Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK

Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK
73. Tawaran Abah


__ADS_3

"Abang bilang juga apa, Dek Sya, yang di pojokan juga bagus. Abang kan jadi malu sama Hamish dan kedua orang tuanya."


Bang Jojo kesal sama Syakila yang Keukeh ingin memiliki rumah yang sudah dipilih oleh Hamish.


Rumah itu memang terlihat asri dan adem, tapi kan sudah milik Hamish. Tetapi karena Syakila terus merengek dan mengancam tidak akan memberikan jatah batin untuk bang Jojo, terpaksa bang Jojo menuruti keinginan Syakila.


"Yey, kalau tidak di coba kan nggak tahu, dari pada penasaran? Lagipula kan nggak bakalan sering ketemu juga, nggak perlu malu lah, Bang.


Aku heran dengan Firda, kenapa kok nasibnya bisa mujur gitu ya? Kebaikan apa yang dulu pernah dilakukannya."


Bang Jojo diam saja, memang Firda terlihat mujur terus.


Perbuatan isengnya yang menggagalkan pernikahan orang lain justru menghantarkan dirinya pada keberuntungan demi keberuntungan yang terus diterimanya.


"Mungkin karena dia tidak pernah iri dengan orang lain, makanya dia disayang oleh suaminya."


"Jadi Abang nggak sayang sama aku? Terus menuduh hatiku busuk gitu?"


Tuh kan?


Bang Jojo menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Kenapa jadi serba salah?


"Kita kan sedang ngomongin Firda, Dek Sya."


"Iya, tapi ucapan Abang seolah mengatakan aku iri pada orang lain makanya aku tidak seberuntung Firda."


Bang Jojo menyentak napasnya kuat, lebih baik diam daripada bicara lagi nantinya salah lagi. Imbasnya dia sendiri yang rugi, Syakila ngancamnya kesitu terus.


...*****...


Firda terus merengek agar dibawa menginap ke rumah baru mereka tapi Hamish belum juga mau membawanya, jadi belakangan ini bibirnya terus mengerucut ke depan.


"Kenapa istrimu, Mish? Abah lihat dia terus cemberut, apa dia sedang tersinggung pada umi atau Abah?" tanya Abah sepulang keduanya sholat subuh di mesjid.


"Nggak, Bah, Firda hanya minta di ajak melihat rumah, masih dalam renovasi, Bah. Lagipula belum ada juga isinya, dia mau lihat apa?"


"Uang tabunganmu pasti sudah habis ya? Setelah mengeluarkan banyak uang untuk Mawar dulu, tidak lama pesta resepsi dengan Firda, selanjutnya membeli rumah."


Hamish tertawa kecil, tidak perlu mengiyakan ucapan Abah-nya. Karena dia yakin Abah juga tahu.


"Biar Abah dan Umi yang akan mengisi rumahmu, Mish, Abah ada tabungan sedikit. Jadi Abah rasa cukup untuk membeli perabotan."

__ADS_1


Hamish langsung memeluk bahu Abah.


"Terimakasih, Bah, tapi tidak perlu. Itu kan hanya untuk berjaga-jaga jika Firda ingin merasakan tinggal hanya berdua. Biar besok di cicil saja membelinya, insya Allah akan ada rezekinya sendiri. Bukankah Abah dan Umi berniat ke tanah suci lagi? Tidak boleh di alihkan ke yang lain, Bah.


Nanti sore aku bawa dia melihat ke sana, biar bibirnya tidak maju lima senti terus." kekeh Hamish, Abah ikut tertawa.


"Yang sabar ngemong anak kecil ya, Mish!" canda Abah membuat Hamish tersipu.


"Aku bahagia bersamanya, Bah."


"Alhamdulillah, Abah dan Umi juga bisa melihatnya. Kami juga bahagia jika kau juga bahagia."


"Iya, Bah. Aku betul-betul bersyukur memiliki istri yang nakal seperti dirinya, karena kenakalannyalah membuat kami menikah dengan cara yang tidak biasa."


"Itulah, Mish, cara Allah mempertemukan dirimu dengan jodohmu sangat indah bukan?"


Hamish mengangguk, mereka sudah sampai di depan rumah. Terlihat Firda yang sudah menikmati gorengan tempe mendoan yang baru di buat oleh Umi.


Wanita hamil memang tidak bisa menahan lapar.


...*****...


Hamish menepati janjinya, sore ba'da ashar dia membawa Firda melihat rumah yang kemarin hendak di minta atau di ambil alih oleh bang Jojo.


