Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK

Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK
24. Sudah Masuk lagi.


__ADS_3

^^^Sekedar bisik-bisik ya...Mas Will masih panjang ceritanya. Masih lanjut ke season 2 Insya Allah, jadi.... Pantengin terus ya! Maaf kalau bisanya cuma update satu bab karena harus berbagi waktu dengan Bang Bujang plus kegiatan di dunia nyata.^^^


^^^Kenapa di sini informasinya? Karena disana nggak boleh menyapa atau membalas komentar reader yang terlove-love, maaf ya! Jadi jangan di hilang sombong, tapi enggak, kalian semua baik banget, apalagi kalau kasih komen, aku kan jadi terhura.^^^


^^^Jika nge DM di IG, Insya Allah pasti dijawab.^^^


...@@@@@@@@@@@...


Mendengar permintaan Mawar, Bujang tertawa. Dahi Mawar berkerut.


"Mawar, apakah aku selama ini terlihat bucin padamu?"


"Bu-bukankah, Abang mencintai aku?" tanya Mawar tergagap.


"Apakah aku pernah mengatakannya?"


Mawar berpikir dan mencoba kilas balik tentang hubungan dirinya dan Bujang selama beberapa bulan ini sampai mereka memutuskan untuk menikah. Memang Bujang tidak ada mengatakan kalau dia mencintainya sih, jadi sebenarnya perasaan Bujang padanya itu apa?


"Aku memang ingin menikah denganmu karena aku simpati dan kasihan melihat dirimu yang terus di khianati oleh suamimu. Padahal kalian baru menikah satu tahun setengah kan? Aku memang ingin membersamai melewati hari bersamamu agar kamu tidak lagi terluka dan menangis. Mungkin aku memang memang menyukaimu, bermimpi agar kau akan nyaman bersamaku. Dan seiring berjalannya waktu, akan tumbuh cinta di hati kita. Makanya aku mengajakmu menikah, bukan pacaran. Biar cinta tumbuh dan bersemi pada saat dan pada orang yang tepat.


Tapi setelahnya kau tahu sendiri drama di KUA itu, kau yang pergi, Mawar, bukan aku. Bahkan kau tidak memiliki waktu untuk mendengar pembelaanku. Kau juga langsung bersanding dengan mantan suamimu dengan biaya yang keluar dari kantongku, apakah aku keberatan? Tidak.


Disaat kau dan suamimu bahagia di pelaminan, aku membersihkan namaku sendiri yang memang tidak melakukan apa-apa.


Terus, kenapa sekarang kau datang dengan menangis dan meminta aku menceraikan istriku? Kau menganggap pernikahan itu apa?"


Ucapan Bujang yang pajang lebar membuat Mawar tidak mampu dan tidak memiliki kesempatan untuk menyanggah sedikitpun.


"Maafkan aku! Apa Abang benar-benar menikahi gadis itu? Dia kan cuma berpura-pura hamil, Bang. Lagi pula dia tidak cocok untuk Abang, dia masih terlalu muda jika dibandingkan dengan Abang."


Bujang kembali tertawa, tidak tahu saja Mawar bahwa Firda justru sekarang mungkin lupa dengan perbedaan usia mereka. Apalagi ketika Firda sedang mengekplorasi leher dan bibirnya.


Ah, membayangkan itu wajah Bujang memerah menahan malu. Firda dengan tidak tahu malu akan naik di atas tubuhnya, sementara dia sendiri telentang dengan pasrah tapi tidak rela.

__ADS_1


Bagaimana mau rela, sudah ingin menerkam dan memakan habis tapi Firda-nya masih takut. Takut nggak jadi maksudnya, Bujang jadi tidak sabar menunggu malam akan datang.


"Ketika kami berada di dalam kamar, perbedaan usia itu tidak ada, Mawar. Kau pasti lebih paham apa yang aku bicarakan, maaf! Aku mencintai istriku dengan segenap jiwaku."


Ya Allah...Bang Bujang, itu drama atau beneran ya?


"Cinta? Denganku yang sudah dekat beberapa bulan bahkan kita sudah aku menikah saja Abang bilang belum cinta, masa' dengan gadis itu yang baru beberapa hari Abang mengenalnya Abang sudah cinta. Pasti Abang bohong kan?"


Bujang menggeleng.


"Dia istriku, tentu saja aku mencintainya. Itu sangat berbeda ketika dengan dirimu yang masih calon istri waktu itu, eh, memang kau sudah bercerai lagi dengan Doni? Kalian belum satu Minggu rujukan? Apa dia berulah lagi? Cepat sekali?"


