Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK

Malam Pertama Dengan BUJANG LAPUK
46. Tidak Percaya Diri


__ADS_3

Hamish mengulurkan tangannya pada Firda yang sudah berjalan mendekat.


"Bang, cuma mandi lho, nggak pakai acaraaa..." ekor mata Firda jatuh pada titik yang membuat Hamish segera meletakkan telapak tangannya ke wajah Firda.


"Kamu nggak mau, tapi mata kamu tertuju ke situ. Bibir sama tubuh kamu tidak sinkron, Firda. Nggak perlu malu! Abang kan suami yang akan memenuhi kebutuhan istrinya, terutama..." Hamish sudah menarik tangan Firda untuk mengikutinya masuk kedalam kamar mandi.


"Nggak jadi, Bang, nggak jadiii....". Firda sudah meronta-ronta tapi mana peduli Hamish.


Sampai sudah terdengar suara mengaji dari pengeras suara mesjid yang tidak jauh dari rumah Abah, Hamish dan Firda baru keluar dari dalam kamar mandi bersama-sama.


Firda berjalan sedikit sempoyongan, Hamish terkekeh sekaligus kasihan. Siapa yang suruh mancing-mancing mau ikut mandi, sudah tahu Hamish sedang senang-senangnya berpetualang. Jalan sudah mulus, beban juga sudah tidak ada karena pesta resepsi pernikahan berjalan dengan sangat lancar. Saatnya dirinya dan Firda menikmati manisnya pernikahan, bukankah seperti itu yang dikatakan ayah pagi tadi?


"Nanti malam Abang urut deh seluruh badan kamu, sekarang Abang pergi ke mesjid dulu ya?" pamit Hamish sudah rapi dengan setelan baju koko dengan bawahan sarung seperti biasa.


Firda tidak bergeming, dia hanya duduk diam di atas ranjang. Bahkan masih memakai handuk, belum memiliki tenaga untuk berganti pakaian. Baju yang dipakainya tadi basah dibuat Hamish karena mereka berdua berbasah-basahan.


"Jangan lupa sholat, Firda sayang. Tidak boleh tidur di waktu petang!" pesan Hamish lagi sebelum menutup pintu kamar.


"Nyesal aku ikut mandi, padahal aku kan cuma pengen lihat bukan mau rasa. Kalau begini terus bisa cepat aku jadi nenek-nenek."


Dengan menggerutu pelan-pelan Firda bangkit dan menuju lemari, badannya benar-benar terasa letih terutama persendiannya.


Saat sholat Maghrib, Firda berkali-kali menguap karena tidak konsentrasi mengingat ranjang yang sudah melambai-lambai agar Firda datang mendekat.


Seperti yang sudah bisa diprediksi, setelah salam tanpa membaca doa karena merasa dia tidak membutuhkan apa-apa Firda langsung saja terjun bebas menjatuhkan dirinya di atas kasur.


"Astaghfirullah..." Hamish membalikkan badan Firda yang tidur menelungkup tanpa membuka mukenanya.


"Fir, ngaji yuk! Sudah beberapa hari ini kamu nggak ngaji lho."


"Abang sok tahu," sahut Firda tanpa membuka matanya.


"Oh, kamu mengaji juga ya di rumah ayah? Ya, sudah, ayo kita lanjutkan!"


Hamish menarik tangan Firda. Bukannya Firda langsung bangun dan duduk, Firda justru meletakkan kepalanya di atas pangkuan Hamish.


"Kamu benar di rumah ayah selalu mengaji? Kan saat kamu menginap di sana, saudara ayah dan ibu sudah mulai berdatangan." tanya Hamish tidak percaya.


Hamish memenuhi janjinya, dia mulai mengurut kedua tangan Firda dengan pelan. Firdanya semakin memejamkan kedua matanya saking enaknya.


"Iya,aku memang nggak ada mengaji kok selama di rumah ayah, karena kalau nggak sama Abang nggak asik. Aku maunya sama Abang."


Hamish menghembuskan napasnya pelan

__ADS_1


"Bang, aku antar jemput juga dong! Kayak orang yang sedang pacaran gitu. Naik motor, duduknya dempet kedepan, sampai boncengan di belakang kosong saking dempetnya. Terus tangan aku Abang bawa ke atas paha Abang sambil Abang remes-remes gitu, aku pengen pacaran seperti orang-orang."


"Kita kan sudah lebih dari pada saling meremas jari, terus kita kurang dempet apa lagi, Fir? Sudah lebih dari dempet lho."


Setelah kedua tangan Firda selesai diurut, sekarang kedua kaki Firda. Hamish tahu kalau Firda sangat letih.


"Kita nggak pernah pacaran, Bang. Aku juga belum pernah pacaran, beda sama Abang. Jadi sekarang aku pengen pacaran sebelum Abang keburu tua, atau aku pacaran sama orang nih?" beuh, bisa-bisanya Firda ngancam.


Hamish mencubit pelan hidung Firda.


"Abang sedikit repot kalau harus naik motor, karena Abang kan terkadang membeli barang untuk keperluan cafe. Tapi demi kamu, sekali-kali boleh lah."


"Jadi besok kita pacaran?"


"Iya,"


"Haseek."


...******...


Gita dan Sisil menatap Firda yang baru saja melintas di depan mereka dengan sepeda motor matic berbodi besar didepan. Yang membuat mereka terpana itu bukan Firda atau suaminya, itu mah sudah biasa.


Motornya? Bukan juga. Yang memiliki motor seperti itu sudah tidak terhitung berapa banyaknya.


