
Baik Hamish maupun Firda tidak mengatakan apa-apa kenapa Firda tiba-tiba menginap di rumah. Lagipula itu rumah kedua orang tuanya Firda, jadi kapanpun dia mau pulang ya silahkan saja. Pintu rumah senantiasa terbuka lebar-lebar uy satu-satunya anak perempuan ayah Deni.
Jangan sampai dia berpikiran setelah menikah di rumah orang tua sendiri terasa asing dan seperti tamu, lagian antara rumah Abah Surya dan ayah Deni hanya berbeda kompleks saja dan tidak terlalu jauh. Bisa di tempuh hanya dengan lima belas atau dua puluh menit sudah sampai.
"Kau, kenapa setelah menikah jadi rajin bolos?" Sisil, bukannya datang-datang mengucapkan salam justru langsung bertanya.
"He-eh, pakai nomor nggak aktif segala, sok ngartis." tambah Gita mencibir.
"Apa setelah menikah membuat dirimu menjadi malas ke kampus karena tidak ada lagi cowok yang menarik hatimu seperti dulu? Kenapa kami berdua tidak? Yang menjadi pasangan sekarang itu untuk masa depan, nah... Yang di kampus untuk cuci mata." cerocos Sisil tidak melihat situasi, tidak tahu dia kalau Bagas hari ini pulang lebih cepat karena kurang enak badan. Mungkin efek kecapean resepsi pernikahan Firda kemarin.
Firda melirik ke arah Bagas yang tiduran malas sambil nonton TV, Firda sendiri juga malas-malasan di kursi depan sembari bermain game cacing.
Sisil dan Gita ikut melirik ke arah pandang Firda.
"Kau kenapa nggak bilang kalau bang Bagas nggak kerja," bisik Sisil geram.
"Tau tuh, buruk reputasi kami di mata bang Bagas. Walaupun kami sudah punya calon suami, yang namanya cem-ceman itu beda cerita." Gita ikut kesal.
"Iya, kalau aku pribadi, bang Bagas itu selamanya menempati tempat tersendiri di sudut hati. Jadi biarkan aku tetap menyukainya di dalam hati." Sisil melirik lagi ke arah Bagas yang tidak peduli dengan bisik-bisik adiknya dengan kedua temannya.
"Dalam hati gigimu, yang baru kau bicarakan itu apa? Kumur-kumur?" Firda mencibir.
Entah apa yang dilihat oleh kedua temannya itu pada abangnya. Menurut Firda, Bagas itu biasa saja, lebih cakep suaminya malah.
Ya iyalah...Abang Hamish gitu lho, noh...Mawar saja sampai nggak bisa move on.
Lagian Firda kan sudah biasa melihat Bagas, sejak dia baru lahir sudah melihat Bagas. Mana tahu dia abangnya itu cakep atau cakep sekali, dimatanya Bagas itu cerewet dan banyak mengatur. Sekarang saja yang sudah pensiun ngomelin Firda, tugasnya sudah di gantikan oleh Hamish.
"Maksud Sisil itu hanya kita bertiga yang tahu, Fir, sama seperti dirimu yang menyukai, Hans" bela Gita.
__ADS_1
"Sembarangan, sejak di warung bubur ayam melihat dia ngeloyor pergi begitu saja dan yang membayar makanan justru Syakila. Sejak saat itu aku ilfil padanya, masih pacaran saja dia sudah tidak tahu malu dibayarin oleh perempuan apalagi kalau sudah menikah? Bisa-bisa nanti dia memperlakukan tulang rusuk jadi tulang punggung. Modal cakep doang? Makan itu cakepnya! Kalau tidak rebus, lalu air rebusannya di minum tiga kali dalam sehari. Biar awet!"
Firda baru juga hamil muda sudah ngomel kayak emak-emak, apalagi jika sudah jadi seorang ibu?
Gita dan Sisil terkekeh, memang ketiganya mata duitan. Cinta ternyata tidak membuat mereka menjadi buta.
Mereka belajar dari kasus Mawar. Walaupun suaminya sudah mengkhianati dirinya, Mawar mau saja di ajak rujuk. Setelahnya justru di madu. Ingin cerai takut tidak ada yang memberinya nafkah.
Dia lupa bahwa yang memberi rezeki itu Allah, bukan suaminya. Doni hanyalah sebagai perantara.
...*****...
"Kak, kakak itu hidup seperti nomaden ya? Pindah sana pindah sini, udah kayak keong." ucap Raka sambil menyuap nasi ke dalam mulutnya.
Firda mengambil bantal kursi, langsung di timpuk kepala Raka.
