
Usia Ali sudah menginjak tujuh hari, dan hari ini acara akikah untuk Muhammad Khaidir Ali. Begitu Hamish memberikan nama untuk putranya, dan itu nama yang di usulkan oleh Raka.
Kata Raka nama itu melambangkan keadilan dan kegagahan seorang pemimpin, Hamish dan Firda setuju. Begitu juga dengan Abah dan Ayah. Jangan tanya bagaimana bangganya Raka saat nama pemberiannya di sematkan pada keponakannya, itu anak dagunya terus naik ke atas.
Firda masih belum berani memandikan Ali, kalau tidak ibunya yang memandikan maka Hamish yang akan turun tangan.
"Fir, wajah Ali mirip suamimu ya?" ucap Sisil membelai Ali yang berada dalam ayunan, para suami berkumpul dengan para lelaki termasuk Abah dan Ayah yang duduk secara lesehan di ruang tamu rumah ayah Deni.
Acara potong rambut dan do'a sudah selesai satu jam yang lalu, sekarang saatnya para tamu undangan menikmati hidangan serba daging kambing.
"Kalau nggak mirip suamiku maunya mirip siapa? Mirip suamimu? Ogah." kekeh Firda, Sisil mencebik.
"Menurut USG, anakku juga laki-laki." ujar Sisil mengelus perutnya yang buncit.
"Kau Git?" tanya Firda beralih pada Gita yang terus memainkan dagu Ali.
"Sama dengan dirimu kemarin, nanti kalau sudah lahir baru tahu. Kalau anakku perempuan, kita jodohkan yuk!" usul Gita.
Firda menoleh ke arah Hamish yang sedang ngobrol dengan Noah dan Ryu, lalu melihat kearah Ali.
"Ali ini anakku dan Hamish, hasil kerjasama kami berdua. Mana boleh aku sendiri yang memutuskan dia akan jadi menantumu atau tidak."
"Tidak perlu dijelaskan juga prosesnya, Fir! Kau pikir perutku yang besar ini hasil kerja keras mas Noah saja? Terus aku cuma bagian keramas, gitu? Rugi dong."
Firda dan Sisil terkekeh.
"Siapa tahu anakmu laki-laki juga, kita sudah berencana menjodohkan. Aku kuatir jadinya nanti berbelok, Nauzubillahiminzalik... Misalnya perempuan, rupanya anakmu nggak cakep? Nggak ah, kapan berubahnya keturunan kalau dapat yang biasa saja."
"Hei, mas Noah itu tampan dan aku cantik, masak anaknya..." Gita berdecak kesal, Firda dan Sisil tertawa-tawa melihat Gita yang sewot.
"Fir, bagaimana rasanya melahirkan secara normal? Pasti sakit sekali kan? Bang Ryu bilang, kalau aku kira-kira nggak sanggup, aku Cesar saja."
"Rasanya itu seperti diambang Kematian, bener nggak?" Gita ikut bertanya, pasalnya dua bulan lagi keduanya diprediksi juga akan melahirkan.
"Siapa bilang? Seperti malam pertama, sedikit sakit tapi selebihnya..."
__ADS_1
Firda sengaja menggantung ucapannya karena Ali terlihat gelisah, sepertinya bayi itu sudah lapar dan haus. Masih terlihat kaku Firda ragu-ragu mengambil Ali yang berada dalam buaian.
Hamish yang terus mengawasi gerak-gerik Firda walaupun sedang ngobrol bersama dua temannya segera datang menghampiri.
"Kita ke kamar ya!" ujar Hamish mengambil alih Ali dari tangan Firda. Dengan gerakan sedikit hati-hati dan tidak bisa pecicilan lagi, Firda mengikuti langkah kaki Hamish dari belakang menuju ke kamar mereka untuk menyusui.
...*****...
"Kak, aku boleh gendong, Ali, nggak?" pinta Raka di depan pintu kamar Firda yang terbuka dengan lebar.
Sejak Firda melahirkan, pintu kamarnya sangat jarang tertutup kecuali ketika Firda memberi ASI pada Ali atau saat malam hari. Selebihnya Firda akan membiarkan pintu kamar terbuka lebar, agar jika Ali menangis dan Firda yang belum bisa mengurus bayinya, ibunya akan segera datang.
"Memang kamu bisa menggendong bayi? Kakak saja masih takut-takut, ntar kalau jatuh bagaimana? Di lihat saja, tapi jangan di angkat!"
"Pelit, padahal aku sangat ingin menggendongnya." Raka berjalan mendekati Box bayi, Ali masih terlihat tidur. Anak bayikan memang lebih banyak tidur, bagun kalau popoknya basah, haus atau lapar.
