Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK

Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK
65. Imajinasi


__ADS_3

Hamish melirik ke arah Firda, sepanjang perjalanan menuju ke kampus jari tangannya terus menscroll berbagai aneka makanan. Hamish hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.


Pantasan saja dia menginginkan sate kerang, yang dilihat seperti itu terus.


"Fir,"


"Hmm,"


"Masih menginginkan sate kerang?"


"Kenapa? Abang kan udah janji malam tadi katanya hari ini, jangan ngeles lho."


Hamish terkekeh. Memang ada ya orang mengidam seperti Firda, sudah semalaman kok masih awet menginginkan sate kerang.


"Nggak, selain kandungan dalam kerang mengandung protein, zat besi, vitamin A dan B12 serta rendah Mercuri. Didalam Kerang juga mengandung asam lemak omega, apa kamu tahu salah satu manfaat zat besi?"


Firda tidak menjawab, dia hanya menatap wajah Hamish.


"Zat besi mempengaruhi meningkatkan produksi hormon testosteron, kamu tahu kan artinya?"


Firda langsung searching, lalu menganggukkan kepalanya. Ada rona sedikit malu terlihat di sana. Hamish kembali terkekeh.


"Konon katanya bisa semakin meningkatkan libido pria dan wanita lho, nggak mungkinkan kalau kamu makan masak Abang cuma ngelihat aja. Abang bisa jadi makan lebih banyak dari kamu, selanjutnya..." Hamish mengedipkan matanya genit ke arah Firda, tangan Firda refleks langsung mencubit paha suaminya.


" Menurut The Food Journal and Food, Nutrition & Science, kerang termasuk makanan aphrodisiac karena bentuknya yang memiliki kemiripan dengan organ seksual wanita. Begitu pula dari segi bau dan teksturnya. Kombinasi dari sensasi inilah yang pada akhirnya semakin dapat membangkitkan serta meningkatkan semangat dan gairah untuk ehem-ehem.


Abang takut nggak bisa nahaaaannn..." Hamish tergelak.


Ternyata Hamish kalem-kalem begitu ternyata mesum juga.


Firda sedikit berpikir dengan apa yang baru diucapkan oleh suaminya, membayangkan bentuk kerang. Selanjutnya kedua matanya membulat penuh.


"Nggak jadi, nggak jadi." Firda menutup wajahnya dengan telapak tangan karena malu.


Yess


Pelan-pelan Hamish menghembuskan napas lega, satu permintaan Firda bisa di cancel.


Kenapa sih imajinasinya sampai ke situ? Apa memang mirip?


...*****...


"Kenapa lesu? Sisil mana? Kok belum sampai?"


"Mana aku tahu, memang aku ibunya." jawab Gita jutek, wajahnya terus ditekuk.


Saat menemukan uang kertas dua ribuan di jalanan yang becek bisa dibayangkan bagaimana leceknya, lebih kurang seperti itulah wajah Gita saat ini.

__ADS_1


Firda tertawa, "Kau seperti kurang sajen, nggak dapat jatah tadi malam, neng?" towel Firda pada dagu Gita, temannya itu langsung menepis tangan Firda dengan kesal.


"Hah, pasti Sisil kecapean makanya tidak ke kampus, seperti aku. Bergelut melelahkan tapi sangat menyenangkan, membikin candu." Firda terkekeh, Gita semakin mencebik.


"Git, apa kau tahu kenapa ehem-ehem membuat candu? Apalagi laki-laki, tidak ada kata untuk menolak. Coba kau jawab kenapa?"


"Augh ah gelap, jangan membahas itu! Aku kan tidak tahu rasanya seperti apa? Yang aku tahu cuma menyakitkan, enakan kiss-kissan saja."


Firda menautkan kedua alisnya hingga menyatu, sepertinya Gita sedang bermasalah. Wajahnya jutek terus.


"Kalau cuma kiss-kissan saja kau tidak akan pernah mengandung, lagipula hamil itu asik lho. Sejak aku hamil, pengennya dimanja terus sama bang Hamish."


Gita diam saja.


"Kau kenapa? Bicaralah! Kau sedang bertengkar dengan Mas Noah? Kalian kan baru menikah, sedang manis-manisnya seperti Sisil saat ini. Masak sudah bertengkar? Atau Mas Noah tidak seperti yang terlihat sebelumnya, menyakiti dirimu misalnya. Nggak mungkin kan?"


Gita membuang napasnya kuat lalu menggeleng.


"Nggak ada apa-apa, mungkin aku sedang PMS saja."


