Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK

Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK
78. Calon Besan


__ADS_3

Firda menatap kedua temannya dengan senyum kemenangan, tapi dahinya berkerut juga.


"So, menikah dengan satu keluarga. Hamil dan melahirkan dihari yang sama, menempati kamar yang sama juga. Jangan bilang kalau nanti anak kalian berdua sama-sama ingin menjadi istri, Ali.


Baaang..." teriaknya kearah Hamish yang ngobrol di pojokan sofa bersama Ryu dan Noah.


Hamish langsung menoleh.


"Ada apa?"


"Kalau nanti Ali poligami, boleh nggak?"


Hamish tertegun dengan pertanyaan aneh Firda, lalu melirik ke arah Ryu dan Noah. Yang dilirik hanya bisa menggaruk tengkuknya.


Hamish langsung paham kemana arah pertanyaan istrinya.


"Fir, nggak boleh gitu! Ali belum bisa apa-apa sudah ngomongin poligami."


"Tuh, dengar! Jika mau anak kalian menjadi mantuku, maka baik-baiki aku dari sekarang." kekeh Firda. Lho.


Gita dan Sisil hanya bisa melotot, mau balik menyangkal ucapan Firda kuatir rasa nyeri dan ngilu setelah selesai Cesar kemarin akan semakin terasa.


"Enakan lahiran normal, sakitnya hilang setelah bayi keluar."


"Tapi itumu kan robek." ucap Sisil pelan agar para pria tidak mendengar.


"He-eh, sudah nggak mulus lagi." tambah Gita, siapa suruh tadi mereka di bully karena anak mereka dua-duanya berjenis kelamin perempuan.


Padahal waktu USG kemarin calon bayi Sisil, laki-laki. Ternyata cuma nge prank bayinya Sisil.


Masih berada dalam kandungan saja sudah usil, bagaimana jika sudah gede? Ah, sudahlah, itu urusan nanti


"Siapa bilang?"


"Kan dijahit, sesuatu yang sudah pernah di perbaiki akan terlihat tidak orisinil dan mulus lagi." Gita mencibir.


"Jahitannya halus, benangnya nyaris tidak terlihat. Bang Hamish bilang tidak ada bedanya, week." Firda menjulurkan lidahnya.


Gita dan Sisil spontan melirik ke arah Hamish, untungnya yang dilirik tidak menyadari.

__ADS_1


Memang kalau Hamish tahu di lihatin mau apa? Pengen tanya langsung? Memangnya berani?


"Kalian sudah menyiapkan nama untuk anak kalian?" tanya Firda pada keduanya.


"Sudah," jawab Gita dan Sisil kompak.


"Siapa?"


"Rahasia, nanti kau akan tahu saat acara akikahan." ujar Gita penuh kemenangan.


Firda cuma mencebik.


"Gayamu sudah seperti selebritis saja pakai rahasia segala, aku yakin kalian akan kompakan juga mencari namanya."


"Kepo ya?" Sisil tergelak, selanjutnya mengaduh. Dia lupa jika tekanan pada bekas sayatan di perutnya akan terasa ngilu jika tertawa, gantian sekarang Firda yang tertawa senang.


"Makanya, jangan kualat dengan calon besan."


...******...


Bang Jojo memberikan sebuah amplop yang ber kop sebuah rumah sakit swasta yang terbilang cukup bagus di pusat kota pada Syakila, selanjutnya pria berpostur tinggi besar itu duduk santai di atas sofa.


Sejak dua hari kemarin bang Jojo bersikap dingin pada Syakila, padahal Syakila sudah meminta maaf. Tapi bang Jojo tetap saja bersikap acuh.


Pulang sore hari menjelang berbuka puasa, lalu duduk diam di rumah. Menjelang isya berangkat ke mesjid, sampai selesai tarawih baru bang Jojo pulang ke rumah. Nonton televisi lalu tidur. Sepertinya bang Jojo nggak ada niat untuk mencolek-colek Syakila yang cantik dan seksi, habis lidahnya pedas menyinggung bang Jojo. Bang Jojo kan jadi ilfil.


Syakila membaca dengan teliti hasil uji benih milik bang Jojo, hasilnya bagus. Tidak ada sesuatu yang membuat sulitnya terjadi pembuahan, semua normal-normal saja.


Syakila bergeser mendekati suaminya, bang Jojo hanya melirik sekilas.


Jual mahal ni ye.


