
"Bang, jadi gimana? Bang Ryu dan bang Noah nggak pa pa kalau pertunangan mereka batal."
Firda itu tipe perempuan atau istri kebanyakan, suami pulang bukan di suguhkan air minum atau di biarkan rehat dulu. Langsung saja ditanya macam-macam.
"Tidak segampang itu, teman kamu belum di bawa sih ke rumah keluarga Ryu dan Noah. Coba kalau mereka sudah di perkenalkan pada semua keluarga?"
"Nggak bakalan berani ya mereka membatalkan?"
"Bukan, justru makin minder," kekeh Hamish, Firda mencebikkan bibirnya.
Tidak terbayang oleh Hamish bagaimana jika Sisil dan Gita bertemu dengan keluarga mereka yang bikin sakit kepala bagaimana tuturan panggilannya, apa sanggup tuh keduanya mengatakan batal ketika berhadapan dengan para sepupu Noah dan Ryu yang banyak.
"Bang, kok bisa minder, kenapa?" tanya Firda tidak puas dengan Jawa suaminya sambil terus mengekori Hamish sampai di depan pintu kamar mandi.
"Mau ikut mandi bareng?"
Firda cepat-cepat mundur.
"Nggak, aku sudah mandi. Abang saja mandi sendiri!"
"Yakin? Ntar Abang gosokin punggungnya, cuma mandi saja kok, janji!"
Firda menggeleng cepat, dia sudah hapal modus Hamish. Tidak mungkin dia tertipu dengan mudah.
"Oke kalau nggak mau, Abang mandi sendiri."
Sambil menunggu Hamish selesai mandi, Firda mengecek akun sosial media.
Ponsel Hamish yang di letakkan di atas kasur berbunyi, menandakan ada pesan masuk. Jiwa kepo Firda segera bangkit, ekor matanya melihat pesan dari siapa yang masuk ke ponsel suaminya.
"Mawar? Ngapain juga pakai kirim pesan segala? Dasar perempuan gatel." Firda cepat membuka isi pesan dari Mawar sambil matanya berjaga-jaga mengawasi pintu kamar mandi.
[ Aku ke cafe, kok kamu sudah pulang? Biasanya malam baru pulang?]
"Apa maksudnya? Biasanya bang Hamish kan memang pulang sore, amnesia nih orang."
Firda menoleh lagi ke arah pintu kamar mandi, belum ada tanda-tanda kalau Hamish sudah selesai mandi. Suara gemericik air masih terdengar berjatuhan ke lantai.
[ Ada perlu apa?] Firda segera mengirimkan balasan, tapi riwayat pesan baik dari Mawar maupun balasan yang dirinya buat cepat di hapus.
[ Nggak ada, pengen ngobrol saja.]
[ Kan ada suami mu, kenapa ngobrol ke cafe?]
[ Dia sedang ke tempat istri mudanya, aku bete, makanya pengen ngobrol sama kamu seperti dulu.]
Firda mengucek-ngucek matanya, dia tidak percaya dengan apa yang baru di tulis oleh Mawar.
Tempat istri mudanya? Maksudnya apa?
__ADS_1
Firda ketinggalan berita, dia tidak tahu nasib Mawar sekarang.
Pintu kamar mandi terdengar di buka, Firda cepat-cepat menyembunyikan ponsel Hamish di bawah bantal.
"Kamu kenapa? Kok wajah kamu pucat gitu? Sakit?" Hamish meletakkan punggung tangannya di dahi Firda, terasa hangat. Ya iyalah, Firda kan sedang ketakutan.
"Nggak, Bang, tadi lihat video horor, jadi..." Firda tertawa sumbang menghilangkan rasa groginya.
Ponsel di bawa bantal berbunyi kembali, sepertinya Mawar kembali mengirimkan pesan. Hamish celingukan mencari sumber suara, jantung Firda sudah berdebar-debar takut ketahuan kalau dia membuka pesan dan menyembunyikan ponsel suaminya.
"Bang, Umi tadi buat combro, enak loh. Abang nggak pengen nyobain?" tanya Firda mengalihkan perhatian Hamish yang terlihat mencari ponselnya.
"Benarkah? Itu kesukaan, Abang. Belajar masak sama Umi ya, Fir! Lain kali kamu yang buatkan untuk Abang, jangan Umi lagi!"
Firda mengangguk-anggukan kepalanya berkali-kali saking semangatnya sampai Hamish terkekeh.
"Menganggukkan kepalanya pelan saja, ntar copot lehernya. Ya sudah, Abang mau coba combro buatan Umi. Kamu nggak ikut?" tawar Hamish melihat Firda yang tetap duduk di atas kasur.
"Nggak, aku di kamar saja, sedang chatting sama Sisil dan Gita." alasannya seraya memperlihatkan ponselnya
Hamish mengangguk, lalu menutup pintu kamar, Firda menghembuskan napas lega. Cepat-cepat Firda mengunci pintu kamar agar kalau Hamish masuk kamar kembali masih ada waktunya untuk menghapus jejak pesan balasan yang di kirim ke Mawar.
Firda juga meneruskan pesan yang Mawar kirim ke nomor Hamish agar terkirim ke nomor ponselnya, dibuatnya nomor Hamish selalu dialihkan ketika Mawar menghubungi atau mengirim pesan.
[ Aku pengen cerai saja darinya, tapi aku juga nggak punya pekerjaan untuk membiayai hidup ku selanjutnya jika bercerai dari Doni. Kamu mau nggak menerima aku jadi kasir di cafe kamu, anggap saja menolong teman yang sedang membutuhkan.]
