Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK

Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK
38. Bersembunyi


__ADS_3

Sudah dua malam Firda dan Hamish pisah rumah, pisah kamar dan pisah ranjang. Jangan ditanya bagaimana rindunya Hamish pada Firda, tapi bukan rindu biasa seperti dua orang yang sedang jatuh cinta karena kasmaran. Oh tidak....


Kalau Dylan bilang jangan rindu, rindu itu berat. Memangnya seberat apa di bandingkan dengan kerinduan yang Hamish rasakan saat ini.


Usia tiga puluh lima tahun baru menikah, dan dia baru beberapa hari menikmati manisnya madu Firda. Eh, maksudnya madu pernikahan, sekarang pakai pisah ranjang segala. Apa nggak berat di kepala, Hamsih pusing.


Mau kerumah orang tuanya Firda, dia malu, keluarga mertuanya sudah mulai memenuhi rumah ayah Deni mau rewang atau bantu-bantu mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan resepsi pernikahan.


Ada yang tahu istilah rewang?


Kalau sekarang dia datang ke rumah mertuanya, lalu bobok bareng dengan Firda, bisa jadi bahan bullyan dirinya. Kelihatan sekali kalau dia kepengen ehem ehem, walaupun iya tapi jangan diperlihatkan ke orang lain dong, malu!


Memangnya Hamish kucing? Tidak perduli dimana dan sedang apa, kalau sudah terdesak, hajar teroosss.


Malam ini, aku sendiri...Hayyaaa...Kok malah nyanyi.


Hamish sudah otw ke kompleks sebelah rumah, dia sudah janjian dengan Noah dan keluarganya untuk menemani kedua bujang lapuk itu yang hendak melamar anak kecil.


Bang Hamish sombooong... Mentang-mentang sudah nggak bujangan lagi, bilangkan Noah dan Ryu bujang lapuk.


[ Noah, masih lama nggak?]


Hamish akhirnya menghubungi


Noah karena dia sudah menunggu di depan komplek perumahan selama setengah jam, tapi yang di tunggu belum juga tercium aroma lapuknya mendekat


[ Sabar! Kami sudah dekat. Sebagai gantinya malam ini kau menemani kami, dua hari lagi saat kau bersanding aku dan Ryu akan menjadi mengiring pengantin untukmu. Istilahnya pagar bagus.]


[ Nggak perlu, kalian berdua sudah ketuaan untuk menjadi pagar bagus. Nanti kerabat mertuaku mengira kalian bapak angkat ku.] tolak Hamish.


Dari seberang sana terdengar tawa yang menggelegar


[ Cepatlah! Nanti aku keburu kurus digigit nyamuk disini, bisa-bisa istriku tidak mengenali aku. Rugi, tau nggak? ] omel Hamish asal sembari menepuk nyamuk yang menggigit jambangnya.


Mungkin dikira nyamuk, jambangnya bang Hamish hutan kali ya?


Tidak sampai sepuluh menit, dua mobil mendekati Hamish yang duduk di atas sepeda motornya.


"Mish, tunjukkan rumahnya! Kami mengikuti dari belakang." titah Noah dari belakang kemudi, di belakangnya ada kedua orang tua dan kembaran papanya Noah.


Sedangkan mobil yang satu lagi di kemudikan oleh Ryu, juga membawa kedua orang tuanya.


Hamish mengerutkan dahinya sembari menahan dadanya yang berdegup kencang, bukan karena jatuh cinta. Tapi kuatir jika malam ini tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan.


Jika Noah dan Ryu mengikuti jejak Hamish yang tiba-tiba menikahi tanpa pacaran terlebih dahulu, itu jauh berbeda dengan kondisi Noah dan Ryu saat ini.


Kalau Firda kemarin, dia kan iseng memfitnah Hamish, nah, kalau Ryu dan Noah? Mereka berdua cuma ngebet saja pengen nikah gegara melihat Hamish menikahi gadis remaja, alasan Noah dan Ryu ingin mengulang kisah para pendahulunya.


