
"Kalian...Apakah kalian tidak diajarkan bagaimana cara bersopan santun? Kalian kan katanya mahasiswi, tapi kenapa etika kalian sangat minim?" geram Mawar menahan emosi.
Tidak mungkin dia meluapkan kemarahannya di cafe milik Bujang, bisa rusak reputasi dirinya. Apalagi semua karyawan cafe tahu kalau dia calon istri Bujang, tapi sebelum Minggu kemarin sih.
Gita dan Sisil saling berpandangan, lalu keduanya kembali terkekeh. Bukannya takut atau tersinggung dengan kemarahan Mawar, ini justru merasa lucu.
"Etika yang mana? Masa' cuma becanda bawa-bawa etika, lebay." Gita mencibir.
Gita memang kalau bicara sedikit pedas, beda dengan Sisil yang cerewet.
"Tetap saja tidak sopan karena becanda kalian nggak lucu, tau?" Mawar masih kesal. Apalagi Bujang membawa Firda masuk di depan matanya ke ruang VIP, tadi dia tidak mau diajak bicara di sana.
Apalagi sebenanya dari tadi dia mau marah karena tidak terima dengan penolakan Bujang. Masa' belum sampai seminggu sudah ada cinta di hati Bujang pada istri dadakannya, pasti bujang berbohong untuk membalas sakit hati karena Mawar rujuk pada suaminya. Makanya Bujang mengatakan cinta pada istrinya.
Tidak tahu mau melampiaskan kekesalannya dengan siapa, eeee...Ada dua remaja labil yang cari gara-gara, gayung bersambut.
"Lah, memang tai matanya masuk lagi, gimana dong? Dia sudah bosen dari tadi di depan pintu, ya dia masuk lagi.
Lagipula, ngapain mbaknya jumpai bang Bujang? Mau minta balikan? Memangnya suaminya kemana? Nyantol lagi sama yang lain? Terus, apa bang Bujang mau balikan sama, Mbak? Seribu persen kami yakin bang Bujang nggak akan mau, mbaknya sudah bekas berapa kali? Rugi bandar dong bang Bujang kalau mau sama mbaknya? Sudah janda dan kembali janda lagi, hadeuh..." Sisil menepuk jidatnya.
"Mbak, janda memang lebih menggoda karena lebih pengalaman. Tapi perawan bikin penasaran, diajari sebentar sudah pintar. Apalagi anak sekarang lebih cerdas dan kreatif. Dimana-mana orang suka jadi yang pertama, Mbak, bukan sisa. Masak bang Bujang bakalan lebih milih mbaknya yang sudah jadi istri orang lain daripada Firda yang masih kenyes-kenyes, Mbak salah kalau ke mari."
Wah, Sisil ternyata selain cerewet, jago juga tuh untuk menjatuhkan mental Mawar.
"Bukan urusan kalian, lagian anak kecil seperti kalian tahu apa?" Mawar langsung bangkit dari duduknya.
Dia gegas meninggalkan cafe dari pada makin darah tinggi menghadapi dua remaja yang bawel.
Gita dan Sisil terkekeh melihat lawan mereka pergi, yah....Jadi sepi.
...*****...
Bujang meminta Firda untuk duduk. Semula Firda menolak, tapi karena di paksa akhirnya mau duduk juga.
"Fir, kamu kok bisa kesini? Tadi kan bilangnya mau ke kampus."
"Dosennya sedang rapat."
Bujang terkekeh.
__ADS_1
"Nggak ada alasan yang lebih keren? Pengen nambah tanda kissmark di leher Abang biar makin merata mungkin?" Bujang meraih telapak tangan Firda, tapi Firda menjauhkan dari jangkauan tangan Bujang.
"Ngapain tuh mantan calon istri Abang itu ke sini? Minta balikan ya? Memang pacaran yang sudah putus minta sambung lagi."
Firda mencebik, sekilas dia melihat maha karyanya yang berbentuk aneh. Seperti telor ceplok, atau danau? Entahlah, bentuknya sangat aneh. Nanti malam dia belajar lagi, biar makin mahir.
Dalam hati Firda bangga dengan hasil karyanya walaupun bentuknya amburadul, apalagi Bujang tidak menutupinya. Berarti Bujang ingin menunjukkan bahwa dia sudah ada pemiliknya, cie cie.
"Kamu kenapa nggak ke kampus? Bolos ya?" Bujang mengulangi pertanyaannya.
"Memang nggak boleh aku ke sini? Ini kan cafe milik suamiku, berarti milikku juga. Maka aku bebas kapanpun aku mau datang."
Bujang cuma bisa tersenyum mendengar ucapan cafe itu miliknya, tapi tidak mungkin di bantah karena memang Firda istrinya. Jadi apapun miliknya ya milik Firda juga, hanya saja...Firda belum menjadi istri seutuhnya.
