
Hari ini saatnya pasangan Ryu dan Noah melepas status lajangnya.
Sebenarnya sih tidak bermaksud di samakan, hanya saja tetangga kiri kanan yang mengetahui jika calon suami Gita dan Sisil adat paman dan keponakan mereka mengusulkan disamakan saja.
"Iya, biar kami-kami ini bantu-bantunya sekalian."
"He-eh, anggap saja pesta pernikahan anak kalian berdua menjadi pesta kita semua. Lagian kan kalian memakai satu jalan penuh nih?"
"Soal amplop kalian kan bisa bagi dua, lah wong modalnya juga bagi dua. Yang penting anak-anak kalian sudah resmi menikah."
"Apalagi keduanya seperti kembar, kemana-mana selalu bersama. Sampai dapat suami juga satu keluarga, sudah di satukan saja pestanya!"
"Yang penting kan suaminya masing-masing dan kamarnya juga sendiri-sendiri."
Geeerrrrr....
Begitulah riuh rendah suara para ibu-ibu di arisan RT ketika mendengar ibunya Sisil dan Gita mau mantu hanya beda seminggu, lebih baik disatukan saja kata mereka.
"Kalian memang cerdik, biar kasih amplopnya cuma satukan? Tidak masalah, yang penting isinya dobel." ibunya Sisil tidak mau kalah.
"Bener itu, kalau nggak dobel, makannya nggak boleh nambah." imbuh ibunya Gita.
Para ibu-ibu cuma mengangguk setuju, masalah isinya dobel atau tidak kan mereka tidak tahu. Masak amplopnya langsung dibuka, kan nggak.
Kalau urusan keluarga Noah dan Ryu, pernikahan dibuat berbarengan bukanlah hal yang baru. Opa dan omanya bahkan menikah bareng sekaligus empat pasang.
Lebih memecahkan rekor justru para orang tua mereka yang sekali menikah enam pasangan pengantin.
Jangan ditanya bagaimana meriahnya pesta.
Saat keluarga Noah dan Ryu datang sudah hampir memenuhi tenda pelaminan, untungnya untuk undangan umum di buat jam kedatangannya ba'da Dzuhur. Khusus acara akad nikah sampai tengah hari hanya diperuntukkan bagi keluarga besar kedua pasangan pengantin.
Diantara para keluarga ada pasangan yang terlihat beda usia, pasangan Mikha dan Adipati. Kedua anaknya kembar perempuan seusia dengan Raka, wah, Adipati paling ganteng dong di rumah karena dia sendiri laki-laki.
Tidak kelihatan pasangan Biru Samudra dan Hanum Salsabiela, ya iyalah...Inikah keluarga Mikha, sepupu Mikha yang menikah tentu saja tidak termasuk keluarga sultan itu.
"Kami pulang, Ryu, kau tidak takut ditinggal sendiri kan?" papa Alan menatap serius, mama Julie terkekeh.
"Kalau kau diapa-apain sama istrimu, teriak saja yang kencang!" papa Alan tergelak, saat kedua mata Ryu membulat dengan sempurna dengan ucapan ejekan papanya.
"Bang, nggak kebalik?" bisik mama Julie melirik menantunya yang bengong.
__ADS_1
"Biar istrinya nggak takut, apa kamu tidak lihat kalau Ryu sudah terlihat bosan? Pasti dia ingin malam segera datang."
"Memangnya, Abang."
"Pa, Ma, udah dong! Nggak lihat wajah istriku sudah pucat?" lirik Ryu pada Sisil yang memang memucat wajahnya mendengarkan bisik-bisik mertua, mau pamit tapi meninggalkan jejak kecemasan.
"Jangan takut! Ryu sudah jinak kok." ucap mama Julie mengusap pelan wajah menantunya. Melihat Sisil sekarang, mama Julie seperti melihat dirinya sendiri ketika dinikahi oleh papa Alan tiga puluh dua tahun yang lalu.
Kalau papa Alan meledek Ryu ketika berpamitan untuk pulang, berbeda dengan papa Noah dan mama Alika. Papa Noah hanya menepuk pundak Noah pelan, sembari berbisik.
"Istrimu masih sangat muda, belajar dari sepupu iparmu Adipati atau temanmu Hamish bagaimana memperlakukan istri mereka! Tapi kalau kau malu, sediakan mentimun yang banyak agar kau tidak cepat naik darah."
