Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK

Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK
60. Besok saja!


__ADS_3

Mendengar teriakkan Noah dari luar pintu bikin Gita ketar-ketir.


Eh, tunggu dulu! Kebelet apa nih? Jangan-jangan kebelet...


Gita cepat-cepat membuka pintu, untungnya dia sudah memakai jubah mandi setelah selesai mandi dan berjalan mondar-mandir tadi.


"Mas mau buang air?"


"Iya, Git, dari tadi lho nahannya." jawab Noah menerobos masuk ke dalam kamar mandi.


Gita terkikik sendiri, kirain...


Dasar otak mesum, ini akibat peringatan Firda tadi. Coba saja Firda tidak ngomong apa-apa, dijamin dirinya nggak parno sendiri.


"Git, ambilkan handuk dong di dalam koper pakaian, Mas! Tadi buru-buru jadi lupa." ucap Noah hanya menyembulkan kepalanya sedikit.


"Mas Noah mau mandi?"


Pertanyaan bodoh, Git.


"Iya, biar seger dan wangi." Noah mengedipkan sebelah matanya genir.


seeerrr.


Wajah Gita memerah, cepat-cepat Gita mengambil handuk seperti yang Noah perintahkan tadi.


Kedua mata Gita membulat sempurna ketika menemukan handuk didalam koper pakaian, dia mengangkatnya tinggi-tinggi.


Ini handuk apa pasmina? Kenapa Pendek Sekali? Apanya yang mau di tutupi?


" Git."


"Eh, iya ini!" Gita menyodorkan handuk tanpa melihat ke arah Noah, dia takut akan melihat hal-hal yang belum waktunya. Walaupun sebenarnya dia sangat penasaran, kepengen? Sudah pasti.


Noah mengambil handuk yang di sodorkan oleh Gita, lalu menutup pintu kamar mandi kembali. Tidak berselang lama Noah sudah membuka pintu pintu kamar mandi, melenggang dengan santai hanya dengan bertelanjang dada. Untungnya masih memakai celana panjang.


Mandi kok cepat sekali?


Mulut Gita kembali membuka dengan sempurna, tanpa Gita sadari air liurnya sudah menetes. Cepat-cepat di sedotnya kembali, untungnya Noah tidak tahu dan tidak mendengar apa yang dilakukan Gita karena dia sedang mengubek-ubek isi tasnya.


"Maaf, Mas lupa membawa baju ganti ke kamar mandi, perasaan masih di kamar Mas sendiri." kekeh Noah kembali masuk ke kamar mandi.


Ya ampun, badannya...Mirip aktor-aktor yang bikin ngiler itu, oh God...Jadi kepengen meraba, keras nggak ya?


Terus saja pikiran Gita mesum berkelana kemana-mana, dia lupa kalau dirinya belum berpakaian dan masih mengenakan jubah mandi.


Mancing-mancing nih Gita.


*****


"Sil, ngapain mandangin tumpukan kado? Mandi sana!" colek Ryu di bahu pada Sisil di depan pintu kamar mereka yang di biarkan terbuka.

__ADS_1


Sisil masih berdiri memperhatikan ibu dan adik perempuannya yang sedang mengangkat kado-kado dari tamu undangan, Sisil masih mengenakan pakaian pengantinnya.


"Bentaran, Bang! Aku cum ingin memastikan apakah Gita sudah mendapat bagian?"


"Sar, Kak Gita sudah dapat kadonya belum?" tanya Sisil pada Saras adiknya yang melintas lagi mengangkuti kotak-kotak berbagai bentuk yang dibungkus rapi dan cantik dengan kertas warna-warni bercorak.


"Tergantung,"


Saras adiknya Sisil yang baru duduk di kelas dua SMU melilik ke arah Ryu yang sedang tersenyum tipis, tapi kode tangan Ryu yang mengusirnya pergi cukup di fahami oleh gadis remaja itu.


Anak sekarang kan cerdas-cerdas kalau soal isyarat atau kode-kodean.


"Tergantung apanya?" Sisil nggak fokus, sepertinya dia kurang minum air.


"Tergantung yang di gantung." Saras cengengesan, Ryu tertawa tanpa suara.


Kakak adik sama saja.


"Sar, jangan macem-macem, deh! Kakak lagi serius."


"Ya ela, gitu aja sewot. Gini, kalau di atas kertas kado ada nama kakak berarti untuk kakak, tapi kalau tidak ya sebaliknya."


"Terus kalau nggak ada namanya?"


"Untuk aku dong." Saras tergelak lalu masuk ke kamarnya sendiri, Sisil yang mau menyusul adiknya segera ditarik tangannya oleh Ryu.


