Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK

Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK
64. Menginginkan Sate kerang


__ADS_3

"Sayang, kan kita tidak jadi menginap di hotel, kita pindah ke rumah Abang saja ya? Dari sana tidak begitu jauh ke kampus kamu atau ke hotel tempat kerja, Abang."


Ryu mulai melancarkan rayuannya setelah makan malam.


Tinggal di rumah mertuanya dia tidak bisa bebas, kalau mau di kamar terus Ryu sungkan dengan kedua mertuanya. Apalagi dengan Saras adiknya Sisil yang kerap menahan senyumnya melihat rambut Sisil yang pagi-pagi di biarkan tetap basah keluar dari dalam kamar.


Jika tinggal di rumah sendiri kan bebas, kalau perlu Sisil disuruh bolos selama seminggu. Ryu ingin mengejar Hamish, siapa tahu Sisil bisa langsung isi, kan bedanya cuma dua bulan.


"Tapiii..."


"Kamu nggak perlu mikirin masak, nyuci, beberes, nggak perlu! Abang sudah siapkan si mbak yang bisa mengerjakan semua. Tugas kamu cuma nemani Abang makan, nemani Abang ngobrol terus nemani Abang tidur." Ryu menowel dahu Sisil, yang di towel cuma tertawa-tawa senang.


Sekarang Sisil sudah tahu bukan sekedar nemani ngobrol biasa atau tiduran, tapi ...Ahai.


Sisil berbeda dengan Gita. Malam pertama dan subuhnya saja yang sakit, setelahnya nggak lagi. Justru selesai makan malam Sisil sudah lebih dahulu masuk ke dalam kamar, Ryu tentu saja mengikuti istrinya. Sisil tidak pakai drama alasan datang bulan, dia sama seperti Firda. Diajak iya-iya dengan suaminya tidak menolak, justru mulai ketagihan.


Ryu mengambil sesuatu dari dalam dompetnya, lalu menyerahkan pada Sisil.


"Seperti janji, Abang. Kamu cuma menemani Abang ngobrol dan tidur, Abang kasih uang jajan."


Sisil membolak-balikkan ATM yang ada ditangannya, kedua matanya langsung berbinar-binar.


Ternyata menikah cepat itu tidak buruk.


"Itu nafkah dari Abang, uang kuliah kamu nanti Abang kasih lagi. Kamu atur sendiri uang yang ada di dalamnya, oke!"


Sisil mengangguk-anggukkan kepalanya, cepat-cepat benda pipih persegi itu dimasukkannya ke dalam dompetnya sendiri.


"Nomor pin nya berapa?"


Ryu tergelak, ingat juga istrinya kalau nomor PINnya belum diberitahu.


"Hari akad nikah kita, kamu tinggal menggantinya kalau tidak suka. Mau kan besok kita pindah? Kamu cuma membawa pakaian dan buku-buku kuliahmu saja, ya, ya, ya!" rayu Ryu.


Tanpa berpikir panjang Sisil mengangguk.


"Tapi aku belum bilang sama Bapak dan ibuk."


"Tadi sore sudah Abang bilang kok, mereka setuju saja kalau kamu mau. Karena kamu kan sudah jadi tanggung jawab, Abang."


"Benarkah? Ya sudah, kalau gitu aku beres-beres dulu!"


Sisil sudah berjalan ke arah lemari pakaian, Ryu segera menarik tangannya.


"Besok saja menyiapkan pakaiannya, sekarang kita..." Ryu mulai mendekatkan wajahnya ke muka Sisil.


"Matikan lampunya, Bang! Aku malu,"


Ryu tertawa, tapi dia bergerak juga untuk mematikan lampu kamar.


...*****...

__ADS_1


Noah berkutat dengan komputer lipat yang ada dihadapannya. Selain memiliki cafe, Noah juga membantu papa Neo menjalankan anak perusahaan ABW life yang bergerak di bidang desain interior.


Malam ini Noah sama sekali tidak berniat mengusik Gita yang katanya datang bulan. Jadi kalau Gita menumpang sholat di kamar Revan, Noah pura-pura tidak tahu.


Melihat Noah yang serius dengan kedua matanya yang terus menatap layar monitor, Gita jadi gelisah sendiri.


Padahal semula Gita pura-pura serius belajar biar Noah tidak mengganggunya, dia kesal pada Noah yang membuat dirinya merasakan nyeri di area bawah tubuhnya. Sehingga kalau selesai buang air dan bersih-bersih, Gita sudah takut duluan. Pasti masih perih.


Namun mendapati Noah yang terlihat dingin padanya, Gita merasa di abaikan.


"Mas, sibuk ya?"


Noah mengangkat wajahnya, menatap Gita dengan wajah datar.


"Maybe yes maybe no, why?"


Jawaban Noah sungguh menyebalkan.


Gita bukannya balik menjawab, justru langsung keluar dari dalam kamar dengan wajah cemberut. Noah terkekeh kecil, lalu melanjutkan pekerjaannya.


Dia sedang melanjutkan proyek yang sedikit tertunda karena pernikahan kemarin, kakeknya Ali sudah mulai menegurnya secara tersirat.