"Kalau di tolak bagaimana?" bisik Hamish sebelum mengetuk pintu rumah Gita.


"Pinjam bahumu untuk aku menangis," ucap Noah pura-pura mau mewek, Hamish berdecak.


Noah dan Ryu terkekeh.

__ADS_1


"Noah, Papa nggak mau malu lho!" ancam papa Neo yang berdiri bersebelahan dengan papa Bara


"Tenanglah, Pa! Putramu ini kan belum pernah melamar perempuan, di doakan, bukan ditakut-takuti! Ketika Adipati melamar dan menikahi Mikha di usia yang juga masih balita, Om Bara kan nggak menolak, begitu juga dengan Opa. Masak sekarang kita ditolak, bukankah Allah itu maha adil. Iyakan, Mish?" Noah beralih ke Hamish.


( Opa Elang sudah sangat sepuh, jadi hanya rebahan di mansion sama Oma Freya.


Lah, cucunya saja sudah jadi bujang lapuk, nggak mungkin kan opa Elang masih kuat diajak kemana-mana.)


Terus Hamish mau menjawab apa?


"Ya Allah...Keadilan-Mu di ragukan oleh Noah, maka tunjukkan bahwa Engkau maha adil." ujar Ryu nyengir ke arah papa Alan yang cuma bisa melotot.


"Jul, anak siapa yang konyol seperti itu?" Mama Fatimah berbisik pada mama Julie di belakang para suami, Mama Alika hanya bisa tersenyum kecut mendengar kalimat absurd mama Fatimah.


Mama Alika baru mengalami dalam sejarah hidupnya melamar anak gadis orang mendadak dangdut, diterima belum tentu cemas sudah pasti.


"Dia anak bang Alan, bukan anakku." sahut mama Julie acuh, mama Fatimah hanya bisa terkikik geli


"Sudah, ketuk pintu rumahnya! Kalau kemalaman tuh bocah keburu tidur." celetuk papa Bara mengejek Noah.


"Jangan gitulah, Om? Aku deg-degan nih." Noah memegang dadanya, gayanya sungguh lebay.


"Takut di tolak?"


"Bukan, takutnya dia ngajak nikah malam ini. Aku kan jadi gimana gitu..." Noah terkekeh.


Tiba-tiba daun pintu berayun di buka, membuat perdebatan kecil itu sontak berhenti.


Ada sembilan orang dewasa yang semua menatap dirinya, enam laki-laki dan tiga perempuan.


"Maaf, Om-om dan tante-tante, cari siapa ya?" tanya anak remaja itu berjalan mendekati.


"Kamu siapa? Adiknya Gita?" tanya Hamish menatap remaja yang ada di depannya.


"Hmm, iya, Om siapa?"


"Saya Hamish, suaminya Firda teman Gita. Kakakmu ada?"


Remaja yang bernama Revan itu menatap Hamish dari ujung rambut sampai ke kaki.


Hmm, jadi ini suami kak Firda? Memang sudah dewasa, tapi cukup tampan.


Ekhem, Hamish berdehem agar Revan berhenti menilai dirinya.


"Tuuuhhh....!" tunjuk Revan pada Gita dan Sisil yang baru pulang membeli bakso bakar di ujung kompleks, keduanya tertawa-tawa berjalan kaki sambil mulutnya mengunyah bakso bakar.


Kesembilan orang dewasa itu sontak melihat ke arah Gita dan Sisil, bersamaan dengan itu kedua gadis muda itu juga menghentikan langkah kakinya sembari menatap ke arah banyak orang yang ada di depan rumah Gita.


Gita dan Sisil sama-sama melongo, mereka berdua menatap Ryu, Noah dan eh, ada suami Firda. Setelahnya Firda dan Sisil menatap lama ke arah papa Bara dan papa Neo, kedua mata mereka berkedip-kedip seperti lampu ambulans yang sedang membawa pasien gawat darurat atau membawa jenazah.