"Kenapa keponakanku bisa setampan ini? Melahirkan lagi aja, kak! Siapa tahu cewek, pasti cantik. Dan aku akan menjadi omnya yang akan menjaga dirinya dari cowok-cowok yang akan menggodanya."
Firda langsung menjitak kepala adilnya.
"Ali baru juga berumur satu bulan, kau suruh kakak hamil lagi dan melahirkan. Kau kira kakak kucing? Kau sama saja seperti bang Hamish, tunggu Ali berusia tiga atau empat tahun baru dia akan punya adik. Kakak mau menyelesaikan kuliah kakak dulu."
"Kalau kau ingin keponakan perempuan, kau minta bang Bagas segera menikah."
"Yang ada telingaku di jewer oleh bang Bagas,"
"Kenapa?"
"Katanya dia masih belum memikirkan pernikahan, masih terlalu muda, itu katanya saat ibuk bertanya kapan dia menikah. Soalnya anak teman ibuk ada yang suka sama bang Bagas, dianya saja yang sok kecakepan."
"Siapa dia, Dek?" Firda jadi penasaran.
"Sejak kapan kalian berdua jadi suka menggunjing saudara sendiri dibelakang?"
Bagas sudah berkacak pinggang di depan pintu kamar, Firda dan Raka hanya bisa meringis merasa bersalah. Siap-siap bakalan kena semprot sama Bagas karena bergosip di belakangnya.
__ADS_1
Tetapi untungnya Hamish baru pulang juga dari cafe, jadi selamat Firda dan Raka dari omelan Bagas.
...*****...
"Bang, Ali tampan ya? Kaya' aku."
Hamish yang tengah menggendong Ali sambil duduk di atas ranjang, terkekeh.
"Iya, kamu cantik, tapi Ali tampan. Dia anak kita, Fir, makanya tampan seperti Abinya." ucap Hamish mengecup dahi Firda yang bergelayut manja di pundaknya.
"Ali sudah bobok tuh, Bang, letakkan saja dalam boxnya! Aku kangen sama, Abang, pengen di sayang-sayang. Sejak Ali lahir, Abang lebih sayang ke Ali daripada aku."
Hamish segera meletakkan Ali pelan-pelan di dalam box bayi yang di letakkan persis di sebelah ranjang, lalu memeluk Firda dengan sayang.
"Siapa bilang Abang sayangnya cuma sama Ali saja, sama kamu Abang sayang juga. Hanya saja porsi dan artinya berbeda, kamu istri Abang dan ibu dari Ali. Tanpa kamu tidak akan ada Ali, dimana letaknya Abang tidak sayang lagi sama kamu?"
"Abang nggak pernah mesrai aku lagi, memangnya Abang nggak kangen sama aku?"
Hamish melepaskan pelukannya, menangkup kedua pipi Firda dengan dua telapak tangannya.
"Fir, Abang jauh lebih kangen daripada kamu, tapi kamunya kan lagi masa nifas. Kamu juga acap kali bangun malam hanya untuk memberi ASI pada Ali, makanya Abang nggak mau ganggu kamu. Kamu butuh istirahat yang cukup agar ASI kamu tidak tersendat. Setelah masa nifas kamu habis, kita ke Bidan dulu, baru deh." Hamish mengedipkan matanya genit, Firda mencubit perut Hamish gemas.
"Ya nggak harus begituan juga, Bang, hanya kiss-kissan saja kan tidak harus menunggu selesai masa nifas. Aku merasa sudah tua kalau Abang tidak memanjakan aku lagi."
"Dua puluh tahun saja belum genap, kok merasa sudah tua. Ya sudah, mumpung Ali tidur, kita pacaran ya! Jangan sampai dia mengintip kita sedang..."
Hamish tidak lagi melanjutkan ucapannya karena dia sudah membenamkan bibir Firda kedalam mulutnya.
Apa mau Firda akan Hamish turuti asal Firda tidak merasa tertekan dan depresi. Perempuan muda seusia Firda yang sudah memiliki bayi sangat rentan dengan stress atau depresi jika merasa sudah tidak disayang lagi.
"Bang, memang nggak boleh ya? Sudah nggak keluar lagi kok, sudah bersih."
"Tunggu beberapa hari, kita konsultasi dulu! Kamu kangen kali ya?"
"He-eh,"
__ADS_1
"Sudah, peluk Abang atau gigit Abang biar kangennya hilang." ujar Hamish kembali memeluk Firda dengan erat.
...****************...