi yang dipakainya, senyum merekah langsung menghiasi bibirnya kala Gita menatapnya dengan mulut yang membuka dengan lebar saat tahu siapa yang ada di hadapannya


"Mas Noah?" lirih suara Gita saat tahu siapa pria yang disangkakan abang kurir ternyata Noah.


"Bunga untuk kamu yang sedang ngambek," Noah menyodorkan rangkaian uang yang di bentuk menjadi buket bunga dikombinasikan dengan bola-bola coklat.


Gita rasa mau menangis lagi, tadi dia sudah kesel dan sedih karena tidak mendapatkan paket seperti yang di dapat oleh Sisil. Ternyata paket buat dirinya diantar langsung oleh Noah. Lebih cantik dan lebih romantis. jangan lupakan lembaran uang berwarna warni yang membuat mata Gita jadi ijo.


Mendapatkan kejutan seperti itu Gita merasa menjadi artis, ada cameraman nggak ya?


"Kalau mau meluk, boleh kok! Mumpung kedua orang tuamu dan Revan sedang ada di teras makan rambutan." Noah merentangkan tangannya bersiap menerima hamburan pelukan dari Gita, tapi Gita cuma mengambil buket uang dan coklat yang ada di tangan Noah.


Noah cuma bisa tersenyum masam, coklat dan uang lebih menarik dari dirinya.

__ADS_1


"Makasih ya, Mas, aku kira Mas Noah balikan sama mbak yang kemarin." Gita membuka satu buah coklat langsung memasukkan ke dalam mulutnya.


"Nggak boleh berprasangka buruk, memangnya Mas mu ini nggak cukup tampan sehingga harus balikan sama mantan pacar? Sebentar lagi kita menikah, jadi tidak semudah itu. Memangnya kamu, ngambek dikit sudah minta putus. Nggak boleh gitu! Kita kan sama-sama baru akan menumbuhkan rasa, jadi jangan curigaan!" Noah mengusap pelan kepala Gita yang hampir keselek coklat.


"Iya, maaf! Makanya punya mantan itu jangan kebanyakan, bikin sensi tau nggak?"


Ngomelnya masih di lanjutkan, tangannya kembali membuka satu coklat lagi. Karena buru-buru Gita sampai terbatuk-batuk.


"Tidak ada yang akan merebut coklat milikmu, pelan-pelan makannya! Yuk keluar, ntar bahaya kalau ada di kamar kamu cuma berduaan." Noah menarik tangan Gita, keduanya lalu ikut bergabung dengan kedua orang tua Gita dan adiknya Revan yang sedang menikmati rambutan dan martabak telur yang dibawa Noah tadi.


...*****...


Firda menggoyang-goyangkan bahu Hamish yang ruhnya sudah berada dalam genggaman Allah, Hamish sudah berada di alam mimpi.


"Bang, Bang,"


Hamish belum memberikan respon apa-apa, kali ini di ujung jari tangan Firda menusuk-nusuk perut Hamish. Tetapi Hamish belum terjaga juga.


Firda tidak kehilangan akal, bibir Hamish yang terkatup rapat digigitnya pelan. Tentu saja Hamish langsung terbangun.


"Ada apa, Fir?" tanya Hamish mengusap bibirnya pelan.


"Aku nggak bisa tidur, Bang."


"Ya sudah sini Abang peluk!" Hamish langsung menarik Firda dan memeluknya dengan erat, matanya tetap terpejam.


"Bang, aku makin nggak bisa tidur kalau di ginikan. Kita ngobrol atau apalah!"


Hamish mengucek matanya sebentar, sedikit memicing melihat petunjuk waktu yang ada di atas meja rias, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


"Sekarang mau kamu apa?" Hamish mengelus-elus kepala Firda, sesekali dia menguap karena mengantuk.


"Abang masih mikirkan kak Mawar, nggak?"


