
Firda rebahan di dalam kamarnya, maksud hati pulang ke rumah ibunya agar mendapatkan pencerahan. Eee...Ibunya malah bikin dia bertambah bingung dan pusing.
Dia itu bukan sungkan atau nggak enakan tinggal di rumah mertuanya. Umi dan Abah baik, Umi juga nggak pernah mempermasalahkan dirinya bisa membantu pekerjaan rumah atau tidak. Yang jadi permasalahan itu dirinya belum siap untuk menjadi seorang ibu, itu saja.
Rumah Abah juga bukan seperti rumah milik orang-orang kaya yang bertingkat tiga, rumah Abah terbilang cukup bagus dengan empat kamar yang memiliki ukuran standar. Di rumah Abah juga tidak ada anak-anak yang akan membuat rumah berserakan, jadi soal pekerjaan rumah bukan masalah bagi Firda.
"Dek, Abang boleh masuk?"
Ketukan pelan di pintu membuat Firda memperbaiki posisi sembarangan ketika berbaring.
"Masuklah! Pintu tidak di kunci."
Bagas masuk dan langsung duduk di ujung ranjang, menatap Firda yang duduk bersila sambil memeluk bantal. Bagas berdehem pelan sebelum mulai berbicara, seperti mau pidato saja, Gas.
"Hamish dan kedua mertuamu memperlakukan kamu dengan baik kan?"
Firda menatap lekat-lekat wajah abangnya yang masih terlihat sedikit suram, mungkin karena dia sedang kurang sehat.
"Baik, Umi dan Abah baik kok sama Firda. Saat Abah dan Umi tahu kalau Firda cuma iseng memfitnah bang Hamish, mereka tidak marah. Kenapa?"
"Bagaimana dengan Hamish?"
"Sampai saat ini dia sabar dan sayang sama Firda, Firda nggak nyesal pernah memfitnah dirinya. Walaupun usianya ya...Bisa dikatakan terlalu tua untuk Firda, tapi semakin kesini perbedaan usia tidak menjadi persoalan. Kenapa sih, Bang? Kok nanyanya gitu? Apa masih ada yang menyebarkan fitnah dan mengatakan kalau bang Hamish ringan tangan? Nggak usah didengerin! Yang menjalani hidup bersamanya kan Firda, orang lain cuma menduga-duga dan sok tahu."
Bagas mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.
"Bukan, Abang yakin Hamish pria yang baik dan Sholeh. Abang kan sudah mencari tahu bagaimana orangnya pada tetangganya, siapa teman-temannya juga sudah Abang selidiki. Kamu adik perempuan Abang, Fir, Abang nggak mau kamu dapat suami yang ringan tangan atau akhlaknya kurang baik. Walaupun kamu bandel, kamu tetap adik, Abang."
Firda jadi pengen nangis, punya suami dan kakak yang begitu menyayangi dirinya, apalagi yang kurang?
"Boleh Abang tahu kenapa kamu kemari? Hmm... Maksud Abang bukan nggak boleh, ini tetap rumah kamu selamanya. Dan kamu boleh kapan saja datang kesini, mau menginap juga silahkan! Hanya saja...."
__ADS_1
Bagas mengusap belakang kepalanya, dia harus memilih kata-kata yang pas supaya Firda tidak tersinggung. Apalagi sekarang adiknya sedang hamil, mana usianya masih belum matang lagi. Kuatir Firda akan salah paham dan tersinggung.
"Firda belum siap untuk hamil, Bang, Firda masih ingin bebas dan bersenang-senang. Bukan berarti Firda menyesal sudah menikah dengan bang Hamish, seperti Firda bilang tadi. Firda hanya belum siap, itu aja."
"Kamu belum siap, tapi Hamish sudah. Apalagi kedua adiknya sudah pada punya anak, kasihan suami kamu kalau harus menunggu kamu siap. Jadi kamu pulang ingin mendapatkan support dari ibuk, gitu?"
Firda tersenyum masam, lalu mengangguk.
"Hidup ini tidak ada yang sempurna, Dek, sama seperti ibuk kita. Mertua dan suamimu baik, nah, ibuk kita yang unik. Kita punya ibuk yang gampang dipengaruhi oleh orang lain, semua ucapan orang di telan bulat-bulat, suka ambekan dan mau menang sendiri, untungnya ayah sabar. Tetapi walau bagaimanapun dia ibuk kita, dari rahimnya kita lahir. Dari ASI-nya juga telah tumbuh menjadi darah dan daging pada tubuh kita, seunik apapun beliau, dia ibuk kita. Kita tidak akan mau menukar dirinya dengan yang lainnya."
Firda tidak bisa menahan rasa harunya, apa yang dikatakan Bagas benar. Walau bagaimanapun, mereka sayang dengan ibunya terlepas dari plus dan minus sifatnya.
