
Kembali pulang dari Mansion menuju ke kompleks perumahan tempat tinggal Sisil, gadis itu lebih banyak diam, tidak cerewet seperti berangkat tadi. Ryu yang semula naik sepeda motor berganti dengan mobil. Para opa dan oma melarang karena hari sudah malam, kuatir Sisil jadi masuk angin. Bisa di cap sebagai pria yang tidak bisa melindungi calon istrinya jika itu sampai terjadi.
Di mobil yang berbeda, Gita berkali-kali menatap ke arah Noah yang fokus dengan kemudinya.
Melihat bagaimana harmonisnya hubungan keluarga calon suaminya di mansion tadi, serasa Gita sedang jatuh cinta pada Noah saat ini.
"Jangan ngeliatin terus! Nanti bisa terkilir lehernya."
Gita mesem, "Tahu nggak dimana letak seksinya seorang pria?"
Pertanyaan apa ini?
"Pada saat tidak berpakaian mungkin?"
"Asal, bocah-bocah banyak yang nggak pakai baju, biasa aja." sangkal Gita.
"Terus? Pada saat apa?"
"Pada saat mengerjakan sesuatu yang berat, dengan bibir mencucu ke depan kayak ikan cucut. Di situ seksinya." Gita terkekeh, yang ada dalam bayangannya bukan Noah. Seperti biasa, masih saja terbayang kakak laki-laki Firda yang sudah ditaksirnya sejak zaman putih abu-abu.
Noah bengong, dari sudut mana bisa dikatakan seksi? Pasti pertanyaan menjebak.
"Oke, cara pandang pria dan wanita memang berbeda. Kamu mau tahu keseksian seorang wanita itu bisa dilihat dari mana?"
Aaah...Gita nyesal, kenapa dia iseng bertanya seperti itu. Nanti kalau dia menjawab saat tidak berpakaian, Noah akan membalikkan jawabannya.
"Apa ya?" Gita pura-pura berpikir, padahal dia sama sekali tidak mau berpikir. Karena sudah yakin jika jawabannya pasti salah.
"Nyerah," Gita belum apa-apa sudah pasrah, payah.
"Tentu saja saat polos seperti bayi, mau Mas bilang saat masak? Mas yakin kamu nggak bisa masak, mau di bilang beres-beres rumah? Palingan juga kamu bisanya nyapu dengan ngepel sambil nyetel musik kencang-kencang."
Gita terkekeh, tahu aja dia.
Ryu dan Sisil berada jauh di bel, dari mobil yang dikendarai oleh Noah dan Gita, karena Ryu mengendarai mobilnya sedikit lebih lambat. Biasa, biar lebih lama sampai ke rumah Sisil.
Kalau orang yang sedang jatuh cinta kan gitu, mau berduaan terus. Semua gara-gara opa Wahyu yang kembali teringat bagaimana dirinya dulu yang diam-diam jatuh cinta pada Oma Quina, Ryu kan jadi semakin semangat ingin merasakan suasana yang hampir sama seperti yang di rasakan opa Wahyu. Memiliki pasangan yang masih remaja dan menggemaskan, lihat saja tingkah Sisil!
"Bang, ternyata Abang itu manis sekali jadi cucu ya?"
"Cuma manis jadi cucu? Lainnya memang nggak?"
"Ya nggak tahulah, kan belum aku cicipi." Sisil tergelak, lalu buru-buru keluar dari mobil Ryu.
"Nggak usah singgah, langsung saja pulang! Nanti aku pamitkan pada ayah dan ibu. Kalau lama-lama berduaan dengan Abang, aku kuatir ngajak Abang nikah malam ini juga." Sisil langsung membalikkan badannya menjauhi mobil Ryu sebelum calon suaminya itu membalas ucapannya.
Sisil bukannya masuk kedalam rumahnya, justru berlari-lari kecil masuk ke rumah Gita.
__ADS_1
Gita ternyata lebih dulu sampai di rumah, tidak terlihat bayangan Noah ada di depan rumah Gita. Ryu lalu melajukan kembali mobilnya menuju pulang ke rumah.Benar kata Sisil, terlalu lama berduaan membuat otaknya menjadi semakin korsleting.
...*****...
[ Bang, jangan pulang dulu! Aku mau nyusul ke sana,]
Tanpa menunggu balasan pesan dari Hamish, Firda sudah keluar dari dalam kamarnya. Kedua mertuanya kebetulan sedang duduk-duduk santai di teras.
Sebenarnya yang duduk santai sih Abah, Umi sedang merawat tanaman bunganya.
Katanya sih bunga, tapi yang ada daun semua. Terserah Umi saja, Firda tidak suka menanam kembang. Dia sukanya di tanami, eh.
"Umi, Abah, Firda boleh main ke tempat bang Hamish? Ini kan malam akhir pekan, mumpung sudah nikah, bolehkan?"
Abah langsung tertawa tanpa suara, ternyata menantunya itu kelihatan saja yang badung namun sepertinya tidak pernah dia keluar malam.
"Memangnya sudah bilang sama, Hamish? Nanti dia keburu pulang, ini sudah sore." ucap Umi menatap suasana yang memang sudah menjelang senja.
"Sudah, Umi."
