
Pesta akhirnya usai juga, Hamish yang sudah berada di dalam kamar segera menarik Firda menuju ke kamar mandi.
"Mau ngapain?"
"Mandi, Fir, Abang gerah, pasti kamu gerah juga kan? Pakai Beskap seharian membuat punggung Abang terasa gatal, mandi bareng kita yuk, biar sekalian bisa saling membersihkan punggung!" Hamish mengedipkan sebelah matanya genit.
"Ish, aku belum buka baju, Abang saja mandi dulu." Firda bertahan di tengah-tengah pintu kamar mandi.
Dia kan baru sekali mandi berdua bersama suaminya, dan itu bukan sekedar mandi. Ada ritual yang lebih melelahkan, Firda tahu modus suaminya untuk mengajaknya mandi bareng.
"Untuk efisien waktu, Fir, sebentar lagi magrib lho. Ayolah, sayang!"
Heh, jarang-jarang Hamish memanggil Firda dengan sebutan sayang, Firda mulai mengendurkan pegangan tangannya pada pinggiran pintu.
Ckk, baru di panggil sayang saja sudah klepek-klepek.
"Abang yang membukakan baju kamu, cepetan ah!" Hamish sudah menarik tangan Firda.
"Ish, Abang nggak sabaran."
Malas mendengarkan protesan dari mulut Firda, Hamish sudah menarik turun resleting gaun pengantin yang Firda kenakan.
Selanjutnya tahu sendiri apa yang terjadi, empat hari Hamish sudah menunggu. Namanya juga lagi maruk-maruknya, mana bisa nahan lebih lama lagi.
Sisil dan Gita yang mau pamit pulang, kesel mengunggu pengantin yang katanya salin. Padahal di kamar Hamish dan Firda saling piting, saling banting, tak keluar lagi.( Pinjam lagunya kang Doel sumbang )
"Kau yang ketuk!"
"Nggak, kau lah!"
"Haish, ya sudah kita ketuk sama-sama."
Keduanya sudah bersiap untuk mengetuk pintu kamar pengantin, Bagas yang melihat kedua teman adiknya berada di depan kamar Firda segera datang untuk melarang.
"Kalian berdua mau ngapain?"
Bukannya menjawab, kedua gadis muda itu menatap Bagas tidak berkedip.
Makin cakep aja sih, untung sudah ada yang melamar. Kalau nggak sudah dikarungin ini cowok.( Sisil )
Ya, Allah...Abangnya Firda bagaimana bisa ganteng bener, jangan-jangan ketuker waktu lahir di rumah sakit. ( Gita )
Bagas segera menjentikkan jarinya di depan wajah kedua gadis itu.
__ADS_1
"Mau ngapain ke kamar Firda? Di dalam ada suaminya, nggak boleh masuk sembarangan. Bagaimana jika kalian akan melihat hal-hal yang tidak pantas untuk di lihat?"
"Misalnya apa, Bang?" Sisil mulai kembali centilnya, lupa tuh sama Ryu yang tadi merayunya untuk ngajak nikah cepat juga. Panas hati dan kepalanya melihat Hamish yang duduk bersanding di pelaminan, dia juga pengen jadi raja sehari.
Bagas menarik napas panjang. Jika kedua perempuan yang ada di depannya dilayani, maka akan panjang urusannya.
"Aku dengar kalian sudah dilamar kan? Cocok, maka menikahlah! Kalian akan tahu apa yang terjadi di dalam kamar suami istri."
"Abang sendiri kapan? Apa harus aku membatalkan lamaran itu?"
Gita ini maunya apa sih? Kalau sampai dengar sama bang Noah dia mulai oleng, bisa di halalin juga dia sore ini.
Bagas hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Gita yang asal nyeplos.
"Sudah, kalau mau pulang, pulang saja! Besok pagi kalian bisa kembali kesini untuk mengambil tas kalian yang ada dikamar Firda, anggap saja besok sekalian sarapan pagi. Atau kalau kalian mau menunggu juga nggak apa-apa, tapi ingat, jangan mengetuk pintu!" pesan Bagas meninggalkan kedua gadis yang masih dengan tidak tahu malu menatap wajahnya tanpa berkedip.
Walaupun pesta sudah usai, kesibukan masih berlangsung. Jadi Bagas lebih memilih ikut memberikan sisa-sisa pesta daripada terus berada di depan Sisil dan Gita.
"Enak jadi pengantin ya, Git, nggak peduli di luaran masih kacau balau yang penting asooyyy..." Sisil tergelak.
"He-eh, jadi pengen nikah juga. Hmm... Tawaran Mas Noah sepertinya menarik."
"Iya, kau benar, jadi kalau si Firda ngomong nyerempet-nyerempet kita sudah..."Sisil menaik turunkan alisnya memberi kode.
...*****...
Selesai sholat Maghrib berjamaah, Hamish langsung memeluk Firda dengan erat. Dia merasakan rasa sayang yang membuncah di dalam dadanya, lalu mencium puncak kepala Firda dengan sangat lama.