Sama seperti ibunya yang menerima segala kekurangan dan kelebihan anak-anaknya, apapun akan di lakukan demi anak-anaknya. Tidak peduli anaknya berbuat salah, dia rela menjadikan tameng bagi buah hatinya.
Seperti Firda yang pernah melakukan kesalahan, dirinya rela dipergunjingkan orang sekompleks karena perbuatan Firda. Jadi bagaimanapun sifat ibunya, wanita itu yang terbaik bagi Bagas dan kedua adiknya.
"Saran Abang, apa yang baik yang keluar dari mulut ibuk, turuti! Tapi jika itu kurang baik dan bisa membuat rumah tanggamu dengan Hamish menjadi kurang harmonis, ya jangan di ikuti. Apalagi sampai membuat kedua mertuamu jadi salah faham, yang nggak perlu di dengar omongan ibuk. Diamkan saja! Kemana suamimu, ikuti dia! Kalau hanya sekedar kangen rumah ini dan kami, kamu bisa kapan saja datang. Tapi kalau untuk berlama-lama disini atau tinggal sementara...Saran Abang, jangan! Abang takut kamu terpengaruh ucapan ibuk. Surgamu ada pada suamimu, orang tua tetap di hormati, paham!"
"Mereka itu sudah Abang anggap seperti kamu, adik, Abang. Bagaimana Abang bisa naksir adik sendiri? Kedua temanmu saja yang keganjenan, cocok tuh dapat pria-pria dewasa seperti Hamish, biar jinak." ucap Bagas bangkit dari duduknya dan segera meninggalkan kamar Firda.
Diluar sudah terdengar deru mesin mobil Hamish memasuki pekarangan rumah ayah Deni, Hamish lebih cepat pulang dari cafe dari waktu biasanya.
Setelah berbincang sebentar dengan Ayah Deni di ruang keluarga, Hamish masuk kedalam kamar yang di tempati oleh Firda.
"Assalamualaikum..." salam Hamish pelan.
Bukannya menjawab salam dari Hamish, Firda justru langsung memeluk lengan Hamish dan menyandarkan kepalanya dengan manja.
"Aku kangen sama, Abang."
"Salamnya dijawab dulu, baru bilang kangen."
__ADS_1
Hamish mengusap kepala Firda pelan. Memang benar, mood wanita hamil itu tidak jelas. Pagi tadi masih sedikit ngambek, sekarang bermanja-manja. Pakai bilang kangen lagi, perasaan Hamish kan jadi gimanaaaa gitu.
"Bang, kita balik ke rumah Abah yuk!"
Hamish menautkan kedua alisnya, kelakuan Firda yang serba cepat berubah membuat dirinya bingung.
"Kenapa? Nggak jadi menginap beberapa hari disini?"
"Kasihan Abah dan Umi nggak ada kita pasti merasa sepi, kalau di sini kan ada bang Bagas dan Raka. Aku sebel sama Raka, dia menjengkelkan."
"Memang Raka sudah buat apa? Dia kan anak baik."
Dimata Hamish, Raka itu remaja yang baik, walaupun sekarang sedang masa pubertas. Wajahnya penuh jerawat, suaranya ngebass dan kalau bicara tidak bisa pelan. Ya memang seperti itu ciri khas memasuki masa pubertas, tapi dia tidak nakal.
"Nggak ada, aku cuma sebal saja melihatnya. Di mataku Raka begitu menjengkelkan, sama seperti mantan Abang."
Nah, lho, rasa ketidaksukaan Firda merembet kemana-mana, perempuan hamil itu memang benar-benar ajaib.
"Malam ini saja kita menginap disini dulu ya! Nggak enak sama ayah dan ibuk, masak tadi kita bilang kalau kamu kangen rumah tiba-tiba pulang. Besok pulang dari kampus baru langsung ke rumah Abah, Abang akan antar jemput kamu terus. Insya Allah!" janji Hamish.
"Beneran?"
"Iya, wanita hamil nggak boleh kecapean, ntar ketemu banyak orang di angkot dan kamu merasa jengkel lalu tiba-tiba kamu marahi orang itu, kan bahaya." Hamish terkekeh, membayangkan Firda marah-marah kesembarang orang pasti lucu.
"Enak aja, mandi yuk, Bang! Aku belum mandi, sengaja nunggu, Abang." ucap Firda genit menggigit bibir bawahnya karena malu.
Hamish tergelak, itu yang membuat hidup Hamish penuh warna. Firda itu kalau sedang mau nggak pakai jaim atau malu-malu.
Hamish segera mengunci pintu kamar, menarik tangan Firda dan membawanya ke kamar mandi.
Senang benar mereka mandi bersama ya, apa keduanya masih ingat nasehat dokter?
__ADS_1
...****************...