"Git, calon suamimu ini lebih tampan daripada calon mertua dan Om mertua, mereka sudah punya istri lho, tuh." Noah menghentikan keterpanaan Gita dan Sisil dengan menunjuk ke arah mama Alika dan mama Fatimah dengan ekor matanya, kedua wanita dewasa yang di tunjuk oleh Noah melambaikan tangannya kecil.


Gita cengengesan.

__ADS_1


"Mereka kembar ya, Om?" bisiknya pelan mendekati Noah, Noah hanya mengangguk.


"Git, ada tamu kok di anggurin, diajak masuk!" Sisil mengingatkan.


"Eh, Om mau ngapain? Dandan rapi, cukur brewok, beneran mau melamar aku?" tanya Gita harap-harap cemas berharap Noah bilang tidak.


"Bukan cuma melamar kamu, saya juga mau melamar Sisil. Biar kalian nggak kesepian kalau salah satu dari kalian menikah." kali ini Ryu yang menjawab.


Gita dan Sisil menelan salivanya dengan susah payah.


"Sil, ini kira-kira mimpi atau nggak?" lirih Gita meringis antara takut dan tidak percaya.


"Nggak tahu, coba tanya Revan." jawab Sisil pada Revan yang dari tadi cuma bisa diam.


"Vaaannn...." panggil Gita lirih, Revan langsung tersadar lalu masuk kedalam rumah untuk memanggil kedua orang tuanya.


"Bang, eh Om, kok beneran? Aku kan cuma ngeprank." kali ini Sisil merangsek ke arah Ryu yang berdiri di samping Hamish.


"Enak saja ngeprank? Kamu kira kita sedang buat konten untuk di unggah di YouTube? Masih mending Abang nggak bawa pak penghulu sekalian." Ryu menatap gemas ke arah Sisil yang sudah bergerak gelisah.


Tidak lama berselang, kedua orang tua Gita keluar dari dalam rumah. Menatap bingung ke arah tamunya, saat yang bersamaan Gita dan Sisil menyingkir kearah rumah Sisil untuk bersembunyi.


...****************...


Epilog.


Yang menjadi wakil untuk berbicara menyampaikan maksud kedatangan keluarga Noah dan Ryu adalah Hamish, karena berita pernikahan Hamish dan Firda sudah di ketahui oleh orang tua Sisil dan Gita. Apalagi undangan resepsi pernikahan mereka sudah disebar.


Kedua orang tua Sisil juga di minta datang oleh ibunya Gita. Ulah nakal keduanya yang menantang pria-pria dewasa tidak bisa di sepelekan begitu saja.


Dengan rasa senang dan bahagia, kedua orang tua Sisil dan Gita menerima lamaran dari Noah dan Ryu.


Nggak mungkin di tolak lah, secara yang datang melamar keluarga kaya.


Kalau soal usia....Nggak pa pa beda jauh, tuh, buktinya si Firda malah mau di pestakan. Berarti nggak masalah dengan usia kan?


"Tante, saya titip ini untuk Sisil ya!" Ryu menyodorkan satu kotak yang isinya sesuai permintaan Sisil kepada ibunya Sisil.


Noah dan Hamish saling menatap.


Kalau Firda tahu Sisil di beri apa oleh Ryu, dia akan minta di belikan juga nih. Untung ponselnya nggak jadi di jual dan masih di simpan. ( Hamish )


Ish, dasar keponakan nggak punya sopan, mau ngasih hadiah nggak bilang-bilang! Padahal melamarnya barengan. ( Noah )


"Kalau untuk Gita, biar besok dia pilih sendiri apa maunya ya, Tante!" ujar Noah ke ibunya Gita nggak mau kalah.


Papa Bara dan Papa Neo serasa mau menjitak kepala Noah, tapi sudah nggak pantas karena Noah sudah dewasa.


Papa Alan tersenyum penuh kemenangan.


Anak siapa dulu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2