"Mau naik apa ke sana? Ojol?" tanya Abah sembari menutup buku tebal yang selalu dibacanya setiap beliau duduk sendirian, Firda tidak tahu Abah membaca apa. Tetapi saat beliau sudah membuka buku tebal dengan sampul berwarna coklat tua itu, Abah begitu terlihat serius.
"Diantar Raka, Bah, tuh!" tunjuk Firda pada Raka yang datang dengan sepeda motor barunya, sepertinya rayuan Raka waktu itu sudah meluluh lantakkan dompet ibunya.
"Ya sudah, pergilah! Ka, hati-hati! Kakakmu sedang hamil muda." pesan Umi pada Raka.
Sampai di parkiran cafe D'Nnongkrongs, Raka segera diusir Firda untuk segera pulang.
"Kak, aku ditawari masuk dan minum gitu lho! Masak punya ipar yang memiliki cafe tapi aku nggak pernah merasakan nongkrong di cafe, percuma dong aku mengantar kakak kesini."
"Kau masih kecil, belum cocok nongkrong di cafe. Uang jajan saja masih minta, ntar kalau kau sudah bisa cari uang sendiri baru kau boleh nongkrong di cafe. Lagian sebentar lagi magrib, anak kecil dilarang keluyuran magrib-magrib. Cepat pulang! Nanti kakak kirimin pulsa." janji Firda.
Raka cuma melengos, percuma juga memaksa kakaknya karena Firda sudah keburu masuk ke dalam cafe.
Firda memakai setelan celana jeans dengan atasan hoodie kaus berbahan lembut warna pink muda. Rambutnya yang panjang di ikat ekor kuda dan ditutupi dengan topi hoodienya.
Hamish yang sudah melihat kedatangan Firda bermaksud mendekatinya, tetapi Firda memberikan isyarat dengan gelengan kepala.
Maunya apa sih? Mau menyamar? Untuk apa?
Firda mengambil tempat duduk di pojokan, salah satu karyawan mendekat dan menanyakan Firda mau pesan apa.
Firda nyengir ke arah suaminya, Hamish hanya bisa menggeleng kepala pelan.
"Dia pesan apa?" tanya Hamish pada karyawannya.
"Siapa, Pak?"
__ADS_1
"Yang di pojokan itu istri saya,"
"Hah?"
Si karyawan menoleh ke arah Firda, terlihat Firda terkekeh, karyawan hanya bisa minta maaf karena tidak mengenali istri dari bosnya. Cepat-cepat dia pergi ke belakang untuk membuatkan pesanan Firda.
Hamish melangkah mendekati Firda, lalu menggeser kursi dan duduk di hadapannya.
"Apakah ini permintaan pertama dari mengidammu?"
"Nggak."
"Terus."
"Iseng aja, ternyata pergi dan nongkrong sendiri itu nggak asik."
"Masih mau bertahan disini? Pulang yuk, Abang gerah pengen mandi!"
"Aku baru datang, Bang, ini kan malam akhir pekan. Pacaran dulu kek kita, biar ada yang diceritakan besok sama anak cucu. Masak kita nggak pernah pacaran."
Hamish menaikkan sebelah alisnya.
"Saat kamu datang ke KUA, mengarang cerita indah, itu akan sangat menakjubkan untuk diceritakan pada anak cucu kita,Fir." Hamish mengedipkan matanya genit, Firda mencebik.
"Jadi Abang menyesali tindakan aku, gitu?"
"Ya nggak dong, Abang bersyukur malah. Kalau tidak karena keisengan kamu, nggak akan ada bagian dari diri Abang sekarang ada di dalam rahim kamu. Kita pacaran di luar saja, masak disini. Nggak enak dilihatin sama anak-anak."
Firda menatap ke arah pintu bagian belakang tempat segala pesanan pengunjung di buat, tempatnya di buat sedikit terbuka agar pembeli tahu kebersihan dan bagaimana pesanan mereka di siapkan.
Tiga orang Karyawan Hamish yang sedang menunggu pesanan pengunjung untuk diantar ke meja mereka, curi-curi pandang ke arah Hamish dan Firda. Terlihat sesekali bibir mereka bergerak-gerak seperti seorang dukun yang sedang membaca mantra.
"Pacarannya dimana? Di rumah? di kamar? Nggak mau."
"Kemana saja yang kamu mau."
"Katanya Abang gerah, mau mandi."
"Nggak jadi, mandinya nanti saja kalau mau tidur. Yuk, cari mesjid terdekat! Sebentar lagi magrib."
Saat Hamish menemui salah satu karyawan kepercayaannya karena hendak pulang, Firda menyambar gelas yang berisi minuman pesanannya dan membawanya keluar. Di pintu keluar tanpa sengaja ekor matanya menangkap kedatangan Syakila bersama dengan dua orang temannya. Firda buru-buru berjalan mendekati mobil Hamish di tempat parkiran, Firda sedang malas ribut. Apalagi ditempat usaha suaminya, bikin malu.
Ngapain dia kemari? Cari gratisan?
Terlihat Hamish berlari-lari kecil menuju keparkiran, Alhamdulillah tidak bertemu dengan Syakila. Kalau ketemu bisa panjang ceritanya.
...****************...
__ADS_1