"Maaf ya, Bang! Kalau aku sudah meragukan kualitas benih milik, Abang. Habisnya sudah tujuh bulan masa' aku belum hamil juga, aku kan masih muda. Harusnya sedang masa-masa suburnya kan?"


Syakila menempelkan badannya ke lengan bang Jojo, sebelah telapak tangannya meraba paha bang Jojo yang masih dilapisi dengan celana jeans. Bang Jojo tidak bereaksi.


Padahal bang Jojo sangat ingin menepis tangan Syakila, apa dia lupa kalau saat ini bulan puasa? Masa' sore-sore menggoda suaminya. Untungnya bang Jojo masih dalam mode jengkel, jadi apa yang Syakila lakukan tidak memberikan efek seperti yang diharapkan oleh Syakila.


"Makanya kalau melayani suami itu yang ikhlas, jangan ogah-ogahan. Kalau kamu lagi mau, walaupun Abang lelah kamu selalu memaksa. Tapi coba kalau Abang yang mau?" bibir bang Jojo dimajukan lima senti, Syakila terkekeh.

__ADS_1


"Ngambek? Aku cium, nih!" ancam Syakila mulai mendekatkan wajahnya, bang Jojo cepat menghindar.


"Puasa, Dek, puasa, lupa ya?" ucap bang Jojo melotot.


"Ya makanya jangan ngambek lagi! Nggak malu sama umur? Nanti malam ya!" Syakila memeluk lengan bang Jojo biar suaminya tidak bisa menghindar lagi, Bang Jojo menyentak napasnya kuat.


"Kamu itu pengen punya anak cuma mau ikut-ikutan Firda dan dua temannya kan? Makanya Allah belum mengizinkan kamu hamil, kasihan juga calon anak kita jika niat kamu bukan murni karena memang menginginkan kehadirannya.


Dek Sya, perbaiki niat, jangan ikut-ikutan! Jalani saja rumah tangga kita dengan gaya kita sendiri tanpa harus melihat rumah tangga orang lain. Bagaimana hidup mereka kita tidak tahu, mereka tersenyum bukan berarti mereka sedang bahagia. Bisa saja karena mereka mampu menyembunyikan kesedihannya dibalik senyum manis mereka, begitu juga sebaliknya.


Hamish dan Firda cepat diberikan anak yang tampan, apakah kita tahu apa yang sudah mereka lewati sebelumnya? Nggak kan? Karena itu apa yang orang lain miliki tidak harus kita miliki juga, hidup mereka ya milik mereka. Hidup kita ya milik kita."


Tuh kan, bang Jojo jadi ngomel panjang lebar. Syakila kan jadi gemas.


Ditariknya leher bang Jojo, lalu di kecupnya bibir bang Jojo sekilas.


"Dek Sya..."


"Makanya jangan ngomel kaya' emak-emak! Iya aku minta maaf! Nanti malam ya, jangan tarawih! Aku kangen sama si hitam."


Bang Jojo langsung mendelik, miliknya terus di ejek si hitam. Walaupun memang hitam, tapi tidak harus di perjelas gitu.


Sekarang Syakila yang ngebet pengen di mesrai, kemarin saja waktu bang Jojo merengek minta jatah Syakila tidak mau memberi. Saatnya bang Jojo membalas permainan.


"Nggak! Abang tetap mau tarawih. Belum tentu ramadhan tahun depan ketemu lagi, kalau kamu mau tunggu Abang pulang tarawih. Kalau nggak terserah kamu, yang pengen hamil kan kamu, Dek."


"Maksud Abang apa? Jadi Abang nggak kepengen punya anak?"


Nah, lho, Syakila mulai emosi lagi.


"Lah kan benar, yang pengen hamil itu kamu bukan Abang. Masa' laki-laki hamil." bang Jojo akhirnya tertawa. Entahlah, dia pusing dengan sifat Syakila yang mau menang sendiri, semua keinginan dia harus dituruti. Coba keinginan bang Jojo? Semua tergantung dengan moodnya Syakila.


"Kamu nggak periksa, Dek?"


"Maksud Abang apa? Ngajak ribut?"


"Abang nggak ada maksud apa-apa, Abang cuma mau mandi saja. Sudah sore." jawab bang Jojo enteng lalu bangun dari duduknya, ngeloyor begitu saja masuk ke dalam kamar mandi.


Kalau tidak mengingat sekarang bulan puasa dan sudah sore hari, Syakila pasti sudah menantang suaminya untuk mengajak gelud. Eh.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2