Bang Bujang beda ya kalau di depan Firda, dia kalem, dewasa dan sabar. Tapi kalau di depan Mawar... Mungkin karena dia dan Mawar hanya selisih tiga tahun, jadi seperti dengan teman saja.


"Aku masih mau meminta cerai tapi belum bercerai, ternyata selingkuhannya selama ini sudah hamiiiilllll...Bang Doni juga baru tahu. Aku nggak mau di madu, Bang! Bang Doni juga tidak mau menceraikan aku, tapi aku tetap ingin bercerai. Aku tidak mau di dua atau di tigakan, nggak mau...."


Mawar sudah menangis kembali, Bujang merasa tubuhnya semakin gerah melihat Mawar menangis. Ya tentu saja gerah, ngapain juga siang hari memakai jaket Hoodie.


Walaupun ruangan dingin ber- AC tetap saja gerah, gerah karena mendengar suara tangisan Mawar yang memilukan.


Kedua mata Mawar membulat dengan sempurna melihat banyaknya tanda kissmark di leher Bujang.


Melihat Mawar yang menghentikan tangisannya dengan kedua mata yang melotot ke arah dirinya, Bujang baru tersadar jika harusnya dia tidak melepaskan jaket Hoodienya.


Belum sempat Bujang memakai kembali jaket Hoodienya, dari arah pintu cafe sudah terdengar keriuhan suara beberapa perempuan yang baru masuk.


Bujang sontak menoleh ke arah pintu, tangannya yang masih memegang jaket menggantung di udara.


"Firda,"


Firda dan kedua temannya berdiri mematung di depan pintu.


Ketiganya tadi dengan pede langsung masuk ke dalam cafe walaupun belum ada tulisan open yang tergantung di pintu. Karena sang pemilik cafe adalah suami salah satu dari mereka, jadi tidak mungkin mereka akan di minta keluar karena cafe belum buka.

__ADS_1


Tapi pemandangan yang baru mereka lihat, membuat ketiganya langsung terdiam.


"Ayo kita pergi!" Firda langsung berbalik, Bujang segera mengejarnya.


Sebelum tangan Firda membuka kembali pintu cafe yang terbuat dari kaca tebal, Bujang sudah mencekal pergelangan tangannya.


"Abang bisa jelaskan. Ayo ikut, Abang!" Bujang menarik tangan Firda agar mengikutinya masuk ke dalam ruangan VIP, tempat Mawar tadi menunggu Bujang.


Beberapa karyawan Bujang yang tadi sibuk beberes tanpa terlalu ingin tahu urusan Bujang dengan Mawar, sontak langsung bergerombol di pojokan memperhatikan Bujang yang menarik tangan seorang gadis muda masuk ke dalam ruangan VIP.


"Cewek-cewek itu kan sering nongkrong disini."


"Iya, siapanya bos ya? Apa itu calon istrinya? Eh, sudah istrinya kan?"


"Nggak mungkin, bos sepertinya nggak kenal sama tuh cewek. Kalau mereka nongkrong di sini, bos kan cuek-cuek saja."


"Iya, ya, tapi ngapain si bos bawa dia masuk ke dalam? Terus Mbak Mawar ke sini itu mau ngapain lagi?"


Omongan karyawan cafe yang sok tahu terus berdengung di dekat ruang belakang. Sampai ada pengunjung lain yang masuk dan mulai mencari tempat duduk yang menurut mereka nyaman, para karyawan baru membubarkan diri dan memulai tugasnya di pos masing-masing.


Gita dan Sisil duduk di kursi di pojokan, tepatnya di tempat Mawar dan Bujang tadi berbicara.


"Mbak baru menangis atau habis kelilipan? Tuh, tai matanya sampai keluar." tunjuk Sisil pada mata Mawar.


Mawar cepat-cepat membersihkan sudut mata kanannya.


"Bukan yang di kanan, tapi yang di sebelah kiri." kali ini Gita yang memberitahukan.


Mawar segera membersihkan sudut mata sebelah kiri sesuai dengan yang diberitahukan oleh Gita.


"Sudah nggak ada kan?" tanya Mawar, kuatir kalau belekan dan dilihat oleh Bujang dia kan bisa malu.


Gita dan Sisil menggeleng, Mawar hendak beranjak dari duduknya. Dia mau membersihkannya di toilet sekalian mau cuci muka, pasti bedaknya sudah luntur karena kebanyakan menangis tadi.

__ADS_1


"Udah masuk lagi, Mbak." ucap Sisil nyengir, Gita terkekeh. Wajah Mawar langsung merah padam


...****************...


__ADS_2