
Hamish terus memperhatikan Firda yang tertawa-tawa sembari jemari tangannya menari-nari di atas layar ponsel, dia sedang ngerumpi'i Syakila dengan Gita dan Sisil.
Tidak lupa Firda mengirimkan foto yang tadi diambilnya beberapa kali ketika di acara resepsi pernikahan bang Jojo dan Syakila.
[Fir, itu namanya GSS]
Balas Gita mengomentari foto Syakila dan bang Jojo di pelaminan, tidak lupa dengan emot tertawa sampai mengeluarkan air mata.
[Apa itu GSS?]
Sisil mendadak lemot, pasti sedang di usilin oleh Ryu.
Buah kan tidak pernah jatuh, jauh dari pohonnya.
Dulu papa Alan tangannya kan suka usil dan menjalar kemana-mana saat bersama dengan mama Julie, padahal mama Julie mau jadi calon istrinya kan pakai paksaan.
Belum jadi istri saja papa Alan sudah nakal pada mama Julie, apalagi sudah menikah, tak terbayangkan.
Nah, Ryu tuh sama seperti papa Alan. Sisil berbalas chat dengan Firda dan Gita, bibir dan tangan Ryu sudah menjelajah kemana-mana. Bagaimana Sisil bisa konsentrasi ngobrol di grup.
[Gosong sak selet-selete, Oneng!] balas Gita lagi dengan emot emosi.
Firda hanya mengomentari dengan emot ngakak.
[Berarti itunya gosong juga dong?]
Akhirnya Sisil nyambung juga.
"Fir, kalian lagi ngobrolin apa? Kayaknya seru sampai kamu terkikik-kikik dari tadi?" tegur Hamish sembari meminta ponsel Firda, karena saatnya mereka sudah harus istirahat.
"Membahas bang Jojo, apa ya yang terjadi dengan Syakila malam ini? Nggak sabar menunggu beritanya."
Hamish mengerutkan dahinya, maksudnya apa?
"Bang, tahu nggak gosip yang beredar dulu kenapa istri pertama bang Jojo meninggal?"
"Sudah ajalnya." jawab Hamish sembari mematikan lampu kamar, dalam keremangan suasana kamar Firda memutar bola matanya jengah.
Nggak asik gosip dengan bang Hamish.
"Bukan itu, memang sudah ajalnya. Tapi yang menjadi sebab akibat kan ada,"
"Apa?"
Kepancing juga Hamish.
"Katanya punya bang Jojo itu besar dan panjang," Firda terkekeh, dia merasa geli sendiri.
"Astaghfirullah... Bagaimana bisa gosip seperti itu beredar? Itu hal yang sangat pribadi, tidak mungkin menyebar kemana-mana. Kalau benar, aib, tetapi kalau tidak namanya fitnah. Memangnya almarhum istrinya bangun kembali dan menceritakan apa yang terjadi, nggak kan? Ayah dan ibu bilang karena mendadak terkena serangan jantung, menurut riwayat memang almarhumah memiliki penyakit jantung."
"Ish, Abang, itu karena melihat punya bang Jojo makanya kena serangan jantung."
"Sok tahu kamu, sudah ah, jangan berghibah! Lebih baik kita tidur. Sini, Abang peluk!" ucap Hamish menarik Firda pelan, membenamkan wajah Firda pada dadanya agar tidak berceloteh lagi.
"Tapi, Bang."
__ADS_1
"Apalagi?"
"Bisa jadi benar."
"Benar apanya?"
"Bapaknya bang Jojo kan dari pulau yang berada di timur Indonesia. Postur orang sana kan besar tinggi, pasti itunya..."
"Astaghfirullah...Firda, cukup!"
Firda terkekeh, "Iya, iya."
...*****...
Melihat Syakila yang belum juga sadar dari pingsannya membuat bang Jojo mengusap wajahnya resah.
Wajah Syakila sudah di percikan air dingin, sudah juga di ciumkan aroma parfum di depan hidungnya. Tetapi Syakila masih tetap pingsan.
"Dia ini tidur atau pingsan sih?"
Bang Jojo ngedumel sendiri. Sudah beberapa cara dia gunakan untuk menyadarkan Syakila namun belum berhasil juga, bang Jojo akhirnya memilih berbaring saja di sebelah Syakila.
Mungkin untuk sebagian pria atau wanita yang memiliki onderdil miliknya atau milik pasangannya berukuran mini, pasti sangat menginginkan mempunyai ukuran big size.
Mereka tidak tahu saja bagaimana mindernya bang Jojo selama ini.