Baru melihat halamannya saja Firda sudah suka, di halamannya ada pohon mangga mini yang sedang berbuah. Ada pula beberapa pohon untuk penghijauan yang membuat rumah menjadi terasa asri dan sejuk.


Firda sangat menyukai halaman rumah itu. Dengan tidak sabar dia masuk ke dalam rumah yang belum ada perabotan apapun.


"Bang, kok belum ada isinya? Bagaimana kita mau menginap disini kalau belum ada ranjangnya, masa' tidur dilantai? Bisa patah-patah tulangku, Bang." bibir Firda cemberut lagi.


Hamish mengusap kepala Firda pelan.


"Sabar, Firda sayang! Setelah gajebo dibelakang siap, dan semua dipasangi pagar, baru ngumpulin uang lagi buat mengisi perabotan didalamnya. Abang kan tidak punya mesin yang bisa mencetak uang, dan Abang juga bukan sultan. Lagi pula rumah ini juga tidak untuk kita tinggali dalam waktu dekat."


" Iya juga, walaupun Abang bukan sultan di mata orang tapi Abang sultan di hatiku,"


Hamish terkekeh, kenapa sekarang Firda yang lebih doyan merayu dirinya. Apakah anak mereka perempuan? Sehingga Firda menjadi genit.


"Iya, kamu juga ratu di hati, Abang. Yang menguasai seluruh ruang atau bilik di dalam sini." tunjuk Hamish ke arah dadanya.


"Bang, nanti semua perabotan aku yang pilih ya!"


"Nggak warna pink kan?"

__ADS_1


"Nggaklah, aku bukan anak abege yang tergila-gila dengan warna merah muda. Pokoknya Abang nggak boleh beli sendiri, aku harus ikut."


"Iya, insya Allah."


Iya kan saja dulu, Mish.


...*****...


Kehamilan Firda sudah semakin mendekati hari lahir, Firda juga sudah mengajukan cuti di kampusnya.


Menjelang kelahiran bayinya, ibunya Firda meminta agar Firda tinggal di rumah mereka. Karena biasanya anak perempuan itu lebih nyaman di rumah orang tuanya sendiri dari pada di rumah mertua.


Umi dan Abah juga tidak keberatan, semua tergantung maunya Firda dimana. Yang penting cucunya akan lahir dengan selamat, Firdanya juga diberikan kemudahan dalam melahirkan. Masalah tinggal dimana tidak dipermasalahkan.


"Bang, apa tidak lebih baik kita di rumah sendiri aja? Aku nggak enak sama Umi kalau harus ke rumah ibuk."


Melihat Firda dengan perut besarnya, kedua pipinya juga jangan di tanya bagaimana tembemnya. Tapi dimata Hamish istrinya itu semakin menggemaskan.


Andai Firda setuju, Hamish ingin setelah Firda melahirkan dan selesai masa nifas langsung isi lagi. Biar sekalian repot, tapi apa Firda mau?


"Bang?" teriak Firda melihat Hamish bukan merespon ucapannya tapi justru senyam-senyum saja.


"Yakin?"


"Iya, jadi terserah siapa yang mau menemani kita di sana, Ibuk atau Umi."


Hamish mengambil sisir dan mulai merapikan rambut Firda yang di sanggul cempol secara sembarangan, mengikatnya dengan tinggi agar Firda tidak kegerahan.


"Nggak boleh gitu! Nanti Ibuk tersinggung, selama ini kita kan tinggal di sini. Jadi menurut Abang nggak apa-apa kita ke rumah ibuk, toh nanti kita balik lagi kesini. Abang yakin jika Umi tidak masalah."


"Beneran?"


"Iya, Abang kan sudah jadi anak Umi selama tiga puluh lima tahun, Abang tahu bagaimana hati Umi.


Apalagi kamu itu anak perempuan satu-satunya di rumah ibuk, juga cucu pertama kan? Kali ini kita ikuti mau ibuk ya."


Firda sudah mau menangis, dia segera memeluk Hamish.


Sejujurnya dia juga ingin pulang ke rumah ibunya, tapi hatinya juga merasa tidak enak kalau harus mengecewakan Umi yang sudah sangat baik padanya.


"Ya sudah, kita susun perlengkapan untuk anak kita! Besok pagi sebelum ke cafe Abang antar ke sana."


Firda mengangguk, satu masalah sudah selesai. Tinggal satu, kecemasan menghadapi kelahiran yang belum bisa Firda hilangkan. Walaupun Hamish, Umi dan Abah sudah sering menenangkan dirinya, tetap saja Firda takut.

__ADS_1


Ya Allah...Sesakit apakah nanti?


...****************...


__ADS_2