Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK

Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK
30. Fitnah


__ADS_3

"Fir, enak nggak nikah?"


Firda menatap Sisil yang bertanya dengan mode serius, lalu beralih pada Gita yang bersiap-siap untuk mendengarkan apa yang akan keluar dari mulut Firda.


"Enak, enak banget malah. Tapi kalau tipenya seperti bang Hamish sih. Dewasa, pengertian, suka ngasih duit, diapa-apain juga pasrah aja." Firda tertawa ngakak, Gita dan Sisil melongo.


"Jadi kemarin itu waktu leher bang Bujang banyak merah-merahnya jadi bukan di leher saja, pasti masih banyak di tepat lainnya. Dimana lagi kau buat?" Sisil semakin bersemangat bertanya.


"Kalau aku ceritakan yang mana saja dari tubuh suamiku yang sudah aku buat merah-merah, ntar kalau kalian jadi kepengen gimana? Siapa lawan tanding kalian? Lengan sendiri lagi?Nggak banget."


Sisil menggaruk kepalanya, membenarkan ucapan Firda.


"Jadi kepengen nikah juga, tapi belum mau punya anak." Sisil mulai berkhayal.


"Iya, cuma untuk sayang-sayangan aja, terus yang mau kasih kita duit juga. Kayak dirimu itu, Fir. Ada nggak ya pria yang seperti itu? Kalau bang Bujang di kloning, boleh nggak, Fir?" Gita ikutan oleng.


"Biaya kloning nggak murah, lagipula itu cuma ada di film. Mendingan cari cowok lain!" usul Firda, mana rela dia suaminya di kloning. Ntar kalau ketukar mana yang asli dan mana yang hasil kopian gimana?


Gita melirik Syakila yang baru masuk ke kantin bersama dengan beberapa temannya, ujung bibirnya naik sedikit membentuk seringaian.


"Iya, Sil, cari cowok itu yang sudah dewasa, sudah punya penghasilan sendiri. Kalau cuma modal tampang doang terus kalau makan kita yang bayar, cuih...Kita sendiri saja ngirit-ngirit uang jajan biar bisa beli kuota, kalau akhirnya buat traktirin cowok mah ogah. Mendingan jomblo, kasihan tuh sama orang tua!"


Sisil dan Firda menautkan kedua alisnya sesaat dengan ucapan Gita, menyadari ada Syakila juga di dalam kantin Firda dan Sisil mengangkat kedua jempol tangan mereka ke arah Gita.


"Fir, udah begituan belum?" bisik Gita, Firda melotot. Sisil yang ada di sebelahnya cekikikan.


"Kenapa pertanyaannya semakin jauh kedalam gitu?" Firda mulai kebat-kebit mencari jawaban yang jujur apa bohong, secara selama ini mereka kan nggak pakai filter kalau ngomong.


"Jawab aja! Pasti udah kan? Nggak mungkin bang Bujang diem-diem aja kau uleng-ulengin. Ayolah, jawab aja dikit!" paksa Gita.


"Rasanyaaa...Enak gila." ucap Firda ngakak.


Gita dan Sisil cuma bisa melengos, Gita jadi menyesal kenapa bertanya seperti itu.


"Yang jadi ayam kampus aja bangga, bilang aja kau belum bisa move on karena Hans lebih memilih aku dari pada dirimu yang jadi ayam kampus." Syakila mencibir.


Sisil panas hati, dia bangun dari duduknya dan mendekati Syakila.

__ADS_1


"Eh, kau sebagai sepupu terjauh Firda, kemana saja belakangan ini? Sibuk mikirin cowok sehingga nggak tahu berita apa-apa? Atau kau yang pura-pura tidak mau tahu? Matamu itu apa sudah buta sehingga tidak tahu Firda itu jalan sama siapa? Bilang saja kalau kau iri?"


Syakila terdiam, dia baru ingat kalau kemarin ada rembukan keluarga di rumah neneknya. Syakila memang nggak ikut ngumpul karena itu urusan orang tua, dia juga tidak menyimak orang tuanya mengatakan apa ketika pulang dari rumah neneknya. Yang dia tahu akan ada pernikahan, tapi siapa?


Melihat Syakila yang mendadak diam dan terlihat berpikir, Sisil mencibir.


"Sudah nggak pikun lagi? Makanya, jangan terlalu bucin pada orang yang belum tepat. Kau sudah menyebarkan berita bohong tentang saudaramu sendiri, kau tanggung lah dosa itu juga sendirian. Cantik, tapi pemakan bangkai hiiii..."


Sisil bergidik ngeri sembari berbalik badan.


"Ayok cabut Fir, Git! Aku eneg seruangan dengan pemakan bangkai." Sisil melangkah mendahului keluar dari kantin, diikuti oleh Gita dan Firda.


"Apa maksud ucapan Sisil, Sya? Firda kan saudaramu, dari ucapan Sisil tadi sepertinya kau ketinggalan berita. Jangan-jangan Om-om yang bersama Firda yang kau ceritakan tadi itu kekasihnya Firda? Atau calon suaminya, bisa saja kan?" ucap salah satu teman Syakila.


"Nggak mungkin, dia terlalu tua untuk Firda, ya memang cakep sih. Tapi..." Syakila menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Terlalu tua untukmu bukan berarti untuk orang lain, bisa saja dia justru nyaman dengan yang lebih tua tapi bisa ngemong." imbuh yang lain lagi.