Nasehat apa itu? Belum sempat Noah membalas ucapan papanya, papa Neo sudah ngeloyor pergi. Mama Alika tidak banyak bicara karena Noah sudah dewasa, menasehati putranya sama halnya dengan menggarami air laut.
Mama Alika percaya Noah sangat tahu bagaimana menghadapi istrinya yang masih sangat muda, karena Noah pria dewasa yang sudah matang.
Baru kali ini kembaran Noah muncul di hadapan Gita, sehingga pengantin wanita itu menatap tidak berkedip. Wajah mereka hampir sama, tetapi masih terlihat perbedaannya. Jadi Gita tidak kuatir salah.
"Bang, dia ini..."
"Iya, dia ini Tyo. Papa memberikan nama yang sama seperti almarhum papanya Opa."
ucap Noah memperkenalkan kembarannya.
Popoknya rumit kalau di telusuri.
"Istrinya tidak ikut karena baru melahirkan anak yang tiga." Noah mencibir saudara kembarnya, Tyo baru terlihat tertawa kecil.
"Kau kalah jauh dariku, Noah." ujar Tyo menyeringai puas.
"Istriku akan melahirkan sekali tiga agar aku bisa menyamaimu."
"Oh, ya?"
"Iyalah, do'akan saja!"
"Aku tunggu beritanya!" ujar Tyo mengangkat tangannya untuk tos pada Noah, keduanya luput melihat kearah Gita yang hampir jatuh pingsan mendengar obrolan dua orang saudara kembar dihadapannya.
...*****...
Gita berjalan hilir mudik di dalam kamarnya, pesta sudah usai sebelum magrib tadi. Tetapi suasana di depan rumah orang tuanya dan orang tua Sisil masih penuh kesibukan.
__ADS_1
Petugas catering yang mulai berbenah, serta pemilik pelaminan yang sudah tidak sabar membuka barang-barang properti miliknya.
Gita takut keluar dari kamar mandi, dia teringat bisikan saudara kembar Noah tadi ditambah dengan peringatan Firda sebelum pulang.
Firda memang kelewatan. Mentang-mentang dia hamil muda, sama sekali dia tidak ada membantu apa-apa. Yang ada justru membantu membuat Gita dan Sisil resah. Bagaimana tidak resah, tuh anak datang sama seperti tamu
undangan yang lainnya.
Tidak seperti dirinya waktu resepsi pernikahan, Gita dan Sisil menginap dua malam di rumah Firda. Dasar teman yang nasibnya mujur ya gitu.
Pada saat teman-teman Ryu dan Noah datang, termasuk Hamish sedang berkumpul dan foto-foto, ngobrol cekakak-cekikik. Sempat-sempatnya berucap hohor.
"Kalian berdua hati-hati lho!"
"Hati-hati kenapa?" tanya kedua pengantin berbarengan.
"Apa kalian ingat bagaimana jalanku ketika ke kampus waktu itu?"
"Oh, yang jalanmu aneh terus kau bilang itu bisulan?" Sisil ingat juga.
"Hmm, itu habis malam pertama."
"Hah?" Gita dan Sisil berteriak, sampai beberapa pasang mata melihat ke arah pelaminan. Termasuk dua pengantin pria yang bergabung dengan teman-temannya di pojokan yang lain.
Gita dan Sisil cepat-cepat menutup mulutnya.
"Malam pertama itu tidak seindah yang kalian banyangkan. Rasanya itu menyakitkan dan meremukkan." tawa Firda hampir meledak karena melihat wajah Gita dan Sisil yang sudah pucat pasi.
"Kau bohong, kalau memang sebegitu menyeramkannya kenapa kau terlihat menempel terus seperti lem pada suamimu?" Gita tidak percaya.
"Aku bilangkan malam pertama, bukan malam-malam selanjutnya."
Benar juga.
Belum sempat Gita dan Sisil bertanya lebih lanjut, Noah dan Ryu sudah kembali ke pelaminan. Hamish juga datang lalu menggandeng Firda untuk dibawanya pulang, suaminya itu tahu sepertinya istrinya sedang menakut-nakuti kedua temannya. Memang benar-benar sungguh nakal.
Lihatlah sekarang, sudah lebih dari setengah jam Gita belum juga keluar dari dalam kamar mandi. Noah mengetuk pintu karena tidak tahan.
"Git, sudah belum? Mas kebelet nih?"
Waduh, kebelet apa ya?
__ADS_1
...****************...