Gaya lebaynya itu yang membuat Gita dan Sisil terpana.


"Fir, kau nggak puas pegang-pegang itu di rumah?" tanya Sisil langsung begitu keduanya sudah berada di depan Firda.


"Pegang apa?""


"Pegang apa lagi? Mata kami berdua masih sehat untuk melihat apa yang kau lakukan tadi di jalan. Lagian kan suamimu itu katanya rajin ke mesjid, Sholeh, baik, tapi masak menyuruh dirimu memegang miliknya di jalanan. Apa dia menderita penyimpangan?" berondong Gita tanpa memperdulikan wajah Firda yang sudah melongo dengan tuduhan mereka berdua.


"He-eh, kalau menyuruh pegang-pegang di rumah kan bisa, kenapa harus di jalan." tambah Sisil.


"Kalian ini ngomong apa sih? Bang Hamish cuma memegang tanganku dan meletakkan di pahanya, bukan...." Firda terkekeh.


"Letaknya saja yang dekat tetapi nggak pegang, ish, aku belum berani pegang kali, takuuuuttt...." ujar Firda centil kembali terkekeh, Gita dan Sisil saling menatap.


"Kau belum pernah pegang? Masak sih?" Sisil tidak percaya.


"Beneran? Kau nggak bohong? Kenapa nggak berani pegang?" Gita juga tidak percaya.


"Takut, kalau dia ngamuk bagaimana?" Firda tergelak kencang, sampai beberapa mahasiswa dan mahasiswi melihat ke arah mereka bertiga.

__ADS_1


"Git, aku jadi semakin tidak sabar, apa kau juga?" ujar Sisil berpangku tangan dengan tatapan menerawang jauh.


"Aku juga, apalagi kemarin mantan pacar mas Noah mau ngajak balikan." Gita menelungkupkan wajahnya pada bahu Firda yang sontak menghentikan tawanya mendengar kata mantan.


"Mantan?" Firda dan Sisil bertanya serentak.


Kemudian Gita menceritakan apa yang terjadi di cafe pulang dari kampus kemarin.


"Mantan pacar mas Noah itu cantik, putih, tinggi seperti model. Kayaknya juga anak orang kaya, nggak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan aku."


Gita sebenarnya kemarin sangat rendah diri ketika melihat Shopia, tapi dia kuat-kuatkan saja di depan Noah dan Shopia. Padahal di dalam hatinya dia merasa kecil sekali.


"Terus, bang Noah-nya bagaimana? Kelihatan kalau dia masih belum move on dari mantannya terus mau balik?" Sisil menatap serius Gita yang masih belum mengangkat wajahnya.


"Aku nggak tahu, mas Noah tidak membahasnya aku juga tidak berani bertanya. Tapi didalam hati dia sudah move on atau belum kan nggak ada yang tahu, aku benar-benar tidak percaya diri."


"Jangan gitu dong, Git! Lihat Firda, dia saja selow padahal kita tahu kak Mawar itu selain cantik juga bahenol. Kalau tidak karena fisiknya yang nyaris sempurna, masak bang Bujang mau sama janda."


Firda cuma melengos mendengar Sisil mengingatkan dirinya akan Mawar, si calon istri suaminya kemarin.


"Firda ada nilai lebihnya dari kak Mawar, dia masih gadis. Nah kalau aku dan Shopia? Dia jauh di atas aku, dari namanya saja dia sudah anggun. Itu baru satu mantan mas Noah yang ketemu, belum yang lain-lainnya. Kayaknya mas Noah bakalan malu kalau meneruskan hubungan kami. Apalagi jika aku pikir-pikir dia mau denganku bukan karena dia suka padaku, tapi karena iseng-iseng berhadiah."


Sisil diam, Firda juga diam karena apa yang dikatakan oleh Gita benar.


Baik Gita maupun Sisil dilamar oleh Noah dan Ryu bukan karena pria-pria dewasa itu menyukai mereka, tapi karena keisengan saja. Bagaimana dengan Firda? Dirinya bisa menikah dengan Hamish juga karena keisengan mereka bertiga.


"Aku ingin membatalkan lamaran itu, aku masih muda. Akan ada masanya dimana seorang pria jatuh cinta padaku apa adanya aku, dan aku juga jatuh cinta padanya."


"Kau yakin dengan keputusanmu?"


Gita mengangguk.


"Aku akan membicarakan pada Bapak dan ibuk."


"Kalau begitu aku juga tidak mau meneruskan hubungan dengan bang Ryu. Kita kejar lagi saja bang Bagas, siapa tahu dapat. Lama-lama bang Bagas juga bosan nolak kita."


"Hei...Kalian berdua jangan gila! Nggak bisa sembarangan main batal-batal gitu aja, ini sudah menyangkut keluarga kalian juga keluarga mereka." Firda tidak habis pikir dengan jalan pikiran Gita dan Sisil yang mendadak oleng.


"Justru itu kami akan membicarakan pada orang tua kami, Fir. Memulai hubungan tanpa cinta itu membuat gamang, tidak ada yang menjadi pegangan."


"Bener, Git, kita masih muda, belum juga dua puluh tahun, pacaran juga belum pernah. Kita bahkan belum pernah jatuh cinta, yang ada kita sudah suka saja lihat bang Bagas."


Sisil tidak pernah lepas bibirnya menyebut nama Bagas.

__ADS_1


Gita meraih ponselnya, mencari kontak nama Noah lalu diblokirnya nomor Noah. Dia lupa kalau ponsel yang di pegangnya sekarang pemberian dari Noah.


...****************...


__ADS_2