
"Ibu hamil akan mengalami lonjakan hormon dan peningkatan aliran darah ke leher rahim atau serviks. Hal ini membuat serviks menjadi sangat sensitif dan lebih mudah teriritasi, sehingga bisa mengeluarkan flek. Selain itu, iritasi serviks juga dapat disebabkan oleh infeksi saat bercinta. Sebisa mungkin ketika bermesraan sedikit lembut dan jangan tergesa-gesa, apalagi usia kandungan masih sangat muda."
Penjelasan dari dokter kandungan yang Alhamdulillah dokternya perempuan membuat Hamish tertunduk malu, namanya juga masih pengantin baru. Apalagi usia Hamish sudah matang, bagaimana dia tidak bersemangat saat memadu kasih dengan istrinya.
Firda yang masih tidak percaya jika dirinya hamil masih belum fokus dengan apa yang dikatakan oleh dokter, pikirannya menerawang entah kemana-mana.
Dia hanya menatap foto hasil USG yang memperlihatkan bulatan kecil dengan ukuran beberapa sentimeter yang ada ditangannya, tatapannya beralih pada perutnya yang masih rata.
Usianya belum genap sembilan belas tahun, tiga bulan lagi baru pas. Kalau di hitung-hitung, tahun depan dia sudah menjadi seorang ibu. Membayangkannya saja Firda sudah menggeleng-gelengkan kepalanya merasa tidak siap.
"Bang, kalau di gugurkan dosa nggak?" bisik Firda di belakang punggung Hamish, seketika Hamish terjangkit kaget.
Belum hilang rasa malunya karena dengan tersirat dokter tahu jika dia dan Firda tadi terlalu bersemangat saat mengarungi lautan cinta, sekarang Firda mengatakan menggugurkan kandungan dosa atau tidak. Baru juga beberapa menit yang lalu Hamish merasa sangat bahagia, sekarang sudah dihempaskan pada ketidakpercayaan.
Dokter wanita yang untungnya tidak mendengar bisikan Firda hanya diam menatap pasangan yang dia tahu pengantin baru itu berbisik-bisik.
"Apakah ada hal-hal yang patut saya dan istri saya hindari agar kandungnya baik-baik saja, dok? Hmm, maksud saya..." Hamish ingin cepat keluar dari ruangan praktek dokter agar sang dokter tidak tahu Firda barusan berbisik apa.
"Untuk sekarang di minum saja secara teratur vitamin yang saya berikan, untuk anda berdua, seperti yang tadi saya katakan. Senyamannya saja ketika melakukan hubungan badan, tapi jangan terlalu sering mengingat masa kehamilan yang masih rentan. Selebihnya tidak ada." jelas dokter dengan tetap tersenyum ramah.
"Terimakasih atas semua sarannya, Dok, kalau begitu kami permisi!"
Hamish menggandeng tangan Firda keluar dari ruangan dokter, mengikuti asisten dokter yang membawa mereka menuju ke apotik untuk menunggu vitamin yang sudah di diresepkan dokter tadi.
"Maksud kamu apa, Fir?" bisik Hamish di bangku tunggu di depan apotik.
"Bang, usiaku masih sangat muda, aku juga baru semester dua, masak aku sudah hamil aja. Dua tahun lagi lah, Bang! Kan dia masih belum bernyawa, belum dosa kan kalau kita buang?"
"Astaghfirullah, Fir, mau sudah di tiupkan ruh atau belum, tetapi dia hidup, Fir. Abang tidak akan pernah membuang sesuatu yang sudah sangat Abang harapkan, kita juga tidak memiliki hak untuk melenyapkannya. Memang kita siapa? Tuhan di atas Tuhan yang berhak menghilangkan yang sudah di ciptakan Allah? Kalau kamu tidak mau mengurusnya, biar Abang yang mengurus." wajah Hamish memerah menahan emosi, rahangnya sudah terlihat mengeras Siapa yang tidak marah mendengar kata di gugurkan, seketika amarah langsung menguasai dirinya.
"Abang marah? Aku kan cuma bertanya," Firda sudah mau menangis karena takut, belum pernah dia melihat wajah Hamish yang mengetat karena marah. Firda menggeser duduknya sedikit berjarak.
Hamish segera membaca Ta'awudz untuk mengusir syaitan agar segera menghilangkan amarahnya, setelahnya mengusap wajahnya pelan dengan telapak tangan.
__ADS_1
"Sini, duduk dekat Abang, jangan takut! Abang tadi cuma terkejut saja saat kamu bicara begitu." Hamish meraih tangan Firda tapi Firda menarik tangannya agar tidak bisa di jangkau oleh Hamish.
"Maafkan, Abang! Nanti kita bicarakan di rumah kenapa kamu belum siap, kita cari solusinya bersama."
"Aku mau pulang ke rumah ibuk!"