"Oh"


...*****...


"Nih!" Hamish menyerahkan sepuluh tusuk sate kerang dengan olahan khas daerah ujung pulau Sumatera saat menjemput Firda di kampus.


Saat ini ketika Firda sudah tidak lagi keberatan atau mengatakan belum siap karena sudah hamil saja Hamish sudah patut bersyukur, apalagi hanya meminta sate kerang. Hamish akan berupaya menurutinya.


Firda melihat Hamish dan sate yang ada di tangannya secara bergantian.


"Bukankah pagi tadi Abang bilang akan membuat gairah meningkat dan itu bisa saja membuat kandungan ku jadi sedikit beresiko kalau sampai kita..."


"Kalau sedikit tidak apa-apa, selama ini kan aman-aman saja. Kecuali jika kita terlalu bersemangat, makanlah! Tapi jangan semua, kita bagi dua."


Firda mulai memakan satu, lalu mengamati bentuknya. Sudah tidak terlalu persis sih, karena sudah berubah bentuk dan tertutup dengan bumbu. Melihat kelakuan istrinya Hamish hanya bisa terkekeh.


"Tidak perlu di perhatikan begitu, kan cuma mirip tapi bukan." ujar Hamish mengusap pelan kepala Firda.


Firda menyuapkan sate ke mulut Hamish karena suaminya itu sedang menyetir.


"Abang dapat beli dari mana?"


"Orang tua dari salah satu karyawan cafe yang membuatkan, kebetulan mereka berasal dari Medan."


"Oh."


"Kamu menginginkan apa lagi?"

__ADS_1


Firda menggeleng.


"Aku cuma ingin, Abang."


Hamish tergelak.


"Makanannya saja belum di proses, Fir? Sudah kelihatan saja manfaatnya."


"Pencernaan dan metabolisme tubuhku kerjanya ekspress, Bang."


"Iya, percaya."


...*****...


Hari ini Gita tidak dijemput oleh Noah karena suaminya itu sedang membuat temu janji pada kliennya.


Mood Gita semakin bertambah buruk saat sampai di rumah, ibunya memberitahukan kalau Sisil sudah di bawa pindah ke rumah milik suaminya jam sepuluh pagi tadi. Pantas saja Sisil tidak ke kampus, rupanya dia sudah diboyong pergi.


"Kau, kapan di bawa pergi oleh, Noah?"


Ibunya Gita bertanya santai sembari membereskan letak perabotan rumah yang menurut pandangannya sudah tidak sesuai lagi.


"Ibuk mengusir aku? Jadi bener ya kata orang-orang kalau anak sudah menikah itu sudah tidak dianggap anak lagi, kehadirannya sudah menjadi beban."


Ibunya Gita menatap aneh pada putrinya lalu menggeleng.


"Kata siapa? Selamanya kau tetap anak Ibuk dan bapak, Ibuk kan cuma bertanya.


Kalau terlalu lama kalian ada disini, suamimu terlihat sungkan dan geraknya jadi terbatas.


Apa suamimu tidak mengajak dirimu pindah? Noah kan juga sudah punya rumah sendiri."


"Aku belum siap, Buk."


"Belum siap untuk apa? Kau tinggal masuk rumah hanya dengan membawa diri, tidak seperti ibuk dan bapak dulu. Awal menikah kami mengontrak rumah petak, setelah tabungan cukup baru membeli rumah ini dengan cara menyicil. Kau tamat SMU kemarin baru lunas, ini kau tinggal masuk rumah saja pakai ngomong belum siap."


Gita diam, kepalanya menoleh ke arah rumah orang tua Sisil. Tidak ada lagi temannya untuk berbagi cerita seperti biasa, hati Gita mendadak sepi.


"Git, kau harus banyak-banyak bersyukur mendapatkan suami seperti, Noah. Sudah tampan, berasal dari keluarga kaya lagi, kalau soal usia...Ibuk lihat Firda tidak ada masalah, terlihat bahagia malah. Turuti saja apa yang menjadi keinginan suamimu, jangan terlalu banyak permintaan agar suamimu tidak bosan padamu.


Di luaran sana ibuk yakin banyak yang ingin menjadi istrinya, kau beruntung karena Noah justru memilih dirimu.


Pesan ibuk, jika Noah mengajak pindah, ikuti! Kalau kau rindu rumah ini, kau bisa ke sini sepulang dari kampus atau kapanpun kau mau."


Gita mengangguk. Dia tidak sabar menunggu Noah pulang dan mengatakan kalau dia bersedia diajak pindah.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2