"Boleh, sangat boleh. Yang Abang tanyakan...Kenapa kamu ada disini? Harusnya kamu ada di dalam kelas, menyimak materi yang di sampaikan dosen. Nanti kalau kamu sedang nggak ada kelas, Abang akan bawa kamu kemari. Ini kan milik kamu juga sebagai istri Abang." sindir Bujang menatap wajah Firda yang langsung terlihat merona, sepertinya dia sadar arti ucapan Bujang.
"Bolos, dosennya nggak oke. Tapi untung aku bolos kan? Kalau nggak, pasti Abang akan selingkuh di belakang aku. Iya kan? Dasar suami nggak setia."
"Sembarangan, kamu nuduh! Memang Abang semurah itu? Dulu Abang mau sama dia kan karena dia baru janda satu kali, kalau sekarang...Dia kan istri laki-laki lain, kalau pun dia sudah janda...Abang juga nggak bakalan mau, kamu lebih menarik. Masih orisinil lagi." kekeh Bujang menjawil dagu Firda.
Firda mencibir.
"Sudah apa?" potong Bujang cepat.
"Augh ah, aku haus. Pengen minum," Firda bangun dari duduknya tapi Bujang segera kembali memegang pergelangan tangannya dan meminta Firda untuk duduk sebentar.
"Dengar Abang baik-baik, Firda! Walaupun kita belum satu Minggu menjadi suami istri. Tapi dimata Abang ini, Abang hanya mau memandang kamu sebagai istri, Abang. Di hati Abang, hanya akan berisi nama dan sosok kamu yang mengisi setiap ruangan di sana. Dan di bibir, Abang, hanya akan menyebut nama kamu, sebagai istri, Abang. Jadi nggak akan ada orang lain, apalagi Mawar."
Firda melongo. Dalam sejarah hidupnya, dia belum pernah dirayu oleh seorang laki-laki. Sekalinya di rayu dengan suami sendiri. Tapi Firda nggak boleh percaya begitu saja, biasanya ciri-ciri seorang pria yang mulai belok itu mendadak romantis pada pasangannya karena untuk menutupi kesalahannya.
"Untungnya aku bukan es krim ya, Bang."
"Memang kenapa kalau kamu es krim?"
"Meleleh. Dulu kak Mawar di rayu gitu juga ya? Nggak asik, aku nggak mau di rayunya dengan kata-kata yang sama. "
Bujang langsung menjentik dahi Firda.
"Kamu kenapa sih suka sekali menghancurkan suasana romantis, Fir? Lagi pula rayuan itu nggak cocok untuk dia."
__ADS_1
"Romantis itu di kamar kita, Bang! Kalau di sini nggak bisa ngapa-ngapain." Firda mengedipkan matanya genit.
Bujang terkekeh mendapatkan kedipan genit dari Firda.
"Aku pergi dulu. Ingat, jangan nakal! Sudah punya istri nggak boleh ganjen."
Belum sempat Bujang menimpali ucapan Firda, istrinya itu sudah melesat keluar dari ruangan VIP.
Mengajak Gita dan Sisil untuk segera meninggalkan cafe D'Nongkrongs.
"Fir, leher bang Bujang kenapa pada merah begitu? Jangan bilang jika itu stempel dari bibirmu, dapat pengalaman darimana kau?"
Mata Sisil jeli juga, padahal dia cuma sekilas melihat Bujang ketika Bujang mencegah Firda yang mau pergi meninggalkan cafe.
"Bukan, aku kan masih lugu, masa' berani begitu sama Bang Bujang."
"Tapi, leher bang Bujang tadi..." Gita menunjuk ke arah dalam cafe
"Dia masuk angin, minta di kerokin dileher. Ya udah aku kerokin."
"Yakin di kerokin? Pakai apa? Uang koin apa pakai bibir dengan cara di sedot kaya' ikan sapu-sapu?" Sisil mencibir.
"Tau saja, kau, memang kau sudah pernah? Sama siapa?"
"Aku kan pernah praktek membuat di lenganku sendiri." Sisil tergelak.
Firda dan Gita memutar bola matanya jengah.
"Fir, pasti malam-malam kalian sangat menggairahkan ya?" bahasa Sisil membuat bulu kuduk berdiri.
"Lebih dari menggairahkan, tubuh rasa terbakar, tapi terbakar yang menyenangkan. Membuat api asmara semakin membara."
Gita dan Sisil sampai menelan salivanya mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Firda.
"Git, yuk kita ke KUA!"
"Ngapain? Aku bukan laki-laki yang bisa kau ajak menikah."
"Untuk menggagalkan pernikahan orang lain seperti yang pernah Firda lalukan, aku juga ingin merasakan saat tubuh terbakar asmara itu seperti apa." Sisil sedang kurang waras, Firda cekikikan.
__ADS_1
...****************...