Hamish menggeser duduknya agar bisa dekat dengan Firda, Firdanya bergeser lagi. Belum sempat Hamish mendekat, petugas yang ada di apotek memanggil dirinya kalau vitamin yang diresepkan oleh dokter sudah selesai.
Setelah menyelesaikan semua administrasi, Hamish dan Firda berjalan menuju parkiran seperti dua orang yang sedang bertengkar. Firda berjalan dengan memberi jarak dari Hamish, pria dewasa itu hanya bisa menghembuskan napas kasar melihat kelakuan Firda.
Sepanjang perjalanan pulang Firda duduknya mepet ke pintu, kalau pintu tidak dikunci secara otomatis dan ada yang iseng membuka pintu pasti Firda langsung jatuh. Bibirnya terus terkatup rapat, sehingga Hamish mau berbicara jadi serba salah.
"Aku mau pulang ke rumah ibuk
" ulangnya kala mobil yang Hamish kemudikan menuju rumah Abah Surya.
"Fir, ini sudah hampir jam dua dini hari, masak pulang ke rumah ayah dan ibu jam segini. Jangan gitu dong, Abang minta maaf kalau tadi sudah marah sama kamu!" Hamish mencoba menyentuh punggung tangan Firda, tapi Firda kembali menyembunyikan tangannya.
"Fir, jangan marah, jangan mengambil keputusan disaat kamu bingung, nanti kita bicarakan baik-baik di dalam kamar kita, oke! Kamu bisa jelaskan mau kamu apa, jangan ngambek lagi ya!"
Terlihat Abah membuka pintu rumah, Umi juga muncul di sebelahnya. Hamish melirik ke arah Firda yang sekarang terlihat mau menangis lagi.
Ya, Allah... Sebenarnya apa sih yang ada di kepalanya?
Umi terlihat tidak sabar ingin bertanya, tetapi karena mendapat isyarat dari Abah agar membiarkan keduanya masuk dulu mulut Umi yang sudah terbuka mengatup kembali.
"Abah dan Umi akan dapat cucu lagi," ujar Hamish pelan merengkuh bahu Firda yang tersenyum samar.
"Alhamdulillah Ya Allah, " Abah dan Umi mengucapkan hamdalah bersama-sama.
"Akhirnya kamu akan menjadi orang tua, Mish," Umi mengusap pelan bahu Hamish terharu lalu memeluk Firda dengan sayang.
"Jaga kandunganmu baik-baik ya, Fir! Walaupun ini bukan cucu pertama buat Umi dan Abah, tetapi seperti yang pertama karena Hamish anak tertua. Kami sayang sama kamu, Nak!" Umi mencium dahi Firda lama.
__ADS_1
Firda hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Umi, boleh nggak Firda pulang ke rumah Ibuk." tanyanya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Umi melirik ke arah Hamish yang juga menatap ke arah Uminya, lalu bergantian menatap ke arah Abah. Abah memberikan kode mengangguk pelan.
"Kamu sungkan ya karena dalam kondisi hamil pasti kamu sedang ingin bermanja-manja dengan ibu dan ayah?"
Firda menatap Hamish, suaminya itu hanya diam saja. Tetapi lewat sorot matanya Firda tahu kalau suaminya itu keberatan.
Bukannya menjawab, Firda justru meremas ujung bajunya sendiri.
"Boleh kok, Nak, senyamannya kamu saja asalkan calon cucu Umi nggak rewel." ujar Umi mengelus rambut Firda.
Umi yang lembut dan tidak keberatan sama sekali dengan keinginan Firda justru membuat Firda jadi semakin ingin menangis.
"Iya, Umi, hanya beberapa hari saja, Firda kangen sama kamar Firda." ujarnya malu, Abah dan Umi cuma bisa tersenyum mendengar alasan Firda.
"Besok kan pulang ke rumah ibuk? Sekarang kita semua istirahat, dua jam lagi sudah menjelang subuh." ajak Abah sambil menguap dengan menutup mulutnya.
Abah dan Umi masuk kedalam kamar, begitu juga dengan Firda.
Hamish mengikuti langkah kaki Firda dari belakang tanpa bicara apa-apa.
Sampai di dalam kamar, Firda langsung saja naik ke atas ranjang tanpa mencuci muka, kaki dan berganti pakaian.
Hamish yang tahu Firda sedang merajuk, membasahi handuk kecil untuk mengelap muka, kedua tangan dan kedua kaki Firda.
Diperlakukan begitu dengan suaminya, diam-diam Firda menangis menyembunyikan wajahnya di balik bantal.
"Abang sayang sama kamu dan calon anak kita, Fir." bisik Hamish mencium puncak kepala Firda sebelum pergi ke kamar mandi untuk mandi wajib.
Hamish berniat sholat, mengadu pada pemilik kehidupan yang membolak-balikkan hati agar membuat Firda merasa siap dan menyayangi kehidupan yang baru tumbuh di dalam rahimnya.
__ADS_1
...****************...