Firda mencibir.
[ Kasir di cafe sudah ada, lagi pula aku sedang tidak membutuhkan tambahan karyawan. Cobalah cari pekerjaan di tempat lain!]
Firda memuji dirinya sendiri, ternyata dia bisa juga mengikuti cara berpikir Hamish, dia tidak boleh kelihatan menjatuhkan Mawar. Bisa ketahuan kalau dia yang membalas pesan dari Mawar, bukan Hamish.
[ Mencari pekerjaan kan susah, Mish, apalagi status seperti aku yang sudah berkeluarga gini. Ayolah, Mish! Masak kamu tega sih sama aku?]
[ Kalau kamu merasa hidup ini sulit jika tidak memiliki suami, kenapa harus bercerai?]
[Aku tidak mau berbagi suami, Mish, masak kamu nggak ngerti juga sih? Apakah kamu bahagia menikah dengan dia yang sudah merusak acara pernikahan kita kemarin?]
[Alhamdulillah, bahagia sekali, tidak pernah terpikirkan jika aku sebahagia ini menikah dengan Firda. Aku bahkan setiap saat jatuh cinta ketika melihatnya, kenakalannya itu yang membuat aku jatuh cinta. Saat di cafe pun aku ingin cepat-cepat pulang hanya ingin bisa segera bertemu dengan istriku.]
Emang enak?
Krik...Krik... Krik...Krik.
Hening, tidak ada lagi pesan balasan dari Mawar, Firda segera menghapus riwayat obrolan dan memblokir nomor Mawar. Kembali diletakkan ponsel Hamish di atas meja, cepat-cepat dibukanya pintu kamar kembali. Sebentar lagi magrib, kuatir ketahuan oleh Hamish kalau dia tadi menyamar menjadi suaminya ketika berbalas pesan dengan Mawar.
...*****...
"Permisi?"
__ADS_1
Gita dan Sisil yang sedang ngerumpi di depan teras rumah Gita menatap kurir yang berdiri di depan rumah Sisil.
Rumah keduanya berhadap-hadapan, hanya jalan selebar lima meter yang membatasi teras rumah mereka. Namanya juga pemukiman yang berada di kompleks perumahan sederhana, tentu saja jarak rumah yang satu dengan rumah yang lainnya hampir tidak berjarak. Jalan kompleks pun bisa dijadikan halaman sekaligus teras bagi siapa yang sedang membutuhkan.
"Cari siapa, Mas? Orangnya disini." teriak Sisil. Dia dan Gita berjalan mendekati kurir.
"Ada kiriman paket buat Sisilia Athari, mohon di terima!" Kurir menyerahkan satu buah kotak transparan yang berisi coklat, ada selembar kartu di atasnya.
Setelah menandatangani tanda terima, Sisil membaca kartu ucapan. Dia akan tahu siapa yang mengirimkan sekotak coklat yang sangat menggiurkan itu. Air liur Gita saja sampai hampir meneter keluar, tangannya sudah hendak menjangkau kotak coklat tapi cepat di tepis oleh Sisil.
Hai calon istri... Coklat ini hanya melambangkan perasaan Abang, sejatinya kamu bahkan lebih manis dan lebih legit daripada coklat ini.
Berikan nomor rekening mu! Abang akan mengirimkan uang jajan untukmu, Abang nggak bohong kan? Belum nikah saja sudah Abang kasih jajan apalagi kalau kamu sudah jadi istri Abang.
Love you,
Ryu Kent.
"Git, ternyata dari Bang Ryu. Dan dia sepertinya tidak perduli tuh kalau aku sudah mengirimkan chat yang mengatakan kalau aku membatalkan pertunangan. Atau jangan-jangan nggak terkirim pesan yang aku buat kemarin."
Sisil segera mengecek ponselnya, membuka blokiran nomor kontak Ryu.
Sayang, riwayat obrolan sudah di hapus seluruhnya jadi Sisil tidak dapat mengecek apakah pesannya terkirim atau tidak.
"Jadi, kau mau mengirimkan nomor rekening mu padanya?" tanya Gita antara iri dan entahlah. Hatinya mencelos mengetahui Sisil mendapatkan kiriman coklat dan mau di transfer uang jajan, sementara dirinya.
"Iya dong, bang Ryu kan calon suamiku. Lumayan kan, dapat uang jajan. Bisa beli baju dan ke salon, love juga deh buat bang Ryu." ujarnya gembira.
Sisil segera mengirimkan nomor rekeningnya pada Ryu sekaligus ucapan terimakasih karena sudah mengirimkan hadiah coklat, tidak lupa pula dia selipkan sedikit
gombalan.
[ Makasih ya bang Ryu yang cakep, baik hati dan tidak pelit. Besok jemput di kampus ya, Bang! Aku kangen.]
Preeettt....
Setelah mengirimkan pesan, Sisil menciumi layar ponselnya berkali-kali, lebay
Gita langsung saja ngeloyor pergi untuk balik ke rumahnya.
"Git, kau nggak nyicipi coklatnya?"
"Aku nggak doyan coklat, pahit." jawab Gita buru-buru masuk ke dalam kamarnya.
Apakah Mas Noah memilih kembali ke mantan pacarnya?
Gita langsung menjatuhkan dirinya di atas ranjang, ingin dia menangis tapi tidak bisa. Hanya saja dadanya terasa sangat sesak.
...****************...
__ADS_1