Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK

Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK
44. Terlalu Sempurna


__ADS_3

Belum juga ketiganya kembali melanjutkan gosip yang membuat bulu kuduk berdiri, pintu kamar kembali diketuk dari luar. Kali ini bukan Firda yang akan membuka pintu, tetapi Gita.


"Bisa saya bicara dengan, Firda!" Hamish tersenyum tipis bertanya di depan pintu. Rupanya yang mengetuk pintu barusan Hamish, bukan entah siapa lagi yang mengacau ghibahan pagi mereka.


Gita tersenyum malu.


"Sil, yang punya kamar sudah datang, yuk ke dapur cari sarapan!" ajak Gita menyambar tas miliknya yang ada dalam laci meja rias.


Sisil juga gegas ikut kabur dari dalam kamar Firda.


"Cerita apa pagi-pagi?" tanya Hamish mendekat, Firda yang sudah berpenampilan rapi dan lebih segar cuma menggeleng.


"Nggak ada, Bang, tas mereka ketinggalan jadi pagi-pagi kesini mau ngambil tasnya."


"Nggak tanya macam-macam kan?"


"Nggak lah, Bang, yuk pulang ke rumah Abah! Aku sudah nggak sabar,"


"Nggak pengen buka kado dulu? Lagipula ada temen kamu masak ditinggal."


"Hallah, palingan juga isi kadonya kalau tidak handuk, seprai, peralatan rumah tangga, nggak ada setumpuk uang. Biar saja ibuk yang buka, nanti juga dikasihkan ke aku. Ayok pulang! lagian yang asik-asik itu ada di Abang," Firda sudah menarik-narik tangan Hamish seperti anak kecil yang mengajak bermain.


"Genit kamu." Hamish mencubit kecil puncak hidung Firda, tapi godaan dari Firda sukses juga membuat darah Hamish langsung berdesir lalu mengalir lebih kencang dan bertumpu di satu titik.


"Terus temen kamu bagaimana?"


"Biar saja! Mereka sudah biasa di rumah ini,"


Hamish lebih dahulu permisi pada ayah mertuanya dan Bagas yang masih membereskan halaman supaya seperti sedia kala, untuk tenda dan pelaminan yang punya semua barang-barang itu yang akan membongkar dan mengangkatnya kembali.


Hamish dan Firda akan datang lagi nanti sore setelah Firda pulang dari kampus.


Firda sendiri menemui ibunya yang masih berada di kamar bersama dengan Raka, bocah remaja itu sedang merengek minta dibelikan sepeda motor. Alasannya dia malas numpang dengan Bagas, sudah sering diomelin seperti anak kecil kalau pulang sekolah naik angkot jadi laper di jalan.


"Buk, Firda pergi ya!"


"Nggak sarapan dulu?"


"Nggak, Buk, melihat rendang sama ayam sudah eneg, sampai wajah Raka juga kayak ayam."


Raka tidak terpengaruh, dia masih fokus mengurut kedua kaki ibunya.

__ADS_1


"Kau nggak sekolah, Dek?" Firda beralih pada Raka.


"Nggak, kan habis pesta, capek."


Firda terkekeh geli.


"Dih, yang jadi pengantin siapa yang capek siapa?"


"Aku capek, disuruh ke sana ke sini. Kakak kan cuma duduk saja, menjelang pesta kakak justru luluran dan di urut. Beda sama aku, sudah kayak setrikaan rusak.


Buk, aku nggak mau sekolah nih kalau nggak di belikan." wajah Raka sudah mau menangis, terlihat ibunya Firda menarik napas panjang.


"Iya, pergilah sekolah! Nanti Ibuk musyawarahkan sama ayah dulu, lagian situasinya kan masih capek dan repot. Nggak enak kan masak habis pesta langsung beli motor baru untuk kamu, apa kata orang-orang? Seolah-olah Ibuk nggak punya uang sebelumnya, dan pesta ini banyak mendapatkan keuntungan. Malu, Ka."


"Ibuk selalu mendengarkan omongan orang, yang ada ibuk yang sakit kepala. Nah mereka yang cuma bisa komentar tertawa-tawa tidak peduli.


Omongan miring dan merusak hati itu jangan di dengar toh, Buk!"


"Dek," Firda menggelengkan kepalanya agar Raka jangan terus mendikte ibunya. Ibunya masih capek, kuatir nanti marah dan ngambek lagi.


Dengan wajah yang cemberut, Raka keluar dari kamar ibunya.


Firda memandang wajah ibunya yang masih menatap kepergian Raka dengan menghembuskan napas keras.


"Kamu tidak jadi tinggal disini dulu?"


Firda tersenyum.


"Buk, Bang Hamish itu tidak seperti rumor yang Ibuk dengar. Dia pria yang lembut dan baik, Firda bahagia jadi istrinya, Buk."


"Kamu belum mengenal dia dengan baik, Nak? Ibuk kuatir dia akan ...."


"Assalamualaikum," ucapan ibunya Firda terpotong mendengar ucapan salam pelan dari depan pintu kamar yang hanya tertutup dengan kain gorden.


"Buk, boleh saya masuk!" itu suara Hamish.


"Masuklah, Mish!"


Ibunya Firda mempersilahkan Hamish masuk dan menyuruhnya duduk di kursi yang ada di kamar itu, Firda dan ibunya duduk di tepi ranjang.


"Maaf, Buk, jika saya memotong perkataan Ibuk tadi. Tidak sengaja saya...Hmm, ini tentang isu tentang saya yang katanya ringan tangan ya, Buk?" tanya Hamish pelan menatap wajah Firda dan ibu mertuanya secara bergantian.