"Tauk tuh, kau sudah mendapatkan Hans. Cowok yang di taksir oleh Firda juga, lalu apa lagi? Jangan seperti cewek-cewek yang didalam sinetron gitulah, Sya! Kalau memang Firda seperti yang kau tuduhkan, harusnya gayanya cetar membahana dengan ponsel dan pakaian yang keren-keren. Ini dia masih biasa saja seperti kita-kita."


Kata-kata pedas dari teman-temannya membuat Syakila jadi nggak enak hati, wajahnya sudah memerah karena malu.


Syakila benar-benar di buat gabut dan nggak di anggap.


...******...


"Fir, kamu menginap saja disini menjelang hari H, kan nggak lucu kalau calon mempelai nggak ada di rumah." usul ibunya sambil ikut menemani Firda, Sisil dan Gita makan siang.


Sudah kebiasaan bagi ketiganya kalau pulang dari kampus langsung makan, tidak peduli mau di rumah Gita atau Sisil ketiganya sama saja.


"Belum bilang sama Umi, Abah dan Bang Hamish, Buk. Nanti malam Firda bicarakan pada mereka ya, Buk!"


"Iya, banyak hal yang mau dikerjakan. Sisil dan Gita bisa membantu kan? Melipat tissue, membungkus sovenir, bisa?" ibunya Firda beralih menatap kedua teman Firda.


"Siap, ibu mertua." ucap Sisil terkekeh, Gita mencebik, ibunya Firda hanya bisa tertawa kecil.


"Wah, calon istri Raka sudah ada di rumah. Nggak nyangka sudah di tungguin." sela Raka dari pintu depan, pria remaja itu baru pulang sekolah.

__ADS_1


Gantian Gita yang tertawa senang.


"Bukan kamu, Ka, kamu sunat saja belum kering. Sekolah aja yang bener!" sahut Sisil membuat Raka hanya bisa nyengir.


"Kak, gimana bang Bujang? Kakak udah cinta sama dia belum? Baik nggak orangnya?" tanya Raka duduk di sebelah Firda tanpa terlebih dahulu mengganti seragamnya.


"Kenapa tanya-tanya? Menurutmu, dia baik nggak? Jangan bilang kalau kau ada maunya, jangan bikin malu!"


"Ish, jangan nuduh dong! Aku kan cuma tanya. Mumpung belum di pestakan, jadi masih bisa...."


"Raka, jangan aneh-aneh! Ganti bajumu, lalu makan!" potong ibunya sebelum Raka meneruskan ucapannya.


"Iya, Buk." Raka bangun dari duduknya lalu berjalan menuju ke kamarnya.


"Buk, kok Raka ngomong gitu, memang kenapa dengan bang Hamish?"


Firda menatap ke wajah ibunya, begitu juga dengan Gita dan Sisil. Mereka berdua jadi penasaran dengan ucapan Raka, karena biasanya anak remaja seusia Raka itu tidak begitu peduli dengan hal-hal yang menyangkut urusan orang dewasa.


"Bagaimana dia memperlakukan dirimu, baik? Tidak kasar kan?" tanya ibunya dengan wajah yang sedikit cemas walaupun bibirnya tersenyum.


Tatapan matanya meneliti Firda dengan seksama, sampai beberapa tanda kissmark yang sudah samar dan bentuknya kecil ada di bawah rahang Firda beliau tahu. Tapi tidak di perlihatkan kalau dirinya sedikit terkejut.


"Ibuk, sebenarnya ada apa? Jangan bikin teka-teki lah!" Firda jadi ikut takut.


Ibunya menghela napas sebentar sebelum berterus terang pada Firda.


"Pernikahanmu dengan Hamish sudah menyebar ke seantero kompleks perumahan, apalagi Minggu depan acara resepsinya. Ibuk juga sudah meminta tolong beberapa tetangga untuk bantu-bantu, tapi ya gitu. Ada kabar yang mengatakan kalau Hamish itu orangnya kasar dan ringan tangan, makanya dia bisa gagal nikah dua kali, dan ketiga kalinya kau yang menggagalkan. Mereka juga bilang kenapa Mawar lebih memilih rujuk dengan suaminya karena tahu sifat Hamish yang sebenarnya, jadi Hamish itu seperti apa? Kamu bisa ceritakan pada Ibuk? "


"Siapa yang menyebarkan fitnah itu, Buk? Walaupun Firda baru seminggu jadi istrinya, tapi bang Hamish tidak seperti itu." bela Firda.


"Kamu baru seminggu mengenalnya, jadi belum tahu bagaimana aslinya. Bagaimana jika kalian tinggal di sini saja! Jadi kalau Hamish melakukan kekerasan padamu, ada Ayah, Ibuk, Bang Bagas dan Raka yang akan membelamu. Gimana?"


Firda menatap wajah Ibunya, Sisil dan Gita secara bergantian. Raka juga sudah ikut duduk di kursi sambil tangannya menyenduk nasi dan meletakkan diatas piring.


"Nanti Firda bilang sama bang Hamish ya, Buk! Karena Umi dan Abah maunya kami tinggal di sana, mereka kan hanya tinggal berdua jadi kesepian." Firda jadi tidak berselera untuk melanjutkan makannya.


"Nanti biar Ibuk yang bicara pada Hamish."

__ADS_1


Firda hanya bisa mengangguk, hatinya mendadak jadi ragu.


...****************...


__ADS_2