"Abang cinta sama kamu, Fir."
Firda mendongakkan kepalanya, menatap wajah pria dewasa yang kini memeluknya dengan erat.
"Secepat itu? Pasti gombal ya?"
"Nggaklah, kamu kan istri Abang. Semua yang ada padamu sudah Abang nikmati, dan itu ibadah terindah. Apa masih butuh waktu lagi? Untuk apa? Kamu istri Abang, kamu dititipkan Allah untuk Abang miliki di dunia ini, Abang tidak membutuhkan ruang dan waktu untuk bisa cinta sama kamu.
Jika ada yang mengatakan jatuh cinta karena pandangan pertama, itu pasti karena fisiknya. Nah kalau Abang kan nggak, karena kamu istri Abang makanya Abang jatuh cinta."
Kok bang Hamish jadi mirip bang Zainal ya? Haish, bikin kangen aja.
Firda tidak mampu berkata-kata, karena apa yang dikatakan oleh Hamish bisa diterima akalnya.
Dua orang, pria dan wanita bisa saling jatuh cinta hanya karena beberapa saat mereka bersama yang kata orang sedang berpacaran. Seperti Hans dan Syakila. Terus kalau Hamish dengan cepat jatuh cinta pada Firda istrinya, dimana letak salahnya.
__ADS_1
Mereka berdua suami istri, sudah beberapa kali juga saling berbagi dan memberikan kenikmatan batin yang paling hakiki. apa yang menghalangi untuk jatuh cinta?
Hamish memang sudah beberapa kali dia menjalin hubungan dengan wanita bahkan sudah hendak menikah, tetapi dia belum pernah melakukan hal-hal yang di luar batas.
Abah selalu memberikan padanya peringatan untuk tidak menyentuh perempuan yang belum halal baginya. Karena menurut Abah jika sudah pernah mencicipi manisnya dosa sebelum pernikahan, maka ketika seseorang sudah halal untuknya tidak lagi indah dan memabukkan.
Hamish mengikuti nasihat Abah untuk tidak coba-coba mencicipi dosa.
Begitu juga dengan Hana dan Faiza kedua adiknya, mereka menikah karena di jodohkan dengan anak dari teman-teman Abah juga.
Mereka semua saling mencintai di karenakan kedua ipar Hamish juga pria-pria yang baik, hanya Firda yang sedikit nakal. Dan itu menjadi tugas Hamish untuk membimbing istrinya.
"Hmm, kalau Abang cinta sama aku, terus... Ponselnya kapan di berikan padaku, Gita dan Sisil punya ponsel yang sama lho masak aku nggak."
Hamish langsung menggigit puncak hidung Firda.
"Dia ada di kamar kita di rumah Abah. Sekarang, kamu buatkan teh untuk, Abang. Biar Abang bantu-bantu yang lainnya di luar."
Hamish bangun dan duduknya, menggantikan sarung dengan celana bahan sebelum keluar dari dalam kamar. Firda ngeloyor ke arah dapur.
"Cieee... Pengantin baru keluar dari dalam kamar dari sore tadi, ngapain aja, neng? " Mpok Narti si biang gosip sedang memanaskan sisa makanan pesta yang memang di buat sedikit berlebih, agar tetangga yang membantu acara hajatan bisa membawa beberapa potong untuk di bawa pulang.
"Biasa lah, Mpok, kutunya pada berantem jadi kudu didamaikan dulu." jawab Firda asal.
Mbok Narti cuma nyengir sembari celingukan, mengawasi suasana dapur yang sedikit lengang karena sebagian tetangga yang membantu sudah pulang ke rumah dan sebagian lagi berkumpul di dalam tenda. Biasa mengobrol ngolor-ngidul membahas tentang apa saja sembari menghilangkan lelah, ada juga yang makan.
"Fir, hati-hati dengan suamimu! Kau kan belum mengenalnya dengan baik, kalau dia ringan tangan padamu kau harus segera melakukan visum untuk jaga-jaga."
"Maksudnya?"
"Ya, kalau terlalu sering mendapatkan KDRT, kau bisa melaporkan ke Komnas perlindungan anak dan perempuan. Seret dia ke penjara! Karena tidak sedikit kasus yang mengatakan bahwa nyawa seseorang yang hilang ditangan pasangannya sendiri."
Beuh, gaya Mpok Narti sudah seperti pembawa acara kriminal.
"Mpok, kata siapa kalau bang Hamish ringan tangan?"
Saatnya Firda ingin tahu sumber dari isu yang menyebabkan ibunya sedikit curiga dan was-was terhadap suaminya.
"Pokoknya dari sumber yang terpercaya, kau hanya perlu waspada. Ingat! Kejahatan yang terjadi bukan karena niat sang pelaku tapi karena ada kesempatan. Maka, waspadalah! Waspadalah!"
Firda bengong, didalam pandangannya Mpok Narti jadi berubah menjadi bang Napi.
...****************...
__ADS_1