Sejak kematian istrinya tujuh tahun yang lalu, bukannya dia tidak ingin menikah lagi atau tidak tertarik dengan lawan jenis. Hanya saja bang Jojo sedikit kuatir kejadian yang sama terulang kembali. Bukannya apa-apa, rumor yang membesar-besarkan fakta yang ada membuat wanita juga takut dengan bang Jojo.
Postur bang Jojo memang tinggi besar dan berkulit aduhai, tetapi dia manis. Beda tipis dengan aktor Danzel Washington ( cuit cuit...) Tapi kalau ngelihatnya pakai sedotan sih.
Bang Jojo mendesah, dia sudah boking hotel selama lima hari ke depan untuk berbulan madu sama Syakila. Masa' di tinggal pingsan.
Bang Jojo rela mengeluarkan uang lebih banyak. Selain Syakila sekarang sudah jadi istrinya, Syakila juga sepupunya. Sampai kapanpun pertalian mereka tidak akan pernah putus.
Bang Jojo memiringkan tubuhnya, menatap Syakila yang cantik. Tiba-tiba saja otaknya kemasukan pasir entah bagaimana, padahal sekarang sedang tidak ada badai.
Dengan ragu-ragu tetapi keinginan dan hasratnya yang sudah mulai bangun, Bang Jojo mengecup bibir Syakila.
Semula cuma sekilas, terus di cobanya lagi, lagi dan lagi. Akhirnya keterusan.
Memberikan ciuman terdalam untuk pertama kalinya pada Syakila yang sudah menjadi istrinya, tiba-tiba saja bibirnya seperti ada yang menggigit. Bang Jojo cepat-cepat melepaskan ciumannya.
"Dek, kamu sudah sadar?"
"Sudah dari tadi," sahut Syakila judes sambil mendorong dada bang Jojo yang berada di atasnya.
Pantesan saja, kok seperti ada balasan.
Bang Jojo terkikik dalam hati.
"Orang pingsan kok dicium, nggak sopan itu namanya." ucap Syakila bersungut-sungut.
"Tapi kamu menikmatinya, Dek, kalau nggak masa' kamu diam saja dan tidak teriak."
"Aku kira kan aku sedang bermimpi."
__ADS_1
Syakila ngeles, padahal sejak tadi dia sudah sadar. Cuma keterusan melanjutkan pingsannya. Dia pengen tahu bang Jojo itu akan melakukan apa, tidak tahunya...
"Terus, kita bagaimana?"
"Bagaimana apanya?"
Ckk, Syakila kura-kura dalam perahu.
"Abang bisa begitu kan malam ini?"
"Itu apa?"
Bang Jojo menyentak napasnya kuat.
Ini salah satu alasan kenapa dirinya mau ketika sang nenek hendak menikahkan dirinya dengan Syakila yang dimatanya sedikit genit, terlihat dari caranya memilih pakaian yang selalu membentuk bodynya yang seksi.
Bang Jojo beranggapan Syakila orang yang terbuka dan mau diajak berbicara pada hal-hal yang bersifat intim, sesuai dengan pakaiannya.
"Punya Abang memang sedikit berukuran jumbo, tapi Abang yakin akan sesuai dengan milikmu." Bang Jojo meringis.
Kenapa bahasanya fulgar sekali?
Syakila melotot, lalu mencebik. Setelah itu melirik ke titik yang sedang mereka bicarakan, Bang Jojo cepat-cepat menutupinya dengan bantal. Dia takut di rudapaksa oleh Syakila, hihihi.
"Pertama mungkin sedikit sakit, lama kelamaan pasti nggak."
"Sok tahu!" sembur Syakila galak.
"Makanya di coba! Nggak akan semua, setengah aja dulu. Janji!" bang Jojo mengangkat tangannya tanda bersumpah.
Syakila pura-pura keberatan, padahal didalam hatinya dia juga penasaran. Apalagi ketika bang Jojo tadi menciumnya, beda jauh dengan gaya Hans.
Hans masih amatir, kalau bang Jojo jam terbangnya sudah tinggi.
"Pelan-pelan lho!"
"Iya,"
"Jangan sampai sakit,"
"Hah?"
"Jadi nggak?"
"Jadilah, matikan lampunya ya! Nggak usah dilihat lagi, kan tadi sudah."
"Siapa juga yang mau lihat, ogah!"
"Yang penting rasanya ya, Dek Sya!"
"He-eh, udah jangan banyak kata pembuka, langsung aksi saja!"
"Siap!"
Malam pertama yang sungguh aneh
__ADS_1
...****************...