Noah harus bisa membagi antara kehidupan pribadi dengan profesionalisme kerja, dia harus bisa mencontoh papanya sendiri. Menantu kebanggaan bagi kakeknya.


Noah sengaja sedikit acuh pada Gita karena mengikuti permainan yang sedang Gita lakoni, bukankah Gita mengatakan sedang datang bulan? Jadi buat apa di ganggu, kalau cuma kecup sana kecup sini bikin Noah sakit kepala, karena malam kemarin kan sudah mulai sampai permainan inti. Kalau cuma pemanasan doang Noah ogah.


Cie cie yang jual mahal.


Ibunya Gita yang sedang menghitung-hitung dan mencatat siapa-siapa saja yang memberi kado dan amplop yang sudah di beri nama, serta berapa sumbangannya menatap Gita dengan dahi yang berkerut.


Pria paruh baya yang sudah mengarungi rumah tangga selama lebih kurang dua puluh tahun itu sama sekali tidak kepo dengan ucapan istrinya.


Karena zaman mereka dulu ketika masih muda-muda, syiar agama tentang haramnya hubungan lawan jenis yang bukan mahramnya tidak seluas sekarang.


Kebanyakan tausiyah bisa di dengar dari mesjid atau musholla yang didominasi oleh kaum tua, berbeda dengan zaman sekarang.


Zaman makin maju dan dunia semakin tua, orang-orang tua dan kaum muda berlomba-lomba menimba ilmu agama dan menuju ke jalan yang lurus.


Ketika zaman ibu dan ayahnya Gita kalau tidak pacaran, tidak keren. Beuh.


"Memang sebelum menikah dengan ayah, Ibuk pernah pacaran berapa kali?"


Enakan mengorek kisah masa lalu ibunya daripada sebel melihat Noah yang sok sibuk.


"Lupa, Ibuk kan cantik. Ayahmu yang terakhir."


Gita mencebik, ya iyalah. Memangnya ada niat untuk ganti suami?


...*****...


"Bang, Bang," Firda duduk bersila di sebelah Hamish yang sudah tertidur pulas

__ADS_1


Kebanyakan pria kan begitu, setelah hormonnya tersalurkan, semua plong. Tidur pun jadi nyenyak, padahal waktu baru menunjukkan pukul sembilan malam.


"Hmm, kamu belum tidur?" Hamish mengucek kedua matanya menghalau rasa ngantuk.


"Aku lapar,"


Hamish mengerjab-erjabkan kedua mata sembari mengingat kembali, bukankah tadi sudah makan sebelum mereka kembali masuk kedalam kamar?


"Mau Abang temani makan lagi?"


"Iya, tapi aku pengen makan sate kerang."


"Sate kerang? Beli dimana?"


Firda menggeleng, dia tadi scroll-scroll medsos karena belum mengantuk. Ada yang memposting sate kerang masakan khas dari ujung pulau Sumatra, dia sangat ingin mencicipinya. Air liurnya sudah hampir menetes rasanya karena ngiler.


Hamish mengotak-atik ponsel, dimana dia bisa menemukan sate sesuai dengan permintaan Firda. Tapi sampai matanya terasa pegal, Hamish tidak menemukan dimanakah dan pada siapa dia bisa membelinya.


"Hmm...Firda sayang, bisakah diganti dengan makanan yang lainnya saja?"


Firda kembali menggeleng.


"Aku kepengen itu, Bang, aku nggak ingin yang lain."


"Tapi nggak ada yang jual, sate kambing atau sate ayam saja, kan sama-sama sate."


Firda langsung cemberut, kedua matanya sudah berkaca-kaca.


"Abang sama saja dengan suami kak Mawar," ujar Firda langsung membaringkan tubuhnya dan memeluk bantal guling dengan memunggungi Hamish.


"Sama bagaimana?" tanya Hamish menyentuh bahu Firda pelan.


"Sama-sama laki-laki."


Hamish terkekeh, dalam cemberutnya Firda bisa juga melucu.


Hamish mengingat-ingat, siapa temannya yang berasal dari Medan. Siapa tahu bisa membuatkan sate kerang seperti yang diinginkan oleh Firda, sampai rasa kantuk itu datang kembali Hamish tidak bisa mengingatnya.


"Apakah kamu sangat menginginkan sekarang? Kalau besok bagaimana?"


Firda langsung bangun kembali dari rebahannya.


"Janji besok, yang banyak ya! Dua puluh tusuk. Kerangnya harus yang besar-besar, aku nggak mau yang kecil."


"Insyaallah,"


Walaupun Hamish masih belum yakin bagaimana mendapatkan sate kerang sesuai permintaan Firda, tapi diiyakan saja. Siapa tahu Umi dan Abah atau mertuanya punya solusi.


"Ya sudah, kita tidur yuk!" ajak Hamish sudah bersiap-siap meletakkan kepalanya kembali di atas bantal.


"Menunggu sate kerang kan besok, malam ini aku pengen jagung bakar saja dulu."

__ADS_1


Hamish menghembuskan napas pelan, tanpa banyak bicara dia bangkit dari ranjang dan berganti pakaian. Bersiap hendak pergi keluar rumah untuk mencari jagung bakar, setidaknya permintaan Firda kali ini tidak sulit untuk didapatkan.


...****************...


__ADS_2