Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK

Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK
58. Cuma ada kamu.


__ADS_3

"Sya, ini bener cafe punya suami Firda."


"Iya, aku dengar ibuku ngomong gitu sih. Dia pemilik cafe D'Nongkrongs. Pantas saja dengan tidak tahu malu Firda memfitnah pria tua itu, pasti karena Firda itu matre." Syakila mengedarkan pandangan ke sekeliling cafe yang sedikit sepi.


Namanya juga mau magrib, ya sepi lah, Syakila dan kedua temannya saja yang salah. Mau magrib nongkrong di cafe, aneh.


"Memangnya setua apa? Jangan muna, Sya! Siapa juga yang nggak mau sama pria yang mapan, aku lihat Sisil dan Gita juga belakangan ini sering di jemput dengan pria-pria ya...Bisa di bilang Om-om sih, tapi cakepnya..." imbuh temannya lagi dengan bibir kelamutan


"Apa mereka berdua jadi simpanan Om-om senang? Gila... Pantesan saja ponsel mereka oke semua, padahal sebelumnya aku lihat Gita pakai ponsel berlogo apel digigit yang termurah. Beda dengan yang sekarang."


"Jadi kalian berdua mau jadi simpanan Om-om juga? Aku mah ogah, walaupun mereka berduit." Syakila menggeleng ngeri, kedua temannya hanya mencebik.


Seorang karyawan cafe mendekati ketiganya.


"Mau pesan apa, Mbak?" tanyanya sembari menyodorkan daftar menu.


Syakila dan kedua temannya saling berpandangan.


"Kenal sama Firda? Istri dari pemilik cafe ini." suara Syakila lirih, dia malu jika banyak yang akan mendengar pertanyaannya.


Karyawan itu menggeleng.


"Masak sih nggak kenal? Ini cafe milik Hamish Maulana kan? Yang baru mengadakan resepsi pernikahan dua Minggu yang lalu?"


"Iya, ini memang cafe milik pak Hamish, tapi saya tidak kenal dengan istrinya."


"Memang kamu nggak diundang di pesta kemarin? Masak sih bos sendiri menikah karyawannya nggak diundang, sombong sekali."


Si karyawan tersenyum kecil.


"Kami semua tentu saja di undang, saya juga tahu istri pak Hamish. Baru beberapa menit yang lalu juga dari sini menjemput pak Hamish."


"Tadi katanya nggak kenal?" Syakila mencibir.


"Tahu dengan kenal kan beda, Mbak. Sama dengan artis si A dan si B, kebanyakan orang kan tahu. Tapi apa mereka di sebut kenal? Nggak kan? Beda, Mbak." si karyawan tersenyum lagi, Syakila mencebik. Dia kalah cerdas dengan karyawan suami Firda.


"Saya ini sepupu istrinya pemilik tempat ini, hmm... Maksud saya, kami dapat diskon berapa? Kan saudara, masak di kasih harga sama seperti yang lainnya."


Syakila mau minta gratis tapi malu. Si karyawan tersenyum serba salah. Mau diiyakan belum dapat izin atau pesan dari Hamish, tapi kalau di tolak jika ternyata di bolehkan bagaimana?


"Nanti kalau pak Hamish tanya, bilang saja anaknya uwak istrinya. Diskon 50% ya!" tanpa menunggu jawaban dari karyawan cafe, Syakila memesan tiga minuman dan beberapa makanan ringan.


"Sya, nggak apa-apa nih? Kau julid sama Firda tapi kau memanfaatkan milik suaminya."


"Kalian tenang saja! Aku kan tidak menyebutkan nama, aku hanya mengatakan uwak. Uwaknya kan bukan hanya orang tuaku saja."

__ADS_1


Kedua temannya Syakila hanya bisa menghembuskan napas pelan, mereka berharap semoga saja mereka tidak di permalukan di cafe ini karena maksa minta diskon. Mana pengunjung mulai berdatangan lagi, namanya juga malam akhir pekan.


Ditempat teras sebuah mesjid yang tidak terlalu jauh dari cafe, Hamish menerima sebuah foto dan sedikit informasi dari salah satu karyawannya.


Tanpa memberitahukan Firda, Hamish cuma menyetujui apa yang diinginkan oleh Syakila. Walaupun sejujurnya Hamish tidak mengenal siapa-siapa saudara dari istrinya, perkara uang yang jumlahnya tidak seberapa tidak perlu dibesar-besarkan.


"Kita mau kemana, Fir? Nonton atau...Kalau Abang ajak kamu jalan ke mal, Abang kuatir kamu kecapean."


Firda sudah berada di sebelahnya, Hamish cepat memasukkan ponselnya kedalam saku celana. Foto Syakila dan riwayat chat dari karyawannya sudah di hapus, Hamish kuatir Firda tahu kalau seseorang yang mengaku saudaranya sedang berada di cafe.


"Aku bukan anak kecil yang kalau jalan ke mal cepek lalu minta gendong."


"Bukan, kamu sedang hamil, nggak boleh terlalu lelah. Pulang aja yuk! Enakan ngobrol dan pacaran di kamar kita, ntar Abang pijat kaki dan apa-apa yang pegal, janji!"


