Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK

Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK
72. Menolak


__ADS_3

"Apakah anda berdua ingin tahu jenis kelamin bayinya?" tanya dokter Nora. SpOG ketika Hamish mengajak Firda untuk memeriksakan kandungannya.


"Kamu ingin tahu, Fir?" tanya Hamish terlebih dahulu pada Firda, kuatir istrinya tidak setuju jika dirinya mengiyakan.


"Nggak, Bang, tunggu saja sampai lahiran. Biar jadi kejutan, toh kita berdua juga tidak memiliki keinginan bayi perempuan atau laki-laki. Yang penting orang dan sempurna."


Hamish meraih telapak tangan Firda, menggenggamnya erat lalu mengangguk.


Karena tangan ada di bawah meja, dokter tidak mungkin dapat melihat jika Hamish dan Firda saling meremas jari tangan.


Untung jarinya nggak pada copot dari kusut ya, Bang Hamish.


"Untuk saat ini, bagaimana pertumbuhannya saja. Apakah semua sesuai dengan usia dan fase perkembangannya?" Hamish menolak halus tawaran dokter untuk USG mengetahui jenis kelamin calon anak mereka.


"Alhamdulillah, semua baik-baik saja dan sesuai dengan usianya. Teruslah buat perasaan calon ibu bahagia, agar perkembangannya tidak terganggu."


Hamish juga ikut mengucapkan hamdalah, rasa syukur tiada henti Hamish ucapakan dengan suara perlahan.


Keluar dari ruangan dokter, di lobi rumah sakit mereka berdua bertemu dengan pasangan Noah, Gita, Ryu dan Sisil.


Sudah bisa diduga keriuhan sesaat langsung terjadi ketika ketiganya bertemu, seolah mereka tidak bersua selama sebulan padahal baru siang tadi juga bersama di kampus.


"Apa kalian tidak bisa pergi sendiri-sendiri? Kenapa terus bersama-sama?" sapa Hamish pada Ryu dan Noah.


"Bukan kami yang mau, Mish, tapi Sisil dan Gita sudah janjian. Kami bisa apa?"


"Kau tahu sendiri, istri yang hamil muda banyak maunya." tambah Noah.


Gita dan Sisil kehamilannya hampir sama, karena sama tanggal nikah dan buka segelnya. Berbeda dengan usia kandungan Firda yang dua bulan lebih tua dari usia kandungan Sisil dan Gita.


"Tapi aku bahagia, tidak peduli Sisil makin kolokan, asal dia mau hamil tanpa keberatan itu sudah lebih dari cukup." ucap Ryu terlihat sangat bahagia sembari melihat ke arah Sisil yang tengah meletakkan telapak tangannya di atas perut Firda, begitu juga dengan Gita. Sepertinya mereka sedang mencoba merasakan gerakan janin yang berada di dalam perut Firda.


Ryu, Noah dan Hamish ikut melihat ke arah ketiganya. Terutama Hamish, dia sedikit merasa insecure.


Dia suami Firda, dirinya juga ayah dari bayi yang berada dalam kandungan Firda, kenapa kedua temannya yang merasakan gerakan pertama calon bayinya.


"Nggak kerasa, Fir." Gita menarik tangannya, Sisil juga ikut menarik tangannya sembari mengangguk. Dia juga tidak merasakan gerakan calon bayi Firda yang katanya tadi bergerak.


"Bagaimana kalian bisa merasakan, yang bergerak kan baru bulu matanya." kekeh Firda, Gita dan Sisil langsung mencebik karena di usilin oleh Firda.


Hamish yang semula merasa kecil hati, menghembuskan napas lega. Ternyata semua itu cuma keisengan dari Firda.

__ADS_1


"Sabar saja, nanti kamu juga akan merasakan gerakan di perut kamu." ujar Ryu mendekat dan menggeram tangan Sisil, lalu membawanya berjalan ke arah ruang praktek dokter Nora. Dokter yang sama yang Hamish dan Firda datangi tadi.


"Dua bulan lagi baru bergerak, masih lama."


"Nanti pulang dari sini Abang buat dia menari, bukan cuma bergerak."


Sisil langsung mencubit perut Ryu, "Abang bisa aja," ucapnya manja sembari menggamit manja lengan Ryu.


"Rumah sakit, rumah sakit, ditahan, ditahan." ejek Gita dari belakang, padahal dia juga gandengan sama Noah.


"Fir, memangnya tadi bayi kita sudah bergerak? Kenapa tidak memberitahu, Abang? Abang pengen rasa lho." ujar Hamish membukakan pintu mobil untuk Firda.


"Ada sih, Bang, cuma masih samar. Tenang saja! Nanti aku bisikin sama anak kita supaya dia bergerak kalau dielus sama, Abang."


"Hah? Memang bisa gitu?"


...*****...


Sampai di rumah, ternyata sudah ada bang Jojo dan Syakila duduk di ruang tamu bersama Abah dan Umi.


Bukan hanya Hamish yang mengerutkan dahinya dengan kedatangan pasangan pengantin baru itu, Firda juga.