"Kamu mau kado apa? Abang akan belikan, yang utama sekarang kamu mandi dulu!" perintah Ryu mendorong badan Sisil agar masuk ke kamar mandi.


"Mandi dulu! Ini malam pengantin kita lho,"


Wadauw, senyuman Ryu yang penuh arti membuat Sisil mendadak takut, tanpa di suruh sekali lagi dia sudah masuk dan mengunci pintu kamar mandi.


"Jangan lama-lama mandinya, Sil! ini sudah malam, nanti kamu masuk angin." Ryu mengetuk pelan pintu kamar mandi, sudah dua puluh menit Sisil ada di dalam.


"Abang nggak akan ngapa-ngapain kamu, cuma mau ngajak ngobrol. Seperti yang pernah Abang bilang waktu itu." Ryu mengusap dagunya pelan, dia tertawa sendiri.


Otaknya sudah merancang apa yang akan dilakukan supaya Sisil tidak takut, secara mereka berdua kan belum terlalu saling mengenal. Dirinya sendiri saja yang terlalu ngebet.


"Beneran cuma ngobrol? Kalau untuk yang lainnya, aku masih takut lho, Bang." Sisil sudah membuka pintu kamar mandi.


"Iya, ngobrol aja dulu. Sini duduk dekat, Abang." Ryu menepuk ranjang pengantin yang sudah diduduki dirinya terlebih dahulu. Sisil ragu-ragu tapi mengingat mereka sudah suami istri, akhirnya duduk juga disebelah Ryu.


"Apa yang kamu takutkan? Hampir semua pasangan yang baru menikah menggebu-gebu ingin melakukan itu, bahkan tidak sedikit yang sudah duluan sebelum ada ikatan yang halal."


Iya ya, takut apa? Takut sakit seperti yang dikatakan Firda tadi, ish, malulah. Masak obrolan aneh seperti itu diberitahukan.


"Takut kamar kita di gedor oleh, Saras atau Ibuk." jawab Sisil asal.


"Ngapain mereka gedor pintu ini?"


Ryu jadi ragu, jangan-jangan Sisil sekamar dengan adiknya. Ah sepertinya tidak mungkin.

__ADS_1


"Mau ngajak buka kado mungkin, " Sisil terkekeh, Ryu meringis.


Otak anak remaja memang diluar jangkauannya.


"Sil, kalau besok ikut Abang nginap di hotel, mau nggak?"


Mulai, Ryu sadar kalau di rumah mertuanya bakal banyak gangguan. Besok dia bisa beralasan ngajak Sisil untuk bulan madu, cie cie.


Apa Ryu nggak tahu ya kalau Sisil dan Gita tidak mengajukan izin di kampus? Gita dan Sisil kan ngikutin jejak Firda yang tidak pernah mengajukan cuti selain bolos.


"Bulan madu? Kayak drama aja," Sisil mencubit paha Ryu, Ryu terkekeh. Belum apa-apa Sisil sudah berani cubit-cubit, kayaknya Ryu akan mendapatkan lawan yang seimbang ini.


"Hidup ini kan seperti drama, contohnya saja pertemuan kita. Nggak pakai lama kita sudah menikah, tinggal malam pertamanya saja yang belum."


"Tunggu besok aja ya, Bang, malam ini kita ngobrol aja dulu."


"Oke, tapi sambil pacaran ya!" lirih Ryu sembari mengambil telapak tangan Sisil, menepuk-nepuknya pelan.


Telapak tangan Sisil mendadak dingin karena Ryu semakin bergeser mendekat.


"Bang, Abang mau ngapain?" tanya Sisil menjauhkan wajahnya disebabkan Ryu semakin mendekatkan mukanya ke wajah Sisil.


"Ada bulu mata kamu yang jatuh, kata orang-orang itu pertanda ada yang kangen sama kamu."


"Masak?"


"Iya, coba pejamkan mata kamu, biar Abang ambilkan!"


Sisil patuh, dia memejamkan kedua matanya. Ryu tertawa tanpa suara, dia geli sendiri.


Mau saja di bohongi.


Bukannya Ryu mengambil bulu mata yang katanya rontok, pria dewasa itu justru mengecup bibir Sisil yang sedikit terbuka. Tentu saja Sisil terkejut dan langsung membuka kedua matanya.


"Yang tadi itu apa, Bang?" tanya Sisil masih belum ngeh apa yang baru terjadi.


"Yang tadi apa?"


"Perasaan..." Sisil meraba bibirnya sendiri, Ryu terkekeh.


"Mau lagi nggak?"


"Yang mana?"


"Yang tadi?"


Sisil senyum malu-malu tapi mengangguk juga.


Habisnya, enak sih.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2