
"Kita mau kemana?" Gita bingung saat mobil yang dikendarai oleh Noah tidak mengarah ke kompleks perumahan tempat tinggal orang tuanya, tetapi ke arah yang belum pernah dia lalui.
"Aku belum ijin ibuk kalau pulang telat, walaupun juga sering pulang menjelang magrib. Tapi itu juga ke rumah Firda, sekarang sejak Firda sudah menikah dan tinggal di rumah mertuanya nggak pernah pulang telat lagi."
"Nggak boleh ke rumah Hamish?"
"Segan, Kami kan tidak mengenal mertua Firda itu seperti apa. Beda dengan Firda, dari zaman kami masih imut-imut sampai sekarang jadi amit-amit, kami kan tetap sahabat bagai kupu-kupu. Jadi rumah orang tua kami masing-masing sudah menjadi rumah kedua bagi kami satu sama lain."
Noah mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Mas tadi sudah menghubungi ayahmu, mungkin kita akan pulang malam."
"Mau kemana? Nggak nyulik aku kan?"
Gita terlalu ngehalu, tunangan sendiri kok mau nyulik, untuk apa?
"Kalau mau menculik kamu, masak permisi sama orang tuamu. Di depan Ryu dan teman kamu lagi, terlalu banyak meninggalkan jejak. Kamu pasti sedang kurang minum atau kurang makan, jadi nggak fokus."
Gita terkekeh, dia baru ingat jika memang mereka bertiga kurang makan dan juga kurang minum. Semua gara-gara Syakila yang membuat ulah di kantin. Tuh anak minumnya kapan, mabuknya juga kapan.
Meluncurlah cerita kejadian di kampus tadi. Pasangan Noah dan Gita memang lebih terbuka, apapun di ceritakan oleh Gita sehingga Noah bisa memberikan banyak masukan pada Gita. Tak ubahnya Noah itu seperti papa Neo dan opa Elang, memberikan nasehat disaat yang tepat.
Berbeda dengan Firda, dia sedikit lebih sukamenyembunyikan apa yang terjadi dan apa yang dialaminya pada Hamish. Mungkin karena dari awal dia sudah membuat Hamish kerepotan dengan ulahnya, jadi dia tidak ingin menambah beban pada Hamish.
"Biasa memang seperti itu, justru orang terdekat terkadang yang tidak menyukai apa yang ada di diri kita saat ini. Sama seperti kamu bilang mereka berdua bersaing menyukai pria yang sama. Tapi setelah salah satu mundur atau memilih putar haluan, semangat atau antusias untuk menang itu sudah menghilang karena tidak ada saingan. Apalagi ternyata Firda mendapatkan pria yang kualitasnya jauh dari lelaki yang diperebutkan itu.
Hamish itu orangnya sangat baik, kalem dan nggak macem-macem."
"Sesama pria memang saling memuji."
"Memang kenyataannya seperti itu, Git. Makanya Mas dan Ryu nyaman berteman dengan dia, padahal dia senior kami lho."
"Mas, ngomong-ngomong kita ini mau kemana?"
"Opa dan Oma ingin berkenalan denganmu"
"Hah?"
...*****...
Firda berdiri di depan cermin, memutar badannya ke kanan dan ke kiri. Setelah itu mendekati cermin, menatap wajahnya lekat-lekat.
Hamish yang baru keluar dari dalam kamar mandi sehabis berwudhu mengamati Firda dengan senyum dikulum.
"Kamu kenapa?"
Firda mendesah.
"Apakah wajahku pucat dan aku terlihat kurus, Bang? Seperti orang cacingan gitu?"
__ADS_1
"Nggak lah, siapa yang bilang? Kamu bukan pucat, tapi kulitmu bertambah terang karena kamu kan sudah nggak keluyuran seperti sebelumnya.
Kamu juga nggak kurus, biasa saja malah semakin..."Hamish bersiul nakal sembari mengedipkan matanya genit, lalu keluar dari kamar untuk sholat ashar di mesjid bersama Abah.
Ucapan yang melukai adalah senjata paling ampuh untuk membunuh tanpa harus menggunakan senjata tajam, sama seperti yang dilakukan Syakila.
Firda boleh melawan dan mengacuhkan ucapan Syakila tadi di kampus. Tetapi sampai didalam kamarnya, dia jadi dengan teliti memperhatikan wajah dan tubuhnya. Mencoba mencari pembenaran ucapan Syakila.
Sampai Hamish pulang dari mesjid, wajah Firda seakan masih menyimpan beban.
"Ada yang mengatakan kamu kurus dan pucat seperti orang cacingan?" tanya Hamish meraih tangan Firda agar duduk disebelahnya, supaya tidak terus berdiri di depan cermin.
Firda tidak mungkin jujur apa yang sudah terjadi di kantin kampus tadi, bagaimanapun Syakila saudara sepupunya. Dia harus menyembunyikan aib keluarganya juga walaupun pada suaminya sendiri.
Firda mengangguk tapi mulutnya bungkam tidak mau cerita, saat-saat seperti ini dia memang mulai sensitif.
"Nggak, Firda sayang, seperti yang Abang bilang tadi, kulit kamu hanya semakin cerah dan tubuh kamu semakin bahenol." kekeh Hamish meminjam istilah yang sering Firda sebutkan untuk Mawar.