Mereka kan tidak akrab, sepupu rasa musuh hanya gara-gara Hans.


"Waalaikumussalam." jawab semuanya bersamaan.


"Ini dia orangnya baru pulang dari rumah sakit," ujar Umi melihat ke arah Firda yang tetap memperlihatkan wajah bingungnya.


"Sya, kamu ngapain ke sini? Tahu dari mana pula alamat rumah ini?" bisik Firda sembari tersenyum serba kikuk ke arah Abah, Umi dan bang Jojo.


"Tadi kami ke rumah orang tuamu, diberikan alamat rumah ini. Memang nggak boleh ke sini?"


"Bukan, hanya saja..."


Ekhem.


Deheman Abah membuat Firda menghentikan bisik-bisiknya.


Bang Jojo ikut berdehem pelan sebelum berbicara.


"Begini, Bang, hmm..."

__ADS_1


"Panggil saja, Hamish, usia kita hampir sama kan?" sela Hamish merasa tidak nyaman di panggil Abang, seolah dirinya lebih tua dari bang Jojo.


Bang Jojo tersenyum.


"Oke, biar enak ya. Kami tadi ke kantor perumahan, rencana mau membawa Syakila tinggal secara mandiri. Ada rumah yang langsung menarik hati, saya dan Syakila sangat menyukai lokasi rumah itu. Menurut orang perumahan itu sudah di pesan orang lain, usut punya usut katanya rumah itu sudah dipesan..." bang Jojo menunjuk Hamish dengan telapak tangan agar terlihat sopan, Hamish tersenyum kecil.


Firda menatap wajah suaminya dengan banyak pertanyaan, Hamish tetap tersenyum.


"Jadi maksudnya supaya saya melepaskan untuk kamu dan istrimu miliki? Kan masih ada beberapa rumah yang belum di beli oleh orang lain."


Hamish keberatan kalau harus melepas rumah yang sudah dipilihnya, memang belum lunas dan belum tentu juga dia dan Firda akan pindah karena ternyata Firda setuju untuk tetap serumah dengan mertuanya. Tetapi Hamish juga menyukai lokasinya.


Bang Jojo tersenyum dengan sangat tidak nyaman.


"Memang masih ada beberapa yang belum ada pemiliknya, tetapi rumah yang kamu pilih tempatnya sangat strategis. Dekat dengan mesjid, mini market, klinik kesehatan dan tidak jauh juga dari gerbang tempat keluar masuk warga kompleks perumahan.


Menurut informasi dari keluarga, kalian kan tidak jadi pindah. Jadi..."


Bang Jojo mengusap belakang kepalanya, dia benar-benar merasa tidak nyaman sekali mengatakan semua. Namun mau bagaimana lagi, dia dan Syakila sudah jatuh cinta dengan rumah pilihan Hamish.


Tentu saja Hamish dapat rumah yang sangat strategis lokasinya, karena itu kan rumah percontohan. Hanya karena Hamish teman Ryu dan Noah makanya Om dari Noah melepaskan rumah itu untuk bisa di miliki oleh Hamish.


"Kami memang rencana akan tetap di sini menemani Abah dan Umi sampai waktu yang tidak bisa di tentukan, tetapi tidak untuk selamanya. Karena bagaimanapun ini rumah Abah dan Umi yang akan menjadi tempat kami adik beradik. Suatu hari saya dan Firda akan tinggal bersama anak-anak kami di rumah kami sendiri, iya kan, Bah, Umi."


Abah dan Umi yang dari tadi cuma menyimak apa yang Hamish dan bang Jojo bicarakan tersenyum kecil, tetapi mereka berdua setuju dengan apa yang Hamish katakan.


Walaupun Hamish dan Firda yang menemani mereka berdua, namun ada hak waris kedua adik perempuan Hamish di situ. Apalagi mengingat Firda yang masih suka angin-anginan.


Tau-tau nanti minta pindah rumah saja, Hamish yang kalang kabut.


Meskipun belum ditempati, justru Hamish memiliki banyak waktu dan persiapan untuk merubah sedikit atau menambah bangunan sesuai keinginannya. Siapa tahu dirinya dan Firda sesekali menempati rumah itu untuk sekedar ganti suasana.


"Baiklah, maaf jika kami berdua telah salah beranggapan jika kalian akan melepas rumah itu karena tidak jadi pindah, kuatir di dulukan oleh orang lain."


"Nggak apa-apa, jika saya berada di pihak kalian, mungkin saya akan melakukan hal yang sama." ujar Hamish agar bang Jojo tidak terlalu merasa tidak enak hati.


"Bang, jadi Abang sudah beli rumah sendiri, terus, kapan bisa di tempati?" tanya Firda setelah Syakila dan bang Jojo sudah pulang dan mereka sudah berada di dalam kamar.


"Fir, kita kan sudah sepakat kalau kita tetap di sini."


"Sesekali, Bang, sehari dua hari, anggap saja liburan."

__ADS_1


Tuh kan?


...****************...


__ADS_2