Firda menatap wajah Hamish yang tengah menatapnya dengan tersenyum. Sejujurnya Firda bosan kalau di dalam kamar saja, tapi mengingat Hamish pasti sudah lelah akhirnya dia setuju diajak pulang.


Sampai di rumah, Hamish langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Firda seperti biasa mulai mengotak-atik ponsel Hamish, entah apa yang dicarinya.


Saat Hamish keluar dari dalam kamar mandi, Hamish melihat Firda masih memainkan ponsel miliknya tetapi dia sama sekali tidak menegur karena tidak ada yang disembunyikannya.


"Lihat apa?"


"Mengecek, siapa tahu ada bau-bau mantan yang menghubungi kembali."


Firda menjawab acuh. Semula ponsel Hamish sudah disadap, setiap ada panggilan dari Mawar di alihkan ke ponselnya, tapi Firda merasa tidak enak hati sudah menjadi mata-mata bagi suaminya sendiri. Jadi dia tidak lagi menyadap ponsel Hamish.


"Kamu cemburu? Kecemburuan yang tidak mendasar. Abang bukan tipe pria yang masih memikirkan tentang masa lalu, lagi pula tidak ada hal yang istimewa yang membuat Abang terus memikirkan yang sudah berlalu. Kamu sendiri, pasti ada kan pria yang pernah menarik hatimu sebelum bertemu dengan Abang, apa Abang pernah membahasnya?"


Firda tidak menjawab, dia hanya menyodorkan ponsel pada Hamish. Hamish menerimanya lalu meletakkan di atas meja.


"Abang berpikiran, kamu sama seperti Abang. Hanya melihat ke depan, karena menatap dan menikah dengan dirimu itu sudah lebih dari cukup. Abang nggak perlu melihat ke belakang, dunia Abang hanya ada kamu dan calon anak kita."


"Abang ternyata pintar merayu, belajar dari mana hayoo..."


Hamish meletakkan telapak tangannya di atas kepala Firda, mengusap rambutnya pelan.


"Saat kita jatuh cinta, kita bisa mendadak menjadi seorang pujangga. Tidak perlu berguru pada siapapun untuk mengungkapkan apa yang ada di hati."


Firda kembali mengambil ponsel Hamish.


"Ya sudah, kita nonton di ponsel saja, tapi filmnya..."


"Nggak boleh!"


"Aku kan belum selesai bicara."

__ADS_1


"Abang tahu kamu mau nonton apa,"


"Ish, nuduh! Padahal aku cuma pengen nonton...."


Firda terkekeh, sejujurnya dia memang ingin menonton film- film yang romantis. Tapi Hamish sudah keburu menolak, mau mengatakan film yang biasa-biasa saja belum terpikir oleh dirinya judulnya apa.


"Bang, kalau makan mie instan boleh nggak?" Firda membelokkan pembicaraan.


"Nggak boleh, sini! Abang pijat kepalanya biar pikiran kamu nggak aneh-aneh."


Hamish meletakkan kepala Firda di atas pangkuannya, memijat dengan pelan dahi dan tulang pipinya.


"Bang, apa kita selamanya tinggal di sini? Maksud aku, apa kita eh, apa Abang nggak pengen kita tinggal berdua aja?" Firda bertanya dengan tetap memejamkan matanya menikmati pijatan Hamish yang begitu sangat nyaman.


"Kamu merasa tidak bebas tinggal di sini?"


Firda membuka matanya, menatap wajah suaminya yang menatapnya lembut. Bibirnya tersenyum, dimata Firda Hamish semakin tampan.


"Bukan, aku cuma bertanya."


Hamish menghembuskan napas pelan.


"Bukan Abang tidak mau pergi dari rumah ini, dari awal Umi nggak mau kita pergi.


Kalau Hana atau Faiza mau tinggal di sini menemani Abah dan Umi, Abang akan membawa kamu pergi dari sini. Tapi Umi ingin kita tetap di sini, kasihan Abah dan Umi kalau tidak ada yang menemani. Mereka berdua sudah semakin tua. Tapi kalau kamu merasa tidak nyaman, Abang akan bicara pada Umi dan Abah."


"Sejauh ini masih nyaman-nyaman saja kok, Bang."


"Katakan pada Abang kalau kamu tertekan, Abang tidak mau hanya karena demi Abah dan Umi tetapi kamu yang harus berkorban perasaan. Abang yakin Abah dan Umi akan mengerti kalau kita ingin tinggal sendiri."


"Tapi, kalau kita tinggal sendiri...Aku sedang hamil, aku juga nggak mau berhenti kuliah. Terus...Nanti siapa yang akan jaga anak kita."


"Pinter, makanya kita pikirkan baik-baik, jangan cuma ingin agar kamu bisa melakukan apapun tanpa sungkan, konsekuensi di belakangnya lupa dipikirkan. Karena kamu itu masih manja, masih belum bisa apa-apa. Tapi kalau kamu ingin merasakan cuma tinggal berdua saja boleh kita coba."


"Bagaimana caranya?"


"Gampang, kita pergi saja liburan selama sepekan. Abang rasa itu sudah cukup."


"Kemana?"


"Mau kamu kita kemana?"


"Kehatimu aja, Bang." kekeh Firda melingkari leher Hamish dengan dua lengannya.


"Enak pacaran di rumah kan?"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2