Ternyata Firda tidak bisa tidur karena mengingat berbalas pesan pada Mawar sore tadi, dia takut Hamish masih mengingat mantan calon istrinya.


"Ngapain mikirin orang lain yang tidak ada hubungannya dengan Abang, mikirin kamu saja kadang-kadang sudah bikin Abang pusing.


Contohnya sekarang, kamu yang nggak bisa tidur tapi Abang yang kamu bangunkan."


Saking gemasnya pada Firda yang sudah mengusik tidurnya, Hamish menciumi seluruh wajah Firda sehingga istrinya itu hanya bisa tertawa-tawa kegelian.


"Olahraga malam saja yuk! Biar kamu bisa tidur," ajak Hamish.

__ADS_1


Belum mendapat persetujuan dari Firda, Hamish sudah mulai melepaskan satu demi satu pakaian yang melekat di badan istrinya. Tentu saja Firda tidak menolak. Sebenarnya tadi dia kepengen, cuma karena Hamish sudah tidur ya malulah.


Entah karena terlalu bersemangat atau kurang hati-hati, setelah selesai Firda merasa perutnya mendadak keram.


"Fir, kamu kenapa?" tanya Hamish cemas sembari cepat-cepat dia memakai pakaiannya lalu ke kamar mandi.


Membersihkan diri sebentar, berwudhu lalu kembali ke atas ranjang dimana Firda masih memegangi perutnya.


"Abang antar ke rumah sakit ya!"


Firda hanya mengangguk, Hamish membantu memakaikan pakaian dan menuntunnya ke kamar mandi untuk melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan tadi. Tidak perlu mandi junub karena Firda terus meringis, nanti kalau sudah sedikit baikan atau menjelang subuh baru mandi wajib.


"Bang, mungkin aku cuma mau datang bulan."


Hamish mengerutkan dahinya, dia tadi sempat juga melihat jika ada flek ketika Firda bersih-bersih.


"Memang kalau kamu mau menstruasi selalu seperti ini? Perut suka keram?"


Firda menggeleng.


"Kita ke rumah sakit saja ya! Kalau ke klinik biasanya sudah pada tutup, Abang kuatir ada apa-apa dengan Kamu."


Firda manut, dengan berjalan sedikit perlahan Firda dan Hamish keluar rumah. Abah dan Umi yang mendengar pintu rumah di buka, lalu tidak lama setelahnya terdengar bunyi suara mesin mobil yang di hidupkan membuat keduanya ikut keluar kamar.


"Kalian mau kemana malam-malam begini?" tanya Umi heran, apalagi pakaian keduanya terlihat biasa saja.


Hamish dan Firda saling berpandangan, Firda menunduk, Hamish garuk-garuk kepala. Malu mengatakan setelah habis iya iya perut Firda sakit.


"Mish," Abah ikut bertanya pelan, tatapan matanya terus memperhatikan Hamish yang sedikit salah tingkah.


"Firda sakit perut, eh maksudnya perut Firda sedikit tidak nyaman."


Abah tersenyum, apalagi melihat wajah Hamish dan Firda yang...Abah tahu jika keduanya pasti baru selesai memadu kasih, aura Hamish dan Firda sudah terbaca oleh mata tuanya.


"Ya sudah, hati-hati! Semoga semua baik-baik saja." Abah tidak mau lagi banyak bertanya, kuatir Hamish semakin bingung mau menjawab apa.


Hamish mengangguk, segera menuntun Firda masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.


"Bah, apakah...."


"Sepertinya, Mi, kita do'akan saja! Abah ingin melihat Hamish bahagia, Mi. Mungkin ini sudah waktunya."


" Aamiin ya, Bah, semoga."

__ADS_1


Abah dan Umi menutup pintu rumah rapat-rapat, keduanya tidak jadi masuk kamar dan tidur. Mereka memutuskan untuk menunggu Firda dan Hamish pulang dari rumah sakit, mungkin ada kabar bahagia yan akan mereka dapatkan.


...****************...


__ADS_2