"Ini rumah orang tua kakak, memang nggak boleh kakak kemari? Balikin ponsel kakak!"
Raka cepat membawa piring nasinya masuk kedalam kamar sebelum kepalanya di timpuk pakai bantal lagi oleh Firda.
"Fir, kamu kenapa? Marahan sama Hamish?" tanya ibunya pelan menatap Firda yang tadi tadi terlihat sensitif, kedua temannya saja sampai di usir pulang dengan alasan dia mau pulang ke rumah mertuanya padahal itu cuma alasan Firda saja yang mendadak dia sedang tidak mau di ganggu.
"Nggak, cuma pengen nginao disini saja.
Buk, waktu ibu hamil bang Bagas, usia ibuk berapa? Terus perasaan ibuk bagaimana?"
Ibunya dan Bagas saling menatap mendengar pertanyaan Firda. Saat ini Bagas lagi aleman, dia meletakkan kepalanya di pangkuan ibunya minta di pijat. Katanya kepalanya terasa berat, mau membuka mata saja rasanya sangat malas.
"Kamu hamil, Fir?"
__ADS_1
Firda mengangguk, wajahnya cemberut.
"Ya Allah...Ibuk dan ayah akan segera punya cucu? Gas kamu akan jadi Oom." ibunya Firda refleks menyingkirkan kepala Bagas dari pangkuannya, beliau mendekati putrinya lalu memeluk kepala Firda.
"Kamu sudah besar sekarang, Fir, sebentar lagi ibuk jadi nenek. Benar kata orang-orang, kalau punya anak perempuan itu akan cepat menjadi tua. Tapi ibuk senang, ada bayi lagi di rumah ini." Ibunya Firda mengusap sudut matanya yang basah, wanita yang usinya sudah kepala empat itu sangat terharu.
Ketika dirinya dulu hamil Bagas di usia seperti Firda, dia sangat bahagia. Tapi sekarang jauh lebih bahagia mendengar putrinya hamil, ternyata memiliki cucu itu rasa bahagianya itu berbeda dengan ketika akan memiliki anak sendiri.
"Tapi, Buk..."
"Tapi apa? Kau memikirkan kuliahmu? Banyak yang sudah punya anak bahkan anaknya sudah besar-besar juga masih bisa kuliah. Jangan takut urusan mengasuh anakmu, serahkan pada ibuk! Kalau kau sungkan dengan mertuamu, ada ibuk yang menjaga anakmu. Kau tenang saja! Ya sudah, selama hamil kau dan Hamish tinggal di sini aja dulu, nanti Ibuk yang ngomong sama Hamish."
"Nggak bisa gitu, Buk! Biarkan Hamish dan Firda yang mengambil keputusan, kita tidak boleh mempengaruhi Firda, nggak enak kalau sampai kedengaran sama Hamish." ujar Bagas mengingatkan ibunya
"Hallah, kau tahu apa? Perempuan yang hamil muda itu maunya macem-macem dan pengen tiduran terus. Kalau adikmu di rumah mertuanya, pasti dia nggak enakan sama mertuanya. Jadinya dia akan tertekan, terus nanti bayinya jadi cengeng. Nggak, nggak! Pokoknya Firda tinggal di sini selama hamil muda, kalau perlu sampai lahiran."
Bagas mendesah. Kalau sampai lahiran setelahnya alasan Firda baru lahiran, kasihan masih belum tahu apa-apa ngurus bayi. Bisa di pastikan nunggu bayinya gede, terus, bla bla bla bla. Bagas sudah hafal alasan selanjutnya yang akan di jadikan alibi bagi ibunya agar Firda tidak meninggalkan rumah.
"Buk, jangan menciptakan kesalahpahaman antara Firda dan mertuanya, Buk! Nggak enak, kasihan Firdanya nanti."
"Diem! Kau menikah saja dulu, baru bicara." hardik ibunya membuat Bagas langsung terdiam.
Firda yang semula ingin mengadu karena dia merasa belum siap akhirnya tidak jadi bicara, dia jadi serba salah kalau begini caranya.
Bagas jengkel melihat ibunya yang mau menang sendiri, kepalanya semakin berat. Akhirnya dia masuk ke dalam kamarnya.
"Fir, bilang sama suamimu kalau kau ingin tinggal di sini dulu. Kalau dia keberatan, biar saja dia dirumahnya sana dan kamu disini." ibunya masih terus mengompori Firda, dan masih banyak kalimat-kalimat yang membuat Firda semakin bingung harus bagaimana.
Di satu sisi dia ingin dekat dengan ibunya, tapi disisi lainnya dia tidak tega membayangkan wajah kecewa ibu mertuanya.
__ADS_1
...****************...