"Dimata Abang kamu semakin cantik, aura kamu semakin berbeda. Abang jadi semakin cinta sama, kamu." Hamish merengkuh bahu Firda, mengecup puncak kepalanya lama untuk menenangkan Firda.
"Jangan dengarkan ucapan orang lain jika itu merusak suasana hatimu, jika kamu terpengaruh dengan ucapannya maka dia akan sangat senang. Apalagi jika kamu sedih, dia akan melompat-lompat kegirangan. Jadi jangan berikan dia kesenangan itu!
Bagaimana kalau kita jalan-jalan?"
"Kemana?"
Firda menggeleng.
"Aku mau di rumah saja."ucap Firda membaringkan tubuhnya, rasanya dia mengantuk sekali.
"Ya sudah, kita ngobrol saja kalau begitu." Hamish ikut berbaring, namun dia tidak tidur. Ba'da ashar adalah waktu yang terlarang untuk tidur.
"Abang saja yang bicara, aku mendengarkan," suara Firda sayup-sayup sampai dengan mata yang sudah mulai terpejam.
Hamish bukan berbicara seperti yang Firda katakan, tapi dia bersholawat dengan suara yang lirih. Mengusap pelan perut Firda dan berharap agar sedari masih berbentuk embrio, calon anak mereka menyukai sholawat dan mencintai Rasulullah.
Hamish tahu jika mood Firda mulai naik turun. Belum hamil saja Firda suka angin-anginan, apalagi sekarang tengah hamil muda.
Hamish tahu Firda menyembunyikan sesuatu, sama seperti ketika dia difitnah kalau dirinya suka ringan tangan. Firda terlihat pendiam dan bertanya secara tersirat memberitahukan apa yang sudah terjadi, sama seperti tadi. Hamish yakin ada yang mengomentari perubahan fisiknya.
Hamish menatap wajah Firda yang sudah terlelap. Dan Hamish sangat tahu jika Firda belum siap menjadi seorang istri, apalagi menjadi seorang ibu. Tetapi perbuatan isengnya sendiri yang menggiringnya ke situasi yang sekarang ini.
Tangan Hamish mengelus pelan rambut Firda, lalu mengecup kedua mata Firda yang terpejam sembari berucap lirih.
"Abang sayang sama kamu, Fir."
...*****...
Gita menatap takjub pada bangunan mansion megah yang ada dihadapannya, dirinya seakan berada dalam sebuah drama atau telenovela.
__ADS_1
Gadis biasa yang menjalin hubungan dengan seorang pria kaya.
Huh, pasti ini mimpi, atau ini kediaman bosnya atau kerabatnya.
"Ayo! " ajak Noah melihat Gita yang terus berdiri di samping pintu mobil.
"Kita ditempat siapa? Artis atau pejabat?" bisik Gita meraih tangan Noah, dia merasa insecure.
"Kediaman para opa dan oma, jangan takut! Mas kan pernah cerita."
"Para opa dan oma? Kapan?"
"Nanti pulang dari sini."
Gita langsung mencubit lengan Noah, Noah terkekeh.
Noah membawa Gita menuju ruang keluarga, di sana sudah berkumpul Oma Gaia, Oma Regina, Oma Quina dan Oma Freya. Para opa juga ada, ada opa Elang, opa Wahyu yang sudah sangat sepuh, opa Adan dan opa Aditya yang sama sepuhnya dengan opa Wahyu.
Semua menatap ke arah Gita dengan mata yang sudah berkaca-kaca, terutama opa Elang.
Melihat pasangan Noah dan Gita, beliau seakan melihat film lama yang diputar ulang dalam memorinya. Almarhum opa Tyo dengan Oma Clara, pasangan yang memiliki usia yang sangat jauh.
"Opa, aku membawanya kemari seperti yang opa maui, tapi opa jangan bersedih! Opa pasti ingat opa Tyo dan Oma Clara, iya kan?"
Noah menatap wajah sepuh opa Elang yang sangat mirip dengan kakek buyutnya.
"Aku akan mengulang kisah mereka, Opa. Agar kisah opa Tyo selalu hidup lewat anak keturunannya." janji Noah menggenggam tangan opa Elang, pria sepuh itu hanya mengangguk.
Gita yang tidak tahu apa-apa hanya bisa tersenyum canggung, mendekati Oma Freya yang melambai kearahnya.
Kehadiran Noah yang membawa Gita, mengingatkan mereka semua pada para pendahulunya.
"Kenapa Ryu tidak datang?" tanya opa Wahyu dengan suara yang bergetar karena usia.
"Aku disini, Opa."
Ryu berjalan cepat dengan menarik Sisil untuk mencium punggung tangan opa Wahyu.
Pipi Oma Quina sudah basah, dia sangat merindukan kedua orang tuanya.
Apakah waktunya sudah semakin dekat?
ke empat pasangan sepuh itu seolah melihat para orang tua mereka lewat pasangan Ryu dan Noah.
Antara rindu, haru dan banyak rasa yang ada di hati para opa dan oma melihat cucu mereka yang membawa gadis-gadis remaja yang menjadi calon istri bagi keduanya.
...****************...
Setua dan sesepuh apapun seseorang, dia tetaplah seorang anak bagi orang tuanya.
__ADS_1