__ADS_1


Firda dan ibunya saling menatap, lalu tiba-tiba ayahnya Firda ikut masuk ke dalam kamar.


"Kamu mendengarnya juga, Mish?" tanya ayah Deni duduk di samping istrinya.


Hamish mengangguk pelan.


"Saat Ibuk meminta agar kami tinggal disini untuk sementara, sementara di sana abah dan umi cuma berdua. Lalu Firda juga bertanya-tanya tentang kekerasan dalam rumah tangga, dan maaf, bahasa tubuh ibuk terlihat jika Ibuk meragukan saya." tutur Hamish pelan menunduk, dia sengaja tidak menatap wajah ibu mertuanya agar sang mertua tidak malu.


"Maaf, Mish! Ibuk...."


"Ibuk nggak salah, Firda juga tidak salah. Kami berdua memang belum mengenal, tapi saya tidak seperti yang dituduhkan oleh fitnah keji yang menghancurkan karakter saya. Fitnah itu juga sudah sampai ke telinga Abah dan Umi, tetapi kami hanya bisa diam karena jika dibantah juga untuk apa? Ibuk dan Ayah kan tahu kegagalan pernikahan kemarin dengan Mawar karena apa? Namun saya tidak menyesalinya, justru saya bersyukur. Allah menunjukkan pada saya siapa jodoh saya yang sebenarnya.


Yah... Buk...Saya menyayangi Firda, insya Allah saya tidak akan menyakiti dirinya. Firda sudah menjadi bagian dari jiwa saya saat ini. Jika saya menyakitinya berarti saya menyakiti diri saya sendiri. Firda istri saya, tulang rusuk saya, belahan hati saya. Allah menjadikan dirinya sebagai pendamping saya untuk saya lindungi dan saya sayangi, bukan untuk saya sakiti. Diberikan istri yang cantik dan muda seperti Firda, kufur nikmat jika saya sampai menyakiti fisiknya, Buk."


Firda menatap wajah suaminya dengan mata yang sudah berembun. Pria mana yang berani mengungkapkan isi hatinya pada mertuanya? Hanya Hamish kan? Ibunya Firda saja sampai tidak mampu untuk berkata-kata, beliau sudah terisak-isak. Ayah Deni mengangguk-anggukkan kepalanya sembari mengusap pelan bahu istrinya.


"Maafin ibuk yang sudah termakan isu itu, Mish!"


Hamish menggeleng.


"Ibuk nggak salah, fitnah ini bisa jadi Rahmat dari Allah untuk menaikkan derajat kita di mata Allah, atau dosa-dosa saya yang terlalu banyak sehingga Allah memberikan fitnah ini agar mengangkat sebagian dosa saya, Buk."


Ah, ibunya Firda semakin terisak mendengar jawaban bijak dari Hamish, dia semakin merasa bersalah. Hamish justru mengambil sisi baik dari fitnah yang menimpa dirinya, bukan menyalahkan siapa yang memfitnah. Apalagi mencari siapa yang menyebarkan Fitnah, itu tidak mungkin dia lakukan karena hanya buang-buang waktu.


"Maafin aku juga ya, Bang! Kalau aku sedikit meragukan Abang." Firda berlutut di depan kaki suaminya, mencium kedua tangan Hamish. Pria seperti Hamish itu dimana dia bisa menemukannya lagi? Tidak masalah usianya sudah kelewat matang, lisan yang santun dan tutur katanya yang sopan kepada kedua orang tuanya membuat Firda merasa Hamish terlalu sempurna untuknya.


Mendapati Firda yang berlutut di lantai, Hamish juga ikut duduk dilantai bersama dengan Firda. Dia hanya berani mengusap kepala Firda, karena saat ini dia ada di depan kedua mertuanya dan di kamar mertuanya juga. Andai ada di dalam kamar mereka, Hamish pasti sudah memeluk istrinya.


"Nikmati masa-masa manis di awal pernikahan kalian ini, Mish! Kalian tidak perlu memikirkan keadaan disini, saudara ayah dan ibuk masih akan membantu membereskannya. Tidak perlu risau!" ayah Deni menepuk pundak Hamish pelan ketika Hamish permisi hendak mengantar Firda ke kampus. Pria yang beberapa tahun lagi pensiun dari pekerjaannya cukup tahu apa yang Hamish rasakan, menantunya itu hanya tersenyum simpul dengan wajah yang sedikit merona. Sesama pria tentu tahu apa yang di inginkan pengantin baru. Hamish hanya bisa mengangguk.


"Iya, Yah, terimakasih, Assalamualaikum..."


"Waalaikumussalam, hati-hati!"


Dimana kedua teman Firda?


Sisil dan Gita tidak peduli Firda yang sudah pergi dari rumah bersama suaminya. Mereka berdua sedang fokus menikmati pemandangan indah di depan matanya. Bagas yang sengaja izin tidak masuk kerja masih berpeluh-peluh mengangkat pot-pot bunga dan kursi untuk di tempatkan di tempat semula.


"Git, apakah bang Ryu kalau berkeringat semacho bang Bagas?" tanya Sisil menyedot air liurnya yang sudah menetes.


"Aku nggak tahu, yang aku bayangkan bang Noah ketika..." Gita juga ikutan menyedot air liurnya yang juga keluar dari garis bibir, dia tidak sempat meneruskan ucapannya.

__ADS_1


...****************...


Yang belum baca Mr,Will singgah dong ( free di apk fi**o) biar kalau presentasinya naik bisa di lanjutkan ke season 2, masih nanggung ceritanya di sana 🙏🙏🙏🙏


__ADS_2